
"Nona muda!!" teriak Lin Tian yang mengandung keterkejutan dan kekhawatiran. Dia lalu menghampiri dan memegang kedua pundak gadis itu, mengguncangnya kuat-kuat berharap agar si pemilik pundak terbangun.
"Nona muda...Nona....!!"
Minghao dan Zhang Hongli juga terkejut mendengar perkataan Lin Tian. Maka begitu mereka sudah dekat dan melihat, kiranya memang benar ucapan Lin Tian bahwa dia memang Nona muda dari keluarga Zhang.
Zhang Hongli sendiri memandang dengan pandangan tidak percaya, kakek ini membolatkan mata lebar-lebar begitu melihat tubuh gadis yang penuh luka cambukan itu. Dia seakan tidak percaya bahwa tubuh cantik jelita yang saat ini sedang diguncang-guncangkan oleh Lin Tian itu adalah cucunya.
"Inikah cucuku...cantik sekali....tak pernah kusangka bahwa cucuku akan tumbuh menjadi seorang gadis yang begini cantik"
Dia lalu mengalihkan pandangannya kearah seorang gadis di sebelah cucunya yang sama-sama terikat di tiang tinggi ruang itu.
Gadis itu terlihat seumuran dengan cucunya, mungkin usianya baru dua puluh tahun. Wajahnya cantik sekali, rambutnya yang agak bergelombang itu dikuncir kebelakang dan menyisakan beberapa helai rambut yang menjuntai di kanan kiri wajahnya.
Hidungnya mancung dengan cuping tipis yang mengeluarkan hembusan nafas teratur. Mata yang terpejam itu memiliki bulu mata lentik yang menambah kecantikan dara ini. Dari sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah yang sudah mengering, namun walau begitu, kecantikan gadis ini sama sekali tidak luntur.
Wajahnya itu terlihat sangat tenang walaupun alisnya sedikit berkerut menandakan bahwa dia merasa kesakitan. Entah anak siapa orang ini.
"Nona...Nona Zhang Qiaofeng!!!" Lin Tian masih belum menghentikan usahanya.
Minghao sedaritadi hanya diam sambil memandangi sekitar dengan pandang mata tajam. Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki seseorang yang datang dari atas, perasaannya sudah tidak enak.
"Belasan....atau puluhan?" tanyanya dalam hati yang memperkirakan jumlah orang yang datang itu.
"Kalian berhati-hatilah, ada yang datang!" tegur Minghao kepada dua rekannya.
Namun kedua orang itu sama sekali tidak bereaksi karena sesungguhnya mereka pun juga sudah sadar dari awal jika ada seseorang yang akan datang. Namun karena terlalu khawatir akan keadaan Zhang Qiaofeng, sehingga mereka memilih untuk mengabaikannya.
"Hahaha....!! Sungguh pertemuan yang sangat pahit, benar kan?" ucap suara pria dari arah tangga.
"Hihihik....benar-benar anak yang kurang beruntung...." sahut suara seorang wanita dengan nada genit menjijikkan.
Tak lama kemudian, dari arah tangga muncul seorang pria tampan bertubuh dempal yang di kanan kirinya terdapat dua orang wanita kembar cantik berjalan lenggak-lenggok dengan senyum memikat.
Kemudian, berturut-turut dari arah belakang pria itu muncul pula dua puluh orang anggota Aliansi Golongan Hitam. Tahulah tiga orang itu bahwa saat ini mereka telah memasuki jebakan.
Lin Tian menghentikan perbuatannya dan sudah berbalik memandang kearah puluhan orang yang baru datang itu. Dari balik topengnya, dia memandang tajam. Seandaninya dia tak memakai topeng, mungkin semua orang di sana akan merasa ngeri begitu beradu pandang dengan mata Lin Tian.
Begitu memandang, pemuda ini terkejut melihat si pria dempal. Dia sudah mengenal pria ini! Pria ini bukan lain adalah seseorang yang waktu berada di pesta keluarga Hu tahun lalu melakukan hubungan perzinahan bersama empat orang gadis di sudut ruangan. Lin Tian masih ingat betul akan wajah pria tampan ini yang dimatanya terlihat sangat menjijikkan.
Setelah berjalan mendekat, pria ini dengan menampakkan senyum manis menundukkan badan dan berkata. Tutur katanya halus dan sopan, "Selamat datang kepada Tuan sekalian yang sudah berkunjung ke rumah burukku ini. Perkenalkan namaku Xiao Fu, tuan rumah dari rumah ini."
"Bagaimana Tuan-Tuan, apa kalian sudah menikmati pemandangan indah yang kusajikan di sana. Hebat bukan? Tenang saja, karena saya tahu bahwa kalian adalah orang-orang pilihan keluarga Zhang, maka saya masih berbaik hati untuk tidak menyentuh mereka sedikitpun." katanya seraya memandang Lin Tian dan Zhang Hongli bergantian.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada Minghao dan lanjut berkata, "Ah...kiranya pendekar tersohor Sastrawan Sakti juga ada di sini, sungguh kebetulan! Tak kusangka keluarga Zhang mampu menarik seorang sekuat Tuan sastrawan ini."
Minghao hanya diam.
Sedangkan untuk guru dan murid itu, mereka terbelalak begitu mendengar siapa adanya lelaki dihadapannya ini. Xiao Fu, seseorang yang sedang mereka cari dan kini malah muncul sendiri tanpa dicari, sungguh lucu!!
__ADS_1
"Haha...kiranya orang Xiao yang muncul di sini. Heh, pria pendek!! Apamukah keluarga Xiao di Kota Batu itu!?" tanya Zhang Hongli dingin.
"Hahahaha....tentu saja mereka adalah keluargaku! Tapi karena suatu hal aku pergi meninggalkan mereka dan tiba di tempat ini." jawab Xiao Fu yang masih tersenyum-senyum. Tentu saja dia menjadi besar hati karena di sana ada Si Cantik Setan Kembar.
"Apa maksudmu menahan Nona muda Zhang? Apa kau pernah bersinggungan dengan kami?" kembali Zhang Hongli berkata dingin, sungguh berbeda dengan biasanya yang suka berkelakar dan melawak.
"Tidak...tidak...aku tak ada permusuhan apapun dengan kalian keluarga Zhang. Namun aku hanya menjalankan perintah pemimpin, itu saja. Karena itulah aku tak berani pegang-pegang mereka sebelum disuruh. Yah...walaupun sangat disayangkan harus terkena beberapa cambukan dariku untuk menjinakkan mereka...." jawab pria dempal itu acuh.
Mendengar ucapan terakhir ini, merah wajah Zhang Hongli dan Lin Tian. Tentu mereka tak terima atas perlakuan ini. Maka dengan kemarahan meluap, tanpa basa-basi lagi mereka sudah melompat maju.
"Bebesakan mereka!!" ucap singkat Zhang Hongli kepada Minghao sesaat sebelum melesat kearah dua puluhan orang itu.
"Hahahahah....." Xiao Fu hanya tertawa-tawa, dan tanpa diperintah, dua puluhan orang itu sudah maju menyerang. Kecuali Setan Kembar dan dirinya sendiri.
"Selamat bersenang-senang." lanjutnya sebelum membalikkan badan dan pergi dari sana bersama dua orang wanita cantik itu.
"Sialan....!! Kembali kau!!" teriak Zhang Hongli sambil tangannya bergerak menangkis sebatang golok.
Terjadilah pertempuran hebat dua lawan dua puluh orang itu. Di ruang bawah tanah yang luas nan gelap ini, mereka bertempur mati-matian membela junjungan masing-masing.
"Trang-trang-trang"
"Sial...apa-apaan ini?" kata Minghao frustasi.
Begitu Zhang Hongli memintanya membebaskan kedua tahanan, dia pun mengindahkan perintah itu dengan cara memukul-mukulkan sulingnya yang sudah dialiri tenaga dalam kearah belenggu rantai.
Akan tetapi, sudah tujuh kali benturan dan rantai itu sama sekali belum terlepas, entah terbuat dari apa rantai itu.
"Tahan sebentar Nona, aku akan berusaha membebaskanmu." Minghao berkata seraya tangannya tak pernah berhenti memukul-mukul rantai Zhang Qiaofeng.
Gadis ini tak menjawab, hanya mengedarkan pandangan kearah sekitar. Gelap, itulah kata pertama yang terlintas di hatinya. Hal ini tak mengherankan karena ruangan luas itu hanya ada dua obor yang digantung di dinding kanan dan kiri ruangan, sedangkan ruangan itu sangatlah luas.
Tapi walau begitu, gadis ini masih bisa memandang kearah pertempuran hebat yang terjadi dihadapannya. Dan betapa terkejut rasa hatinya ketika matanya menangkap sesosok yang tidak lagi asing bagi dirinya. Seseorang berjubah putih yang sekaligus juga memakai topeng putih. Zhang Qiaofeng terpaku memandang pria tersebut hingga tak menghiraukan adanya seorang kakek tua yang bertarung tak jauh dari orang itu.
Tak terasa, air matanya turun membasahi kedua pipinya yang putih. Dia merasa sangat terharu melihat betapa pria bertopeng putih itu bertempur mati-matian di sana. Entah apa yang terjadi, namun gadis ini yakin sekali bahwa pria itu sedang bertempur demi dirinya.
"Lin Tian..." ucapnya lirih dengan senyum haru menghias wajahnya.
Gadis di sebelahnya itu juga sadar akan hal ini, dan tanpa terasa dia juga menitikkan kedua air mata melihat sahabatnya yang seperti itu. Tak dapat dipungkiri, dia juga merasa amat senang.
"Trang...!!" Rantai terputus dari tubuh Zhang Qiaofeng.
Setelah tiga belas kali pukulan, rantai itu baru bisa terbabat putus. Hal ini tentu saja membuat Minghao sedikit banyak merasa lelah.
Dia pun melakukan hal yang sama kepada gadis di sebelahnya. Begitu kedua gadis itu terbebas, dia menyuruh mereka untuk memulihkan tenaga dulu dan melarang agar mereka jangan ikut dalam pertempuran.
"Baiklah!" jawab gadis di sebelah Zhang Qiaofeng. Sedangkan Nona muda itu sendiri merasa sedikit tidak senang akan saran itu.
"Tenanglah Nona, mereka itu orang kuat, tak perlu kau khawatir seperti ini..." ucap Minghao berusaha menenangkan Zhang Qiaofeng.
__ADS_1
Akhirnya karena tak punya pilihan lain dan memang tubuh mereka yang teramat lelah, dua orang dara cantik ini duduk bersila dan mulai mengumpulkan tenaga.
Untuk Minghao sendiri, dia sudah melompat ke medan tempur dan membantu kedua temannya.
...****************...
Sepuluh menit sudah terlewat dan dari pihak dua puluh orang itu masih tersisia sepuluh orang lagi. Hal ini tentu membuat terkejut mereka bertiga yang mendapat kenyataan bahwa musuh yang mereka lawan bukanlah orang sembarang.
"Cih!! Ternyata mereka boleh juga!" gumam Zhang Hongli kesal.
"Tak ada pilihan lain!! Lin Tian, mainkan ilmu silat Ketenangan Batin!!" perintah Zhang Hongli yang langsung dituruti oleh muridnya.
Terjadilah aksi mengagumkan dari dua orang sakti ini. Begitu ucapan ini berhenti, mereka mainkan ilmu silat Ketenangan Batin yang gerakannya amat cepat dan kuat, membuat lawan bingung dan kocar-kacir.
Minghao kagum menyaksikan ini, maka dia pun juga tak mau kalah. Begitu melihat dua orang temannya mengamuk dan membuat musuh berantakan, dia mengambil kesempatan ini untuk mainkan ilmu silat simpanannya.
Ilmunya ini sejatinya adalah ilmu silat berpedang, akan tetapi karena tak ada pedang, dia memainkannya dengan menggunakan suling. Ilmu ini bernama "Pedang Pemecah Bintang", yang dimana inti dari ilmu ini mayoritas adalah gerakan menusuk.
Dengan suling putih berukir naga miliknya, dia mainkan ilmu itu dengan sangat hebat dan cepat sungguhpun di punggungnya terdapat yang-khim yang tentu akan membebani pergerkannya.
Sungguh luar biasa akibatnya, baru beberapa kali bergerak saja, tiga orang musuh sudah tertotok lumpuh dan mampu ditebas lehernya oleh Lin Tian. Kombinasi serangan yang sangat hebat!!
Begitu ada sebuah tombak menyambar jantung Lin Tian, pemuda ini cepat menangkis dan melakukan totokan dengan tangan kiri. Namun orang itu berhasil menghindar.
Akan tetapi, walaupun dia berhasil menghindar dari serangan Lin Tian, dia berlum terhindar dari serangan suling Munghao yang sudah bergerak cepat menusuk pelipisnya. Maka tanpa persiapan dan dalam keadaan terkejut, orang ini terlambat menghindar dan...
"croookk!!"
Suling itu melesak masuk di pelipisnya dan orang ini roboh tewas.
"H-hebat sekali!!" gumam gadis di sebelah Zhang Qiaofeng.
"Feng'er?" lanjutnya yang bingung karena tak mendapat jawaban dari Zhang Qiaofeng.
Begitu memandang, dia terkejut akan ekspresi yang ditunjukkan gadis itu. Sebuah ekspresi yang belum pernah ia lihat selama ini.
Gadis ini melihat, betapa Nona muda Zhang ini tak pernah bisa mengalihkan pandang matanya dari pria bertopeng yang sedang bertempur dengan hebat itu. Pandang matanya berbinar dan mulutnya tersenyum lebar melihat gerakan silat pendekar bertopeng tersebut.
"Ekhm...daripada kau pandangi terus menerus seperti itu, lebih baik kita juga ikut membantu!" kata gadis itu menyadarkan Zhang Qiaofeng.
"Ah...benar juga, ayo!!" Zhang Qiaofeng segera mencabut kedua belatinya dan menerjang kedepan, disusul dengan gadis disebelahnya.
Memang Xiao Fu itu agaknya terlalu meremehkan mereka berdua. Pria dempal itu sengaja hanya menawan tanpa mengambil senjatanya. Sungguh tindakan yang sembrono.
Begitu dua orang ini ikut terjun dalam pertempuran, musuh menjadi makin kocar-kacir dan sebentar saja mereka mati semua.
"Ayo keluar, lekas kejar si dempal itu! Aku sudah tak sabar untuk bisa membanting otaknya!!" Zhang Hongli berkata dan berkelebat cepat sekali menaiki anak tangga.
Empat orang lainnya juga langsung melesat keatas mengikuti pria tua itu dari belakang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG