
Pagi hari itu, matahari bersinar dengan cerahnya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hujan atau cuaca buruk. Semuanya nampak baik-baik saja.
Tapi tidaklah begitu baik dengan keadaan kekaisaran Song yang geger karena Kauw Jin, anak menteri yang sejatinya adalah A Xin namun belum ada yang menyadari itu, mencak-mencak di kediaman Zhang karena hilangnya Zhang Qiaofeng.
Bahkan ayahnya, sang menteri juga ikut dalam kunjungannya ke kediaman keluarga Zhang membawa pasukan kerajaan. Posisinya memang cukup tinggi untuk mampu memerintahkan pasukan kerajaan menurutinya.
Tapi walaupun begitu, diam-diam keluarga penguasa lain merasa sakit hati akan kabar yang beredar, yaitu pernikahan nona Zhang dan Kauw Jin. Maka mereka menjadi girang bukan main mengetahui Zhang Qiaofeng lenyap. Karena itulah, pagi ini empat keluarga penguasa lain mati-matian membela keluarga Zhang.
Terutama keluarga Chu yang paling ngotot untuk menentang Kauw Jin dan menteri. Dia merasa kekaisaran Chu sudah sangat terbantu dengan adanya keluarga Zhang, maka dia bertanggung jawab untuk membelanya.
Sedangkan untuk pendekar bebas dan perguruan Putri Elang, memilih bungkam dan tidak membela siapa-siapa.
Karena tekanan lima keluarga besar yang kekuatannya tidak bisa dianggap main-main, maka Kauw Jin bersama pasukan terpaksa mundur. Konflik kecil ini diakhiri dengan umpatan Kauw Jin yang menuding-nuding ujung hidung Zhang Hongli.
"Ingat ini, aku bersumpah kalian akan menyesalinya!!"
Sejak saat itu dan di hari berikutnya, hubungan lima keluarga bersama menteri sedikit renggang, hal ini tentu saja menyusahkan hati kaisar. Tapi dia masih bersyukur setidaknya tidak terjadi perang saudara.
...****************...
Kegegeran bukan hanya terjadi di kekaisaran Song saja, tapi di pulau Tulang Naga, tempat bersemayamnya Iblis Tiada Banding itu juga tak kalah heboh. Kali ini yang bentrok bukan antar keluarga, tapi antar bidadari. Yah...setidaknya begitulah yang orang-orang sebut.
Permasalahan ini cukup sepele, dua bidadari dari Iblis Tiada Banding yang saling berebut Lin Tian itu tak mau kalah dan saling menyalahkan satu sama lain. Siapa lagi kalau bukan Sung Hwa dan Fu Hong. Dua orang wanita yang sama-sama cantik di wajahnya, tapi sama-sama busuk di hatinya. Kejam macam iblis.
Setelah pertemuannya dengan Lin Tian, Fu Hong segera mengumpulkan lima puluh anak buah khususnya. Dan ketika diteliti benar-benar, ternyata tak ada satu pun anggota yang berkurang.
Karena inilah, dia tidak menganggap Lin Tian bohong, melainkan membenarkan perkataan Lin Tian yang mengatakan bahwa kemungkinan penyusup itu berasal dari Hati Iblis.
Maka berangkatlah pasukan khusus Pedang Hitam menuju salah satu pulau yang menjadi markas perkumpulan Hati Iblis. Lima puluh orang putri itu segera mendatangi bangunan utama dan membuat keributan.
"Hey Sung Hwa, muka macam kuda seperti engkau ini mau apa memfitnah kami!!?"
Tentu saja kedatangan lima puluh putri cantik-cantik itu mengejutkan para anggota Hati Iblis. Tapi tak ada yang berani melawan selain memandang ngeri.
Pintu depan ruangan terbesar itu terbuka saat menampilkan sosok wanita cantik berambut hitam panjang yang nampak kalem. Tapi mulutnya mengerucut sebal ketika menyambut tamunya.
__ADS_1
"Setan dari mana ini? Oh, ternyata engkau, siluman!"
"Tak punya kaca!? Kau lebih siluman dari aku keparat!"
Sung Hwa dengan santai menuruni setiap anak tangga dengan langkah halus sekali, seperti putri bangsawan. Ketika sampai di depan Fu Hong yang melotot-lotot lebar, Sung Hwa mengangkat dagu angkuh.
"Kebetulan sekali kau datang ke sini, aku pun tadinya hendak ke kandangmu untuk membuat perhitungan."
"Bagus, agaknya pikiran kita sudah nyambung! Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita selesaikan. Siapa yang lebih pantas bagi Lin Tian!" Fu Hong sudah mencabut pedangnya dan menyuruh anak buahnya mundur untuk memberi ruang baginya.
Bukannya mengindahkan ajakan Fu Hong, Sung Hwa malah mengeluarkan sebuah belati dari balik bajunya yang dimana pada bilah senjata itu, sudah terlumuri darah kering.
"Nona Fu Hong yang cantik manis tak kalah cantiknya seperti bunga lotus di danau tenang, coba kau jelaskan apa ini?" suaranya berubah menjadi dingin saat bertanya hal demikian, "Pelayanku mati tadi malam tepat di depan kamarku. Ini belati bukan, oh...cukup familiar diantara kita."
Memucatlah wajah Fu Hong, bingung sekaligus terkejut dan penasaran. Kenapa ada belati di tangan Sung Hwa yang dimana perkumpulan Hati Iblis lebih memfokuskan silat tangan kosong. Kalau pun ada yang bersenjata, sama sekali tak ada senjata tajam. Paling-paling tongkat atau gada.
"Sung Hwa, jangan memfitnah!" bentak Fu Hong merasa dipermainkan.
Terkekeh geli, Sung Hwa menjawab, "Siapa yang memfitnah, aku punya saksi." kemudian dia bertepuk tangan dua kali.
"Apa ini?" Fu Hong makin bingung.
"Ceritakan..." Sung Hwa tersenyum tipis, sedangkan orang itu langsung gelagapan saat menjawab.
"M-malam itu...aku melihat ada seseorang berjubah hitam datang ke kamar nona. A-aku ingin menghentikan, t-tapi gagal. Dan dia sudah terlanjur membunuh pelayan nona."
"Tapi apa hubungannya dengan belati ini!!" Fu Hong membentak tak sabar.
"Aku tidak tahu, a-aku hanya melihat dia melemparkan belati itu, dan menggores jidatku ini." ujarnya sambil menunjukkan luka memanjang di dahinya.
Sung Hwa mengalihkan pandangannya memandang Fu Hong yang tambah kebingungan. Kemudian dia meraih dagu Fu Hong dan diangkatnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga lawan saat berbisik.
"Kau pembohong....sepertinya Pedang Hitam sudah di luar kendali."
Cepat-cepat Fu Hong mendorong kepala Sung Hwa ketika membentak, "Apa katamu? Ini tidak benar! Ini fitnah!"
__ADS_1
"Kau sudah lihat buktinya."
"Dia anak buahmu sendiri, siapa tahu kau sengaja menyuruhnya untuk main sandiwara!"
"Lalu, darimana kau bisa menuduh kami telah mengirimkan penyusup?"
Fu Hong sedikit tercekat. Sampai di sini dia sadar, jika perdebatan dilanjutkan maka pemenangnya tentu Sung hwa. Karena Sung Hwa datang dengan saksi, sedangkan dia sendiri datang dengan emosi. Tapi karena terlalu percaya dengan Lin Tian, dia berujar gemas.
"Lin Tian yang memberitahuku..."
"Darimana Lin Tian tahu?"
"Dia sendiri yang membunuh penyusup itu!"
"Jika penyusup itu berasal dari perkumpulan kami, kenapa dari kemarin aku tak dengar ada orang mati di sini. Sedangkan ini, lihat, belati ini ada di tanganku. Bukti dan saksi sudah nyata, kau hendak menyangkal, putri yang manis?"
Fu Hong menggertakkan gigi-giginya, merasa dipermainkan. Dia berseru panjang sembari mengayunkan pedang.
"Kau bilang Lin Tian bohong??"
"Kau lah yang bohong, pertemuanmu dengan Lin Tian tak pernah terjadi! Kau hanya ingin menjebak dan membuang kami!" Sung Hwa menghindar sambil balas menyerang.
Tindakan dua orang ini memicu kericuhan di antara dua pihak yang sudah saling terjang. Bahkan anggota Sung Hwa yang daritadi diam-diam mengamati dari jauh sudah muncul dan ikut membantu pula. Peperangan kecil terjadi di markas perkumpulan Hati Iblis.
...****************...
Di atas pohon tinggi, duduk seorang pemuda bertopeng sebelah wajah yang nampak menyeringai. Daritadi mulutnya terus bergumam, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus dagu dengan perlahan.
"Pertunjukan bagus, pertunjukan bagus. Hanya sedikit membuat dongeng saja aku sudah bisa menaklukkan dua naga betina itu. Haha...lagi-lagi nona membantuku. Sebenarnya, aku yang mengabdi padanya ataukah dia yang mengabdi padaku?"
Lin Tian lalu mengeluarkan satu belati milik nonanya, dia memandangnya lekat-lekat sebelum menciumnya. "Terima kasih nona, walaupun cara yang kulakukan ini sedikit kotor dan pengecut, tapi itu semua demi keluarga Zhang dan dunia persilatan. Aku harap, pernikahanmu dengan A Xin tidaklah benar."
Sampai di sini, perlu diketahui bahwa A Xin tidak menceritakan fenomena dimana dia memperkosa Zhang Qiaofeng. Andai saja dia ceritakan, tentu A Xin sudah hilang kepalanya. Untung saja waktu itu dia cerita saat masih sadar sebelum mabuk, sehingga cerita yang menurutnya tak perlu disebarkan itu tidak sampai bocor dari mulutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG