
Empat hari telah berlalu dan kini Zhang Hongli bersama keempat orang lainnya, telah sampai di ibukota Kekaisaran Chu.
"Ohh....jadi ini yang namanya ibukota?" gumam Lin Tian dengan kagum.
Pemandangan ini sungguh hebat sekali, sangat jauh berbeda dengan Kota Batu maupun Kota Sungai Putih. Bangunan di sini terlihat amat megah dengan tembok-tembok dan pilar-pilar setiap bangunan terukir sebuah gambar indah.
Ramai sekali orang berlalu lalang, keluar masuk kota silih berganti seakan tiada habisnya. Di pinggiran jalan, banyak terdapat orang-orang yang berjualan beraneka macam barang. Ada yang jual lukisan, alat musik, gegabah rumahan atau bahkan beberapa ada yang menjual senjata.
Pemandangan ini terlihat sangat baru dan asing di mata Lin Tian. Sungguh pun pemuda ini sudah pernah pergi ke ibukota kekaisaran Song yang berada di Utara sana, namun kota ini terlihat lebih indah dan menawan dibanding ibukota penguasa Utara itu.
Sambil berjalan, pemuda bertopeng ini selalu memutar-mutar kepalanya untuk melihat sekitar, sambil sesekali terdengar decak kagum dari mulutnya.
Tindakannya ini tak luput dari pengamatan Chu Wei dan Chu Rou. Kedua kakak beradik ini hanya mampu terkekeh geli menyaksikan tingkah seorang pendekar sakti berjuluk Pendekar Hantu Kabut itu.
Tapi dalam hati, mereka juga merasa senang karena melihat betapa Lin Tian merasa terkagum-kagum akan kota tempat tinggalnya ini.
"Bagaimana pendapatmu akan Kota Emas ini Tuan?" tiba-tiba Chu Rou bertanya sambil memasang senyum manis untuk menyembunyikan kegelian hatinya.
"Ini sangat indah..." jawab Lin Tian tanpa menengok kearah lawan bicara.
Mendengar ini, makin manis senyum gadis itu. Dia hendak menjawab lagi akan tetapi belum sempat mulut itu terbuka, Zhang Hongli sudah berkata lebih dulu.
"Tuan, Nona, sepertinya kita harus berpisah disini..." ucap singkat kakek itu.
Seketika berubahlah raut wajah kedua orang kakak adik ini, dari yang sebelumnya terkekeh-kekeh geli, berubah menjadi sedikit masam. Kemudian Chu Wei menjawab, "Tuan penolong, tolong mampirlah sejenak ke istana. Saya yakin ayah akan menerima dengan senang hati."
"Maaf sekali Tuan Muda, tapi saya harus menolak sungguh pun saya ingin menyanggupi ajakan anda. Karena sejatinya saya dan murid saya ini sedang dalam keadaan buru-buru untuk sebuah urusan." jawab Zhang Hongli sambil menundukkan badan memberi hormat.
"Ah...urusan apakah itu Tuan? Tolong ijinkan kami membantu!" sahut Chu Rou yang mendapat anggukan kepala kakaknya.
"Maaf yang sebesar-besarnya untuk Tuan dan Nona. Akan tetapi saya tidak bisa memberitahu soal masalah ini. Ini adalah masalah keluarga kami pribadi, dan kami berniat untuk tidak merepotkan keluarga lain."
Mendengar ini, raut wajah Chu Wei dan Chu Rou nampak kecewa. Walaupun Zhang Hongli berkata tidak ingin merepotkan keluarga lain, akan tetapi mereka yakin betul bahwa arti dari ucapan kakek ini sama sekali tidak ingin ada orang luar yang ikut campur.
"Kalau begitu, saya mohon pamit." ucap Zhang Hongli seraya menjura, kemudian diikuti oleh Lin Tian.
Setelah itu, mereka berdua membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
"Sayang sekali ya..." kata Chu Rou.
"Ya...aku merasa seperti menjadi seorang yang tak kenal budi. Hah...." jawab Chu Wei diakhiri dengan helaan nafas panjang.
"Lebih baik kita lekas pulang dan laporkan semuanya pada ayah." lanjutnya.
Chu Rou hanya mengangguk kemudian pergi dari sana mengikuti kakaknya.
...****************...
"Kita akan pergi kemana guru?" tanya Lin Tian begitu mereka sudah berjalan jauh dari tempat sebelumnya.
"Tentu saja, pergi ke Asosiasi Gagak Surgawi untuk menanyakan kabar terbaru tentang cucuku." balas kakek itu tanpa menghentikan langkah.
__ADS_1
Lin Tian tiba-tiba berhenti dan mengerutkan kening. "Asosiasi Gagak Surgawi? Bukankah waktu itu Nona Yin Yin bilang jika Asosiasi ini tidak berada di kota-kota besar?" tanya Lin Tian dalam hati dengan heran.
Zhang Hongli yang melihat muridnya tiba-tiba berhenti menjadi bingung dan berkata, "Ada apa Lin Tian?"
"Maaf guru, tapi...menurut informasi yang kudapat, markas Asosiasi Gagak Surgawi sama sekali tidak ada yang berdiri di kota-kota besar. Bukankah di kota ini juga sama?"
Zhang Hongli tak langsung menjawab, hanya memandang muridnya itu lekat-lekat. Setelah beberapa detik, terdengar dia berkata singkat, "Memang benar."
"Hah...!??" Lin Tian melongo di balik topeng pucatnya.
"Lalu, untuk apa kita pergi mencari Asosiasi jika mereka tidak berada di sini??" tanya Lin Tian yang masih bisa sabar menghadapi keanehan gurunya.
"Memang benar markasnya tak ada di sini, akan tetapi bukan berarti sama sekali tidak ada anggota Asosiasi yang berkeliaran. Justru malah di kota-kota besar inilah mereka sering kali muncul untuk mencari informasi." jawab kakek itu menjawab keheranan Lin Tian.
"Oh..." hanya kata itulah yang mampu dikeluarkan oleh Lin Tian.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke kedai makan. Selain untuk mengisi perut, mungkin kita juga bisa bertemu mereka."
"Baik guru!!"
Selang beberapa menit, mereka telah tiba di rumah makan yang bangunannya terlihat cukup besar dan megah. Di atas pintu masuk itu, tertulis sebuah tulisan yang dibaca "Kedai Makan Pelancong", sebuah kedai makan yang cukup terkenal di kota raja ini.
Tanpa menunggu lagi, kedua orang tua muda ini memasuki bangunan tersebut dan langsung disambut dengan ramah oleh para pelayan begitu tiba di dalam. Mereka lalu berjalan ke pojok ruangan untuk kemudian duduk di sana.
"Tuan-tuan ingin pesan apa?" tanya seorang pelayan pria paruh baya dengan ramah sekali.
Mendengar ini, sifat asli Zhang Hongli langsung kumat. Dengan cepat sekali dia menyambar buku menu yang ada di meja lalu membacakan ini itu dengan penuh semangat dan air liur menetes.
Maka, dengan gerakan yang tak kalah cepatnya, dia sudah merebut buku itu dan menutupnya. Lalu berkata singkat, "Berikan saja makanan sekaligus minuman yang paling murah."
"Eh...lalu pesanan Tuan ini?" tanya pria itu sambil melirik kearah Zhang Hongli yang cemberut.
"Samakan saja!" kembali Lin Tian menjawab.
"Heh...apa-apaan itu? Aku sudah lapar sekali dan ingin makan banyak. Juga, kita sedang berada di kota raja yang pasti akan banyak makanan enak! Mengapa kau bisa begini kejam pada gurumu hah!?" tanya Zhang Hongli yang membentak.
"Kalau begitu, mengapa anda bisa begini kejam pada muridmu hah!?? Baiklah kalau begitu kita buat kesepakatan!!" jawab Lin Tian yang juga membentak.
"Katakan bocah!!"
"Semua makanan dan minuman, bayar sendiri-sendiri!!" jawab pemuda itu.
Seketika, langsung ciutlah nyali Zhang Hongli. Lalu dia menoleh kepada sang pelayan dan berkata, "Tunggu apa lagi, cepat buatkan pesanan muridku!! Apa kau tidak tahu bahwa kami ini sedang kelaparan!?"
"B-baik Tuan!" kemudian langsung berlari menuju dapur.
...****************...
Beberapa menit berlalu, piring dan gelas mereka berdua sudah bersih tanpa tersisa sedikitpun. Mereka kini sedang bercakap-cakap untuk memikirkan rencana kedepan.
"Bagaimana ini guru?" tanya Lin Tian.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi Lin Tian. Aku ini sedikit-sedikit sudah hafal akan pakaian dan gelagat mereka." jawab Zhang Hongli sambil melirik kesana-sini.
Beberapa menit kemudian, masuklah tiga orang pria yang kesemuanya memakai caping hitam, jubah mereka pun juga berwarna hitam. Di punggung masing-masing orang, terdapat sebuah pedang yang tergantung rapih.
"Itu mereka." ucap Zhang Hongli yang mengejutkan Lin Tian.
Begitu Lin Tian menengok dan memandang, ketiga orang itu sudah berjalan menuju pojok ruangan di sisi yang berlawanan dengan tempatnya duduk.
"Setelah itu bagaimana guru?"
"tunggu sebentar lagi. Lihat, mereka hendak memesan makanan. Biarkan mereka habiskan makanannya lebih dulu." jawab Zhang Hongli.
Waktu kembali berjalan, dan ketiga orang itu sudah menghabiskan makanannya. Setelah itu, Zhang Hongli mengajak Lin Tian untuk menghampiri mereka. Begitu sampai di dekat meja tiga orang tersebut, mereka nampak bingung melihat kedatangan dirinya dan Zhang Hongli.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya salah seorang dari mereka dengan suara halus dan ramah.
Zhang Hongli tidak menjawab, hanya tersenyum-senyum saja. Hal ini tentu membuat ketiga orang itu makin heran.
Setelah itu, kakek ini mengulurkan tangan dan mengetuk meja bundar di depannya.
"Tuk...tuk-tuk."
Seketika, ketiga orang itu langsung terkejut sampai bangkit berdiri. Lalu seorang yang menyapa Zhang Hongli tadi cepat berkata, "Tunggu kami di luar, aku akan bayar dulu."
"Baiklah" jawab Zhang Hongli yang langsung berjalan keluar meninggalkan rumah makan.
Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu keluar dari kedai dan menghampiri mereka. Begitu sampai, orang tadi langsung berkata, "Ikut kami!" ucapnya diikuti tubuhnya yang sudah berkelebat lenyap dari sana.
Zhang Hongli dan Lin Tian hanya bisa mengikut saja dari belakang.
Ternyata, mereka dibawa kesebuah hutan lebat yang letaknya berada di sebelah timur kota. Mereka berhenti di bawah pohon rindang yang naungannya mampu untuk melindungi mereka dari teriknya sinar matahari.
"Langsung saja Tuan, apa yang ingin anda tanyakan pada kami?" kata salah seorang dari mereka.
"Aku ingin menanyakan soal keberadaan seorang Nona muda keluarga Zhang. sebulan yang lalu, aku mendapat informasi dari kalian yang berada di desa Tanah Hujan bahwasannya Nona muda itu baru saja tinggal di sini selama tiga hari. Apakah kalian tahu sesuatu?"
Mereka bertiga nampak berpikir sejenak, lalu kemudian salah satu dari mereka menjawab, "Nona muda keluarga Zhang ya...hm berikan kami waktu. Tiga hari lagi, datang lah kemari pada jam yang sama. Jika sampai sore hari kami tidak datang, kembalilah seminggu lagi untuk menemui kami di tempat ini."
"Biayanya?" tanya Lin Tian yang sudah berinisiatif lebih dahulu.
"Satu koin emas sudah cukup Tuan."
"ini...ambilah" jawab Lin Tian seraya menyodorkan sekeping koin emas.
"Terima kasih, kalau begitu kami ijin pamit untuk melaksanakan permintaan Tuan. Permisi." tanpa menunggu jawaban lagi, ketiga orang itu sudah berkelebat lenyap dari sana.
"Baiklah, sekarang kita hanya bisa menunggu..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1