
Rumah yang besar dan mewah ini tak hanya luas, namun ternyata juga memiliki begitu banyak lorong-lorong yang menghubungkan ke berbagai ruangan besar. Hal ini membuat A Yin kebingungan sekali karena tak tahu kemana akan mencari Sian Yang.
Akhirnya dia memutuskan cara terakhir, memporak porandakan apa saja yang terlihat untuk memancing keluar Sian Yang.
Ketika sampai di ruangan besar yang bertilamkan karpet merah tebal dan banyak sekali terdapat guci mahal, lukisan serta segala karya seni bernilai tinggi, A Yin tersenyum.
"Hm...tempat yang tepat."
A Yin mengerjakan pecutnya, menyambar-nyambar ke udara dan menghasilkan suara-suara melengking nyaring sebelum ia hantamkan senjata itu ke barang-barang sekitar. Piring, guci, lukisan-lukisan, semua hancur berantakan.
Bahkan karpet merah yang menjadi alas daripada ruangan itu pun tak luput dari sambaran pecut A Yin yang ujungnya seolah berubah menjadi banyak saking cepatnya wanita itu menggerakkan senjata tersebut.
"Swing–breet!"
Saat A Yin berputar dan hendak menghantamkan pecutnya ke salah satu tembok, betapa terkejut tapi juga girang hatinya saat pecutnya tertahan oleh sesuatu. Lebih tepatnya tertahan oleh tangan seseorang yang sudah memegang sekaligus menariknya kuat-kuat.
"Pengacau!!" bentak orang itu yang tak lain adalah Sian Yang.
Sambil membentak, lelaki yang biasanya murah senyum ini menghentakkan tangan kanan dan membuat A Yin tertarik menuju padanya. Kesempatan itu ia gunakan untuk membarengi dengan pukulan telapak tangan kiri yang penuh racun.
"Hiaatt!!"
Pekik A Yin melengking dengan tangan kanan yang sudah teraliri hawa sakti dan memapaki telapak Sian Yang.
"Desss!!"
Kedua telapak beradu dan Sian Yang mampu merasakan betapa isi dadanya terguncang hebat bagaikan dihantam palu godam raksasa. Himpitan dari tenaga A Yin ternyata tak main-main dan demikian dahsyatnya.
Namun dia menjadi terkejut sekaligus ngeri saat tangan kirinya menempel dan tak mampu ia tarik kembali. Tangan kecil halus milik A Yin seolah-olah terdapat magnet kuat yang merekatkan antara telapak tangannya dan tangan lawan.
"Hehehe....Sian Yang, hari ini hari terakhirmu...." ujar A Yin menyeringai.
"Keparat!" bentak lelaki itu dan melepaskan cengkeraman pada pecut A Yin yang kemudian ia gunakan untuk meninju pelipis kiri A Yin.
"Wuuutt!!"
Sambaran tangan itu luput saat A Yin miringkan kepalanya. Sialnya, tangan kiri A Yin sama sekali tak tinggal diam, dia sudah menghentak tangan kiri yang memegang pecut dan akibatnya, sinar hitam berkelebat yang lalu berhasil menggores rusuk kanan Sian Yang.
"Aihhh!!" pekik Sian Yang, ingin melompat jauh tapi tangannya masih melekat.
"Nah, robohlah!!"
__ADS_1
"Breess!"
A Yin yang berhasil mendaratkan satu serangan itu menambah kapasitas hawa sakti di tangan kanannya. Lalu dengan mendadak, ia hempaskan tenaga raksasa itu yang kemudian membuat Sian Yang terpental sejauh beberapa tombak.
"Uhukkk...." Sian Yang batuk darah hitam dan bangkit tertatih-tatih sambil memegangi dadanya yang seperti dihimpit sebuah gunung.
"A Yin....apa maksudnya ini?" tanya Sian Yang penasaran dan juga marah.
"Apa lagi, kau masih bertanya? Aku hendak membunuhmu!"
"Atas perintah siapa?"
"Muridmu." jawab A Yin dengan santai yang membuat Sian Yang melebarkan matanya dan mengumpat.
"Sialan...Zhang Heng keparat!! Hei kau, jangan menipuku!!"
"Siapa yang menipu? Menipu atau tidak itu bukanlah hal penting untuk saat ini kan? Yang jelas, apa kau pikir masih bisa kabur dengan membawa nyawa setelah ini?"
"Bajingan, makan ini!"
Umpat Sian Yang melemparkan beberapa bola seukuran telapak tangan yang A Yin kenal dengan bola peledak buatan nenek siluman. Wanita itu lantas mencebikkan bibirnya dan melompat mundur.
"Duarr.....duaaarr...."
"Hiaaa!!"
Ketika asap hilang, ternyata Sian Yang juga ikut hilang. Tapi dia tak kaget dengan hal itu karena A Yin sudah bisa memprediksi dimana tempat berikutnya Sian Yang muncul, yaitu dari atas.
Dan benar saja, dari atas sejauh kurang lebih empat lima meter, Sian Yang meluncur turun dengan kedua tangan menuju bawah. Kedua lengan itu terselimuti aura kehitaman yang menandakan racun sudah melapisi sepasang tangan tersebut.
"Akulah naga sakti!!" ujarnya lagi sambil mengerahkan daya sihirnya.
Sampai di sini, A Yin sedikit kaget karena melihat tubuh Sian Yang yang sebelumnya menukik turun itu, berubah menjadi seekor naga warna emas yang terbang kearahnya dengan liukan-liukan indah. Mata yang mencorong dan mulut yang menganga lebar itu seolah bisa membunuhnya kapan saja.
"Ini ilusi!" tegas A Yin dalam hati dan pikirannya sendiri untuk mengambil alih tubuhnya kembali. Dia lalu menggigit bibir sampai berdarah dan hal itu membuahkan hasil. Sihir Sian Yang berhasil dipatahkan.
"Aaahhh!!"
Walaupun sihir itu berhasil ditepis, tapi ternyata Sian Yang sudah dekat sekali dan kedua telapak tangannya sudah beberapa senti menyentuh wajah cantiknya.
Refleks A Yin berjongkok dan menggelinding sambil berseru keras. Dalam gelindingannya ini, dia juga menyambitkan beberapa batang jarum sebagai senjata rahasia.
__ADS_1
"Ini pertarungan hidup dan mati!!"
"Ya, benar! Aku yang hidup dan kau yang mati, kakek wajah mulus!!"
"Kau tak lebih muda dari aku, nenek pelacur!!"
"Hiaaaa!!"
Dua orang yang sama tua namun awet muda dan masih menawan serta memesona itu, sudah saling terjang bersamaan dengan kedua suara bentakan itu terdengar.
Walaupun tingkat A Yin lebih tinggi, ternyata wanita itu masih sedikit kesulitan untuk menghadapi berbagai macam sihir Sian Yang yang ternyata lihai sekali. Dia juga berlaku hati-hati akan sentuhan-sentuhan racun dari kedua telapak tangan lawan.
Di sisi lain, Sian Yang mengumpat dalam hati karena ternyata yang telah mengkhianati adalah muridnya sendiri. Maka dengan kemarahan meluap, dia melawan A Yin sekuat tenaga yang sama sekali tak mampu didesaknya.
"Hiaaatt–bugh!"
Bentakan melengking nyaring ini dibarengi dengan tendangan telapak kaki A Yin yang mengarah ulu hati dan telak mengenainya.
Sian Yang terpental jauh. Tapi sebelum tubuhnya mendarat, dia terkejut karena tubuhnya berhenti di udara dan mengapung. Sedetik kemudian, seperti ada tenaga ghaib yang menariknya kembali menuju A Yin yang sedang menggerak-gerakkan tangan kiri.
"Siluman!! Ilmu setan!!" Sian Yang mulai merasa ngeri saat dilihatnya pecut A Yin menjadi kaku dan siap menyambut dadanya untuk ditembus. Tapi semua sudah terlambat.
"Croookk!!"
"Uaaaghhh!!"
Pecut sepanjang tiga meter yang menjadi kaku seolah berubah menjadi pedang panjang itu, menembus ulu hati Sian Yang sampai punggung.
Tak hanya itu, ketika ujung pecut menusuk dada Sian Yang, ternyata A Yin masih mengerahkan tenaga menarik, sehingga tubuh yang sudah bolong dadanya itu terus tertarik ke bawah mendekati A Yin yang menyeringai.
Sehingga, dari ujung pecut sampai pangkalnya, darah Sian Yang membuat senjata itu mengkilap dan licin.
"S-setan...." ucapan terakhir ini dibarengi dengan melayangnya nyawa Sian Yang yang hanya satu.
"Tugas selesai....tak cukup sulit."
A Yin menggerakkan tangan dan pecutnya seketika lemas kembali. Ia tarik keluar pecut itu dan memandang mayat Sian Yang yang mati dalam keadaan terbelalak itu.
Hanya pandangan dingin saja yang terpampang pada wajah A Yin sebelum melangkahkan kaki pergi dari sana.
"Semoga saja bocah ingusan itu mampu membereskan lawannya. Aku tak mau menerima alasan apapun ketika sudah sampai di sana, ternyata dia malah yang kalah."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG