Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 259. Satu Dibunuh Satunya


__ADS_3

Sung Hwa duduk termenung di kamar tempat Lin Tian "pingsan". Dari tadi pagi sampai larut malam begini, tak ada tanda-tanda bahwa Lin Tian akan bangun. Sung Hwa sudah merasa khawatir sekaligus bersalah sekali karena telah tak sengaja menghantam Lin Tian dengan pukulan Nafas Salju.


Selama itu pula, Sung Hwa sama sekali tidak berpindah tempat dan duduk di kursi sebelah kasur Lin Tian dengan setia. Menunggui pemuda itu sambil kadang-kadang tangannya mengelus ujung kepala Lin Tian dengan lembut.


"Hari sudah malam....."


Gumam wanita itu dengan lirih, seolah seperti suara hati yang suaranya keluar melalui mulut tanpa disengaja. Ia melihat langit gelap gulita di balik jendela yang terbuka, perlahan bulan yang ada di atas sana mulai tertutup oleh segumpal awan-awan yang bergerak cepat. Benda terbang tak bersayap itu berhasil membuat seluruh tempat di pulau itu gelap gulita jika saja tak ada obor-obor sebagai penerangan.


Tiba-tiba, kedua tangan Sung Hwa yang berada di atas kedua paha itu saling mengepal. Giginya bergemelutuk tanda amarahnya sudah mulai bangkit. Mata yang sayu dan redup itu mendadak berubah menjadi tajam menyeramkan seolah mata singa yang sedang melihat mangsa.


Dalam keadaan seperti ini, mulutnya mendesis, "Fu Hong...kau harus mati....kau harus mati....kau harus mati...."


Gumaman menyeramkan itu terus terulang dan terucap dari mulut Sung Hwa yang sudah seperti kerasukan setan. Kedua bola matanya memerah dan wajah yang putih halus itu juga berubah kemerahan. Darahnya mendidih dan naik sampai kepala, nafasnya memburu karena api cemburu mulai melahap hatinya yang penuh nafsu itu.


Dia menolehkan kepalanya cepat-cepat kearah meja dimana dia tadi meletakkan mantel hitam panjangnya. Segera disambarlah mantel itu dan sambil mengenakannya untuk menutupi bagian punggung yang terbuka, Sung Hwa sudah melesat cepat keluar kamar melalui jendela.


Wanita itu tak sadar, jika seorang pemuda yang selama seharian ini pura-pura pingsan dan tubuhnya sudah pegal-pegal, bangun dan mengumpat. "Setan!! Punggungku sakit sialan!! Terlalu lama berbaring di kasur ini, membuat badanku kaku-kaku!"


Lin Tian memandang kepergian Sung Hwa. Sejenak dia termenung, tapi tak lama setelah itu sebuah seringaian tercipta di mulutnya.


"Hehe....selesai sudah. Kiranya rencanaku kali ini akan berhasil..."


...****************...


Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, tak sulit sama sekali bagi Sung Hwa untuk melompat-lompat di antara genteng bangunan markas tanpa diketahui para penjaga.


Secepat kilat dia sudah keluar dari kawasan markas dan sampai di wilayah hutan-hutan. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya kakinya sampai juga pada pantai pulau yang dijaga oleh beberapa anggota Hati Iblis.


"Ah...nona masih bangun?" sapa salah seorang anggota begitu melihat kedatangan Sung Hwa.


Tanpa menjawab atau membalas sapaan itu, Sung Hwa lebih dulu berkata tegas, "Siapkan satu perahu!"


Tentu saja orang-orang itu terkejut dan heran. Maka orang yang tadi menyapa bertanya, "Maaf, untuk apakah nona membutuhkan perahu? Malam-malam begini?"


"Tak usah banyak omong!"


"Wuut!"


"Waahh!!"


Bentakan Sung Hwa yang sudah marah dan naik pitam tadi dibarengi dengan sabetan kaki kanan yang segera menyapu sepasang kaki penjaga. Membuat penjaga itu jatuh dan meringis kesakitan karena sambungan lutut kedua kakinya patah.


"Kenapa lihat-lihat? Tak dengarkah akan perintahku tadi? Mana perahuku!!" Sung Hwa melototkan matanya memandang sekeliling yang masih terpaku menyaksikan aksinya tadi. Mendengar seruan Sung Hwa yang terlihat berbeda dari biasanya yang lembut, orang-orang itu dengan tubuh menggigil segera menyiapkan sebuah perahu yang paling mewah.

__ADS_1


"Silahkan nona."


"Goblok!!" pekik Sung Hwa dan menampar pelipis orang itu sampai berdarah.


"Perahu apa ini? Kau pikir aku hendak berpesiar hah? Carikan perahu paling sederhana kalau perlu yang paling butut. Asal bisa ditumpangi. Cepat berikan padaku!"


Orang-orang itu dengan hati bingung memandangi nona mereka. Tapi tak ada yang berani membantah karena melihat dua orang yang sudah roboh oleh kemarahannya tadi.


Akhirnya Sung Hwa diberikan sebuah perahu yang benar-benar butut. Sudah bolong di sana-sini dan agaknya kayu yang masih utuh adalah di bagian bawah. Karena itulah perahu ini masih bisa terapung dan tidak tenggelam.


"Jangan beritahu guru atau mengikutiku. Melanggar berarti mati!" ujarnya sebelum mendayung perahu menuju ke tengah dan meninggalkan pulau markas Hati Iblis. Orang-orang yang ada di sana hanya mampu memandang dengan bingung dan jeri.


...****************...


Sung Hwa mendaratkan perahunya di pulau tempat markas Pedang Hitam berada. Dia sengaja mendaratkan di tempat paling sepi yang tak ada satu pun penjaga. Tempat itu penuh dengan tebing tinggi dan jurang, sehingga mana ada penjaga yang berjaga di sini karena berpikir tak akan ada orang lewat sini.


"Cukup tinggi. Tapi tak sulit bagiku." ujar Sung Hwa dan segera melompat tinggi menempel seperti katak di dinding tebing.


Dia memanjat dengan hati-hati sekali. Tak berani tangan kakinya asal gerak saja karena itu berati maut. Namun karena ilmu meringankan tubuhnya yang sudah hebat, maka sekitar lima menit berselang, tebing setinggi puluhan meter itu mampu ia taklukkan.


Setelah tiba di atas, tanpa menunggu waktu lama lagi dia lekas melesat menuju ke markas Pedang Hitam yang terlihat sangat terang itu.


Hal yang tak mengherankan karena baik markas Pedang Hitam, Hati Iblis maupun markas utama, selalu terpasang obor-obor di sana-sini untuk penerangan.


Tapi malam hari ini, baik Hati Iblis maupun Pedang Hitam, markas mereka jauh lebih terang. Hal ini sengaja dilakukan karena insiden yang ditimbulkan dua bidadari itulah sehingga kedua pihak menjadi saling waspada dan memasang penjagaan ketat.


Namun walaupun begitu, dia tersenyum miring dan bergumam, "Heh, penjagaan seperti ini terlalu mudah bagiku!"


Sung Hwa melompat tinggi bagai burung walet, dia hinggap di bangunan paling tinggi yaitu bangunan tempat Fu Hong berada. Secepat kilat dan tanpa suara seperti kucing pencuri, Sung Hwa berindap-indap memasuki markas itu dan berjalan di lorong tanpa mengeluarkan suara.


"Hei–"


Ternyata tak sesuai perhitungannya, di depan kamar Fu Hong terdapat dua penjaga yang siap dengan tombak dan pedang. Segera dia robohkan dengan totokan maut sebelum keduanya mampu berteriak.


Dibukalah pintu kamar mewah Fu Hong dan dilempar kedua mayat itu dalam kamar itu. Saat pintu kembali tertutup, jika dilihat dari luar seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Terlihat tubuh Fu Hong yang berbaring dengan nafas ngos-ngosan. Tubuhnya menggigil dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya sampai membuat bajunya basah kuyup. Sung Hwa melihat ini dengan dingin dan seringaian.


"Lemah sekali kau ya...." ucapnya yang berhasil membangunkan Fu Hong.


Wanita yang baru bangun itu segera terbelalak ketika tahu siapa yang datang. Agaknya karena pengaruh pukulan Sung Hwa sebelumnya, sehingga nafasnya menjadi sesak dan pita suaranya sedikit beku.


"Sung.....Hwa....!!" dia hanya mampu mengirim tatapan tajam membunuh dengan serak dan lirih.

__ADS_1


"Maaf saja...kau harus mati. Lin Tian hanya milikku seorang!!"


"Kau....kau ingin....mengkhianati janji antara guru kita?"


"Phuuhh!"


Dengan kasar Sung Hwa meludahi wajah cantik Fu Hong.


"Persetan dengan perjanjian. Ini urusan kita berdua dan mereka itu adalah orang-orang tua yang terlalu mencampuri urusan orang muda!" sentak Sung Hwa geram.


"Heh...kau hendak membunuhku?" bukannya takut, Fu Hong malah terkekeh.


"Iya, kau takut?"


"Hahaha....aku sudah memutuskan untuk bertanding denganmu....agaknya aku kalah....karena itulah, cepat bunuh aku!! Ini sungguh menyiksa!! Tak ada yang berubah....cepat atau lambat aku akan mati dengan hawa pukulanmu ini." ujar Fu Hong tanpa rasa takut sedikit pun. Dan hal ini membuat Sung Hwa makin geram.


"Hem...bagus sekali, kiranya kau masih mempunyai watak pendekar. Nah, sekarang matilah!!"


Sung Hwa yang sudah gelap mata itu mengayunkan tangannya dari atas ke bawah. Gerakannya cepat sekali dan hawa dingin terasa oleh Fu Hong. Belum sempat dirinya berkedip, pandangannya sudah gelap dan dia tak mampu lagi merasakan tubuhnya. Kepalanya putus!!


"Duk-duk-duk!"


"Fu Hong!!"


Sung Hwa kaget sekali saat mendengar suara ribut-ribut di luar kamar. Begitu menoleh, ternyata yang datang adalah Xu Cin Keng sendiri yang memandang terbelalak. Sung Hwa bingung hendak melakukan apa saat kakek itu dengan berang menubruknya.


"Setan jahanam!! Mati kau!!"


"Dess-braakkk!!"


Hawa pukulan Xu Cin Keng telak mengenai dada Sung Hwa yang segera merasakan sesak nafas. Tapi karena maklum dirinya hanya akan mati sia-sia jika terus berada di sini, maka dengan cerdik sekali wanita ini meminjam daya lontar serangan Xu Cin Keng untuk kemudian melompati jendela dan kabur.


"Kejar!! Kejar pembunuh muridku itu!!" seru Xu Cin Keng kepada para anggota yang sudah datang.


Lonceng tanda bahaya dibunyikan keras-keras, seluruh tempat Pedang Hitam menjadi terang benderang. Tapi walaupun begitu, tak ada satu pun orang yang berhasil menemukan orang yang dicari itu.


Pada keesokan harinya, dua perkumpulan itu kembali geger karena matinya Fu Hong dan lenyapnya Sung Hwa.


Semenjak hari itu, dua bidadari Iblis Tiada Banding tak terdengar lagi namanya. Yang satu tewas dibunuh satunya, dan satunya lagi minggat entah kemana.


Serangkaian kejadian, yang berhasil membuat seseorang terkekeh-kekeh puas.


"Hehe....dua bidadari sudah disingkirkan. Hambatan sedikit berkurang." ucap pemuda bertopeng sebelah wajah itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2