Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 78. Kunjungan Kaisar


__ADS_3

"Baiklah, siapa yang hendak pergi?" tanya Zhang Qiaofeng dengan raut muka serius kepada seluruh pembantunya.


Saat ini, keluarga Zhang sedang melakukan perundingan untuk memilih utusan yang akan mewakilinya pergi ke dua kota besar, yaitu Kota Batu dan Kota Sungai Putih.


"Aku saja!" seru Lin Tian cepat.


Entah kenapa, seketika wajah gadis itu menjadi berseri dan sedetik kemudian dia segera menjawab, "Bagus, aku juga ikut!!"


"Hah?? Mana bisa begitu??" sahut Zhang Hongli menimpali, tampak tak terima.


"Memangnya kenapa?" Zhang Qiaofeng bertanya, wajahnya datar.


"Ekhm...begini, Feng'er kau sekarang sudah menjadi pemimpin keluarga Zhang ini. Dan sebagai pemimpin, kau tidak boleh asal berkeliaran saja, di luar sana penuh bahaya. Lebih baik, Lin Tian pergi bersama Minghao atau Lu Jia Li saja." jelas Zhang Hongli.


Mendadak saja, wajah yang sebelumnya berseri itu menjadi kusut dan muram. Zhang Qiaofeng sungguhpun seorang gadis yang keras kepala, namun dia bukanlah bodoh. Gadis ini maklum bahwa ucapan kakeknya sedikit banyak juga ada benarnya.


"Baiklah..." akhirnya dia menjawab.


"Kalau begitu, aku tak keberatan untuk pergi bersama Lin Tian." tukas Lu Jia Li.


Mendengar ini, pandang mata Zhang Qiaofeng menjadi tajam. Setelah itu, cepat-cepat dia berkata, "Paman Minghao!! Lin Tian akan pergi dengan paman Minghao!!"


Berhasil!! Pikir Lu Jia Li. Dia memang sengaja ingin melihat reaksi adiknya itu begitu dia menerima tawaran untuk menemani Lin Tian. Diam-diam dia merasa geli sendiri melihat betapa Zhang Qiaofeng sangat mudah tersinggung apabila pengawal pribadinya itu dekat-dekat dengan perempuan lain.


"Baiklah Nona, kapan kami akan berangkat?" akhirnya Lin Tian bertanya.


"Siang nanti, apa kau bisa?"


"Tentu saja Nona!"


...****************...


Tepat pada siang hari, seperti yang sudah disampaikan pada pertemuan tadi pagi, Lin Tian dan Minghao sudah bersiap-siap hendak pergi menuju Kota Batu dan Kota Sungai Putih.


"Hati-hatilah Lin Tian, paman." Zhang Qiaofeng berkata begitu dirinya dan dua utusan itu sampai di depan gerbang kediaman.


"Baik Nona!" jawab Lin Tian dan Minghao serempak sebelum dua orang ini berkelebat lenyap dari sana.


Kota yang pertama kali akan mereka tuju adalah Kota Batu. Yang dimana dari Kota Emas ini, harus membutuhkan waktu sekitar satu bulanan. Hal ini wajar karena letak Kota Emas berada paling jauh dari Pegunungan Tembok Surga, sedangkan kota wilayah enam Keluarga Penguasa lain berada dekat dengan pegunungan tersebut.


Satu bulan terlewat dan mereka sudah tiba di sebuah puncak bukit. Dari puncak sini, mereka sudah bisa melihat betapa di bawah sana berdiri sebuah kota megah yang dibagian ujung Timur kota, terdapat tambang batu yang sangat besar.


"Hah...sungguh perjalanan yang melelahkan..." gumam Minghao seraya menghela nafas.


"Aku tak menyangka, padahal baru satu hari namun mereka sudah mengetahuinya. Hm...agaknya mereka memiliki seorang informan yang kemampuan melacaknya sama hebat dengan Asosiasi Gagak Surgawi."


"Jika memang benar, itu sangat mengerikan. Kita harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini dan segera pulang."


"Kau benar, kalau begitu ayo kita turun!!" jawab Lin Tian yang langsung berlari cepat menuruni bukit tersebut.

__ADS_1


Dalam satu bulan perjalanan ini, ada satu masalah yang menjadi "pengganjal" bagi dua orang utusan ini. Itu adalah kenyataan bahwa Aliansi Golongan Hitam sudah tahu akan berdirinya keluarga Zhang yang baru!!


Karena itulah Minghao sampai mengeluh seperti itu. Hal ini tak mengherankan karena selama perjalanan menuju Kota Batu ini, mereka berdua selalu dihadang oleh orang-orang Aliansi Golongan Hitam. Tentu saja hal ini sedikit banyak menjengkelkan hati mereka.


Sementara itu di kediaman Keluarga Zhang, tepat pada satu hari setelah kepergian Lin Tian dan Minghao, kediaman Zhang didatangi oleh lima puluhan prajurit elit berkuda.


"Hm? Ada apa ini?" gumam Zhang Hongli bingung begitu dia dan Lu Tuoli membuka gerbang.


Di tengah rombongan lima puluh pasukan berkuda itu, terdapat sebuah kereta kuda yang mewah sekali. Terbuat daripada kayu pilihan dan diukir indah, di beberapa sisi juga terdapat ukiran yang terbuat dari emas murni.


Begitu melihat munculnya Zhang Hongli, seorang prajurit paling depan yang agaknya menjadi pimpinan melompat turun dari atas kuda lalu menjura hormat.


"Benarkah Tuan berdua ini adalah anggota dari keluarga Zhang?" tanyanya sopan dan halus.


Melihat sikap ini, tak enak rasanya jika dua orang tua itu tidak membalas hormat orang tersebut. Maka mereka segera menjura dalam dan menjawab.


"Benar, kamilah keluarga Zhang." ucap Zhang Hongli.


Seketika wajah orang itu berseri gembira, lalu dia memanggil salah seorang rekannya dan berbisik-bisik, kemudian rekannya itu bergegas pergi menghampiri kereta kuda dan berkata hormat.


Zhang Hongli dan Lu Tuoli memandang heran akan semua itu, namun mereka diam saja. Tak berselang lama, keluarlah orang yang tadinya duduk di dalam kereta, seseorang yang membuat kedua orang itu terkejut bukan main.


"Kaisar!?" terdengar seruan tertahan dari mulut Lu Tuoli.


Begitu kaisar ini keluar, dari belakangnya muncul seorang wanita yang sangat cantik dan anggun, disusul dua orang pemuda pemudi yang tampan dan cantik seperti kedua orang tuanya.


"Oh...ada apakah ini sampai Kaisar yang mulia datang menghampiri tempat kecil ini?" tanya Lu Tuoli hormat.


"Aku ingin bertemu seseorang disini." lanjut sang kaisar.


"Maaf Yang Mulia, siapakah yang ingin anda temui di keluarga kami?" kali ini Zhang Hongli bertanya.


"Apa benar jika Pendekar Hantu Kabut Lin Tian berada di rumah ini? Menurut orangku yang kemarin berkeliling kota, dia tak sengaja melihatnya diantara rombongan kalian."


Lu Tuoli terkejut mendengar ini, dia tak menyangka bahwa seorang pengawal seperti Lin Tian sampai dicari-cari oleh kaisar. Berbeda dengan Zhang Hongli yang sedikit banyak sudah dapat membaca situasi.


"Ah...maaf beribu maaf Yang Mulia, akan tetapi Lin Tian baru saja pergi satu hari yang lalu untuk menjalankan tugas. Dan dia akan pulang mungkin sekitar satu bulan lagi atau bahkan lebih." jawab Zhang Hongli.


Mendengar penuturan ini, Chu Rou dan Chu Wei nampak sedikit kecewa. Maka Zhang Hongli kembali berkata.


"Akan tetapi, kami bisa menjamu kalian di sini sampai kepulangan Lin Tian. Jika Yang Mulia tak keberatan, marilah masuk dan nikmati jamuan kami."


"Wah...terima kasih sekali, aku terima jamuan kalian. Akan tetapi aku tak akan menunggu di sini sampai kepulangannya, cukup hari ini saja." jawab kaisar itu sambil tersenyum.


"Sungguh kehormatan besar bagi kami, mari masuk Yang Mulia."


Sambil berkata, Zhang Hongli memberi tanda kepada Lu Tuoli dengan pandang mata. Kemudian dia pergi ke kamar cucunya dan Lu Tuoli mengantar rombongan itu ke ruang aula yang luas.


"Feng'er...Feng'er!!" seru Zhang Hongli sambil menggoyang-goyangkan tubuh cucunya.

__ADS_1


Begitu dia tiba di kamar cucunya itu, betapa terkejut hati kakek ini begitu melihat orang yang dicarinya masih tidur nynyak di balik selimut tebal. Bahkan mulutnya masih mengalirkan air liur.


"Emh...." Zhang Qiaofeng mengeluh perlahan dan membalikkan tubuh membelakangi kakeknya.


Zhang Hongli yang merasa gemas, mengepalkan tangan dan segera membentak, "Bangun bocah malas!! Kaisar datang kemari untuk mencari pengawalmu!! Cepat bangun dan sambut dia!!"


Seketika gadis ini langsung meloncat bangun di atas ranjangnya dengan mata terbelalak.


"Benarkah kakek!?"


"Untuk apa aku membohong? Cepat mandi dan datang ke aula!" jawab Zhang Hongli ketus.


Bagaikan burung walet terbang, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, gadis ini cepat meloncat ke kamar mandai dan menjalankan perintah kakeknya.


Zhang Hongli menghela nafas dan pergi meninggalkan kamar untuk menjamu kaisar.


...****************...


Di ruang aula, keluarga kaisar itu dijamu dengan makanan yang dimasak oleh adik-adik Lu Tuoli dan dibantu Lu Jia Li. Karena belum punya seorang pelayan, apa boleh buat?


Tak berselang lama, datang seorang gadis jelita dari ruang dalam, berpakaian biru langit. Langkahnya tenang dan halus sampai hampir tak terdengar suara langkahnya.


Keluarga kaisar itu seperti terhipnotis, memandang gadis yang baru datang ini dengan pandangan tak berkedip. Tak terasa, pipi kaisar dan Chu Wei menjadi sedikit memerah.


Istri kaisar yang sadar lebih dulu, melihat betapa suaminya memandang gadis itu dengan tatapan terpesona, dia menggembungkan pipi dan mencubit perut suaminya dengan keras.


"Hehe maaf...maaf..." hanya itulah yang dapat dikatan kaisar sambil tersenyum pahit.


Karena baru bangun tidur dan terburu-buru, Zhang Qiaofeng hanya memakai rias seadanya, akan tetapi harus diakui bahwa paras itu sudah kelewat cantiknya.


"Maaf atas keterlambatan saya untuk datang menyambut Yang Mulia." ucap gadis ini seraya menjura.


"Tak masalah, akulah yang salah karena datang dengan mendadak." balas kaisar bangkit berdiri dan balas menjura.


Sontak hal ini membuat pihak keluarga Zhang kagum bukan main. Tak pernah disangkanya bahwa orang pertama di wilayah Selatan sudi membalas penghormatan orang dengan begitu hormat.


Setelah kedua orang ini duduk di tempat masing-masing, mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk makan minum hidangan sederhana itu.


...****************...


"Ada apa ini? Kenapa kalian mengusir kami dengan kasar!?" bentak Minghao tak terima atas perlakuan penjaga gerbang itu.


"Sudah kubilang, ini adalah perintah Tuan besar!! Mana bisa seorang penjaga rendahan sepertiku berani membantah!!" jawab sang penjaga yang tak kalah garangnya.


"Paman...tolong jelaskan apa yang terjadi agar kami tidak pergi dengan penasaran." kali ini Lin Tian bertanya. Suaranya lebih lembut dan sabar.


"Tidak bisa!! Itu adalah rahasia yang tak boleh dibocorkan kepada orang luar! Sudah sekarang pergilah kalian!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2