
Mereka semua sama-sama terkejut mendengar jerit penuh kesakitan dari Zhi Yang. Yuan Fei lekas menghampiri dan bertanya khawatir kepada putrinya itu yang sudah rebah terlentang dengan nafas ngos-ngosan. Begitu juga Rouwei yang sudah menghampiri kakaknya.
"Apa ini? Bukankah setelah dibuat pedang, hawa dingin dari kristal ini jauh berkurang dari yang aslinya?" sedangkan Lin Tian malah merasa heran sendiri dengan pedangnya.
"Gila!! Dingin dan sangat menusuk! Sakit sekali!" jerit Zhi Yang dalam hatinya mengabaikan ayah dan adiknya.
Setelah mengambil nafas banyak-banyak selama beberapa saat, akhirnya Zhi Yang berhasil memperoleh ketenangannya kembali. Maka cepat-cepat bangkit duduk dan kembali membuka bajunya di bagian perut.
"Lanjutkan Lin Tian!" serunya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ayah, adik, menyingkirlah! Biar aku akan hadapi ini! Ayah tolong beri arahan kepada kami!"
Ekspresi ayah dan anak ini nampak ragu-ragu, namun setelah melihat tatapan penuh keyakinan dari Zhi Yang, mereka lekas minggir ke tempat semula.
"Setelah dada kirimu menggigil hebat, segera alirkan tenaga dalammu!" Yuan Fei berbicara saat melihat Lin Tian siap dengan pedangnya. Zhi Yang mengangguk mantap mendengar ini.
Setelah mendapat tanda siap dari Zhi Yang, Lin Tian kembali meletakkan Pedang Dewi Salju ke perut gadis tersebut, diletakkannya dengan perlahan dan halus. Zhi Yang kembali ingin menjerit, namun ditahannya sekuat tenaga sampai tubuhnya gemetaran dan warna kulitnya makin pucat.
Zhi Yang menggigit bibir sampai berdarah, tangan kirinya mencengkeram tanah sampai jari-jari mungil itu melesak ke dalam. Sedangkan tangan kanan yang memegang bajunya sendiri, mencengkeram kulitnya dengan keras.
"Akh...jantungku seperti ditusuk ribuan jarum!" Zhi Yang memekik karena yang dirasakannya bukanlah menggigil kedinginan, melainkan rasa sakit hebat.
Mendengar ini pucatlah wajah Yuan Fei, maka buru-buru dia berseru kepada Lin Tian untuk melakukan tindakan selanjutnya.
"Lin Tian, suhu kurang dingin! Buat lebih dingin lagi!" demikian ucapnya.
Setelah mengangguk paham, Lin Tian menutup mata untuk lebih berkonsentrasi. Hal ini bukanlah masalah remeh karena menyangkut nyawa orang, kalau Lin Tian terlalu banyak memberikan hawa dinginnya, bisa jadi Zhi Yang malah mati beku. Sedangkan jika kurang mengalirkan hawa dinginnya, bisa jadi Zhi Yang malah keracunan sendiri.
Lin Tian memusatkan konsentrasi dan perhatian kepada pedangnya. Perlahan dia alirkan hawa sakti dingin dari tangan kanan, terus menjalar ke bilah pedang dan memasuki tubuh Zhi Yang.
Yuan Fei dan Rouwei dapat melihat jelas urat-urat kaku di perut Zhi Yang yang tadinya berwarna merah gelap kehitam-hitaman, perlahan-lahan berubah menjadi biru terang. Urat-urat kaku itu juga mulai berdenyut seiring banyaknya cairan peluh di kulit putihnya.
Setelah Lin Tian menambah kapasitas tenaga dinginnya, gigi atas Zhi Yang yang sebelumnya menggigit bibir mulai gemetar. Lalu tak lama kemudian terdengar suara "Tak-tuk-tak-tuk" dalam tempo cepat sekali karena gigi atas dan bawah gadis itu beradu akibat kedinginan.
"Sekarang, lawan hawa dingin dari pedang itu!" seru Yuan Fei kemudian.
Zhi Yang cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa dingin Lin Tian. Kembali dia hampir pingsan karena rasa sakit luar biasa ini.
Pertempuran antara hawa dingin dan racun di dada kirinya terasa amat hebat. Seolah jantungnya itu seperti diremas-remas oleh telapak tangan beku yang di atas telapak tangannya terdapat ribuan jarum-jarum tajam.
"Akkhh...aahhhh!!"
Gadis ini tak tahan dan dia pun menjerit. Matanya melotot lebar dan nampak bagian putihnya merah sekali karena menahan rasa sakit tersebut. Buru-buru tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan Lin Tian untuk kemudian didorongnya menjauh.
Akan tetapi matanya kembali melebar saat merasakan tangan Lin Tian seperti tertanam di gagang pedang. Maka dia membentak.
"Lepas! Sakit...ini sakit!!"
Lin Tian menajamkan pandangannya dan mengeraskan hatinya. Semua ini demi kakaknya, demi keselamatan kakaknya. Maka dia harus melakukan ini sungguh pun akan tersiksa hatinya melihat kakaknya meronta kesakitan.
"Demi engkau kakak!" Lin Tian memekik dan mencengkeram pergelangan tangan Zhi Yang yang memegang tanganya. Dari tangan kiri yang memegang pergelangan gadis tersebut, mengalir hawa dingin kuat.
"Kau hendak membunuhku berdebah!"
"Lawan hawa dinginku!"
__ADS_1
Zhi Yang ingin menarik tangan, namun mustahil karena tangannya sudah melekat ke tangan Lin Tian. Namun tangan kanannya masih bebas, dia angkat secepat kilat untuk menampar pelipis Lin Tian.
"Jangan menyiksa kakakmu!"
"Plak!"
Kepala Lin Tian terpelanting, akan tetapi betapa heran mereka semua ketika menyaksikan pedang dan tangan kiri pemuda tersebut masih menempel di tubuh Zhi Yang.
Darah menyembur ke mana-mana dari pelipis kirinya. Namun Lin Tian tetap mengerahkan tenaga sungguh pun pandangan matanya sedikit berkunang.
"Cepatlah lawan dan jangan mati!!" Lin Tian berseru dan menambah kapasitas hawa dinginnya.
Tanpa mampu dicegah lagi, Zhi Yang terus memekik-mekik seperti orang yang disayat-sayat kulitnya. Mau tak mau dia mengerahkan tenaga melawan hawa dingin Lin Tian.
Sedangkan ayah dan adiknya hanya mampu memandang sambil berpelukan dan menangis keras. Tak kuasa melihat penderitaan Zhi Yang, mereka berdua menutup mata erat-erat.
"Semoga kau selamat putriku..."
...****************...
Lin Tian menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Zhi Yang yang meramkan mata dan menghembuskan nafas panjang-panjang. Di belakangnya ada Yuan Fei yang memandang pemuda itu sambil tersenyum haru.
"Terima kasih....terima kasih Lin Tian...."
Pemuda ini tersenyum dan berbalik, menatap Yuan Fei dengan senyum hangat seraya berkata pelan.
"Ssst...biarkan dia beristirahat. Oh, bukankah lebih baik anda merawat Rou'er?"
"Ah...benar juga."
Yuan Rouwei, gadis cilik itu sudah pingsan karena tak tega melihat penderitaan kakaknya.
Lin Tian masih di kamar itu dan di pinggangnya terselip Pedang Dewi Salju kebanggannya. Dia mengelus lembut pedang itu lalu bergumam seorang diri.
"Kau sudah menyelamatkanku dan membantuku entah seberapa banyak. Terima kasih sobat..."
Dia mengangkat pedang itu dan menciumnya, "Kenapa kau berwujud pedang? Kalau engkau manusia mungkin aku akan kesulitan memilih antara dirimu dan nona untuk kujadikan teman hidup..."
"Breet!"
Lin Tian terkaget dan lekas menoleh. Ternyata yang menarik bajunya dengan kasar adalah Zhi Yang yang masih terpejam. Namun Lin Tian dapat melihat bahwa gadis itu membuka matanya sedikit.
"Oh Zhi Yang, beristirahatlah."
"Bocah sinting....kau bahkan bernafsu dengan pedang buatanmu....jika memang benar begitu....aku akan terus mengejarmu bodoh..." gumam gadis ini terseret-seret dan tidak jelas.
"Haha, mana mungkin aku tertarik dengan pedang ini. Tak mungkin kan kakakku cemburu dengan senjata?"
Zhi Yang cemberut dan pipinya sedikit merah. Dia melepas pegangan tangannya di baju Lin Tian dan memandang pemuda itu penuh perhatian. Matanya masih sayu seperti orang mengantuk.
"Kau...benar-benar mencinta nonamu?"
Pertanyaan ini berhasil membuat jungkir balik hatinya. Lin Tian yang masih memegang pedangnya itu sontak menjatuhkan pedang dan memandang terbelalak. Tubuhnnya kaku-kaku.
"Kenapa....kau hendak menyangkal?"
__ADS_1
Kembali Zhi Yang bertanya dan pandangan Lin Tian menjadi sayu. Dia memungut pedangnya untuk kemudian dia selipkan kembali di ikat pinggang.
"Yah...memang benar. Tapi bagaimana pun juga, dia bangsawan dan aku hanya pengawal. Dari keluarga miskin pula."
Entah kenapa Lin Tian menjadi jengah saat memikirkan hal ini. Tak bisa dipungkiri, dari dulu dia memang sudah terpikat sekali dengan Zhang Qiaofeng. Saat kecil, dia sangat mengagumi gadis itu karena menganggap bahwa ia adalah pelindung sekaligus kakaknya.
Namun seiring berjalannya waktu dan bertambah usia, apalagi setelah tujuh tahun dia terpisah dari nonanya, barulah dia sadar akan perasaan sendiri. Namun dia tetap menyangkal dan menguatkan hati kalau nonanya itu adalah kakaknya.
Namun ketika turun gunung setelah berguru dari Chong San dan Wang Ling Xue, barulah dia paham akan perasaan sendiri dan mengakuinya. Dia mencinta nonanya sendiri!
Lin Tian berbalik dan pergi dari sana, tidak ingin melanjutkan percakapan itu lagi. Namun kembali tangan Zhi Yang menarik ujung bajunya dan terdengar gadis itu berkata.
"Kemarilah..."
Lin Tian memandang bingung dan mendekat. Zhi Yang lalu memberi isyarat padanya untuk menunduk dan Lin Tian pun menurut, sungguh pun rasa heran masih memenuhi hatinya.
"cup."
Satu kecupan manis mendarat di pipi kanannya, membuat dia terbelalak seketika. Namun setelah mendengar bisikan Zhi Yang, dia kembali terbelalak dengan perasaan bingung sekali.
"Orang aneh!! Yang dekat tak diambil, yang jauh terus dikejar. Di depan mata tak mau dilirik, di seberang lautan selalu ditengok. Hei Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut yang tersohor, sebagai seorang pria kau terlalu ganjil. Sebagai seorang pengawal cita-citamu terlalu tinggi!"
"A-apa maksudmu?"
"Panggil aku kakak!"
"Apa maksud kakak?"
"Nah, nah, kubilang apa! Kau ini manusia ganjil! Pemuda berdarah panas namun terlampau ganjil! Mutiara di depan mata tak kau angkut, sedangkan berlian yang belum tentu didapat terus kau gali!"
"Kau ini bicara apa sih!?"
"Hmph, dasar lelaki!! Tak paham dengan ucapan wanita!!"
Lin Tian menatap bingung dengan sedikit kesal, lalu wajahnya berubah sumringah ketika dia terpikirkan sesuatu.
"Ah, aku paham maksudmu! Yang kau maskud mutiara itu kau dan berlian adalah nona bukan!?"
"Nah, pintar sedikit!"
"Oh, oh...aku paham! Kau menganggap dirimu mutiara? Hei, bukankah langit tak perlu mengatakan dirinya tinggi?"
Pandangan Zhi Yang tajam dan bengis, "Apa maksudmu, adik kurang ajar?"
"Jika nonaku berlian, aku sependapat. Tapi bukankah kakakku ini hantu?"
"Keparat kau bocah!"
Zhi Yang hendak mencakar namun Lin Tian sudah lebih dulu keluar pintu dan menutupnya rapat-rapat. Terdengar suara kekehan di balik pintu itu dan membuat Zhi Yang naik pitam.
Akan tetapi wajahnya berubah merah seperti udang rebus dan pingsan seketika saat Lin Tian berbisik pelan.
"Hei, ciuman kakakku sangat lembut. Bolehkah aku merasakannya lagi di lain waktu sebagi ungkapan rasa sayang?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG