Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 58. Asosiasi Gagak Surgawi


__ADS_3

Tak terasa, sudah tiga bulan berlalu setelah Lin Tian berlatih ilmu silat Ketenangan Batin. Akan tetapi, selama itu pula dia hanya mampu menguasai setengahnya saja.


"Hohoho....baiklah, Lin Tian, saatnya kita pergi!!" kata Zhang Hongli dengan mata bersinar-sinar.


"Baik guru." jawab Lin Tian yang sudah mengenakan topeng kebanggannya.


Memang hari ini mereka berencana untuk meninggalkan hutan merah ini dan pergi ke tujuan awal Lin Tian, yaitu desa Tanah Hujan.


"Dari sini ke desa Tanah Hujan, kira-kira masih membutuhkan waktu satu bulan lagi jika kita menggunakan ilmu lari cepat. Melihat ilmu meringankan tubuhmu yang sudah begitu tinggi, sepertinya bukan masalah, kan?"


"Benar guru, aku juga ingin segera tiba di desa itu."


"Kalau begitu ayo!!" ajak Zhang Hongli yang sedetik kemudian sudah berkelebat lenyap dari sana.


...****************...


Mereka pun berlari dengan sangat cepat menuju selatan. Gerakan kedua orang ini sungguh mengerikan, yang terlihat hanyalah bayangan-bayangannya saja.


Bahkan, saking tingginya ilmu meringakan tubuh mereka, tanah basah yang mereka injak pun tidak meninggalkan bekas sama sekali. Hal ini membuktikan jika kepandaian kakek dan pemuda ini bukanlah sembarangan, bahkan orang-orang kuat pun tidak boleh memandang remeh mereka.


Apalagi Lin Tian, setelah dirinya mewarisi beberapa ilmu silat gurunya dan juga menguasai ilmu Ketenangan Batin sungguh pun belum sempurna, namun pemuda ini telah menunjukkan kemajuan yang signifikan.


Satu bulan kemudian, mereka sampai di tempat tujuan.


Seperti namanya, agaknya desa ini memang memiliki curah hujan yang tinggi. Begitu pula saat ini, kedua guru murid ini tiba di sana dalam keadaan hujan badai yang sangat deras.


Mereka kemudian memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu di sebuah goa yang berada di bawah bukit tak jauh dari desa.


"Hah...tak kusangka desa ini sangat sesuai dengan namanya." ucap Lin Tian seraya menghela nafas panjang.


"Hm...aku sudah tidak heran dengan pemandangan ini. Dahulu, ketika aku berkunjung ke desa ini, cuacanya pun juga sama, hujan deras disertai badai seperti sekarang."


"Eh...ada keperluan apakah guru sampai datang ke desa ini?" tanya Lin Tian.


"Tentu saja untuk mendatangi Asosiasi Gagak Surgawi." jawabnya santai.


Jawaban ini sontak membuat Lin Tian terkejut, apakah dahulu gurunya ini sudah mengenal dengan asosiasi tersebut? Pikir Lin Tian.


"Hm...agaknya kau terkejut. Kau pasti penasaran mengapa aku bisa mendatangi asosiasi misterius itu kan?" tanya Zhang Hongli yang seakan sudah bisa menebak akan isi pikiran muridnya.

__ADS_1


Lin Tian hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Hahah....bukan karena alasan khusus, aku menemui mereka adalah karena waktu itu aku hendak mencari keberadaan musuh-musuhku yang waktu itu kuceritakan."


"Hah...tapi ternyata dari dulu sampai sekarang tidak berubah ya... Kau tahu Lin Tian? Hujan di desa ini mungkin tidak akan berhenti sampai satu bulan lamanya." kembali kakek ini berucap seraya menghela nafas.


"..."


"..."


"..."


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Zhang Hongli yang bingung akan tatapan tajam muridnya.


"Guru...kalau hujan ini tidak akan reda sampai sebulan, untuk apa kita berteduh di sini?" tanya pemuda bertopeng itu dengan datar.


"Hah!! Kau sendiri yang tadi minta berteduh, sekarang kau malah tanya aku? Mana kutahu, kaulah yang seharusnya tahu tentang alasan kita mengapa harus berteduh saat ini di goa ini." ucapnya bersungut-sungut.


"Tapi guru, anda tidak bilang jika hujan deras di desa ini akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama!!" jawab Lin Tian tak terima.


"Kau tidak tanya murid bodoh!!" bentak Zhang Hongli menanggapi protesan dari muridnya.


"Bah!! Daripada kita ribut sendiri, lebih baik kita melanjutkan perjalanan sekarang!!" lanjutnya dan langsung berdiri tanpa menunggu jawaban dari Lin Tian.


Setelah beberapa menit berlalu, dengan baju basah kuyup karena air hujan, mereka tiba di depan gerbang desa tersebut.


Gerbang desa itu terlihat sangat sederhana dengan sepasang tiang bambu dan sebuah papan lebar di antara kedua bambu tersebut. Papan lebar itu diukir dalam yang bertulis "Tanah Hujan".


Namun, ada yang aneh di sini. Walaupun hujan sedang turun dengan derasnya, akan tetapi di jalanan desa itu masih terlihat cukup banyak orang yang berlalu lalang. Mereka ini berpakaian sederhana ala orang desa dan menggunakan caping lebar di atas kepala.


"Heh....apa orang-orang di sekitar sini suka bermain air hujan?" gumam Lin Tian bingung


Gumamannya ini ternyata didengar oleh Zhang Hongli. Mendengar hal itu, kakek ini kemudian menjawab, "Hal ini wajar, karena keadaan alam, mereka sudah sangat terbiasa dengan keadaan hujan badai ini. Sehingga, mereka pun mau tidak mau harus bisa beraktifitas di tengah derasnya badai seperti sekarang ini."


Lin Tian hanya mengangguk-angguk saja sebagai tanda mengerti.


"Lebih baik kita cepat menuju markas mereka." ajak Zhang Hongli yang kemudian melanjutkan langkahnya.


Beberapa menit berlalu, Zhang Hongli berhenti di depan sebuah rumah yang sontak membuat Lin Tian mengerutkan kening dan berpikir keras.

__ADS_1


"Kita sampai."


"Guru, a-apa anda tidak salah?" tanya Lin Tian seraya memandang sebuah rumah yang ada di hadapannya. Atau lebih tepatnya memandang sesuatu yang mirip dengan rumah.


Pemuda ini bingung bagaimana harus menyebut bangunan yang ada di depannya ini. Pasalnya, bangunan itu memang berbentuk rumah, akan tetapi sudah terlihat sangat tua dan reot, bahkan jika diperhatikan lebih teliti, rumah itu berdiri miring kira-kira sebesar tiga puluh derajat.


Zhang Hongli tidak memperdulikannya. Dia lalu berjalan perlahan kearah pintu itu dan mengetuknya.


"Tok...tok-tok"


Kembali hal ini membuat Lin Tian terkejut. Suara ketukan pintu itu terdengar sedikit aneh dari biasanya. Karena, jeda antara ketukan pertama dan kedua terdapat jarak waktu yang sedikit lama, akan tetapi jeda antara ketukan kedua dan ketiga terdengar cepat sekali dan hampir bersamaan.


Kemudian Lin Tian berpikir jika ketukan itu kemungkinan besar adalah sebuah kode rahasia untuk seseorang yang memang ingin bertemu dengan Asosiasi.


Tak lama setelah itu, pintu tua itu terbuka dan munculah seorang pria berjubah hitam dan juga memakai caping yang sama-sama berwarna hitam. Kemudian, pria ini memberi kode kepada mereka berdua untuk segera masuk.


Begitu Lin Tian sampai di ruang tamu, kembali Lin Tian dikejutkan dengan sesuatu yang luar biasa. Ternyata rumah reot yang kelihatan seperti sudah hampir roboh itu, sama sekali tidak mengalami kebocoran. Hal ini terbukti dengan lantai rumah di ruang tamu itu yang kering tanpa adanya air sedikit pun!!


"Duduklah." ucap pria itu mempersilahkan mereka duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan.


Setelah mereka bertiga sudah duduk di kursi masing-masing yang dibatasi dengan sebuah meja bundar. Zhang Hongli segera berkata,


"Aku tak ingin berbasa-basi, kau pasti sudah tahu maksud akan kedatanganku." kata Zhang Hongli serius dan terlihat sangat berwibawa.


"Apa yang hendak kau tanyakan?" jawab pria itu. Suaranya sedikit serak dan berat. Mendengar ini, tahulah mereka berdua jika orang berpakaian serba hitam ini adalah seorang lelaki tua.


"Aku ingin tahu kemana perginya Nona muda keluarga Zhang yang sudah hilang selama kurang lebih delapan tahun. Keluarga Zhang adalah salah satu keluarga bangsawan di daerah Utara daratan. Apa kau bisa membantu?"


Pria tua itu tidak langsung menjawab, hanya terdengar suara nafasnya saja yang sangat halus dan hampir tidak terdengar. Selang beberapa detik, mulut tuanya itu bergerak dan berkata, "Berapa banyak yang berani kau bayar?"


Zhang Hongli memandang tajam kearah pria itu dengan kening berkerut. Entah apa yang ada dalam pikiran guru Lin Tian itu. Begitu juga dengan si pria di hadapannya, dia juga tak kalah tajam memandang kearah mereka berdua.


Hal ini tentu saja membuat Lin Tian merasa jengah dan canggung.


Tiba-tiba terdengar Zhang Hongli berucap, "Lin Tian..." suaranya terdengar sedikit gemetar dan kedua tangannya terkepal erat-erat.


"Y-ya guru?" jawab Lin Tian gugup.


"Gurumu ini tidak punya uang"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2