
Terlalu berlebihan? Mungkin jika orang lain lihat, maka jawabannya adalah iya. Dan itu terlalu terlalu terlalu berlebihan untuk seukuran pendekar seperti Lin Tian.
Selepas bangunnya ia dari masa kritis selama ini, seluruh anggota keluarga Zhang menyambutnya dan seolah baru saat itulah keluarga mereka merayakan kemenangan daripada Pertempuran Hitam Putih.
Semua orang secara bergiliran menjenguk Lin Tian, entah itu dari bagian pelayan, pengawal atau para pasukan elit.
Akan tetapi ada satu gadis muda yang menghentikan kegiatan jenguk menjenguk itu. Saat ada salah seorang pelayan yang datang untuk mengucapkan selamat dan rasa syukur atas kesembuhan Lin Tian, Zhang Qiaofeng melempar wadah kuas ke wajahnya.
"Pergi!! Tak lihatkah kau saat ini? Lin Tian baru saja bangun dan kalian malah mengganggunya! Pergi dan katakan pada semua orang jangan ada yang masuk ke sini tanpa seijinku!"
Gadis itu membentak-bentak dan membuat pelayan itu ketakutan. Lin Tian hanya mampu tersenyum canggung sebagai wujud permintaan maaf kepada pelayan itu.
Sejak hari itu, Lin Tian mendapat perhatian penuh dari Zhang Qiaofeng. Sejak pagi sampai pagi lagi dia selalu berjaga di kamar Lin Tian. Bahkan saat Lin Tian tak sengaja terbatuk karena debu lewat, gadis ini sudah gerak cepat untuk melempar berbagai macam pertanyaan padanya.
"Kau baik-baik saja?"
"Masih adakah yang sakit?"
"Bilang saja padaku!"
Semua kelakuan Zhang Qiaofeng benar-benar mampu membuat Lin Tian geleng-geleng kepala dan menghela nafas. Di samping rasa syukurnya tentu saja.
Ketika Zhang Qiaofeng mendapat tuntutan dari Zhang Hongli dan Minghao karena telah meninggalkan tugas, dengan santai dan seperti orang mengantuk dia menjawab.
"Aku mau istirahat beberapa pekan lagi. Lelah rasanya setelah hampir kehilangan nyawa seperti waktu itu."
"Bangsat! Yang hampir jadi mayat itu Lin Tian, bukan kau bocah!" kakeknya naik pitam dan menggebrak meja.
Namun Zhang Qiaofeng hanya membalas singkat dan sekenanya. "Kami kan Sepasang Naga Putih. Satu sakit yang satunya harus sakit. Ingat, kami sepasang."
...****************...
Malam itu, Lin Tian mengajak Zhang Qiaofeng pergi ke taman belakang rumahnya. Gadis itu sudah marah-marah dan tidak memperbolehkan Lin Tian pergi sampai keadaan membaik. Tapi Lin Tian terus memaksanya.
Di bawah sinar rembulan, keduanya berdiri saling berhadapan. Wajah Lin Tian nampak berseri dan sedikit kemerahan. Berbanding terbalik dengan nonanya yang cemberut sebal.
"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan! Satu jam dari sekarang kau harus segera tidur untuk memulihkan kesehatanmu."
Lin Tian tertawa hambar sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Lagipula kenapa kau membawa pedang? Kau ingin membunuhku? Nah cobalah, dengan tubuh lemas hampir mati itu kau bisa apa!?" sekarang dia malah memberikan tantangan terbuka.
Lin Tian tak memedulikan itu dan segera berkata, "Nona, bukankah melalui Xin Kiu, saya sudah menghadiahkan pedang ini kepada anda?"
Zhang Qiaofeng tetap cemberut dan memandang tajam.
"Nona?" Lin Tian bingung tak mendapat jawaban dari nonanya.
"Berapa kali harus kubilang, jangan panggil aku nona lagi! Bukankah kita ini satu keluarga?"
__ADS_1
"T-tapi nona, saya hanya–"
"Pengawal pribadai? Kalau begitu atas perintahku kucabut gelarmu sebagai pengawal pribadi! Panggil aku dengan nama!!" nadanya meninggi, namun juga ketus.
Lin Tian menjadi serba salah. Sebenarnya selama ini pipinya sudah sering kali kena tampar setiap kali dia memanggil "nona" kepada Zhang Qiaofeng. Tapi karena merasa canggung untuk memanggil nama, dia tak berani melakukannya.
Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian dan tekad, dia mencoba sedapatnya untuk memanggil nama gadis tersebut.
"Eh...Zhang Qiaofeng...saya–"
"Panggil nama, tak ada kata formal!" potong gadis itu cepat-cepat.
Lin Tian menghela nafas pasrah dan kembali berkata, "Zhang Qiaofeng nonaku–"
"Panggil nama, tak ada kata formal, tak ada nona dan tuan. Kedudukan kita sejajar!" kembali gadis itu berujar ketus seraya mengepalkan tangan. Terlihat sangat gemas dengan tingkah Lin Tian.
"Hah...." helaan nafas terdengar dari mulut Lin Tian. Namun hanya sebentar saja sebelum dia kembali memandang gadis itu dengan seutas senyum tipis.
"Zhang Qiaofeng, bukankah sudah kuberikan pedang ini padamu melalui Xin Kiu? Kenapa kau kembalikan?" dia bersyukur dalam hati karena ucapannya tidak terpotong-potong akibat kegugupannya.
Zhang Qiaofeng menaikkan sebelah alisnya ketika menjawab, "Itu milikmu dari awal."
"Aku sudah memberikannya padamu!"
Zhang Qiaofeng tetap diam dan memandang Lin Tian datar. Situasi ini membuat Lin Tian menelan ludah susah payah karena takut akan hal buruk yang akan terjadi.
"Wah....wajahnya seram..." keluhnya dalam hati.
Lin Tian menepis tangan Zhang Qiaofeng dan mundur selangkah, "Bukan hanya itu."
Zhang Qiaofeng mencibir dan nampak kesal. "Lalu apa? Cepat katakan dan jangan berbelit-belit! Tubuhmu masih belum pulih!" bentaknya galak.
Saat inilah dada Lin Tian seolah hampir jebol akibat hentakan jantungnya yang kian memburu. Nafas Lin Tian tidak teratur dan wajahnya makin memerah. Mulutnya gemetaran. Dan sialnya, Zhang Qiaofeng salah paham akan ini.
"Eh...eh...ada apa denganmu!? Goblok! Sudah kubilang kau belum pulih, ayo kembali ke kamar!" umpat Zhang Qiaofeng dan mencoba memapah Lin Tian. Tapi kembali pemuda itu menepisnya.
"Tidak...Zhang Qiaofeng...dengar sebentar...." ucapnya terbata-bata yang dibalas dengan tatapan bingung Zhang Qiaofeng.
Nafas Lin Tian makin memburu, wajahnya semakin memerah dan matanya melirik sana-sini, mencoba menghindari kontak mata langsung dengan Zhang Qiaofeng.
Dia mengambil nafas sebanyak-banyaknya beberapa kali sebelum memejamkan mata untuk menenangkan batinnya. Lalu terdengar mulutnya bergumam. "Sepertinya ini saatnya...."
"Hah...saatnya apa?" gadis itu makin bingung setelah tak sengaja mendengar gumaman pemuda itu.
Lin Tian mengacuhkannya dan berlutut, lalu dengan gerakan perlahan ia angkat pedangnya dengan kedua tangan dan berucap lirih.
"Eh...apa ini?" Zhang Qiaofeng terkejut sekali.
"Zhang Qiaofeng...jujur saja aku sedikit kecewa engkau mengembalikan pedang ini padaku." kata Lin Tian tanpa berani mengangkat kepala.
__ADS_1
"Eh bocah! Kau ini bicara apa? Kenapa mendadak jadi bernada seperti melantunkan syair!?"
"Zhang Qiaofeng, pedang ini kuberikan padamu bukan hanya sebagai hadiah, tapi juga.....eh...seluruh perasaanku selama ini tercurah pada pedang ini. Pedang yang telah menyelamatkanku berkali-kali, maka dari itu–aduh!"
Zhang Qiaofeng sudah menampar kepalanya dengan gemas dan berteriak nyaring, "Kalau di ketentaraan, nyawamu sudah pasti hilang karena memberi laporan yang berbelit-belit terhadap komandanmu! Bicara yang jelas, kau mau apa!!?"
"Pedang ini sebagai perwujudan perasaanku kepadamu! Sudikah engkau menerima lamaranku dengan menerima pedang ini? Pedang yang secantik dan seanggun dirimu?"
Rasa lega menyelubungi hati Lin Tian. Namun hanya sebentar saja sebelum keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Jantungnya berdegup makin kencang ketika mendengar nafas gadis itu memburu dan sampai lama tak ada jawaban.
Lalu hatinya terasa perih ketika menyadari satu hal. Cepat-cepat dirinya berkata dengan tawa hambar.
"Haha...apa-apaan aku ini? Aku hanya seorang anak tak berkedudukan yang menerima kebaikan di keluarga Zhang. Tak seharusnya aku bersikap lancang kepada nonaku seperti ini...." gumamnya seperti kepada diri sendiri. Dan dia menarik pedangnya kembali.
"Hei."
Gerakannya terhenti saat terdengar suara halus Zhang Qiaofeng. Ingin dia menengok tapi tak berani. Membayangkannya saja, tentu jika nonanya itu marah, kali inilah kemarahan yang paling galak pastinya.
"Anak-anak kita nanti harus menggunakan keturunan Zhang. Kau harus mengubah nama keluargamu menjadi Zhang dan kau harus menemaniku untuk menjalankan tugas kepemimpinan." Zhang Qiaofeng berucap pelan.
"Eh?" saking terkejutnya, Lin Tian melebarkan mata dan cepat memandang. Namun sebelum kepalanya terangkat, ada satu tangan halus yang menekannya untuk tetap menunduk.
Lalu tangan kanan gadis itu menerima pedang Lin Tian dan diselipkannya pada sabuknya. Setelah itu tanpa berkata-kata, Zhang Qiaofeng membantu Lin Tian berdiri. Tapi salah satu tangannya tetap menekan kepala Lin Tian ke bawah.
"Eh....eh....eh....i-itu artinya...aku...."
"Kenapa? Kau sendiri yang minta kan?"
Lalu Lin Tian merasakan jitakan keras di kepalanya dan mendengar nonanya itu mengumpat, "Dasar, hanya seperti itu saja harus keluar kamar. Kau masih harus beristirahat untuk beberapa hari ke depan. Ingin mencari tempat romantis?"
Perkataan itu seolah terdengar ketus, tapi Lin Tian dapat mendengar dari aliran nafasnya, kalau nonanya itu sedang tersenyum. Dan ucapan tadi diucapkan sedikit gugup.
"Eh....jadi, aku diterima?"
"Belum bocah!" kembali satu jitakan keras mendarat di kepalanya.
"Aku masih punya kakek! Katakan dulu pada kakekku itu baru kita pikirkan soal yang lain-lain. Kau ini buru-buru sekali!" umpat gadis itu keras untuk menutupi kegugupannya.
Lin Tian kembali tersenyum. Senyum paling lebar yang agaknya pernah ia tunjukkan selama ini. Senyuman tulus yang berasal dari hati, senyum kebahagiaan serta kepuasan.
"Terima kasih...."
Zhang Qiaofeng hanya mengelus kepala Lin Tian sebagai jawabannya. Jika Lin Tian melihatnya, tentu dia akan terkejut sekali melihat genangan air penuh keharuan di kelopak mata gadis tersebut. Kalau tidak menurutkan harga diri, tentu Zhang Qiaofeng sudah menangis sejadi-jadinya.
"Hehe...aku tak sabar untuk segera sembuh, lalu kita mengenakan baju pengantin, punya rumah sendiri, lalu membuat–Auuwww!"
"Jangan dilanjutkan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG