Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 54. Pemimpin Keluarga Hu


__ADS_3

"Lin Tian, jadilah muridku agar kelak kau mampu menghadapi mereka semua!!!" ucapnya lantang dan tegas sembari menunjuk wajah Lin Tian.


Lin Tian yang diperlakukan seperti itu hanya mampu membuka mulutnya lebar-lebar saking heran dan terkejutnya.


"Tunggu...menjadi murid? Kenapa tiba-tiba?" tanya Lin Tian dengan gelagapan.


"Tentu saja untuk melatihmu agar menjadi jauh lebih kuat lagi. Juga kau bisa jadi teman ngobrol bagiku di tempat sunyi ini." jawab kakek itu mantap.


Lin Tian masih terbengong mendengar pernyataan barusan. Dia benar-benar masih belum bisa menerima kenyataan ini. "Menjadi murid? Aku sedang buru-buru!!" batin Lin Tian yang sebenarnya merasa tidak setuju dengan perkataan Zhang Hongli


"Tapi Tuan-"


"Tidak ada tapi-tapi, sekarang istirahatlah dan besok kita mulai latihan!!" perintah Zhang Hongli tanpa menunggu Lin Tian menyelesaikan ucapannya.


"Hah...." hanya helaan nafas yang keluar dari mulut pemuda itu.


...****************...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, bahkan saat matahari belum menyinari tempat itu, Lin Tian dan Zhang Hongli sudah siap untuk memulai latihan.


"Sebelum mulai berlatih, lebih baik kau pakaialah baju ini. Ini adalah jubah kebanggaanku sewaktu dulu masih muda, karena kau adalah muridku, maka sekarang jubah ini milikmu. Ini ambillah!" kata Zhang Hongli seraya menyodorkan sebuah jubah yang berwarna putih bersih sama dengan jubah yang saat ini sedang dikenakannya.


"Terima kasih guru." ucap Lin Tian yang sudah mengganti nama panggilan kepada Zhang Hongli menjadi "guru".


Jubah itu berwarna putih bersih, berbahan dasar dari kain sutra yang sangat halus dan lembut. Di dalam lipatan itu ternyata juga terdapat baju dalam yang berwarna hitam. Baju dalam itu agaknya juga terbuat dari benang sutra.


"Dengar nak, pakaian itu terbuat dari kain sutra. Akan tetapi bukan dari ulat sutra sembarangan!! Jubah itu berasal dari ulat sutra yang hidup di puncak-puncak gunung pegunungan tembok surga. Yang dimana jika kain sutra yang berbahan dasar dari ulat tersebut, pakaian yang dihasilkan nantinya akan bersifat dingin serta empuk dan halus." kata Zhang hongli menjelaskan.


"Juga baju dalam yang berwarna hitam itu, terbuat dari kain sutra yang diambil dari ulat sutra pantai selatan. Yang dimana baju itu memiliki sifat menghangatkan ketika cuaca sedang dingin. Jadi, jubah luar dan baju dalam itu jika dipakai bersama-sama, akan mampu menghangatkan disaat dingin dan mampu mendinginkan disaat panas." lanjutnya.


Hebat, pikir Lin Tian. Dia tak menyangka akan mendapatkan hadiah seistimewa ini. Maka cepat dia mengganti jubahnya yang sudah robek disana-sini dengan jubah yang baru.


Begitu jubah pemberian Zhang Hongli itu sudah melekat di tubuhnya, Lin Tian nampak jauh lebih gagah dan tampan.


"Hm...bagus, itu sangat cocok denganmu." Zhang Hongli berkomentar.

__ADS_1


"Baiklah, karena kau sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi, maka aku akan langsung mengajarkan jurus-jurus simpananku kepadamu. Jurus-jurusku ini bukanlah sembarang jurus, ini adalah jurus-jurus ciptaanku yang telah mengangkat namaku dahulu diwaktu muda. Jadi, kau harus merasa senang dengan ini."


"Baik guru!!"


"Kalau begitu dengar baik-baik, karena kau menggunakan pedang, maka jurus pertama yang akan kuajarkan adalah jurus 'Kelopak Bunga Teratai', yang dimana jurus ini membutuhkan ketajaman dan kecepatan luar biasa."


Setelah itu Zhang Hongli menjelaskan bagaimana cara memainkan jurus tersebut. Kakek ini mempraktekkan gerakan-gerakan dari jurus Kelopak Bunga Teratai dengan menggunakan tangan kosong saja.


Memang sejatinya jurus ini bukanlah sebuah jurus yang mengharuskan si pengguna menggunakan pedang, akan tetapi pengguna jurus ini harus mahir dalam mengolah tenaga dalam menjadi tajam bagaikan pedang atau bahkan lebih kuat.


Walau Zhang Hongli mainkan jurus ini hanya dengan tangan kosong, akan tetapi Lin Tian merasa betapa setiap gerakan dari kakek tua ini sangat tajam dan berbahaya. Setiap gerakan selalu mendatangkan maut.


Sejak saat itulah Lin Tian berdiam diri di Hutan Merah bersama gurunya untuk memperdalam ilmu silat.


...****************...


Sementara itu di keluarga Xiao, lebih tepatnya di taman belakang kediaman pemimpin keluarga Xiao. Berdiri seorang pemuda berambut serba putih dengan pupil mata merah sedang menerawang ke arah langit.


Wajahnya tidak membayangkan apapun. Sudah seperempat jam lamanya pemuda ini berdiri termenung di sana.


Pemuda ini tak lain adalah Hu Tao, pemimpin keluarga Hu yang baru. Hari ini, dia sedang melakukan kunjungan ke keluarga Xiao untuk mempererat tali persaudaraan mereka.


Namun itu semua mustahil, ibunya sudah pergi untuk selama-lamanya dan tak pernah bisa kembali.


"Hey Hu Tao, kau sedang apa?" tanya seorang gadis jelita yang di bawah kedua matanya terdapat tahi lalat kecil.


"Oh Xiao Lian, aku di sini hanya ingin melihat-lihat." jawab Hu Tao seraya tersenyum kepada gadis yang baru datang itu. Ya, gadis itu adalah Xiao Lian, putri dari Xiao Li.


"Oh begitu." jawab singkat Xiao Lian kemudian duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah kiri tempat Hu Tao berdiri.


Hening. Hanya itulah yang mampu menggambarkan situasi dan kondisi mereka saat ini. Dua orang muda-mudi itu bingung hendak memulai percakapan dari mana sehingga membuat keduanya merasa canggung.


"Hei..." panggil Xiao Lian tiba-tiba.


"Ya?"

__ADS_1


Gadis itu lalu menolehkan kepalanya memandang wajah pemuda albino itu, lalu berkata, "Kau bilang jika seseorang yang telah membantumu adalah Lin Tian bukan? Bagaimana dia bisa ada di sana? Sekuat apakah dia sebenarnya?"


Hu Tao tidak langsung menjawab dan hanya memandang wajah ayu itu lekat-lekat. Lau dia tersenyum jahil dan berkata.


"Hoho...bagaimana dia bisa berada di sana? Hm...menurut pengakuannya, dia punya hutang budi kepada keluarga Xiao ini, karena itulah dia harus membalasnya. Dan seberapa kuat dia? Menurutku dia cukup kuat untuk melindungi nona cantik sepertimu." jawab Hu Tao melirik kearah gadis itu untuk mengetahui reaksinya.


Tiba-tiba, wajah putih Xiao Lian menjadi merah padam, lalu kemudian dia mengalihkan pandangannya dan berkata. Nadanya ketus, "Hmph!! Dia bukan siapa-siapaku, untuk apa pula melindungiku?"


"Hahaha...." tawa Hu Tao meledak seraya pergi dari sana.


Siang hari, Hu Tao bersama rombongannya telah berkumpul di halaman depan kediaman keluarga Xiao. Mereka hendak berpamit kepada Xiao Li sekeluarga untuk pulang ke keluarga Hu.


"Tuan Xiao, terima kasih atas kebaikan anda selama ini. Terima kasih pula karena sudah memaafkan kesalahan keluarga kami, sehingga sampai saat ini kami masih bisa bersahabat dengan keluarga Xiao ini." ucap Hu Tao sambil menjura memberi hormat diikuti oleh ketiga puluh orang anak buahnya.


"Ahh...jangan begitu Tuan. Kita ini memang sahabat semenjak dulu, jangan sungkan-sungkan." kata Xiao Li sambil membungkukkan badan pula.


"Baiklah kalau begitu, saya mewakili rombongan keluarga Hu, hendak pamit kepada Tuan untuk pulang kerumah." ucap Hu Tao.


"Hati-hatilah di jalan. Saat ini Aliansi Golongan Hitam sedang gencar-gencarnya melakukan kejahatan di sana-sini untuk mengangkat nama." kata Xiao Li memperingatkan.


"Baik Tuan, terima kasih atas nasehatnya."


Setelah itu, rombongan dari keluarga Hu yang dipimpin oleh Hu Tao pergi meninggalkan Kota Batu untuk pulang ke wilayah mereka.


...****************...


"Trang-trang"


"Bangsat kalian!! Berani-beraninya kalian menyerang dengan cara yang begini curang!!!" terika Hu Tao penuh amarah.


"Hik hik, ouh...galaknya....hey tampan, tenang saja aku tak akan membunuhmu. Malam nanti bukankah kita akan bersenang-senang? Ayahmu sungguh hebat lho, dia juga tak pernah menolak ajakan kami. Hihi kau tentu mau kan bocah tampan, hm?" kata perempuan itu dengan genit dan menggoda.


"Ihh...adik apa yang kau bicarakan? Mana mungkin seorang bocah ini mampu menahan pesona kita? Benar kan, manis?" ucap pula perempuan di sebelahnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan mesra.


"Bajingaaannn.....matilah!!!" kembali Hu Tao membentak dengan penuh kebencian.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2