Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 95. Salah Paham 2


__ADS_3

"Apa maksudmu pengkhianat?" tanya sang panglima itu penuh dengan perasaan bingung.


"Dia memang pengkhianat, pengkhianat keluarga Zhang. Dia juga yang telah menghancurkan keluadga Zhang!!" jawab Zhang Qiaofeng menggebu-gebu.


"Ah...!!" panglima itu berseru tanda terkejut. Begitu juga dengan para anak buahnya.


"Nah, sekarang kalian sudah tahu kebenarannya. Apa keluarga Xiao tetap ingin bentrok dengan kami!?" tanya Zhang Qiaofeng mengintimidasi.


Mendengar ini, panglima itu segera menjura dan berkata, "Ah...maaf seribu maaf Nona Zhang, agaknya telah terjadi kesalah pahaman di sini. Kalau begitu, saya selaku panglima keluarga Xiao, mewakili seluruh pasukan, tidak akan memgganggu Nona sekalian."


"Nah bagus! Sekarang minggir, kami hendak pergi ke kediaman kalian untuk bertemu Tuan Xiao." jawab Zhang Qiaofeng.


Panglima itu nampak memucat wajahnya, begitu pula dengan para anggota lainnya. Tentu hal ini tak luput dari pandangan Nona Zhang itu. Maka cepat gadis itu bertanya.


"Ada apa? Kenapa wajah kalian bagai habis dikejar setan seperti itu?"


"N-nona sebenarnya, pasukan yang dipimpin oleh Tuan besar telah menuju ke kediaman Zhang." jawab panglima itu takut-takut.


"Apa katamu!?" bentak Zhang Qiaofeng spontan.


Ributlah rombongan dari keluarga Zhang itu. Tentu mereka cemas akan rumah mereka hendak digempur oleh pasukan keluarga Xiao.


"Berapa jumlah mereka!?"


"Sekitar lima ratusan orang Nona."


"Sialan....Semuanya, ayo kembali!!" Zhang Qiaofeng memberi perintah seraya membedal kudanya untuk lari kearah jurusan awal. Menuju kediaman Zhang.


Lin Tian pun juga bergegas melompat ke punggung kuda dan mengikuti Nonanya.


"Ayo ikut!! Kita harus menjelaskan kepada Tuan besar!!" perintah panglima itu kepada para anak buahnya.


"Siap pemimpin!"


Maka berangkatlah mereka, dua rombongan besar itu menuju ke kediaman Zhang. Sebuah perjalanan yang lebih cepat dari sebelumnya, karena dua rombongan ini sama sekali tidak berhenti kecuali untuk makan dan tidur.


...****************...


"Hei....orang-orang Zhang!!! Keluarlah!!!" seru panglima keluarga Xiao di depan pintu gerbang kediaman Zhang.


"Ada apa ini?"


"Cepat beritahu tetua!"


Maka larilah orang itu yang sebelumnya menjadi penjaga gerbang. Berlari cepat sekali untuk menemui Minghao.


"Tetua, ada masalah mendesak!" ucap orang tersebut begitu sampai dan sudah berlutut di depan Minghao.


"Katakan!"


"Di depan pintu gerbang, ada banyak sekali pasukan dari keluarga Xiao."

__ADS_1


"Oh bagus!" jawab Minghao dengan wajah berseri. Dia mengira bahwa surat yang dikirimkannya telah dijawab oleh keluarga Xiao dan saat ini rombongan Nona Zhang sudah kembali bersama mereka.


Mendengar ini, penjaga gerbang itu tampak ragu dan menjawab dengan hati-hati.


"Eh...Tuan, sepertinya mereka tidak berniat baik."


"Apa maksudmu?"


"Dia datang....dengan senjata-senjata yang sudah diangkat tinggi."


"Apa!? Cepat kumpulkan semua prajurit ke pintu gerbang!!" perintah sastrawan ini sebelum tubuhnya berkelebat lenyap. Diikuti oleh Lu Jia Li dan Lu bersaudara, juga Ang Bei yang sebelumnya berada di ruang yang sama.


Bersamaan dengan menghilangnya Minghao, penjaga gerbang itu pun lekas melaksanakan perintahnya.


Sementara di gerbang sana, keadaan makin memanas. Para penjaga gerbang dan pengawal berusaha untuk menenangkan rombongan Xiao itu. Namun agaknya mereka tidak mempedulikan itu dan terus mendesak.


"Dasar pengkhianat!!"


"Keluarga Zhang bangsat!! Mengkhianati sahabat sendiri!!"


Demikianlah dan masih banyak lagi terdengar teriakan dan umpatan yang ditujukan kepada keluarga Zhang. Para penjaga itu tentu bingung, dengan bentakan-bentakan itu. Maka salah satu pengawal berinisiatif untuk bertanya.


"Hei, siapakah yang kalian anggap pengkhianat? Dan apakah salah kami sampai dianggap pengkhianat!!?"


"Dasar pengecut!! Berani berbuat tak berani tanggung jawab!!" bentak panglima Xiao membalas.


Keadaan makin panas dan keluarga Xiao sudah siap tempur. Terlihat mereka semua sudah mencabut senjata dan panglima itu sudah siap memberi aba-aba.


"Tahaaann!!!" tiba-tiba terdengar bentakan keras yang langsung menghentikan mereka semua.


"Apakah Tuan semuanya sudah menerima surat dari saya?" kembali Minghao bertanya.


Panglima itu nampak bingung, namun hanya sebentar saja dan kembali membentak, "Surat apanya!? Kalian sama sekali tak mengirim surat, tapi malah mengirim malapetaka!!"


Minghao nampak mengerutkan kening sebelum bertanya, "Malapetaka apakah itu? Saya sama sekali tidak paham."


"Kau...!! Jangan banyak berbelit-belit, cepat mengakulah agar kami punya alasan kuat untuk melenyapkan kalian!!"


"Apa maksudmu!? Saya sama sekali tidak paham!!" bentak Minghao yang sudah kehilangan kesabaran.


Bersamaan dengan itu, kereta kuda yang paling mewah terbuka tirainya. Lalu munculah Xiao Li yang sudah siap dengan pakaian perangnya. Pria ini berjalan menghampiri Minghao lalu berkata kepada para pasukan.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Nona Zhang sedang tidak ada di sini. Lenyapkan mereka!!" perintah Xiao Li kepada para pasukan.


Seketika pasukan keluarga Xiao itu berteriak keras dan berbondong-bondong majulah mereka. Minghao makin bingung dan kaget. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya dia memerintahkan pasukannya maju pula.


"Maju, tahan mereka!!" demikianlah perintah Minghao. Dan sastrawan ini segera mengeluarkan suling naganya dan menyerbu ke depan.


Kali ini, yang paling tersiksa adalah para anak murid yang sebelumnya dikirim dari keluarga Xiao. Tentu mereka bingung hendak memihak kepada siapa. Karena itulah, mereka hanya mampu terdiam di tempat dan memandang penuh perhatian.


Dua pasukan itu akhirnya bentrok. Dua ratus orang pasukan Zhang melawan lima ratus orang. Tentu saja pihak keluarga Zhang menjadi kerepotan.

__ADS_1


Hanya karena keberadaan Minghao, Lu Jia Li, Lu bersaudara dan pasukan Asosiasi Gagak Surgawi, sehingga pihak Zhang masih mampu bertahan bahkan bertempur dengan seimbang.


Satu jam berlalu belum terlihat ada pihak yang akan kalah. Namun perlahan tapi pasti, pihak keluarga Zhang makin mundur ke gerbang kediaman.


Minghao bertarung sengit melawan Xiao Li dan Lu Jia Li melawan Hao Yu. Pertarungan keduanya amat seru dan hebat.


Minghao mampu mendesak Xiao Li, namun karena pemimpin Xiao itu dibantu para pengawal lihai, sehingga pertarungan berlangsung seimbang.


Di sisi lain, Lu Jia Li agaknya setingkat lebih lemah dibanding Hao Yu. Karena itulah gadis ini lambat laun mulai terdesak.


Menginjak jurus ke seratus, Hao Yu menebaskan goloknya kearah pundak kiri Lu Jia Li. Gadis itu bergerak cepat ke kanan dan balas menyerang dengan tusukan kearah pelipis lawan.


Namun Hao Yu lebih cepat lagi. Cepat pria ini miringkan tubuh kebelakang dan balas menyerang dengan cara menebaskan golok dari bawah ke atas.


"Craatt!!!"


"Kheuhh!!" keluh perlahan Lu Jia Li menahan sakit yang teramat sangat.


Ternyata tebasan golok itu tepat mengenai mata kanan Lu Jia Li dan membuat kelopak mata gadis itu terbelah serta mengucurkan darah banyak sekali.


"Nona Lu!!!" teriak Minghao dari kejauhan sana.


"Li'er!!" teriak pula Lu Tuoli begitu melihat anaknya terhuyung kebelakang dan jatuh terduduk sambil terengah-engah.


Seketika dua orang ini menjadi berang. Mereka segera melibas setiap musuh yang sedang mengurung dan dengan gerakan cepat sekali, dua orang tua muda ini sudah menerjang Hao Yu.


"Waaahh!!" teriak Hao Yu begitu melihat gulungan sinar putih milik suling Minghao yang mengarah pelipis kanannya.


Dia cepat menghindar kebelakang. Namun baru satu tarikan nafas kemudian, dari arah sebelah kiri, menyambar sebilah pedang milik Lu Tuoli mengarah leher.


"Dasar orang buntung kurang ajar!!" bentak Lu Tuoli.


Hao Yu segera menangkis, namun kembali suling ukiran naga itu mengancam pelipisnya yang memaksa pendekar lengan satu ini membuang tubuh ke belakang.


"Matilah!!" bentak Minghao kembali melanjutkan serangan. Sedangkan Lu Tuoli segera menghampiri anaknya.


"Li'er bertahanlah!!" ucap pria ini seraya menyobek ujung lengan bajunya yang digunakan untuk menekan darah di mata Lu Jia Li.


Sedangkan di pihak Minghao, Sastrawan Sakti itu sudah mendesak lawannya dengan hebat sekali. Sulingnya setiap kali menyambar mengeluarkan angin dahsyat dan suara menguing-nguing yang membuat sakit telinga Hao Yu.


Ratusan jurus berlalu dan Hao Yu makin terdesak. Kali ini Minghao tak main-main, dia hendak membunuh Hao Yu si pengawal pribadi Nona Xiao itu.


Sulingnya menyambar cepat sekali hendak menotok leher sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Sungguh serangan yang hebat sekali, dan dengan kepadandaian Hao Yu yang sekarang, tentu pendekar lengan satu itu tak akan mampu mengelak.


"Aihh!!" seru Hao Yu seraya menangkis tangan yang mengarah pelipis.


"Plakk!!" tangan itu berhasil tertangkis namun suling ukiran naga itu masih tetap melaju cepat menuju tenggorokannya. Jaraknya sudah terlalu dekat dan tak mungkin untuk dihindari, maka...


"Trangg!!"


"Tahan!! Berhenti semuanyaaa!!! Hentikan perang saudara yang tak berguna ini!!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2