
Lu Jia Li dan Yin Yin mengikuti kemana pun Sie Yan pergi. Ternyata mereka tidak akan bermalam di rumah pelacuran ini, melainkan keluar dari gedung itu dan menaiki kereta kuda.
Kereta itu melaju cepat kearah Utara kota dengan kecepatan sedang. Yin Yin dan Lu Jia Li tanpa kesulitan membayangi mereka dari kejauhan.
Beberapa saat berlalu dan mereka mendapat kenyataan bahwa Yan Cu dan Sie Yan berhenti di rumah mungil yang berwarna serba merah. Tempat itu berada juga sedikit terasing dari wilayah sekitar, membuat suasana di sekitar tempat itu sunyi dan gelap. Namun lampu lilin di dalam rumah nampak menyala terang.
Kuda itu berhenti tepat di depan rumah, sedetik kemudian, nampak Yan Cu yang menuntun Sie Yan untuk masuk ke rumah mungil tersebut.
"Kau bisa pergi." ucap Yan Cu kepada kusir kuda.
Kusir itu hanya mengangguk kecil sebelum pergi dari sana. Sampai di sini, Lu Jia Li dan Yin Yin meningkatkan kewaspadaan mereka.
Semua itu bukan tanpa alasan. Pertama adalah karena tebakan Lu Jia Li tepat sekali, yaitu Yan Cu yang memilih Sie Yan sebagai teman malamnya. Lalu yang kedua, entah kenapa dua orang yang sudah cukup pengalaman ini merasakan aura intimidasi dari sekitar. Namun saat mereka memandang, tak ada siapa pun yang mengawasi Yan Cu selain mereka sendiri.
"Firasatku tidak enak." ucap Yin Yin kepada Lu Jia Li.
"Aku juga." dengan menggerak-gerakkan tangan kanan sebagai isyarat, Lu Jia Li menjawab.
"Mari masuk tuan..." Yan Cu berkata ramah dan menarik tangan Sie Yan untuk diajak masuk ke dalam rumah mungil bercat serba merah itu.
Yin Yin dan Lu Jia Li tidak ingin sembrono, maka mereka memilih untuk menunggu terlebih dahulu sampai dua orang yang ada di dalam sana lengah.
Terdengar suara ketawa dan kekehan merdu dari mulut Yan Cu yang entah membicarakan apa. Tapi yang pasti, dua orang anggota Hantu Merah itu tahu bahwa Yan Cu selaku tuan rumah sedang menjamu Sie Yan.
"Sepertinya sudah saatnya, mari kita mulai tuan."
"Marilah, aku sudah tak sabar." jawab Yan Cu sambil menjilat bibir.
Dua orang ini berjalan beriringan menuju ke dalam kamar yang juga mungil. Di sana terdapat banyak tumpukan bunga mawar di atas kasur serta permadani merah yang harumnya sampai tercium ke hidung dua orang pengintai itu. Hal ini wajar karena keduanya sudah datang mendekat ke sisi rumah.
Saat Yan Cu dan Sie Yan naik ke atas kasur, Yin Yin mencibir perlahan, "Menjijikkan!"
Lu Jia Li memandang waspada, saat posisi Yan Cu membelakangi mereka dan Sie Yan terlentang di bawah, Lu Jia Li memberi tanda dan...
"Syut–Syut–Syut!"
Beberapa jarum tipis menyambar cepat mengarah Sie Yan yang berbaring di bawah Yan Cu. Karena Sie Yan tertutup tubuh Yan Cu, sehingga jarum-jarum tipis yang melesat secepat kilat dari balik punggung Yan Cu itu tak mampu ia sadari.
Akan tetapi memang patut dipuji kelihaian anggota Iblis Tiada Banding ini. Walaupun di depan matanya persis terdapat pemandangan indah, namun kewaspadaan dan kepekaannya terhadap sekitar sama sekali tidak mengendur. Maka saat tujuh batang jarum itu melesat cepat, dengan cekatan dia menendang Yan Cu sedangkan tubuhnya sendiri berguling untuk turun dari kasur.
"Bruk! Aduh!"
__ADS_1
Suara keras terdengar saat kepala Yan Cu menghantam langit-langit kamar. Dia meluncur ke bawah dan untungnya tubuhnya menghantam kasur, sehingga membuatnya tak terluka.
"Sret!"
"Diam atau kau mati sekalian!" bisik Yin Yin yang mengarahkan jari telunjuknya ke leher Yan Cu. Namun jangan meremehkan jari itu karena jika Yin Yin menghendaki, tentu saja tak sulit untuk menembus tulang dan urat nadi di leher Yan Cu.
Sedangkan Lu Jia Li sudah melesat cepat hendak mengirim serangan kilat kearah Sie Yan yang sudah bertelanjang dada.
"Hayaa!!" lelaki itu memekik dan melompat ke belakang. Lu Jia Li terus mengejar dan ketika Sie Yan terpojok, pria itu berteriak lantang.
"Sekaraaaang!!"
"Jleb!"
"Aaakkhh!!"
Tiba-tiba, tangan Yan Cu meraih sebatang pisau kecil dari belahan dadanya. Sedikit tidak senonoh memang, namun pada jaman itu, banyak gadis-gadis muda yang menggunakan cara ini untuk melindungi diri dari pria bejat.
Akan tetapi agaknya sikap Yan Cu ini bukanlah untuk melindungi diri, melainkan memang sudah terencana sejak awal. Ditambah melihat gerakan Yan Cu yang amat gesit dan tepat, sepertinya wanita itu bukanlah pelacur biasa.
Yin Yin terhuyung ke belakang saat pisau itu berhasil menusuk perut kirinya dengan sempurna. Bilah pisau itu melesak dalam sampai ke gagang pisau.
"Mati kau!" seru Yan Cu dingin dan mengirim hawa pukulan tenaga dalam.
"Bugh!–Uagh!!"
Karena darah yang keluar cukup banyak, membuat Yin Yin sedikit lemas dan serangannya lemah. Sehingga Yan Cu dapat dengan mudah merobohkannya.
Di saat Yan Cu kembali menerjang, terlihat puluhan batang jarum tipis menyambar tepat mengarahnya.
"Aaihh!" Yan Cu berseru dan melompat ke atas kasur. Ternyata serangan itu berasal dari Lu Jia Li yang sudah berdiri tegak di depan Yin Yin.
"Hahaha....tak kusangka ternyata yang datang adalah Hantu Merah dari keluarga Zhang. Kukira siapa tadi." tawa Sie Yan.
"Hihi...kalian pikir mampu merobohkanku dengan mudah?" Yan Cu terkekeh pelan dan menjentikkan jarinya.
Saat itu juga, rumah mungil tersebut sudah terkepung dengan puluhan orang anak buah Yan Cu. Semuanya laki-laki. Mudah saja ditebak mengapa para lelaki itu mau menuruti perintah Yan Cu.
Sesaat kemudian, Sie Yan bersiul dua kali dengan keras sekali. Saat itu juga, berkumpul tujuh orang wanita cantik yang entah bagaimana sudah berada di dalam rumah.
Agaknya dua orang wanita dan pria ini sama-sama mata keranjang dan menjadi hamba nafsunya sendiri.
__ADS_1
"Kami Iblis Tiada Banding tidak akan kalah dengan penyergapan kuno seperti ini!" bentak Yan Cu yang berhasil mengejutkan Yin Yin serta Lu Jia Li.
"Ternyata...mereka sekongkol...kita terjebak..." ucap Yin Yin dengan lemas. Dia sudah kesulitan berdiri dan matanya mulai berkunang karena darah yang terus mengucur.
Sedangkan Lu Jia Li hanya diam sambil menatap sekitar dengan tajam.
"Sial, kalau begini tak ada jalan untuk lolos!" batinnya mulai panik.
"Serang!"
"Serbu!"
Dua komando dari Sie Yan dan Yan Cu ini membuat seluruh anak buah mereka serentak menyerbu ke dalam rumah dan mengeroyok dua orang Hantu Merah itu.
Lu Jia Li dan Yin Yin menahan hujan serangan sekuat tenaga, saat ada celah, mereka lekas keluar rumah melalui jendela. Namun betapa putus asa rasa hati mereka saat menyadari bahwa pengepung di luar rumah juga tak sedikit.
"Kita mati bersama demi keluarga Zhang!!" bentak Yin Yin dan keduanya mulai mengamuk hebat.
Beberapa menit berlalu dan gerakan dua orang Hantu Merah itu makin terbatas. Sedangkan untuk Sie Yan dan Yan Cu hanya diam menonton di atas genteng sambil sibuk bermesraan sekaligus bercumbu rayu.
Lima belas menit berlalu dan terbukti akan ketangguhan Hantu Merah. Dari lima puluhan orang pengeroyok, Yin Yin dan Lu Jia Li sudah berhasil merobohkan tiga puluh orang. Baik itu terluka atau tewas.
Namun hal ini membuat mereka berdua jengkel, karena maklum bahwa dua puluh orang yang masih tersisa ini adalah yang terkuat dan paling merepotkan.
Agaknya memang benar bahwa pendekar Utara sedikit lebih kuat dari Selatan. Jika seandainya para pengeroyok ini adalah pendekar-pendeka Selatan, tak perlu dua orang, satu orang Hantu Merah saja kiranya sudah cukup untuk meratakan mereka semua.
Namun lima puluh orang ini adalah anggota Iblis Tiada Banding yang bukan hanya sekedar kroco. Mereka cukup kuat bahkan sebagai pendekar Utara sekali pun. Hal ini tentu saja membuat Lu Jia Li dan Yin Yin merepotan.
Di tengah ketegangan yang terus bertambah seiring berjalannya waktu, dan nyawa dua wanita itu yang makin lama kian membahayakan. Terdengar suara tawa menggema yang berhasil membikin gentar mereka semua.
Entah berasal darimana suara ini namun begitu terdengar, jantung mereka serasa diremas sampai-sampai membuat semuanya jatuh berlutut tanpa kecuali.
"A-apa ini....?" Yin Yin merintih kesakitan.
Detik berikutnya, suara tawa itu terdengar menjadi sebuah kalimat yang berhasil mengejutkan Yin Yin juga Lu Jia Li.
"Mati bersama demi keluarga Zhang? Bagus sekali! Memang begitulah yang diharapkan! Kalau begitu, akan kubantu kalian. Lagipula orang-orang ini hanya pengganggu saja!"
Sedetik kemudian, tampak bayangan berkelebat dan begitu bayangan ini menjejak tanah, bumi berguncang dan tanah hancur seketika. Namun anehnya, Yin Yin dan Lu Jia Li terlontar ke atas sehingga berhasil selamat.
"Hehe...halo Hantu Merah, kalian hebat juga..." ucap orang tersebut yang ternyata adalah kakek-kakek yang terlihat tua sekali.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG