Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 141. Pertempuran di Gerbang Kota 2


__ADS_3

"Sial dia bunuh diri!!" berkatalah anak walikota itu dengan geram.


"Sudah, jangan ributkan hal itu. Lebih baik kita segera menengok keluar."


Maka keluarlah mereka semua dari ruangan itu. Begitu tiba di luar, betapa terkejut hati mereka melihat ada lima orang berpakaian hitam sedang mengamuk melawan kerumunan para pengawal. Lima orang itu kesemuanya membawa buntalan besar di punggung mereka.


"Tahan, jangan sampai lolos!!" seru pemimpin pengawal.


Kemudian dia menyabetkan senjata tombaknya untuk menusuk kepala lawan. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, yang menjadi sasaran tombak itu dengan lincah melompat ke belakang. Sedetik kemudian, dua orang temannya menyerang balik si pengawal dengan sabetan pedang dari kanan dan kiri.


"Trang-Trang!!" bunga api berpijar tatkala dua pedang itu tertangkis tombak.


Melihat hal itu, Kim Chao tak bisa tinggal diam. Maka dengan sekali lompat bagaikan burung walet, dengan gerakan ringan sekali, dia tiba-tiba sudah muncul di samping pengawal dan membantu.


"Aahh!! Uaahhkk!!" terdengar suara pekik kesakitan dari dua orang itu. Yang satu dadanya bolomg ditembus tongkat, yang satu lagi patah tulang pundaknya kena totokan tongkat Kim Chao. Entah dapat darimana tetapi saat ini dia sudah memegang sebatang tongkat kayu butut.


Kiranya tadi kakek itu telah melakukan serangan yang luar biasa sekali. Menotok dua orang itu dengan gerakan kilat. Namun orang kedua masih mampu menghindar, sehingga hanya remuk tulang saja.


Zhang Qiaofeng dan lainnya segera membantu untuk menundukkan empat orang penyusup itu. Maka sebentar saja repotlah mereka untuk menghadapi terjangan para pendekar sakti itu. Karena sungguh pun lima orang ini berkepandaian tinggi, namun melawan Zhang Qiaofeng dan lainnya, mereka benar-benar dibuat tak berdaya.


Tak berselang lama, semua sudah berhasil ditumpas dan menyisakan satu orang untuk diinterogasi.


"Kalian kah anak buah Golok Penghancur Gunung?" tanya anak walikota dengan garang.


Akan tetapi bukannya menjawab, orang itu dengan gerakan lemah telah menggigit bibirnya sampai berdarah. Kemudian sama seperti nasib Sie Lun, setelah berkelojotan hebat, orang itu tewas seketika.


"Ihh...sungguh keji!!" Zhang Qiaofeng memekik ngeri ketika membayangkan cara Golok Penghancur Gunung untuk menyimpan rahasia. Kiranya dia telah meracuni darah para anak buahnya yang kemudian bisa digunakan untuk alat bunuh diri jika dalam keadaan terdesak.


"Wah...untung mereka tidak kabur, isinya harta semuanya!!" seru salah satu pengawal ketika mengecek isi buntalan lima orang itu.


Putra walikota berjalan mendekat, memandang penuh perhatian dan ketelitian. Jika memang benar lima orang itu hendak mencuri, namun kenapa semua harta itu sungguh pun berharga, namun bukan yang paling berharga?


Padahal di gudang harta terdapat tiga bongkah berlian murni yang dipajang di balik penutup kaca. Untuk seukuran pendekar, seharusnya memecahkan kaca itu bukanlah perkara sulit.


Pemuda itu berpikir keras, mencoba mencari-cari kejanggalan dalam peristiwa pencurian itu. Sampai tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali, bahkan seorang pengawal sampai terkejut melihat perubahan ekspresi yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


"Hah...untung saja tidak--eh, kau mau kemana?" ucapan Zhang Qiaofeng terpotong tatkala melihat putra walikota itu tiba-tiba berdiri dan berlari menuju ruang dalam.


Serentak Zhang Qiaofeng bersama yang lain pergi mengikuti, bahkan para pengawal juga. Ternyata setelah beberapa saat, anak walikota itu tiba di ruangan bawah tanah, tempat gudang harta keluarga.


"Celaka....celaka....celaka....!!" berkali-kali pemuda itu bergumam demikian dengan suara gemetar penuh kecemasan.


Setibanya di bawah, mereka melihat pemandangan banyak sekali mayat pengawal yang berserakan di sana-sini. Sekali lihat saja orang akan tahu bahwa mereka adalah para pengawal penjaga pintu gudang harta. Namun agaknya anak walikota ini tidak mempedulikan mayat-mayat itu.


Dia terus berlari maju, sampai akhirnya tiba di gudang harta yang pintunya masih terbuka. Ketika masuk ke dalam, Zhang Qiaofeng dan kawan-kawan dibuat kagum dengan isi gudang tersebut. Kiranya di sana nampak banyak sekali tumpukan emas perak yang menggunung. Di dinding-dinding juga tak jarang terlihat senjata-senjata pusaka yang nampak ampuh.


Namun semua kekaguman itu harus berheti ketika secara tiba-tiba anak walikota berseru panik, mengagetkan mereka semua termasuk para pengawal.


"Itu sudah hilang!! Hilaaangg.....!!"


...****************...


Entah sudah mencapai jurus keberapa antara pertarungan Lin Tian dan Golok Penghancur Gunung itu. Di sekeliling mereka, pertempuran juga sedang berlangsung sengit. Pasukan kota melawan anak murid Golok Penghancur Gunung yang rata-rata miliki kepandaian tinggi.


Sudah banyak sekali jatuh korban di kedua belah pihak, namun sejauh ini belum juga nampak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


"Tak kusangka kau sekuat ini!! Menurut ingatanku, bahkan Pendekar Pedang Arwah tidaklah setangguh engkau, padahal dialah yang terkenal sebagai orang kedua di Pilar Neraka." kata Lin Tian di sela-sela tangkisannya.


"Heh, kau menyamakan aku dengan bocah itu?? Haha, memang dahulu dia pantas untuk menduduki kursi kedua, namun kali ini, aku lah yang lebih pantas!! Dan setelah aku berhasil keluar dari kota ini, dapat dipastikan kursi pertama akan jadi milikku!!"


"Trang!!" dua senjata ampuh itu bertemu dan keduanya melompat ke belakang. Saling pandang dengan tatapan tajam.


"Apa maksudmu?" Lin Tian bertanya penuh selidik. Karena dia merasa heran betul, apakah masuk akal jika pria di hadapannya ini mampu untuk menjadi kuat hanya dengan keluar dari kota ini? Sangat tak masuk akal!! Maka dari itulah Lin Tian menduga pasti ada sesuatu.


"Heheh....untuk apa kau tahu?" balas pria itu.


"Lagipula, permainan kita sudah berakhir...seharusnya begitu..." lanjutnya dengan seringai lebar.


"Cuit-Cuit!!" terdengar suara cicit burung dari kejauhan.


"Hahahaha.....!!! Selamat tinggal Pendekar Hantu Kabut, semoga ketika kita bertemu lagi, kau akan jadi lebih kuat dari ini!!" pria itu tertawa dan melompat tinggi ke atas.

__ADS_1


"Tunggu!!" Lin Tian hendak mengejar. Namun harus dihentikan karena tindakan musuhnya.


"Wut-Wut-Wutt!"


Sambil melayang di udara, Golok Penghancur Gunung melemparkan bola-bola kecil seukuran kelereng. Lin Tian tak ingin memandang remeh karena benda itu disambitkan oleh tokoh tingkat tinggi. Maka dengan cepat ditebaslah salah satu bola yang paling dekat dengannya.


"Boomm-Boomm-Boomm!!"


Bola itu meledak tatkala pedang Lin Tian berhasil memotongnya jadi dua. Dengan terkejut sekali, Lin Tian segera melesat mundur dan bergulingan untuk menghindari ledakan. Sungguh ledakan itu amat kuatnya sampai membuat tembok-tembok rumah di sekitar mereka jebol.


Ledakan itu juga menewaskan banyak prajurit kota dan murid Golok Penghancur Gunung. Sungguh keji sekali memang.


Bahkan Lin Tian yang sudah berhasil menyelamatkan diri dan menjauh dari ledakan beruntun itu, masih terkena sedikit efeknya, yaitu sarung tangan sekaligus kulit tangannya terbakar. Membuat kulitnya mengelupas dan sedikit gosong. Untung bahwa dengan tenaga Yin miliknya, dia bisa menetralisir luka bakar itu.


"Apa-apaan benda itu? Tentu bukan bahan peledak biasa." gumamnya sambil melihat kulit tangannya yang sedikit gosong.


Ketika ledakan itu berhenti, terciptalah pemandangan yang sangat tidak menyenangkan untuk dipandang. Terlihat banyak mayat manusia yang gosong terbakar bahkan tubuhnya hancur terkena ledakan. Rumah-rumah di kanan dan kiri juga terbakar hebat.


"Wahh....apa-apaan itu tadi!!" teriak seorang prajurit.


Lin Tian hanya memandang semua itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ingin dia mengejar Golok Penghancur Gunung, namun kemana? Lagipula dengan ilmu kepandaian datuk hitam itu, sekali kakinya melangkah tentu sudah tiba di tempat jauh. Sedangkan dia tadi harus menggunakan waktu beberapa detik untuk menghindar dan menyembuhkan luka.


Beberapa detik itu sudah sangat cukup bagi Golok Penghancur Gunung untuk keluar kota dan pergi jauh. Demikianlah pikirnya.


Melihat tak ada kesempatan mengejar, dengan helaan nafas panjang tanda kecewa, dia menyarungkan kembali Pedang Dewi Salju. Kemudian berjalan mendekati api dan...


"Swuusshh!!" sekali tangan kanannya mendorong ke depan, api yang masih berkobar-kobar dengan ganas itu padam seketika. Menyisaka puing-puing rumah dan mayat-mayat manusia yang gosong.


Untuk para prajurit yang tersisa, hanya mampu memandang peristiwa itu dengan kagum. Bahkan walikota sendiri sampai melongo lebar seolah-olah rahangnya bisa jatuh kapan saja.


"Mari kita urus mereka." Lin Tian berkata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2