
"Eh...ramai sekali ya." gumam Lin Tian sambil memandang sekeliling.
"Tentu saja, menurut perkiraanku, semua orang ini tidak kurang dari dua ratus orang."
Pagi menjelang siang, Lin Tian bersama Zhi Yang dan seluruh rombongan berangkat menuju kaki Bukit Pedang yang dijadikan tempat berkumpul para pendekar. Di sana, banyak sekali macam-macam pendekar yang baru dilihat oleh Lin Tian.
Salah satunya adalah para pendekar berpakaian pengemis. Memang sudah cukup terkenal di dunia persilatan, bahwa pendekar pengemis itu ada dan berpihak pada golongan putih. Namun jumlah mereka tidak begitu banyak, sehingga sering kali dipandang sebelah mata.
Seperti halnya saat ini. Dari kejauhan, Lin Tian dapat melihat bahwa di sana terdapat sepuluhan orang pengemis yang sedang diolok-olok orang. Yang mengolok-olok itu agaknya juga pendekar, namun memakai pakaian serba mewah dan mahal. Mungkin berasal dari keluarga bangsawan.
"Hahaha....lihat jembel ini. Mau bertindak sok kuat untuk membasmi siluman itu!!"
"Hei pengemis, lebih baik kau kembali ke kolong jembatan sana, hahah!!
Mereka terlihat sangat senang untuk terus merendahkan kaum pengemis tersebut. Agaknya para bangsawan itu terlalu sombong, padahal belum tentu para pengemis itu lemah.
"Hah...dasar manusia. Hei kawan, kita kemari untuk membasmi siluman, bukan menyombongkan diri karena banyaknya harta benda." ucap pengemis paling tua yang mungkin sudah berusia tujuh puluh tahun.
"Hah!! Kau kira dirimu itu lebih kuat dariku!?" bentak si bangsawan yang berpakaian paling mewah.
"Boleh dicoba."
"Sombong!! Terima ini!!" bangsawan itu membentak dan menerjang maju. Namun sebelum itu, terlihat kelebatan bayangan hitam yang langsung memapaki pukulannya.
"Cukup!! Kita kemari sebagai saudara, bukan sebagai musuh!" bentak Zhi Yang yang menahan serangan orang tersebut.
"Hei bangsawan!! Apa yang kau punya sampai berani merendahkan kaum pengemis yang tak bersalah." salah satu pasukan keluarga Zhang mengomel.
Bangsawan itu melompat mundur dan memandang salah satu orang Zhang itu penuh kemarahan. Kemudian menjawab garang, "Heh, keluarga Zhang yang baru lahir!! Jangan banyak cakap dan jual lagak di sini. Kalian keluarga kecil-kecilan bisa apa hah!?"
"Bisa ini!!" bentak salah seorang pasukan tadi sambil mengambil batu sebesar genggaman tangan. Kemudian dia melemparkan batu itu ke sebuah pohon.
"Bleess!!"
Pucatlah wajah para bangsawan itu. Pasalnya, dia dan teman-temannya melihat betapa batu itu mampu menembus pohon. Sehingga pohon itu berlubang sebesar batu tersebut. Benar-benar permainan tenaga dalam tingkat tinggi.
"Bwahahaha lihat, hanya melihat hal seperti itu, tikus ini hampir terkencing. Bagaimana kalau ini!" kali ini si kakek pengemis berkata. Kemudian dia segera mendekat ke atah pohon berlubang tadi dan...
__ADS_1
"Kraaakk!!"
Makin pucat wajah para bangsawan itu. Kakek pengemis itu dengan mudahnya mampu mencabut pohon sampai ke akar-akarnya!! Siapa yang tidak merasa ngeri?
"Haha bagaimana jika ku cabut otakmu sama seperti nasib pohon ini?" kakek itu berkata sembari membuang batang pohon ke sembarang arah.
"Cukup main-mainnya!" terdengar suara berwibawa yang langsung mengalihkan perhatian semua orang. Membuat mereka seketika diam memperhatikan.
Orang ini kemudian naik ke atas batu besar. Dia seorang pria pruh baya empat puluhan tahun, mengenakan setelan pakaian merah gelap dengan golok tergantung di pinggang kanan. Agaknya dia seorang kidal.
Wajahnya tegas, mata dan alisnya tajam sekali. Rahangnya terlihat amat kuat, dilengkapi dengan jenggot panjang sampai ke dada. Membuat sosok manusia tersebut nampak berwibawa.
"Sore hari ini, kita akan menyerbu ke Bukit Pedang. Namun sebelum itu, aku ingin beberapa orang dari kita untuk berjaga di desa ini. Siapa yang berkenan?"
"Kami!! Biarkan kami menjaga desa dengan taruhan nyawa!!" teriak sang bangsawan menjawab tawaran tersebut.
Seketika meledaklah tawa orang-orang. Di sela-sela tawa itu, kakek pengemis kembali mencela, "Bwahaha, anak bangsawan tak seharusnya melawan siluman! Lebih baik kau kembali saja ke rumah dan minum susu. Bukankah itu lebih nyaman!?"
Merahlah muka para bangsawan itu. Namun apa boleh buat, dua orang pendekar yang baru saja menunjukkan kepandaiannya itu berada pada level jauh di atas mereka. Dan jika siluman itu lebih kuat dari mereka, maka habislah riwayatnya.
Orang di atas batu pun sedikit banyak menahan tawa. Namun untuk menghormati orang lain, dia menghela nafas beberapa kali untuk menentramkan hatinya. Dan kembali berkata.
"Ah...kau saja sekalian!!"
"Ya benar, kau saja."
Teriak mereka memberi usul. Golok Merah hanya menggelengkan kepala sebelum berkata.
"Hah...baiklah kalau begitu. Baiklah langsung keintinya saja, bagaimana rencana kita baiknya?"
Hening, tak ada yang menjawab karena mereka semua juga sama-sama bingung.
Pasalnya, Bukit Pedang itu dipenuhi kabut tebal, ditambah dengan keberadaan "siluman" itu, maka tentu keadaannya akan sangat berbahaya. Sedangkan mereka semua ingin jika penyerbuan ini tidak sampai memakan banyak korban.
"Bagaimana jika kita kirim puluhan orang untuk menyelidik keadaan di sana. Hal itu kelak akan sangat membantu kita." ucap Lin Tian tiba-tiba.
Golok merah mengangguk-angguk, "Ada saran lagi?"
__ADS_1
Namun tidak ada yang menjawab pertanyaan Golok Merah tersebut. Maka dia lalu memutuskan untuk melakukan rencana itu dan segera memerintahkan puluhan orang untuk menyelidik.
"Berhati-hatilah!!" katanya kepada puluhan orang itu yang sudah mulai berjalan mendaki bukit.
...****************...
Sampai senja menjelang malam, puluhan orang itu tidak ada satupun yang kembali. Tentu hal ini membikin cemas semua orang, apalagi si Golok Merah selaku pimpinan.
"Aih...kenapa mereka lama sekali." demikian pria peruh baya itu bergumam entah yang keberapa kali.
"Tuan, apakah tidak lebih baik untuk kita menyusul saja?" tanya Zhi Yang begitu sudah mendekat.
"Hem...agaknya kau benar juga, tapi yang mengherankan, mengapa mereka lama sekali? Bukankah kita sangat membutuhkan informasi dari mereka? Seperti jebakan atau hal lain semacamnya?"
Zhi Yang tak menjawab, diam-diam dia membenarkan ungkapan tersebut.
Hingga beberapa menit berlalu, dan puluhan orang itu sama sekali tak tampak batang hidungnya. Membuat semua orang berpikir yang tidak-tidak akan nenek tua itu.
"Hah...agaknya tak ada pilihan lain. Semuanya, ayo kita naik dan susul mereka! Pasti telah terjadi sesuatu!" Golok Merah sudah bangkit berdiri.
Maka mereka semua segera membuat obor. Satu orang satu obor, membuat kaki bukit itu menjadi demikian terangnya. Setelah itu, dengan satu komando, Golok Merah memimpin penyerbuan ini di barisan paling depan.
Namun mereka semua segera dikejutkan dengan sesuatu begitu sudah melangkah selama beberapa menit ke atas bukit. Membuat hati mereka seperti mencelos saking terkejutnya.
"Apa ini?" gumam Golok Merah yang timbul juga perasaan jerinya.
Di depan mereka, terlihat puluhan benda yang digantung menggunakan tali di dahan-dahan pohon. Benda itu adalah kepala manusia!! Lebih tepatnya kepala manusia dari puluhan orang yang diperintahkan menyelidik tadi.
"Sungguh tempat yang mengerikan. Seperti bukit kematian saja." Lin Tian juga ikut menimpali.
"Kuburkan mereka dengan layak!" Golok Merah berseru memberi perintah.
Kemudian dia melangkah maju memandang sekitar. Pandang matanya tajam, menelisik ke setiap tempat tersembunyi di balik semak belukar dan rumput-rumput tinggi.
Tiba-tiba, dia melihat berkelebatan beberapa bayangan dari balik semak belukar. Dia mengarahkan obornya, namun yang terlihat hanyalah tempat kosong.
"Apa itu?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG