
"Chan Fan mati di kediamannya?"
"Benar tuan, entah apa yang menyebabkan dia seperti itu..."
Lelaki berwajah tiga puluhan tahun itu mencengkeram bantalan kursi yang didudukinya sampai patah lalu membuangnya ke sudut ruangan. Tembok yang terkena sambitan potongan kayu itu bolong seketika tertembus bantalan kursi Sian Yang.
"Kapan kejadiannya?"
"Mungkin tadi malam."
Dengan gusar dan nafas memburu, Sian Yang bangkit berdiri dan buru-buru keluar ruangan. "Naga Emas, ikut aku!"
...****************...
"Apa katamu!?" kakek sepuh itu melotot lebar seperti dua bola matanya hendak keluar. Kemudian dia menelan ludah susah payah saking terkejut dan herannya.
"Saya tidak berbohong tuan."
Kiam Bong, ketua dari perkumpulan Hati Iblis ini terhenyak kaget mendengar berita yang disampaikan salah satu anggota perkumpulannya.
Pagi-pagi ini, dia sudah disuguhkan dengan kabar yang benar-benar di luar dugaan, yaitu kematian Chan Fan yang bertempat di halaman rumahnya sendiri!
Kiam Bong mengetuk-ngetukkan ujung kakinya ke lantai ruangan sehingga menghasilkan bunyi "tak-tok-tak-tok". Tangan kirinya mengelus-elus dagu sedangkan jari tangan kanannya diketuk-ketukkan pada bantalan kursi.
"Kita lihat sekarang!" akhirnya berkatalah demikian sembari bangkit berdiri.
...****************...
"Guru, apa kau bercanda? Orang itu mati!?"
"Fu Hong muridku yang paling cantik, apakah gurumu ini nampak seperti tidak jujur?"
Di perkumpulan Pedang Hitam juga sama, terjadi keributan akan kematian Chan Fan yang terlalu tiba-tiba dan tak terduga. Apalagi kematian itu terjadi dalam waktu berdekatan dengan insiden ledakan ruang bawah tanah si nenek siluman. Tentu hal ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan di hati orang-orang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Ayo lihat ke tempat kejadian."
...****************...
"Kabar itu tak bohong..."
"Ini benar tuan Chan Fan!"
Bisik orang-orang yang sudah hadir di sana. Mereka cukup terkejut, heran dan bingung akan kejadian yang terlampau janggal ini. Pasalnya, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengalahkan Chan Fan. Orang-orang itu tak lain adalah Sian Yang, Naga Emas, Zhang Heng dan lima bersaudara pendekar sejati.
__ADS_1
Ketika semua orang sedang sibuk berpikir dan beradu argumen tentang siapa yang telah membunuh Chan Fan, dari belakang terdengar bentakan keras yang segera mendatangkan perasaan jeri di hati mereka semua.
"Minggir!"
Sontak mereka semua memberi jalan kepada orang yang baru datang ini. Semuanya menundukkan badan memberi hormat tanpa terkecuali. Mereka ini adalah rombongan Sian Yang bersama muridnya Zhang Heng yang juga membawa empat pendekar sejati serta Lin Tian.
"Hmm.....siapa yang melakukan ini?" ujar Sian Yang dingin begitu melihat Chan Fan yang dibiarkan membusuk tanpa terawat itu.
"Zhang Heng, kau tahu sesuatu?" ia menolehkan kepalanya untuk memandang muridnya ini.
Zhang Heng memandangi mayat itu dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan gurunya, "Guru, dia kemungkinan besar yang menjadi pelaku atas meledaknya ruang bawah tanah. Jadi...mungkin saja ada yang membunuhnya karena tidak terima dengan perbuatannya itu."
"Apakah itu perbuatanmu?"
Zhang Heng menggeleng, "Bukan guru, entah siapa dia yang berbuat ini saya tidak tahu."
"Di sini, orang yang mampu membunuhnya antara aku dan anggotaku atau kau dan anggotamu!" tukas Sian Yang tegas.
"Mungkin memang ada salah satu diantara orang-orang ini yang menjadi pelaku. Nanti biarkan saya menyelidiki." ucap Zhang Heng setelah berpikir selama beberapa saat untuk memberi jawaban.
Empat orang bersaudara itu saling pandang dengan kening berkerut. Karena diantara mereka tidak ada yang merasa telah menurunkan tangan kejam kepada Chan Fan. Mana mungkin A Xin yang melakukan itu sedangkan saat ini dia sedang berada di kekaisaran Song.
A Jiu memberi tanda dengan kedipan matanya kepada sosok di sebelah kiri, dia adalah A Liu. Sedangkan pria tua di sebelahnya itu hanya memberi jawaban dengan gerakan alis yang diangkat tinggi.
"Maaf ketua, tapi tak ada satupun dari kami yang melakukan pembunuhan itu." ujar A Yin yang masih seperti gadis dua puluhan tahun. Memang luar biasa obat racikan orang ini, mampu membuat penampilannya yang sudah lima puluh tahun menjadi tak kalah cantik dengan gadis desa dua puluhan.
Zhang Heng dan Sian Yang serentak menoleh, namun akhirnya Sian Yang mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terkejut, sekaligus Zhang Heng yang merasa girang sekali dalam hati.
"Biarlah, bukankah dia yang telah meledakkan ruang bawah tanah? Siapapun yang membunuhnya, aku berterima kasih. Kuburkan dia!"
Beberapa orang segera berkerumun untuk mulai mengurusi jenazah Chan Fan yang sudah nampak mengerikan itu.
Tetapi melihat keputusan Sian Yang, Lin Tian malah mengerutkan kening. Akibatnya sedikit berbelok dari tujuan awal. Sebenarnya, dia ingin memecah belah Iblis Tiada Banding ini. Jika seandainya Sian Yang mengetahui yang membunuh Chan Fan adalah Zhang Heng, dia pikir saat itu akan terjadi perang saudara antara pendukung Zhang Heng dan pendukung Sian Yang. Tetapi tak pernah disangkanya bahwa hasil akhir akan damai-damai saja.
"Sepertinya aku harus mulai dari dua bidadari itu."
...****************...
"Sekarang, lebih baik kita adukan saja dua bidadari dari dua perkumpulan." Lin Tian memberikan usul ketika setelah beberapa menit Xin Kiu berkunjung ke rumahnya.
"Hm, mengapa begitu?"
"Kau tidak tahu? Yang membuat dua orang itu geger siapa lagi kalau bukan aku? Kau pikir soal penyusup yang mengacau saat pemilihan ketua, lalu pembunuhan pelayan Sung Hwa, itu semua nyata? Memang nyata sih, tapi aku sendiri yang membuat sandiwaranya." dengan wajah acuh tak acuh, Lin Tian mengatakan semua itu seolah-olah bukan menjadi sesuatu yang luar biasa. Tapi lain halnya dengan reaksi Xin Kiu yang melongo tanpa mampu berkata-kata.
"Jadi....kau si pengacau itu....?"
__ADS_1
"Benar, bukankah tadi sudah kubilang?"
Tentu saja Xin Kiu terkejut, karena awalnya dia berpikir Lin Tian ini hanya seorang pengawal Zhang Heng saja. Lalu dia dikejutkan dengan identitas pemuda itu yang sebenarnya adalah pengawal nona Zhang. Kemudian dia makin terkejut lagi saat Lin Tian mengajaknya bekerja sama.
Mula-mulanya dia menduga bahwa Lin Tian ini sama seperti dirinya, menjadi mata-mata dan karena musuh terlalu kuat dia tidak bisa mengambil tindakan langsung. Tapi kali ini, baru saja didengarnya dengan sepasang telinga sendiri yang masih utuh dan sehat, bahwa Lin Tianlah yang mengacaukan dua perkumpulan itu.
Mencoba menenangkan dirinya dengan beberapa tarikan nafas berat, akhirnya Xin Kiu mampu berkata kembali. "Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa mengadu dua bidadari itu?"
Lin Tian memandang ke langit-langit rumahnya, sambil jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Kemudian entah mengapa dia tersenyum sumringah ketika sebuah ide yang cukup sederhana namun akan sangat ampuh jika itu ditujukan kepada salah satu bidadari atau kedua-duanya sekalian.
"Kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Xin Kiu yang juga sadar akan perubahan ekspresi Lin Tian.
"Hahaha....tentu-tentu, sudah kupikirkan dan aku malah bingung sendiri kenapa tidak menggunakan cara ini sejak dari dulu."
Mendengar tawa penuh percaya diri itu membuat wajah Xin Kiu cerah dan cepat-cepat dia bertanya. "Apa itu? Apa itu? Katakan padaku, cepat!"
"Hehe...." Lin Tian lalu membisik-bisikkan sesuatu ke telinga Xin Kiu yang menjadi terkejut sekali. Wajahnya berubah-ubah, kadang alisnya berkerut, kadang terangkat tinggi atau bahkan tak jarang sebuah seruan tertahan terdengar dari dalam tenggorokannya.
"Nah bagaimana? Hebat bukan?"
Nampak raut keraguan di wajah Xin Kiu itu, dia mengutarakan isi hatinya, "Tapi...kau yakin? Caramu itu sedikit....hm, aneh?" Xin Kiu menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kenapa memang, kau takut? Tugasmu semudah itu kau sampai takut? Walaupun seorang pelayan, tapi siapapun anggota kekaisaran Song tak semestinya takut!"
Mendengar ini sontak Xin Kiu menggebrak meja sambil mulutnya berseru, "Siapa yang takut!? Ayo lakukan! Tapi keberhasilan rencana ini ada padamu!"
"Tentu aku paham, sekarang...ayo kita mulai...." Lin Tian lalu mengambil kertas kecil yang kemudian dia menuliskan sesuatu di sana, kemudian setelah selesai dan dibaca oleh Xin Kiu yang tersenyum aneh, pemuda ini memberikan surat itu padanya.
"Kau yakin akan berhasil?"
"Entahlah, aku akan menyerahkan ini saat tugas mengirim pasokan makanan beberapa hari lagi. Mungkin tiga hari?"
"Tak masalah, jangan terburu-buru. Yang penting tugas ini selesai."
Setelah berkata demikian, Lin Tian mendapat tatapan aneh dari kawannya itu. Maka cepat dia bertanya, "Kenapa kau memandangku seperti itu?"
Menyipitkan matanya, mulutnya mencibir, "Katakan saja dari awal kalau kau hendak mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
"Hei, apa itu? Aku ini hanya mengambil keuntungan dalam kesempatan! Jangan menyalah artikan rencanaku, aku tidak akan berbuat yang bukan-bukan!"
"Sesukamulah!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1