
Mungkin sekitar satu minggu lebih beberapa hari, entah sudah keberapa kalinya Hati Iblis dan Pedang Hitam sering kali terlibat bentrok. Entah itu di tengah perairan atau salah satu di antara mereka datang ke markas yang lain untuk menyerbu.
Kejadian ini berhasil membuat Zhang Heng memijit-mijit kepalanya yang terasa pening sekali. Diam-diam dia menyalahkan Lin Tian karena telah mengakibatkan kekacauan ini. Dan andaikata dia tahu, bahwa memang inilah yang Lin Tian inginkan.
Pagi hari itu, Lin Tian diberi tugas oleh Zhang Heng yang berangkat bersama A Yin. Sedangkan dirinya bersama tiga pendekar sejati lainnya mendatangi perairan dimana tempat itu yang menjadi pemisah antara Hati Iblis dan Pedang Hitam.
"Benar-benar merepotkan!" umpatnya berkali-kali ketika dalam perjalanan.
...****************...
Di perbatasan antara dua pulau itu, rombongan Hati Iblis dan Pedang Hitam sudah berkumpul saling hadap-hadapan dengan sikap tidak bersahabat. Rombongan ini dipimpin oleh ketua mereka sendiri, Kiam Bong dan Xu Cin Keng.
Pertempuran yang akan berlangsung kali ini entah sudah keberapa kalinya mereka semua tak menghitung. Yang jelas, agaknya pertempuran kali ini yang akan melibatkan paling banyak orang dibanding pertempuran-pertempuran sebelumnya.
"Kita mulai sekarang? Apa kau siap, Kiam Bong?" gertak Xu Cin Keng sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang melakukan persiapan.
"Heh, seharusnya aku yang bicara begitu!! Kau pikir kami dari Hati Iblis takut padamu hah?" bentak Kiam Bong pula.
Keduanya serentak meluncur maju dengan perahu kecil tunggangan mereka. Tanpa mendayung, hanya mengandalkan hawa sakti saja untuk melakukan gaya tolakan di air agar perahu bisa meluncur cepat.
Perginya dua orang ini menjadi tanda bagi kedua rombongan untuk segera maju pula. Maka sebentar saja, perbatasan itu menjadi ramai sekali oleh teriakan-teriakan dan umpatan serta suara berdentingnya senjata logam yang beradu.
Sebenarnya, bukan hal ini yang diinginkan Zhang Heng. Selama seminggu ini dia sudah berusaha mati-matian untuk mendamaikan dua perkumpulan, tapi hasilnya hanya beberapa jam saja perdamaian itu sebelum keduanya saling bentrok lagi.
Karena itulah, hari ini dia bersama tiga pengawal pendekar sejatinya, akhirnya memutuskan untuk menjalankan rencana terakhir.
Pertempuran sudah berlangsung sekitar lima belas menit dan sudah banyak korban berjatuhan di kedua pihak. Namun belum juga tampak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Di tengah-tengah medan tempur, air laut itu berguncang hebat dan kadang-kadang membentuk sebuah ombak tinggi beberapa meter. Itu adalah akibat yang ditimbulkan oleh pertarungan dua pendekar sejati, Kiam Bong dan Xu Cin Keng.
"Hiiaaattt!!" pekik nyaring Kiam Bong melakukan gerakan pukulan tapak kearah kepala Xu Cin Keng. Dari sambaran hawa panas itu, Xu Cin Keng maklum akan kesaktian pukulan ini, maka terpaksa dia mengelak ke samping kanan sambil kaki kirinya mengirim tendangan kilat menuju ginjal kanan lawan.
"Bugh-Dess!"
Kiam Bong cepat menarik tangannya dan menangkis tendangan itu. Tangan kirinya yang bebas ia pergunakan untuk mengirim sebuah tinjuan ke dada Xu Cin Keng yang masih dalam keadaan miring itu.
__ADS_1
"Aakhh!" pukulan itu telak mendarat di dada tua Xu Cin Keng.
Bertepatan dengan ini, ketika Kiam Bong hendak maju lagi untuk mengirim serangan susulan, dari satu arah terasa sambaran angin panas yang sontak mengejutkan mereka semua. Sambaran angin ini tertuju kepada Xu Cin Keng dan Kiam Bong yang dengan tangkas meloncat.
"Braaakkk!!" perahu dua orang itu remuk seketika. Badan perahu gosong terbakar.
Untung bagi dua kakek itu yang sudah lekas meloncat ke perahu terdekat, sehingga mereka terhindar dari serangan.
"Siapa berani main curang!!?"
"Aku!!"
Mendadak wajah Xu Cin Keng pucat ketika mendengar jawaban tersebut. Karena pandangannya masih tertutup oleh api yang sedang lahap-lahapnya memakan dua perahu itu, sehingga matanya belum dapat menangkap sosok tersebut. Tapi mendengar suaranya saja semua orang sudah tahu siapa yang baru datang.
"Deess!!"
Muncul ombak setinggi dua meteran yang bergulung-gulung dan melemparkan dua perahu terbakar itu ke arah pemiliknya. Baik Kiam Bong dan Xu cin Keng buru-buru mengangkat tangan menangkis agar terhindar dari bahaya maut. Perahu itu pecah begitu bertemu dengan tangan mereka.
"Ketua!!" seru mereka terkejut ketika Zhang Heng bersama tiga pendekar sejati lain sudah tiba dengan sikap dingin mengancam.
Lalu pandangan Zhang Heng tertuju kepada Xu Cin Keng dan Kiam Bong yang juga tak berani mengangkat kepala.
"Maafkan kami ketua....kami yang bodoh ini akan segera mengakhiri ini." kata Kiam Bong menjura hormat dan berkata halus.
"Tak perlu. Biar aku sendiri yang menghentikan ini!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya melambung tinggi dan membuat semua orang terkagum-kagum. Tubuhnya itu seolah memiliki sayap sehingga saat di udara Zhang Heng tak langsung meluncur turun dan seperti terbang saja.
Dengan ringan kedua kakinya mendarat di perahu tempat Kiam Bong berada dan tangannya secepat kilat meraih kerah jubah Kiam Bong yang menjadi gemetaran. Zhang Heng memandangnya dalam jarak dekat sekali dengan mata mencorong seperti harimau kelaparan.
"Tak peduli muridmu yang hilang atau apapun, kau sudah mengacaukan Iblis Tiada Banding. Terlalu banyak masalah yang kalian berdua timbulkan!" ujar Zhang Heng penuh penekanan.
"K-ketua?" tubuh Kiam Bong makin gemetaran dan berkeringat dingin.
"Nah, enyah dari hadapanku!!" sentaknya dan mendorong tubuh Kiam Bong. Saat tubuh tua itu masih miring, tanpa dapat dicegah atau dielakkan lagi, tangan kiri Zhang Heng sudah bergerak lebih dulu menusuk ulu hatinya. Tubuh Kiam Bong roboh tanpa nyawa lagi.
__ADS_1
Terdengar seruan-seruan kaget dari orang-orang yang ada di sana setelah menyaksikan kejadian tersebut. Begitu pula dengan Xu Cin Keng yang makin pucat dan ketakutan.
Zhang Heng tak pedulikan semua itu melainkan langsung melompat ke perahu Xu Cin Keng yang sontak melompat mundur.
"Giliranmu untuk menyusulnya!!" Zhang Heng berseru dan mengirim hawa pukulan jarak jauh ketika tubuhnya masih melambung di udara.
"Brakk!"
Perahu yang dinaiki Xu Cin Keng pecah dan para penghuni kapal yang berjumlah tiga orang itu gelagapan karena jatuh ke air. Sedangkan Xu Cin Keng sudah melompat jauh ke perahu lain dan mencoba kabur dengan melompat-lompat dari satu perahu ke perahu lain seperti tupai.
"A Tong, kejar!!" ujar Zhang Heng menyuruh sosok termuda dari tiga orang itu.
A Tong cepat bertindak dengan melompat jauh dan dalam beberapa kali lompatan saja, dia sudah tiba di hadapan Xu Cin Keng.
"Bocah, minggir!" Xu Cin Keng menjadi gelap mata dan menusukkan pedangnya. Karena di atas perahu, sehingga perahu menjadi goyang ke kanan dan kiri di saat kakek itu menerjang maju. Tapi hebatnya, tubuh A Tong sama sekali tak bergerak.
"Rebah!!" bentak A Tong yang mengempit pedang Xu Cin Keng dengan ketiak kirinya. Sedang tangan kanan memegang tengkuk kakek itu yang kemudian dibantingnya sampai kepala itu tempus di perut perahu.
"Uhukkk!!" lenguh Xu Cin Keng yang kepalanya masih menancap di perut perahu.
"Kerja bagus bocah, sekarang mati!!"
Ternyata Zhang Heng sudah tiba di sana dan tepat ketika dia mendarat, sebuah pukulan berhawa Yang yang panas sekali dengan telak menembus punggung Xu Cin Keng sampai ke perut.
Teriakan kematian yang mengerikan terdengar nyaring mengiringi kematian ketua perkumpulan Pedang Hitam itu.
Sampai di sini, semua orang hanya mampu memandang bengong dengan mata terbelalak. Tapi walaupun begitu, tak ada seorang pun yang berani buka suara untuk berkomentar.
Zhang Heng memandang semua orang itu dengan tajam. Lalu pandangannta tertuju kepada A Jiu dan A Liu saat menurunkan perintah.
"A Jiu, kau ambil alih kepemimpinan perkumpulan Hati Iblis. A Liu, kau tempati kursi pemimpin Pedang Hitam. Ingat, aku tak mau masalah ini terulang lagi!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1