Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 86. Pria Murah Senyum


__ADS_3

"Dengar baik-baik Lin Tian. Ilmu silat Ketenangan Batin di level ini tidaklah semudah sebelumnya. Kau harus bisa mainkan kaki dan tanganmu dengan cara genap dan ganjil secara berubah-ubah." jelas Zhang Hongli.


"Apa maksudnya guru?"


"Jika sebelumnya kau menggerakkan tangan untuk kalimat ganjil dan kaki untuk kalimat genap. Maka sekarang kau harus bisa menggunakan tangan dengan genap dan kaki dengan ganjil. Kau harus bisa mainkan ganjil genap secara bergantian terus-menerus selama pertarungan."


Lin Tian sedikit terkejut mendengar penjelasan barusan. Jika mainkan ilmu silat Ketenangan Batin biasa saja sudah cukup sulit, apalagi dengan cara seperti itu?


"Lihat baik-baik gerakanku!" kembali Zhang Hongli berkata sambil mulai memperagakan gerakan-gerakan ilmu silat Ketenangan Batin.


Mula-mula, tidak ada perubahan di awal gerakan. Tangan menulis kalimat pertama, sedangkan kaki menulis kaliamat kedua. Namun setelah beberapa gerakan, terkejutlah Lin Tian begitu menyadari gerakan gurunya sedikit berubah.


Kali ini tangan kakek itu menulis kalimat genap dan kaki menulis kalimat ganjil. Beberapa detik kemudian, tangan kembali menulis ganjil dan kaki menulis genap. Begitu seterusnya sampai dia menyelesaikan sajak halaman pertama buku Ketenangan Batin.


"Bagaimana Lin Tian, kau sudah bisa melihat perbedaannya bukan?" tanya Zhang Hongli setelah menyelesaikan gerakannya.


Lin Tian mengangguk mantap. Kemudian tanpa disuruh, pemuda ini segera mencontoh gerakan-gerakan gurunya.


Beberapa detik di gerakan pertama, tak ada masalah berarti. Namun begitu sampai ke detik yang kedua puluh, gerakan Lin Tian menjadi aneh dan dia malah tersandung kakinya sendiri. Sontak hal ini membuat pemuda bertopeng itu jatuh tersungkur.


"Hahaha....bagaimana? Tak semudah yang terlihat bukan?" tawa Zhang Hongli menggelegar begitu melihat muridnya mencium tanah berumput itu dengan amat mesra.


Lin Tian bangkit dan mendengus, "Ini baru permulaan guru!" setelah itu pemuda ini kembali melanjutkan latihannya sungguhpun kejadian mencium tanah itu kerap kali terulang.


...****************...


Di waktu yang sama ketika Lin Tian sedang berlatih di kediaman keluarga Zhang. Di salah satu desa sebelah Barat ibukota terjadi peristiwa mengerikan.


Desa-desa yang ada di sana dibakar dan dirampok sedemikian rupa. Wanita-wanita cantik diambil dan diperkosa seenaknya. Para laki-laki dan anak-anak dijadikan budak suruhan mereka.


Orang-orang pembikin onar ini bukan lain adalah Aliansi Golongan Hitam. Sebuah perkumpulan pendekar hitam itu saat ini sedang melakukan invasi besar-besaran di daerah Barat sana.


Bahkan saat ini, di salah satu desa di lereng pegunungan, sedang terjadi peperangan yang cukup hebat. Perang antara Aliansi Golongan Hitam melawan para pasukan kekaisaran Chu.


Anggota Aliansi itu dipimpin langsung oleh salah satu petinggi Aliansi yang dikenal sebagai Iblis Tongkat Merah. Mereka ini melawan bala tentara Chu itu dengan sangat ganas dan sadis. Ditambah anggota pasukan Aliansi itu terdiri dari orang-orang lihai, maka pihak kekaisaran mampu di desak.


"Hahahahah...." suara tawa yang menggelegar bagai guntur saat hujan badai turun. Dia ini adalah seorang kakek tua berperawakan kecil seperti seorang anak berumur sepuluh tahun. Rambut putihnya itu dibiarkan tergerai tanpa dikuncir. Wajahnya penuh dengan brewok dan jenggot. Matanya tajam sekali, membayangkan kebengisan dan kekejaman.


Dia inilah orang yang berjuluk Iblis Tongkat Merah, seorang datuk dunia hitam yang namanya tersohor di seluruh daratan, khususnya daratan Selatan ini.


Pemimpin pasukan Aliansi ini mengamuk dengan liar sekali. Dengan tongkat baja merah di tangan, kakek satu ini mampu memecah-mecahkan kepala manusia dalam sekali sabetan.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu dan perang itu mereda. Ternyata pihak Aliansi Golongan Hitamlah yang keluar sebagai pemenang. Namun, belum juga sisa pasukan ini pergi, tiba-tiba muncul sepasukan orang yang datang menghampiri mereka.


Pasukan ini dipimpin oleh seorang pria tampan berumur tiga puluh lima tahun, jenggot dan kumis orang itu tipis-tipis saja. Mulutnya selalu menyunggingkan senyum dan wajahnya membayangkan keramah-tamahan.


"Hm...? Siapa mereka?" gumam Iblis Tongkat Merah.


Begitu pasukan ini sampai, orang yang memimpin pasukan itu segera maju dan menjura kepada Iblis Tongkat Merah itu.


"Ah...benarkah saya bertemu dengan seorang sakti berjuluk Iblis Tongkat Merah?" demikianlah dia berucap sembari melirik kearah kakek cebol itu.


"Benar. Kau mau apa?" balas kakek itu. Suaranya ketus dan terdengar sangat angkuh.


"Hahaha...kalau begitu tak sia-sia aku datang kemari. Aku ingin mencari anda Tuan, ingin mengajukan usulan kerja sama atas kita berdua."


"Hah? Memangnya kau siapa bocah?"


Orang itu kembali tersenyum dan menjawab, "Siapa aku tidak penting. Yang penting adalah soal kesepakatan kita berdua, apa anda akan setuju agar kiranya aku yang muda ini membacakan kesepakatan itu?"


Iblis Tongkat Merah benar-benar dibuat bingung. Orang di depannya ini terlalu berbelit-belit, dan kakek itu tak suka dengan hal seperti ini. Maka segera dirinya menbentak.


"Jangan banyak omong!! Persetan dengan kesepakatan atau apalah, lebih baik kau pergi!!" bentak Iblis Tongkat Merah sebelum membalikkan tubuh.


"Oh...jangan terlalu sombong Tuan. Kau belumlah mengenal siapa adanya diriku?" kembali orang itu berkata yang membuat langkah Iblis Tongkat Merah berhenti.


"Perkenalkan namaku Sian Yang. Sebelumnya aku datang ke desa ini adalah untuk mengambil alih dan menjadikannya tempat istirahat bagi anak buahku. Namun ah...sayang sekali, kiranya Tuan ini sudah sampai lebih dulu." jawab orang tersebut.


"Oh kau hendak merebut desa ini? Dan apakah dugaanku salah, jika kesepakatan yang kau maksud itu adalah berbagi desa ini untuk kita berdua?"


"Benar sekali Tuan. Dengan begitu kita sama-sama dapat untung bukan?"


"Untung apanya!! Hanya kaulah yang untung, aku yang buntung!! Aku datang susah payah menduduki desa ini, dan kau datang entah dari mana tiba-tiba ingin mengambil desa ini!? Jangan mimpi, pergi atau kupecahkan kepalamu!!" bentak Iblis Tongkat Merah dengan berapi-api.


"Hm sekarang pertanyaannya, apakah Tuan bisa memecahkan kepalaku?" tanya Sian Yang dengan senyum makin lebar.


"Bajingan, rasakan ini!!" amarah Iblis Tongkat Merah meluap dan kakek ini segera melesat menuju Sian Yang.


Dengan gerakan yang cepat sekali, tongkat merahnya itu berubah menjadi selarik sinar merah yang menyambar kearah kepala Sian Yang. Gerakannya amat cepat dan kiat, bahkan Sian Yang sendiri sudah bisa merasakan hawa panas yang keluar dari serangan tersebut.


"Bukk!!"


Tongkat baja merahnya telak mengenai kepala Sian Yang, namun yang terjadi berikutnya membuat semua orang tercengang.

__ADS_1


Tongkat itu tepat mengenai kepala, akan tetapi bukan kepala itu yang pecah, melainkan tongkat merah itu sendirilah yang terpental balik.


Dengan senyum masih tersungging jelas, Sian Yang berkata, "Haha...bagaimana Tuan?"


"Sialan, Mengapa bisa begini?" batin Iblis itu yang kemudian kembali menerjang dengan serangan sama.


Namun nihil, tak ada yang berubah. Tongkat itu terus membalik begitu bertemu kepala pria yang ramah senyum itu. Bahkan sampai tujuh pukulan pun, tongkat ini masih belum juga bisa melukai lawan.


"Hah..." terdengar helaan nafas dari Sian Yang sebelum tubuh orang ini melesat cepat sekali kearah Iblis Tongkat Merah.


Iblis ini jelas terkejut, namun gerakan orang itu terlalu cepat sehingga dirinya tak sempat menghindar. Maka dengan sekali kibasan tangan Sian Yang, lengan kanan kakek itu terbabat putus seketika.


"Aaarrggghhh!!!" teriak kakek itu menggema.


"Bajingan kau bocah!!! Matilah!!" Iblis Tongkat Merah segera bangkit dan mengambil tongkatnya dengan tangan kiri, kemudian menyerang Sian Yang dengan bertubi-tubi.


"Buk-buk-buk!!"


Tiga kali berturut-turut Sian Yang menangkis. Karena Iblis itu menggunakan hawa Yang, maka Sian Yang pun juga menggunakan inti tenaga Yang. Sehingga pertandingan itu menghasilkan deru angin yang sangat panas.


Setelah menangkis, Sian Yang merendahkan tubuhnya dan hendak menotok pusar kakek itu. Tapi dengan sigap, Iblis Tongkat Merah mampu memutar tongkatnya menangkis dilanjutkan dengan serangan menggebuk ubun-ubun.


"Matilah!!" teriaknya penuh amarah.


"Wuutt!! Deess!!"


Ternyata tongkat itu hanya mengenai angin belaka. Dan ketika Iblis itu memandang, kiranya Sian Yang sudah berdiri di samping kanan dan memukul lambungnya dengan keras sekali.


Iblis Tongkat Merah terpental sejauh tiga tombak jauhnya. Sebelum dia mampu bangkit kembali, Sian Yang sudah menerjangnya dengan tapak tangannya. Mengandung hawa panas yang luar biasa.


"Aaargghh!!" pekik Iblis Tongkat Merah begitu tangan itu berhasil menghantam dadanya.


Bertepatan dengan ini, kedua pasukan sudah saling terjang dan bertempur hebat. Namun ternyata pasukan Sian Yang jauh lebih kuat sungguh pun kalah jumlah.


Maka sebentar saja pasukan Iblis Tongkat Merah mampu didesak dan dibantai habis.


Begitu semua musuh sudah dilibas, Sian Yang berdiri memandangi mayat Iblis Tongkat Merah yang gosong akibat pukulannya itu. Ternyata pukulan itu juga mengandung racun kuat yang membuat tubuh Iblis itu terluka luar dalam.


"Hmph, hanya anjingnya Aliansi sudah berlagak setinggi langit!! Dasar orang picik yang tak tahu luasnya dunia." kata pria berkumis tipis itu sebelum pergi bersama anak buahnya memasuki desa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2