
Tentu saja, kabar akan kematian Dewa Kegelapan yang menjadi anggota Pilar Neraka sekaligus Aliansi Golongan Hitam sudah diketahui semua orang di kalangan dunia persilatan.
Mereka tahu betul bagaimana kesaktian datuk-datuk dunia persilatan baik golongan hitam maupun putih. Menurut kabar, kesaktian mereka sudah seperti bukan manusia, bahkan pernah ada seorang penyair yang mengatakan dalam syairnya, mereka itu sebenarnya adalah para dewa dan iblis yang menyamar jadi manusia. Tentu tak lama setelah itu penyair ini menjadi bahan cemoohan sebab telah menyebarkan berita yang teramat sangat tidak masuk akal.
Kematian Dewa Kegelapan berhasil menjadi angin segar bagi para pendekar golongan putih. Namun di lain sisi, kematiannya juga mendatangkan rasa khawatir.
Bukan tanpa alasan, mereka khawatir kepada seseorang yang mampu membunuh Dewa Kegelapan itu. Kabar burung mengatakan, jika tepat di tempat kematian Dewa Kegelapan, ada sebuah pohon yang terukir suatu kalimat, yang menyatakan bahwa pembunuh Dewa Kegelapan adalah orang yang disebut Iblis Tiada Banding.
Mereka khawatir sebab melihat dari namanya saja, tentu orang ini bukanlah berasal dari golongan putih, melainkan dari golongan hitam. Maka dari itulah, angin segar bagi mereka semua hanyalah sesaat, tergantikan dengan rasa cemas akan kehadiran musuh baru, yaitu si Iblis Tiada Banding.
Kaisar Chu Quon mengadakan pencarian besar-besaran. Bukan hanya mencari jejak si Iblis Tiada Banding ini, namun juga sekaligus mencari keberadaan anggota Aliansi Golongan Hitam yang tiba-tiba saja lenyap seperti ditelan bumi.
Hal ini cukup mengejutkan kaisar itu, sebab dalam dua bulan terakhir ini, tidak ada satupun warga atau pendekar atau anak buahnya yang melaporkan akan tindakan semena-mena dari Aliansi. Padahal biasanya setiap bulannya selalu ada laporan akan tindakan Aliansi itu.
"Tentu mereka menyembunyikan diri" kata penasehat kaisar.
"Menurutmu begitu? Bukankah di sana masih ada Pendekar Pedang Arwah dan Golok Penghancur Gunung? Apakah mereka juga merasa takut dengan keberadaan Iblis Tiada Banding ini?" Chu Quon menimpali.
Saat ini, dua orang berbeda kasta itu sedang duduk-duduk di pondok kecil yang terletak di halaman belakang istana. Di hadapan mereka, terdapat dua cangkir kecil dan satu teko yang berisikan teh hangat.
Setelah menyeruput teh di cangkirnya, penasehat itu segera menanggapi, "Bukankah hal itu wajar? Tentu mereka cari aman Yang Mulia."
"Aku yakin mereka tidak takut dengan Iblis baru ini. Namun pemimpin mereka, yang telah diketahui bernama Ling Haocun si Setan Racun Api, adalah orang cerdik. Dia melakukan siasat ini untuk mengamankan Aliansi sekaligus melihat perkembangan keadaan kedepannya, juga mungkin sekali untuk memantau sepak terjang iblis baru ini."
Orang itu menyeruput kembali tehnya sebelum melanjutkan.
"Maksudnya, jika mereka sudah tahu bagaimana sepak terjang Iblis Tiada Banding ini di dunia persilatan, Ling Haocun akan membuat siasat untuk menumpas mereka. Begitulah menurut saya."
Chu Quon mengangguk-angguk, "Tapi bagaimana dengan Aliansi Golongan Hitam sendiri, apakah perlu kita abaikan untuk sementara, atau kita tetap melanjutkan pencarian ini?"
Penasehat kaisar mencoba berpikir, menimang-nimang segala kemungkinan, mencari jalan keluar yang paling menguntungkan bagi pihak kekaisaran.
"Yang Mulia, tentu anda sudah mengetahui tentang Ling Haocun. Memang di Pilar Neraka, dia bukanlah yang terkuat. Bahkan mungkin setelah kematian Elang Salju dan Si Cantik Setan Kembar, bukan tidak mungkin saat ini dirinya menjadi anggota paling lemah."
"Namun aku ragu jika diantara empat anggota Pilar Neraka yang masih tersisa, ada yang mampu mengalahkan kelicikan otaknya itu. Maka dari itulah, saya sarankan untuk terus melakukan pencarian terhadap Aliansi. Selain untuk keamanan bersama, tindakan kita ini juga secara tidak langsung untuk menekan pergerakan mereka yang saat ini masih bersembunyi entah dimana." jelasnya.
__ADS_1
"Memang masuk akal sekali, akan tetapi, menurutmu siapa sebenarnya Iblis Tiada Banding ini? Maksudku, apakah mereka adalah sekelompok orang seperti Pilar Neraka, atau seorang pendekar sakti yang hendak mengacau?" tanya kaisar kemudian.
"Hem...itulah sebenarnya yang ingin saya tanyakan kepada anda Yang Mulia. Jujur saya juga sangat bingung akan hal itu, namun yang lebih mengerikan adalah, jika Iblis Tiada Banding ini mempunyai suatu kelompok besar dibelakangnya. Tentu hal ini akan lebih memusingkan kita disamping usaha kita untuk menumpas bersih Aliansi Golongan Hitam." jawab pria itu diakhiri helaan nafas panjang.
Kemudian, mereka kembali melanjutkan diskusi akan hal lain. Entah itu tentang pembangunan kekaisaran atau penyaluran irigasi di desa-desa yang kesulitan air.
...****************...
Di tempat lain, Hu Tao bersama tiga lusin pasukan pengawal elit, sedang melakukan misi rahasia untuk menyelidiki ke daerah Utara. Lebih tepatnya ke daerah lereng-lereng Pegunungan Tembok Surga.
Tetua pertama sebenarnya melarang Hu Tao untuk turun tangan sendiri atas permasalahan ini, namun pemuda albino itu tetap berkeras untuk pergi sendiri, karena menurutnya, masalah ini bukanlah masalah yang mampu ditangani oleh para pasukannya.
Masalah itu adalah soal pasukan manusia gunung yang selama beberapa waktu itu menjadi sedikit "diam". Sebenarnya bukan pasukan gunung itu yang menjadi maslaah, namun pemimpin mereka.
Dua hari lalu, ada beberapa orang mata-mata keluarga Hu yang kembali ke kediaman. Mereka pulang dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan. Mandi darah dan ada beberapa bagian tubuh yang tidak utuh lagi.
Bahkan ada tiga orang yang belum sempat menghadap Hu Tao, sudah mati duluan kehabisan darah. Tersisalah satu orang yang sudah buntung kaki dan tangan kirinya untuk melapor kepada Hu Tao.
"Ada apa ini!?" tanya pemimpin muda itu dengan panik begitu melihat anak buahnya yang digotong beberapa pengawal.
Maka secepat kilat Hu Tao melesat kearahnya dan menotok beberapa jalan darah, membuat darah dari kaki dan tangan yang buntung itu berhenti mengalir.
Orang itu terengah-engah, nampak amat kesakitan. Namun dengan tekad dan kesetiannya terhadap keluarga, akhirnya mulut yang penuh dengan noda merah itu terbuka dan berkata perlahan.
"Pemimpin...pasukan gunung...sudah diketahui...."
Sontak hal ini membikin terkejut mereka semua, bahkan para tetua yang sebelumnya sedang berdiskusi dengan Hu Tao segera bangkit dan datang mendekat.
"Dia seorang pria...badannya kekar...tak berbaju...hanya pakai celana sederhana..." ucapnya yang terhenti sejenak karena dia tersedak darahnya sendiri dan terbatuk.
"Rambutnya kuning emas....di badannya juga terdapat...tato-tato aneh....dahinya terdapat simbol api...kedua bola matanya merah darah..." kembali ucapannya terjeda karena orang ini sedang memgumpulkan nafas untuk berbicara lebih lanjut.
Sampai sini saja, baik Hu Tao maupun para tetua yang sudah berpengalaman dapat menduga siapa adanya orang tersebut. Hal ini membuat wajah mereka menjadi agak pucat, namun berbeda dengan Hu Tao dan tiga tetua terkuat, mereka masih bisa tenang.
"Dia...kuat...mampu menggerakkan pasukan manusia gunung dan binatang buas....kami ketahuan saat mengintai mereka dan hampir mati...untung saja kami bisa pulang...dan aku dapat melapor kepada pemimpin...hah...hah..."
__ADS_1
"Pemimpin...mohon kebijaksanaan......" berbareng dengan berhentinya ucapan ini, berhenti pula nafasnya dan mata-mata itu telah mengusul teman-temannya.
"Naga Emas..." Hu Tao berkata lirih dengan mata tajam.
"Apa yang akan kita lakukan Tuan?" tanya tetua pertama.
"Siapkan tiga lusin pasukan elit, tetua kedua dan ketiga, mohon ikut aku! Aku sendiri akan datang ke sana dan menyelidik dua hari dari sekarang. Markas mereka ada di lereng-lerenga Pegunungan Tembok Surga bukan? Bagus, tempat itu tak terlalu jauh dari sini."
Mendengar perintah ini, sontak terkejutlah mereka semua.
"Tidak Tuan!! Biar aku saja yang memimpin penyelidikan ini, lebih baik anda tetap di sini untuk keamanan-"
"Diam!! Keputusanku sudah bulat!! Kau pikir aku selemah itu hah!? Bahkan jika aku harus bentrok melawan Naga Emas, aku ragu dia mampu mengalahkanku dalam sekejap mata. Kau di sini, menggantikan aku menduduki kursi pemimpin selama beberapa waktu!" bantah Hu Tao tegas.
Tetua pertama hendak membantah lagi, menyampaikan ketidak setujuannya. Namun ia urungkan karena tatapan tajam dari Hu Tao itu.
Maka malam hari itu, tiga lusin pasukan elit telah disiapkan untuk mengawal Hu Tao menyelidik ke lereng Pegunungan Tembok Surga. Sedangkan pemuda itu sendiri segera kembali ke kamarnya dan menulis secarik surat untuk keluarga Zhang.
Aku baru saja mendapat laporan dari mata-mataku. Menurut informasinya, pemimpin pasukan manusia gunung kemungkinan besar adalah Naga Emas. Maka dari itu, harap kalian berhati-hati. Aku sendiri selaku pimpinan Keluarga Hu akan menyelidik sendiri ke lereng-lereng Pegunungan Tembok Surga yang menjadi markas pasukan itu.
Setelah itu dia menggulung surat, mengikatkannya pada burung elang pengirim surat peliharannya.
"Keluarga Zhang!!" ucapnya singkat sebelum elang itu benar-benar terbang pergi.
Sengaja dia tidak menunjukkan kepada siapa surat itu akan dikirim, karena untuk antisipasi jika seandainya di tengah jalan surat itu berpindah tangan, maka keluarga Zhang akan aman sebab tidak ada hal apapun di surat itu yang menunjukkan akan keluarga Zhang.
Begitulah singkat cerita mengapa Hu Tao saat ini bersama tiga puluh enam pasukan elitnya melakukan perjalanan menuju Pegunungan Tembok Surga.
"Pemimpin, harap dengan sangat agar anda menghindari bentrokan dengan mereka. Karena selain tidak menguntungkan, hal itu juga sangat membahayakan diri anda." kata tetua kedua memperingatkan.
"Ya, aku tahu." balas pemuda itu singkat.
Memang kesaktian Hu Tao saat ini sudah tinggi sekali setelah menjadi murid Empat Dewa Mata Angin. Karena itulah, dia sama sekali tidak gentar jika harus melawan Naga Emas satu lawan satu. Akan tetapi, dia lebih setuju dnegan pernyataan tetua kedua. Bukan karena takut, namun dia tidak ingin kerugian lebih besar lagi dengan tewasnya para pasukan.
Satu hal lagi, dia sengaja tidak mengabari gurunya akan hal ini. Karena selain mereka berempat sedang sibuk menyelidiki Iblis Tiada Banding dan keberadaan Aliansi, juga Hu Tao tidak ingin terlalu bergantung kepada mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG