
Dua hari sudah berlalu semenjak kejadian itu. Zhang Qiaofeng pun akhirnya mengurungkan niat untuk pergi ke keluarga Hu, karena khawatir pasukan manusia gunung akan menyerang begitu dirinya tidak ada di sana.
Kaisar pun sudah menerima laporan dari keluarga Zhang sejak sebulan yang lalu, lebih tepatnya ketika Zhang Qiaofeng belum melakuakn perjalanan ke keluarga Xiao kala itu.
Kaisar Chu Quon sendiri menyiapkan seluruh bala tentaranya dan berusaha menghubungi keenam Keluarga Penguasa lainnya. Dan semua menyatakan setuju untuk membantu.
Untuk keluarga Xiao sendiri, selama dua hari ini mereka dipersilahkan untuk istirahat di kediaman Zhang. Karena bala tentara mereka itu sangat dibutuhkan untuk menghapi serbuan pasukan manusia gunung kelak.
Selama sebulan ini, menurut informasi yang di dapat dari mata-mata Asosisasi Gagak Surgawi, pasukan manusia gunung itu makin lama berjalan makin lambat, bahkan sudah dua minggu ini pasukan itu berhenti.
Lu Tuoli pun juga menambah pasukan Asosiasi yang sebelumnya berjumlah dua ratusan, saat ini menjadi lima ratus orang. Sudah setengah dari keseluruhan anggota Asosisasi Gagak Surgawi yang ditempatkan di keluarga Zhang.
"Kapan penyerangan akan dilakukan?" tanya Lu Tuoli di ruang pertemuan itu.
"Kemarin, kaisar bilang jika penyerangan akan dilakukan pada lusa di pagi hari. Keluarga Xiao dan Zhang akan berangkat bersama pasukan kaisar." jawab Zhang Qiaofeng.
"Begitu ya...." gumam Lu Tuoli.
"Persiapkan diri kalian, malam ini istirahat lebih awal!!" perintah Zhang Qiaofeng.
"Baik Nona!"
...****************...
Lusa ketika pagi hari, seperti yang sudah direncanakan, hari ini seluruh Keluarga Penguasa akan menggempur pasukan manusia gunung yang akhir-akhir ini telah meresahkan warga.
Keluarga Xiao dan Zhang sudah bersatu bersama pasukan kaisar yang dipimpin oleh seorang panglima bernama Gui Leng. Seorang panglima tua namun sikap dan postur tubuhnya masih terlihat gagah sekali.
"Kita berangkat sekaraaaangg!!! Kita kurung pasukan manusia gunung bersama enam Keluarga Penguasa lain!!" perintahnya memimpin pasukan seribuan orang itu.
Setelah itu, berangkatlah mereka menuju kearah Barat. Tiga panji besar berkibar dengan agungnya di tengah-tengah barisan pasukan. Di bagian terdepan dipimpin oleh orang-orang sakti yang jarang bandingannya.
Di pihak keluarga Chu, barisan paling depan dipimpin oleh Gui Leng dan Chu Wei, di belakangnya berjalan pula banyak orang perwira kuat. Keluarga Xiao dipimpin oleh Xiao Li dan panglimanya, Hao Yu juga ikut pula di sana.
__ADS_1
Yang paling hebat adalah rombongan pasukan keluarga baru yaitu keluarga Zhang. Tak ada perwira, tak ada panglima. Namun di depan sana duduk dengan gagah seorang pendekar wanita di atas kuda putihnya, dialah Zhang Qiaofeng.
Di samping kanannya, duduk seorang pengawal setianya di atas kuda putih pula. Dialah Lin Tian, si Pendekar Hantu Kabut. Di sebelah kirinya, terlihat Zhang Hongli si Kakek Lengan Sakti.
Lalu di belakangnya, berbaris rapi Lu bersaudara bersama putrinya Lu Jia Li, yang mata kanannya di tutup dengan sebuah kain hitam. Di belakang barisan para pendekar sakti ini, berjalan dengan gagah perkasa ratusan pasukan Asosiasi Gagak Surgawi yang sudah terkenal akan kelihaiannya.
Sedangkan Ang Bei dan Minghao, juga Xiao Lian, Xiao Niu dan Xiao Mei, mereka sengaja ditinggal di kediaman Zhang bersama seratus pasukan Asosiasi untuk menjaga kediaman.
Pasukan yang berjumlah lebih dari seribu orang ini terus menuju ke Barat, lebih tepatnya kearah pegunungan Awan Merah. Karena menurut informasi, pasukan manusia gunung itu berkumpul di balik pegunungan itu.
Di sana pula pasukan ketujuh keluarga rencananya akan berkumpul dan membuat rencana penyerbuan.
Hari demi hari berlalu, dan sudah empat hari pasukan ini melakukan perjalanan. Pada pagi hari di hari kelima, akhirnya pasukan ini tiba si Pegunungan Awan Merah yang menjadi titik kumpul.
"Selamat datang Tuan. Syukurlah anda sekalian sampai dengan selamat." sambut seorang pemuda albino yang bukan lain Hu Tao kepada panglima pemimpin keluarga Chu itu.
Panglima itu membalas penghormatan dan segera berkata. "Apakah hanya keluarga Hu saja yang sudah sampai?"
"Agaknya memang begitulah Tuan."
Serentak pasukan Chu, Xiao dan Zhang segera membuat perkemahan di sebelah perkemahan pasukan Hu. Mereka bermalam di sana sampai berhari-hari dengan cara memakan ransum dan minum air sungai tak jauh dari situ.
Namun ada yang aneh. Setelah empat hari berada si kaki pegunungan Awan Merah itu, dan setelah semua keluarga Penguasa berkumpul, ada satu keluarga yang belum juga hadir.
"Cih, kemana perginya pasukan keluarga Liu!?" ucap pemimpin keluarga Chu, Chu Shen. Selaku pimpinan seluruh pasukan tujuh Keluarga Penguasa.
Panglima Gui Leng pun hanya mengerutkan kening. Dia sendiri juga bingung karena selama beberapa hari ini keluarga Liu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
"Bukankah kita lebih baik untuk segera menyerbu saja Tuan. Aku takutnya jika pasukan manusia gunung sudah mulai bergerak dan mengambil jurusan lain demi menghindari pasukan kita ini." ucap Tan Hui dengan wajah cemas.
Chu Shen nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu dia bangkit berdiri berkata. "Baiklah, besok siang kita mendaki puncak agar kita bisa sampai di sana pada malam hari dan melakukan penyerbuan. Apa kalian setuju!"
"Setuju!!" jawab mereka saling sahut.
__ADS_1
"Kalau begitu, malam ini istirahatlah dan persiapkan hari esok."
Berbondong-bondonglah mereka keluar dari tenda paling besar itu menuju ke tenda keluarga masing-masing. Setelah tiba jauh dari sana, Zhang Qiaofeng yang sebelumnya ikut dalam perundingan bersama Lin Tian itu segera bertanya kepada pengawalnya.
"Lin Tian, apa kau tidak merasa aneh dengan hal ini? Selama beberapa hari ini keluarga Liu sama sekali tak tampak, aku punya firasat jika telah terjadi sesuatu dengan mereka di tengah jalan."
Lin Tian hanya diam, sambil terus melanjutkan jalannya di samping Zhang Qiaofeng.
"Lin Tian?" tanya gadis itu seraya menolehkan kepala menatap Lin Tian.
"Ya...memang ada yang aneh dengan ini." jawab Lin Tian yang sedari tadi sudah memiliki firasat buruk itu.
Walaupun Zhang Qiaofeng bingung akan sikap pengawalnya yang tak langsung menjawab itu, namun dia tidak peduli dan memilih kembali ke tendanya.
"Selamat malam Lin Tian." kata gadis tersebut sambil tersenyum manis dan melambaikan tangan sebelum memasuki tenda.
Lin Tian segera menjura dan berkata, "Selamat malam Nona, semoga mimpi indah."
Begitu Nonanya sudah tak terlihat, pemuda itu sama sekali tidak bergerak. Hanya berdiri termenung di tempatnya.
Malam sudah larut, keadaan di sekeliling amat sunyinya, kecuali suara jangkrik dan tiupan angin lembut yang menggoyang-nggoyangkan daun pohon sehingga menimbulkan bunyi gemerosak.
Jubah putih serta syal hitam Lin Tian berkibar-kibar tertiup angin. Hanya ada beberapa penjaga yang masih terjaga untuk mengawasi sekitar, sisanya sudah tidur semua karena memang di waktu seperti ini, rasa kantuk sedang hebat-hebatnya menyerang.
"Aku harus menyelidikinya, ini janggal...sangat janggal!!" batin Lin Tian yang makin lama makin tidak tenang.
Setelah melihat sekeliling untuk sesaat, pemuda ini segera melesat pergi dari sana. Sangat cepatnya sampai-sampai hanya bayangan putih berkelebatan yang terlihat.
Lin Tian hendak mendaki puncak itu, untuk kemudian melihat kearah balik pegunungan dan memastikan apakah ribuan pasukan manusia gunung itu benar-benar ada di sana.
Karena pendekar berjuluk Hantu ini bergerak amat cepatnya, sehingga hanya satu jam saja dia sudah tiba di puncak dan alangkah terkejutnya ia begitu melihat ke bawah, ke balik puncak tempat dimana seluruh pasukan membuat kemah.
"Celaka...ini bencana!!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG