Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 91. Kehidupan Baru Putri Lu


__ADS_3

Di teras belakang rumah besar itu, duduk seorang gadis cantik di atas kursi kayu sambil ditemani secangkir teh hangat. Wajahnya cantik sekali dengan rambut yang berwarna dua, hitam dan putih.


Dia menatap hamparan taman bunga di belakang rumahnya dengan senyum manis sekali. Di atas meja, terdepat buku kecil berwarna coklat lengkap dengan pensilnya.


Gadis itu tak lain tak bukan adalah Nona Lu Jia Li, yang sudah tiga minggu ini menjalani kehidupan baru sebagai seorang bisu. Buku dan pensil itu diberikan Minghao kepadanya untuk memudahkan ia berkomunikasi dengan orang lain.


Lantas siapa yang meracuninya? Hal ini belum diketahui karena Lu Jia Li sendiri tidak melihat jelas wajah orang itu ketika kejadian. Sehingga selama tiga minggu ini, semuo orang di keluarga Zhang masih berusaha menyelidikinya.


Setelah menyeruput tehnya, dia meletakkan cangkir itu di atas meja. Kemudian mengambil buku dan pensil sebelum beranjak berdiri untuk pergi ke taman bunga belakang rumahnya.


"Kakaaaaaaakkkk!!!" terdengar teriakan melengking dari arah depan rumah. Mendengar ini Lu Jia Li hanya bisa tersenyum geli.


Kemudian dari atas genteng rumahnya, berkelebat bayangan seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya dengan membawa tas rotan di tangan kiri.


"Kakak lihat, aku baru saja memetik beberapa buah apel dari hutan. Ini cobalah!" ucap gadis itu riang yang bukan lain adalah Zhang Qiaofeng sambil menyodorkan satu buah apel.


Lu Jia Li membuka buku dan menuliskan sesuatu sebelum menunjukkannya kepada Zhang Qiaofeng.


"Terima kasih." itulah kalimat yang gadis itu tulis. Zhang Qiaofeng hanya mengangguk sambil tersenyum ceria.


Dua orang gadis ini lalu duduk di tengah taman beralaskan rumput-rumput tebal yang ada di sana. Bercakap-cakap dengan ria, sungguh pun Lu Jia Li harus selalu menulis untuk menanggapi cerita Zhang Qiaofeng.


Hingga setelah beberapa lama mereka ada di sana, Zhang Qiaofeng bangkit berdiri dan berkata, "Baiklah, aku harus kembali. Kakek pasti marah-marah kalau aku pergi meninggalkan tugas terlalu lama."


Lu Jia Li tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menyerahkan keranjang rotan yang masih berisi dua buah apel itu kepada Zhang Qiaofeng.


"Tak perlu, ambil saja untukmu. Aku pergi dulu!" jawab Zhang Qiaofeng yang tanpa menunggu jawaban, langsung melesat pergi dari sana.


Lu Jia Li hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas, kemudian melangkahkan kaki memasuki rumahnya.


Setelah beberapa menit, gadis ini kembali keluar rumah dengan pakaian yang sungguh berbeda. Jika tadi dia mengenakan pakaian rumahan saja, sekarang dia sudah memakai pakaian pendekarnya lengkap dengan pedang di pinggang.


Kemudian sekali loncat saja, dia sudah berdiri tegak di tengah-tengah halaman depan rumahnya yang memang dijadikan untuk tempat berlatih.


Sedetik kemudian, gadis ini mencabut pedang itu dan memainkannya berdasarkan Ilmu Pedang Rajawali yang mampu membuatnya dijuluki sebagai Dewi Pedang Terbang.


Gerakannya teramat sangat cepat sampai-sampai tubuhnya lenyap terbalut sinar pedang. Terdengar suara angin bercuitan setiap kali bilah pedang itu membelah udara pagi.


Namun permainan itu harus segera ia hentikan tatkala mendengar seruan seseorang.


"Gerakan pedangmu amat cepat dan tangkas, namun perlu diketahui, karena kecepatan itulah sehingga membuat gerakanmu penuh celah." ucap suara itu dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga membuat Lu Jia Li mendengarnya jelas.

__ADS_1


Begitu gadis ini menoleh dan memandang, di balik pohon besar itu ternyata sudah berdiri tetua kedua terkuat setelah Zhang Hongli. Dia adalah Minghao.


"Selamat pagi Nona, maaf mengganggu." sapanya sambil menjura hormat.


Lu Jia Li tersenyum kemudian balas menjura orang itu.


Disaat gadis ini menunduk, dia tidak sadar betapa kedua pipi lelaki dihadapnnya itu berubah kemerahan sesaat setelah memandang senyum manisnya. Namun agaknya pria sastrawan ini bisa dengan cepat menguasai diri dan menormalkan detak jantungnya.


Memang terjadi keanehan di dalam keluarga Zhang ini, yaitu dalam diri Lu Jia Li. Pasalnya, entah karena apa dan bagaimana setelah menjadi bisu, gadis ini menjadi murah senyum kepada siapapun. Sungguh berbeda dengan dulu yang sikapnya cenderung dingin.


Hal ini tentu membuat semua orang menjadi senang disamping kesedihan karena mendapat kenyataan bahwa gadis cantik itu tak dapat bicara lagi.


"Lalu, apa yang harus kulakukan? Kau punya saran akan hal itu?" tulis gadis itu di atas kertas buku kecilnya.


"Jika Nona tidak keberatan, aku bisa sedikit memberi saran. Walaupun aku bukan ahli pedang, namun serangan sulingku ini berdasar dari sebuah ilmu pedang." jawab Zhang Hongli.


"Mohon bantuannya." kembali gadis ini menulis dan dengan rangkaian huruf-huruf itulah dia menjawab perkataan Minghao.


Minghao pun segera menuturkan semua, tentang celah-celah lebar yang terbuka dan gerakan yang tidak perlu.


Karena penjelasan Minghao ini, ilmu pedang Lu Jia Li menjadi lebih matang lagi dari sebelumnya. Diam-diam dia merasa kagum atas tindakan Minghao ini yang mampu memahami ilmu pedangnya hanya dalam sekali lihat.


Lu Jia Li mengangguk.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." kata pria itu sambil tersenyum sebelum membalikkan tubuh.


"Ah?" Minghao kembali menghentikan langkah begitu lengan jubahnya ditahan seseorang.


Ketika dia menoleh, ternyata yang memegangnya itu adalah Lu Jia Li. Gadis itu memandangnya sambil tersenyum seraya menunjukkan tulisannya.


"Terima kasih." demikianlah isi tulisan itu.


Minghao tersenyum dan mengangguk. Lalu kembali berjalan pergi meninggalkan rumah itu.


Lu Jia Li memandang kepergian pria itu sampai benar-benar lenyap dari pandangan. Kemudian gadis ini berjalan kepinggir halaman dan duduk manis di bawah pohon rindang tersebut.


Dirinya merenung, tetapi senyum itu masih nampak jelas di sana. Sebenarnya jauh dilubuk hatinya, dia sama sekali tidak menyesal menjadi seorang bisu. Itu adalah karena masa depannya begitu sudah bersuami.


Dia berpikir, jika menjadi seorang bisu menyulitkannya untuk mencari seorang pendamping, betapa akan bahagianya dia.


Karena apa? Karena tentu seorang yang akan meminangnya nanti memiliki kesetiaan dan kecintaan besar dengan seluruh jiwa raga. Akan menerimanya baik kelebihan maupun kekurangan.

__ADS_1


Karena itulah dia menghapus semua kesedihan akibat insiden malam itu. Digantikan dengan senyum cerah bagai matahari pagi yang mendatangkan perasaan nyaman dan hangat.


Karena itulah, sejak malam hari dimana dia keracunan, sikap Lu Jia Li benar-benar telah berubah.


Berpikir soal suami, tiba-tiba pipi gadis itu memerah dan dengan refleks dia mengangkat kedua tangan untuk menutupinya.


"Kira-kira akan seperti apa ya...pria pendampingku nanti..." batin gadis itu tanpa sadar.


...****************...


Selama tiga minggu ini, baik Lin Tian, Minghao, Zhang Hongli ataupun para petinggi lain dari keluarga Zhang, tidak ada satupun dari mereka yang bertugas di luar.


Semua sibuk dengan kesibukan masing-masing di wilayah keluarga.


Lin Tian yang tekun berlatih Ilmu Silat Ketenangan Batin agar menjadi lebih kuat dan bisa melindungi Nonanya. Minghao yang sibuk membuat sajak-sajak indah untuk koleksi perpustakaan keluarga Zhang.


Lu bersaudara yang sibuk menerima dan mengatur rumah kediaman bagi anggota keluarga baru yang direkrut anak buahnya. Ang Bei sibuk dengan pembangunan markas besar keluarga Zhang di sebelah Barat air terjun. Zhang Hongli juga sibuk untuk mengajar para anak muridnya agar kelak menjadi pendekar-pendekar Zhang yang gagah perkasa.


Dan Zhang Qiaofeng sendiri, dia juga sibuk dengan berbagai urusan keluarga. Seperti persetujuan masuknya anggota baru atau hal-hal lain. Tapi, semua itu hanyalah empat puluh persen dari kegiatan sehari-harinya.


Yang enam puluh persennya, kadang dia gunakan untuk menjahili Lin Tian dan menemani Lu Jia Li, atau memaksa Minghao memainkan musik untuknya atau melihat kakeknya melatih murid-murid atau bahkan tidur dari sore sampai malam. Setelah makan malam, gadis ini kembali tidur untuk bangun pagi keesokan harinya.


Intinya hampir semua kegiatan gadis itu tidak berguna, namun agaknya dia jugalah yang paling sibuk diantara semua orang.


Hingga enam bulan kemudian, semua berjalan lancar tanpa masalah berarti. Sampai ada satu anggota Asosiasi yang memberi laporan kepada Nona Zhang dengan wajah pucat pasi.


"Lapor Nona...disebelah Barat sana, terdapat pasukan manusia gunung yang sangat besar. Mereka sedang berjalan menuju Timur."


"Berapa kira-kira jumlahnya?" tanya Zhang Qiaofeng.


Orang itu nampak berpikir, raut wajahnya tampak makin ketakutan. Setelah itu terdengar jawaban yang agak gemetar.


"Mungkin ribuan Nona."


Mata Zhang Qiaofeng membulat dengan wajah pucat. Begitu pula dengan Lin Tian, Minghao dan Zhang Hongli yang hadir pula di ruang tersebut.


"Tidak mungkin..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2