
Sudah terlalu lama kita tak menghiraukan keadaan Zhang Qiaofeng dan keluarga Zhang pasca jatuhnya Lin Tian. Karena itulah, marilah kita lihat sejenak kabar mereka setelah kedukaan panjang kala itu.
Seperti yang sudah diceritakan, empat tahun pasca kematian Lin Tian, keluarga Zhang bersama keluarga penguasa lain mengirimkan pasukan besar-besaran menuju Utara untuk membantu menahan gempuran Iblis Tiada Banding.
Tapi hal-hal sebelum empat tahun itu belumlah diketahui pasti, maka sekaranglah waktu yang tepat untuk memastikannya.
...****************...
"Kriet..."
Pintu kamar Zhang Qiaofeng terbuka perlahan-lahan, menampakkan seorang gadis muda yang wajahnya sedikit pucat. Kantung matanya menghitam hingga sulit membedakan apakah itu mata manusia atau mata panda.
Badannya kurus kering, tulang di kedua pipinya sampai terlihat jelas, rambutnya riap-riapan tak terurus. Wajahnya yang biasanya selalu tampil cantik itu kini sedikit kehilangan kejelitaannya karena sorot sayu penuh kesedihan di sepasang mata bening itu.
Dialah Zhang Qiaofeng, putri Zhang Anming yang meneruskan jejak ayahnya menjadi pemimpin keluarga. Namun sudah satu bulan lamanya gadis ini meninggalkan tugas dan terus mengurung diri di kamarnya. Hari ini adalah hari pertamanya keluar kamar selain untuk mengambil makanan yang selalu dibawakan kakeknya.
Zhang Qiaofeng berjalan gontai menuju pohon persik depan rumahnya. Kemudian duduk termenung di bawah pohon itu sampai lama, tidak melakukan apapun kecuali memandangi rumput-rumput rapih di halaman rumah.
Sampai siang hari dia tidak bergerak sebelum akhirnya terdengar helaan nafas berat disertai sedikit isak tangis. Tapi walau begitu, tidak ada air mata yang menetes sedikitpun. Mungkin kesedihan yang terlampau dalam membuat air matanya kering.
Dia lalu mengeluarkan tali yang nampak kuat dari pinggangnya. Tali itu ia lilitkan di balik ikat pinggang guna menahan lapar yang makin hari makin terasa. Setelah tali terlepas, Zhang Qiaofeng sedikit merintih karena merasakan lapar yang luar biasa.
Namun dia menghiraukan itu. Gadis ini lalu membentuk ikatan bulat pada tali tersebut dan ujung tali satunya, ia ikatkan ke salah satu dahan pohon di atasnya. Tentu saja dengan cara melompat menggunakan ilmu meringankan tubuh, walaupun Zhang Qiaofeng sudah berubah seperti mayat hidup, namun dia tidak akan lupa dengan ilmu silatnya.
Seseorang yang ditugaskan Zhang Hongli untuk menjaga gadis itu secara diam-diam melihat semua tindakannya dengan wajah pucat. Dia menduga-duga apa yang akan dilakukan nonanya, ingin dia hentikan namun dia ingin memastikan apakah tindakan yang akan nonanya lakukan sama dengan yang ada dalam pikirannya.
Zhang Qiaofeng lalu mengikatkan ikatan tali berbentuk bulat itu ke lehernya sendiri, mengencangkannya dan memandang ke bawah.
Lalu, dia tersenyum! Senyum kebahagiaan yang selama ini hilang. Sambil tersenyum, dia terkekeh pelan dan berkata yang masih dapat di dengar oleh seseorang yang mengawasi gadis itu.
"Heheh...Lin Tian, kau anak bandel. Jika kau sudah pergi ke sana, kenapa tak memberitahuku? Nonamu ini akan menemanimu, jangan kau murung. Tunggu aku Lin Tian, sebentar lagi wanitamu akan datang!"
Bersamaan dengan ini, Zhang Qiaofeng melompat dan terjun dari atas pohon itu!
"Sial!" seorang pengawal Zhang yang melihat itu segera melesat dan meloloskan pedang dari pinggangnya, lalu dalam sekali tebas, tali yang terikat pada dahan pohon itu putus seketika.
"Srat–Bruk!"
"Aduh!" Zhang Qiaofeng merintih dan memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat menghantam tanah. Merasa ada yang aneh, sontak Zhang Qiaofeng menoleh cepat dan menemukan seorang pria muda sedang memandanginya dengan sedih.
__ADS_1
"Nona...jangan membuat kami takut...." ucap lirih pengawal itu.
Mata Zhang Qiaofeng memerah mendengar ucapan ini. Sedetik kemudian, seluruh wajahnya merah dan nafasnya menggebu-gebu. Sampai sini tahulah pengawal itu jika dia telah membuat nonanya marah.
"Kau...kau....siapa kau berani menentang kehendakku!? Siapa kau sampai berani melarangku!!" Zhang Qiaofeng menjadi berang dan menubruk pria itu.
Sekali gerak, dia sudah mampu membuat pengawalnya jatuh terlentang dan dia menindih tubuhnya. Pedang pria itu sudah berada di tangan dan siap ia tusukkan ke tenggorokan pria tersebut.
Sedangkan pengawal itu bukannya merasa takut, malah makin sedih sampai menangis terisak.
"Nona....sadarlah...."
"Aku sadar!! Aku sadar sepenuhnya!! Aku ingin menyusul Lin Tian dan menemaninya, menamani dia di sana untuk selamanya. Aku milik Lin Tian, baik tubuh maupun hatiku semuanya milik Lin Tian. Jika dia tak bisa memilikiku di dunia ini, maka aku akan menyerahkan semuanya di dunia sana!! Dan kau sudah menghalangi kehendak nonamu, kau pemberontak! Pemberontak harus mati!!"
Gadis itu menggerakkan pedangnya dengan cepat sekali. Maklum karena dia bukanlah gadis lemah, maka tusukan itu tepat mengarah titik vital pria itu.
Sedangkan pengawal yang hampir dibunuhnya, terus memandang dengan mata terbuka lebar. Dia sama sekali tidak takut mati. Jika dia mati sekarang, setidaknya sebelum mati dia sudah berusaha menyadarkan nonanya. Maka dia hanya pasrah tanpa melawan.
Namun sepertinya ajal belum sudi untuk menjemputnya hari ini. Sesaat setelah bentakan penuh kemarahan Zhang Qiafeng dan pedang itu mulai meluncur, nampak bayangan beberapa orang berkelebat.
"Tring!"
Ada tiga orang yang sudah hadir di sana. Mereka adalah Zhang Hongli yang tadi menangkis pedang. Lu Jia Li yang menarik paksa tubuh Zhang Qiaofeng, dan Minghao yang menarik tubuh pengawal Zhang untuk menjauhkan pria itu dari gadis yang masih terguncang batinnya itu.
"Kenapa kalian mengganggu!! Tak bisakah kalian membiarkan aku memilih jalanku sendiri!?" gadis itu memberontak dan menggerakkan tubuhnya. Saat itu, Lu Jia Li yang bahkan sedikit lebih kuat darinya dengan mudah dapat dibanting dengan keras.
"Matilah!!"
"Zhang Qiaofeng!!!" seru Zhang Hongli dengan pengerahan tenaga dalam dan mata melotot lebar. Atas tindakannya ini, pengawal yang tadi hampir dibunuh Zhang Qiaofeng pingsan seketika karena tak kuat menahan tekanan dari suara tersebut.
Begitu pula dengan Zhang Qiaofeng, setelah bentakan itu terdengar, sontak tubuhnya melemas dan jatuh terduduk. Pedangnya pun juga jatuh ke tanah. Tubuhnya gemetaran hebat dengan keringat dingin mengucur deras.
Zhang Hongli menghampiri cucunya dengan langkah cepat. Begitu sampai, dia mengangkat tangan kanan dan....
"Plak!–Plak!"
Dua kali tamparan keras tepat mendarat di kedua pipi cucunya. Membuat gadis itu terpelanting dan mengucurkan darah segar dari kedua sudut bibirnya.
"Oh...ternyata anak Zhang Anming sudah gila ya? Keturunan leluhur Zhang Ci ternyata selemah ini? Ingin membunuh diri untuk lari dari kenyataan!?" ucap Zhang Hongli. Ucapan ini hanya perlahan saja namun dengan suara bergetar karena menahan amarah yang makin membuncah.
__ADS_1
"K-kakek?" Zhang Qiaofeng berkata gugup juga terbelalak. Dia tidak ingat pernah diperlakukan sampai sekasar ini oleh kakeknya.
"Jangan memanggilku kakek lagi jika kau ingin mati!! Apa kau pikir saat Lin Tian kedatangan dirimu di alam sana, dia akan menjadi amat senang dan memelukmu dengan cinta kasih? Membelaimu penuh mesra!? Apa kau pikir begitu bocah naif!!?" Zhang Hongli mulai meledak-ledak. Selamanya belum pernah Zhang Hongli sampai semarah ini.
"Kuberitahu kau, Lin Tian adalah pengawal pribadimu, dia adalah sosok pelindungmu yang sangat setia. Kau dari keluarga bangsawan, dan dia dari keluarga petani yang serba kekurangan. Dan juga jangan lupakan bahwa Lin Tian adalah sosok penuh sopan santun dan beradap, apa kau pernah dipegang-pegang olehnya tanpa seijinmu?"
Zhang Qiaofeng spontan menggeleng, namun dengan gerakan lemah.
"Memang begitulah dia. Seorang pendekar sejati berhati mulia, bukan hanya pencari kekutan untuk menarik banyak gadis-gadis. Pria macam itu, apa kau pikir dia juga mencintamu? Dia sadar diri bocah! Lin Tian terlalu malu untuk mengaku bahwa dia mencintamu! Kalau pun benar dia mencintamu, aku yakin dia tak akan mengatakan hal itu karena perbedaan kasta antara kau dan dia!"
Zhang Qiaofeng terbelalak lebar, wajahnya makin pucat sampai bibirnya membiru seperti mayat.
"Tidak...tidak..." dia menggeleng-gelengkan kepala dengan putus asa. Kemudian dia menundukkan muka dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Tidak...jangan katakan itu....aku mencinta Lin Tian...aku cinta dia...." ucapnya di sela-sela isak tangis memilukan.
"Kau cinta dan kau ingin mati!? Cintamu hanya sebatas jika Lin Tian hidup kau ikut hidup dan jika dia mati kau ikut mati? Itu bukan cinta melainkan egois bodoh!!"
"Jika kau mati dan keluarga Zhang menjadi bahan olok-olokan seluruh dunia persilatan, itu masih tak mengapa. Yang menjadi beban hatiku adalah, akan kau taruh dimana wajahmu jika di sana bukannya bertemu Lin Tian, kau malah bertemu para leluhur kita?" Zhang Hongli terus membentak. Agaknya emosinya belum dapat mereda.
"Bagaimana jika kau ditanya oleh mereka? Bagaimana jika mereka bertanya, apa yang membuatmu mati? Kau akan menjawab apa!? Membunuh diri, begitu? Lalu saat aku mati, bukankah aku akan diinjak-injak oleh mereka karena tidak dapat mendidik satu-satunya cucu yang kumiliki dengan benar!?"
Melihat semua ini, tanpa sadar Minghao menangis. Namun ia tahan sebisanya dengan menggigit bibir bawah dan mengalihkan pandangannya. Dia merasa amat sayang kepada Zhang Qiaofeng, sehingga melihat gadis itu ingin membunuh diri, dia menjadi amat berduka.
"Aa..aa.." Lu Jia Li mengeluarkan suara tak jelas dan dia mendekati Zhang Qiaofeng. Lalu memeluknya erat sambil ikut menangis pula. Sambil memeluk, kedua tangannya juga melepaskan tali yang masih melekat di leher Zhang Qiaofeng.
Zhang Hongli mendengus dan membalikkan tubuh. Jujur saja dia memaksakan hatinya untuk marah, mengeraskan batinnya untuk bersikap kejam. Jika tidak seperti itu, sudah pasti dialah orang yang akan menangis paling keras melihat aksi nekat cucu kesayangannya.
"Jaga dia dengan baik, jangan sampai dia melakukan tindakan sembrono macam ini lagi. Sampai keadaannya pulih, tinggalkan semua tugasmu dan fokuslah untuk menjaga Feng'er." perintah Zhang Hongli dengan berbisik ketika dia melewati Minghao. Setelah itu, kakek ini pergi tanpa menoleh lagi karena khawatir jika terlalu lama berdiri di sana, air matanya tak akan kuat ia tahan lagi.
Minghao hanya mengangguk sambil menahan isaknya.
Sedangkan Zhang Qiaofeng, dia sudah memeluk erat Lu Jia Li dan menangis kencang di puncak gadis bisu itu.
"Maafkan aku kak...maafkan aku!!" mulutnya terus berucap demikian di tengah tangisnya yang kian menghebat dan memilukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1