
Lin Tian yang melihat datangnya tiga orang lainnya menjadi kesal. Dia tidak menyangka jika musuhnya yang mengaku berasal dari perguruan besar itu berani bertindak begini curang dan pengecut.
"Dasar anjing!!! Beraninya hanya keroyokan!!!" pekik Lin Tian yang sudah kehabisan kesabaran.
Sedangkan untuk Ling Shi yang melihat datangnya ketiga temannya itu, sungguh pun merasa malu karena harus mengeroyok satu orang, namun dia sama sekali tidak menolak karena dirinya sendiri pun merasa kerepotan untuk menghadapi Lin Tian seorang diri.
Begitu datang tiga orang itu, keadaan menjadi berubah. Kini Lin Tian lah yang sedang dalam keadaan terdesak dan terpojok oleh serangan tiga tongkat bambu itu.
Namun pemuda ini sama sekali tidak gentar. Dia mempercepat gerakannya dan mecurahkan seluruh kepandaian untuk bertahan. Saat ini, sama sekali tidak ada peluang menyerang untuknya.
Beberapa saat kemudian, meluncur sebuah tongkat dari seorang rekan Ling Shi yang mengarah ke lambung kiri Lin Tian. Lin Tian yang melihat datangnya serangan cepat menggerakkan tangan kiri hendak menangkis.
Namun usahanya ini ternyata telah di dahului oleh tongkat lain yang sudah menyambar ke pundak kirinya. Pemuda ini lantas menjadi bingung, jika ia lanjutkan serangan dan menangkis, maka pundaknya lah yang jadi korban.
Sedangkan jika ia menghindar dari sambaran tongkat yang menuju pundak, lambungnya lah yang akan remuk.
Tiba-tiba, dalam kebimbangannya itu, terdengar suara gurunya berseru, "Bait ketujuh, kalimat tujuh dan delapan!!!"
Tentu saja hal ini membuat semua orang termasuk keempat pengeroyok itu merasa heran. Apa yang kakek ini maksudkan? Begitulah pikir mereka.
Namun tidak untuk Lin Tian. Pemuda ini paham betul akan perkataan gurunya yang memberi perintah agar ia mainkan ilmu silat Ketenangan Batin bait ketujuh kalimat tujuh dan delapan.
Sedetik kemudian, tepat sebelum kedua tongkat itu mencapai sasarannya, Lin Tian melakukan gerakan aneh dan lebih anehnya lagi dua tongkat itu langsung terhempas dan pemilik tongkatnya pun terhuyung ke belakang.
Lin Tian baru saja mainkan ilmu silat Ketenangan Batin yang dimana, kedua tangannya bergerak untuk menulis kalimat ketujuh, dan kakinya menulis kalimat kedelapan. Tak disangkanya ternyata gerakan ini sangat efektif untuk keadaan seperti tadi.
Keempat orang itu memandang dengan heran setelah melihat kejadian di luar nalar barusan. Akan tetapi, dua orang yang masih berdiri tegak itu harus rela menahan rasa penasarannya karena Lin Tian sudah mengirim serangan lanjutan kearah mereka.
Maka dengan sigap mereka memutar tongkat dan menangkis.
"Taak-taaakk"
"Tidak mungkin..." pekik salah satu dari mereka.
Mereka terkejut karena begitu tongkat yang sudah terlapisi tenaga dalam sehingga menjadi sekeras balok besi itu, mampu Lin Tian pentalkan dengan amat mudahnya dan seakan-akan tangan pemuda itu hanya menyentuhnya saja.
__ADS_1
Lin Tian melanjutkan gerakan. Masih mainkan gerakan dari bait ketujuh kalimat tujuh dan delapan. Saat ini, dia melakukan langkah cepat nan lebar kearah salah satu orang, lalu secepat kilat tangan kanannya sudah menyambar kearah leher dan tangan kirinya sudah pula menyambar kearah dada.
"Waaahhh!!" orang ini terkejut dan cepat-cepat membuang diri ke belakang.
Begitu dia meloncat, temannya sudah menerjang Lin Tian dari belakang, bertujuan hendak memecahkan otak pemuda itu.
Akan tetapi mereka salah jika menduga pemuda itu akan kena hantam tongkat dan mati seketika. Nyatanya, Lin Tian mampu berkelit dengan menundukkan kepala dan menendangkan kakinya kearah perut orang tersebut. Membuat orang itu terpental sejauh tiga meter lebih.
"Hahaha....inikah Perguruan Tongkat Bambu Kuning yang kalian banggakan itu? Sungguh tak sebanding dengan omongan besar kalian!! Menghadapi muridku saja tak becus, apalagi menghadapiku, mungkin barang satu dua jurus kalian sudah binasa, hahaha!!" kata Zhang Hongli yang menonton dipinggiran sana memprovokasi.
Merah muka mereka karena darah naik ke kepala akibat kemarahan luar biasa. Baru sekaranglah mereka bisa dipermalukan sampai serendah ini. Karena hal ini, serangan mereka kepada Lin Tian semakin hebat dan brutal.
"Kakek tua sialan!! Kau yang menantang aku yang disuruh maju. Sekarang kau yang berlagak, aku yang kena imbasnya!! Dasar guru tak bermoral!!" umpat Lin Tian dalam hati yang merasa kesal akan sikap gurunya itu.
Sedangkan dua orang adik kakak itu, menonton jalannya pertarungan dengan wajah yang semakin tegang.
"Rou'er, sebenarnya siapa dia itu?" tanya sang kakak kepada sang adik sambil melihat kearah Lin Tian.
"Itulah yang ingin kutanyakan padamu kakak. Kita yang bertarung berdua saja nyaris mati di tangan mereka, tapi orang itu...satu lawan empat saja masih sanggup." jawab gadis yang dipanggil Rou'er dengan pandangan tegang sekaligus takjub.
"Jika kakek ini adalah gurunya, sekuat apakah dia?" tanya mereka dalam hati.
...****************...
"Hah...hah...hah...."
Nafas Ling Shi beserta ketiga temannya sudah tak karuan. Mereka benar-benar merasa kualahan menghadapi serangan-serangan dari Lin Tian.
"Apa-apaan ini? Kami berempat dan dia hanya satu orang, tapi kami menjadi pihak kalah!!!?? Yang benar saja!!" gumam Ling Shi dalam hati dengan pandangan menusuk penuh kebencian.
Untuk Lin Tian sendiri, pemuda ini sungguh pun nafasnya juga memburu, tetapi tidak separah keempat musuhnya itu. Karena walau dalam keadaan dikeroyok, dia masih mampu mengimbangi mereka dengan ilmunya yang luar biasa, yaitu ilmu silat Ketenangan Batin.
"Cih, hey kau!!" bentak Ling Shi dengan menudingkan telunjuk tangan kanannya kearah Zhang Hongli.
"Aku masih belum lupa, betapa tadi kau berkata tentang pendekar gagah dan pengecut!! Kalau begitu aku tantang kalian!! Datanglah ke kota Giok di barat sana yang dari sini kira-kira sejauh tiga puluh li. Kami Perguruan Tongkat Bambu Kuning, hendak mengadakan pertandingan antar pendekar seminggu dari sekarang untuk mempererat tali persahabatan. Kalau kalian seorang gagah, datang dan bertarunglah denganku di pertandingan itu!!"
__ADS_1
"Hahaha....mempererat persahabatan atau hendak memilih orang yang cocok untuk menjadi sekutu kalian? Tapi baiklah, kebetulan aku dan muridku ini hendak pergi ke sana, maka aku terima tantanganmu!!" jawab Zhang Hongli tertawa bergelak sekaligus mengejek Raja Tongkat itu.
Ling Shi hanya mendengus lalu mengajak ketiga temannya pergi dari situ.
Lin Tian sadar jika mereka berempat ini pergi dengan memendam rasa dendam luar biasa, karena itulah dia berniat untuk lebih hati-hati ketika sedang berada di kota yang bernama kota giok itu.
...****************...
"T-terima kasih kepada Tuan berdua yang sudah datang menolong kami. Entah apa yang akan terjadi jika anda berdua tidak datang kemari." ucap gadis yang dipanggil Rou'er seraya membungkukkan badan. Dia telah mengenakan jubah luar kakaknya untuk menutupi pakaiannya yang sudah tak karuan itu.
"Terima kasih Tuan." ucap pula kakaknya yang masih dalam keadaan duduk lemas.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Yang membuatku penasaran, mengapa empat ekor anjing itu sangat bernafsu untuk membunuh kalian?" Zhang Hongli menjawab.
Kedua kakak beradik itu saling pandang sejenak, pandang nata mereka terlihat sedikit meragu untuk menjawab. Tapi karena telah ditolong oleh dua orang ini, tentu mereka merasa tak enak hati untuk tidak menjawab. Akhirnya, gadis muda itu pun buka suara,
"M-mereka hendak membunuh kami untuk melancarkan rencana mereka Tuan." jawab gadis itu gugup.
"Rencana apa?"
"Mereka...hendak memberontak kaisar."
Jawaban ini sontak membuat dua orang guru murid itu menjadi terkejut bukan main. Lalu cepat Lin Tian bertanya untuk mengakhiri rasa penasarannya,
"Lalu kenapa kalian harus dibunuh? Memang kalian siapa?"
Kembali dua orang itu terlihat ragu untuk menjawab. Akan tetapi, tak lama setelah itu, gadis ini kembali berkata,
"Nama saya Chu Rou dan kakak saya ini bernama Chu Wei. Kami ini putra dan putri kaisar Tuan."
"Apa!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1