Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 123. Akhir Yang Tak Begitu Buruk


__ADS_3

Saat ini, kesembilan orang itu sudah berpisah ke tujuan masing-masing. Begitu pula dengan Zhi Yang yang juga pergi entah kemana.


Pagi ini, Lin Tian sedang sarapan di tengah hutan bersama satu-satunya orang pengawal Zhang yg berhasil selamat. Sekaligus mengistirahatkan badan yang pegal-pegal.


"Tuan Lin Tian, bagaimana keadaan nenek itu?"


"Tenang saja, dia sudah mati dan jasadnya kubuang ke jurang. Jika memang dia masih manusia, seharusnya sudah tewas." balas Lin Tian.


"Tuan, apakah akan baik-baik saja begitu Nona tahu soal masalah ini? Lima puluhan orang pengawal Zhang yang dikirim kemari mati semua, dan hanya menyisakan saya dan anda." pengawal itu berkata cemas.


"Kau tenang saja, walaupun Nona kita pemarah seperti itu, namun sebenarnya dia amat penyanyang dan pengertian. Dia pasti paham akan kondisi kita, biar aku saja nanti yang memberi laporan."


"Terima kasih Tuan."


Mereka kembali melanjutkan sarapan sesaat sebelum bangkit berdiri dan mencabut pedang masing-masing.


"Keluar kau sialan!!" bentak Lin Tian. Matanya yang awas melirik ke kanan dan kiri, menelisik setiap semak di balik bayangan pohon tinggi.


Begitu pula dengan orang disebelahnya, walaupun tubuhnya sudah penuh luka, akan tetapi kepekaannya akan keadaan sekitar tidak luntur.


Tiba-tiba dari arah dalam hutan, menyambar angin pukulan dahsyat sekali. Lin Tian yang tahu akan bahaya segera memutar pedang untuk menolak sambaran tersebut.


"Deesss!!"


Hawa pukulan kuat itu mampu dinetralkan oleh Lin Tian, namun diam-diam pemuda ini terkejut karena seperti merasa kenal dengan serangan barusan.


Sedetik kemudian, berkelebat bayangan merah yang langsung menyerang mereka berdua. Menggunakan kedua tangan yang diselonjorkan ke depan.


"Aiihh!!" seru pengawal Zhang itu seraya menangkis.


"Trang-Trang"


Lin Tian dan rekannya berhasil menangkis penyerangan gelap barusan, akan tetapi jika Lin Tian hanya sedikit mundur selangkah, temannya itu sudah terpental jauh.


"Ibliss!! Berani juga kau ya!?" bentak Lin Tian begitu tahu siapa sang penyerang.


"Matilah untuk menemani adikku di neraka!! Bentak orang tersebut dengan kembali mengirimkan serangan.


Tak dapat dihindari, bentrokan pun terjadi. Dua orang pendekar berilmu tinggi itu saling tekan satu sama lain, berusaha untuk mengalahkan lawan secepat mungkin.


Siapakah penyerang tersebut? Dia bukan lain adalah Sin Nia, kakak dari Sin Cia yang sudah mati. Kebetulan pagi ini dia sedang dalam perjalanan kembali menuju markas Aliansi dan secara tidak sengaja, dia bertemu Lin Tian, seseorang yang paling dibencinya.


Maka melihat musuh besarnya itu, tanpa berpikir dua kali lagi, Sin Nia langsung menyerangnya tanpa ampun. Memang sifat wanita ini jauh lebih kejam dibanding dahulu ketika Sin Cia masih hidup. Mungkin jika adiknya itu masih hidup, dia akan menggoda dua orang lelaki itu dulu sebelum menyerang.


Pertarungan terus berlanjut. Saking dahsyatnya, mereka berdua hanya nampak sebagai bayangan putih dan merah yang saling gulung. Senjata Lin Tian berkederapan begitu terpapar sinar matahari pagi, membuat pening kepala jika yang memandang bukanlah seorang ahli silat tinggi.


Seperti halnya yang dialami oleh rekan Lin Tian tersebut. Walaupun ilmu silatnya sudah lumayan, namun pertandingan itu terlampau dahsyat untuk orang seukuran dirinya. Maka tanpa dapat dicegah lagi, matanya berkunang dan kepalanya pusing begitu memandang cahaya sambaran pedang Lin Tian yang menghasilkan kilatan-kilatan menyilaukan.

__ADS_1


"Hebat sekali...patut jika Nona sangat menyanyangi Tuan Lin Tian" batin pengawal itu sambil memegangi kepalanya.


"Deeesss!!!"


Tiba-tiba, pengawal itu merasa betapa ada ledakan kuat yang menimbulkan udara dingin dan panas. Kedua udara yang saling berlawanan itu terus berputar di sekeliling dua orang yang sedang beradu itu. Membuat ia semakin merasa kagum akan kesaktian Lin Tian.


"Luar biasa!! Inikah kekuatan dari Pendekar Hantu Kabut itu?" kembali dia merasa kagum.


Sedangkan Lin Tian sendiri, sebenarnya dia juga merasa terkejut akan kekuatannya sendiri. Memang sebelumnya dia mampu mengeluarkan hawa dingin sekali, akan tetapi menurut perkiraannya, dia belum mampu untuk mendesak hawa panas milik Sin Nia.


Berpikir sampai di sini, teringatlah ia akan ilmu silat baru yang baru ia pelajari beberapa waktu ini. Pukulan Tapak Beku, memang jurus yang luar biasa.


"Tak kusangka efek dari ilmu itu akan sedemikian hebat! Benar-benar jurus yang berbahaya!"


Mencapai jurus ke seratus, mereka berdua beradu jurus pamungkas. Lin Tian menggunakan perpaduan dari Ilmu Pedang Pelukis Langit dan Pukulan Tapak Beku. Sedangkan musuhnya menggunakan jurus andalannya yaitu Darah Pengikis Tulang yang sangat ampuh.


"Matilaaaahh!!" teriak Sin Nia dengan suara mengerikan seraya melompat mengirim pukulan telapak tangan.


"Breeessshh!!"


Pedang dan tangan beradu, namun tangan itu seolah menjadi kapas halus yang mampu memapaki tepasan Lin Tian dengan sempurna.


Akan tetapi jika Sin Nia beranggapan dia sudah menang, maka dia harus merasakan kekecewaan karena jurus Lin Tian tidak berhenti sampai di sini.


Sebenarnya, Lin Tian menggunakan jurus Bilah Pedang Bulan dengan pengerahan tenaga dalam Pukulan Tapak Beku. Sehingga menambah keampuhan dan hawa dingin dari tebasan tersebut.


Maka begitu pedang dan telapak tangan bertemu, sambaran angin tajam yang berhawa dingin sekali itu belum juga berhenti dan masih terus membabat maju menembus lengan Sin Nia.


"Aaaakhhh!!" teriak wanita itu kesakitan begitu tangan kirinya terbelah.


Lin Tian melanjutkan serangan, menusukkan pedangnya mengarah ulu hati.


"Jleeebbb!!!" pedang itu menembus sampai kepunggung.


Namun aneh, kali ini, tidak terdengar teriakan dari mulut Sin Nia. Hanya keluhan lirih saja yang Lin Tian dengar.


Karena penasaran, dengan enggan pemuda itu memandang wajah Sin Nia, ingin melihat ekspresi apa yang ditunjukkan wanita tersebut.


"K-Kau...?" Lin Tian tergagap memandang musuhnya.


Bagaimana tidak, Sin Nia seorang iblis jahat yang menggetarkan hati siapapun ketika mendengar julukannya. Kali ini, ketika nyawa hampir ditelan maut, dia nampak tersenyum!! Senyum penuh kelegaan dan kebahagiaan.


"Te-terima...kasih...ah...adikku pasti sangat merindukanku..." gumamnya.


Kemudian dia meraih ujung kepala Lin Tian dengan lembut, mendekatkan mulutnya ke telinga Lin Tian dan berbisik.


"Haha...aku tahu saat ini tidak ada jalan lagi untuk mengalahkanmu...maafkan aku...dan....terima....kasih...."

__ADS_1


Tangan itu terkulai lemas dan Pilar Neraka dengan sebutan Si Cantik Setan Kembar itu, menghembuskan nafas terakhir. Sebuah akhir kehidupan yang tidak begitu buruk bagi manusia iblis sepertinya.


Lin Tian masih tertegun sampai beberapa detik sebelum mencabut pedangnya dan membiarkan Sin Nia jatuh ke depan, menimpa tubuhnya.


"Tuan?" teriak pengawal itu dengan penuh perasaan bingung begitu melihat Lin Tian hanya membiarkan saja jasad iblis betina itu bersandar di tubuhnya.


"Tolong bantu aku menguburkannya..." Lin Tian berkata singkat.


...****************...


Masih di depan kuburan baru yang memiliki batu nisan bertulis "Makam Sin Nia, Si Cantik Setan Kembar", Lin Tian berdiri memandangnya lekat-lekat.


Entah kenapa, dia teringat akan ucapan seseorang, ucapan yang mungkin sudah dilupakannya jika hari ini tidak terhadi kejadian ini.


"Agaknya ucapan orang itu benar adanya, sayang dia memilih mati. Jika saja dia mau kembali ke jalan benar, pasti dunia hitam akan memiliki lawan yang kuat."


Dia teringat akan ucapan orang gila di desanya dahulu, ketika dia dan ayahnya sedang pergi ke sawah untuk bertani.


Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang kakek tua yang berkumis serta berjenggot panjang. Rambutnya sebahu akan tetapi berantakan tak terurus.


Dia berjalan sambil menari-nari, begitu dekat dengan Lin Tian, anak kecil itu mendengar sebuah nyanyian dari orang gila tersebut.


Hati manusia itu baik~


Hanya kadang nafsulah yang menggelapkan hati~


Dengan nafsu, terciptalah apa itu jahat~


Dengan nafsu, terbentuklah watak buruk~


Dengan nafsu, hati suci manusia terlupakan~


Ah betapa buruknya~


Seperti itulah lagu yang dinyanyikan dan terus diulang-ulang. Lin Tian teringat akan kakek tersebut dan mengait-ngaitkan lagu itu dengan keadaan Sin Nia.


"Sepertinya, setelah kematian adiknya, dia tak memiliki nafsu buruk lagi dan hatinya kembali. Namun sayang sekali....harus berakhir seperti ini..." gumamnya.


Sedangkan di belakang sana, pengawal Zhang itu hanya berdiri dengan muka kebingungan, tidak paham akan apa yang diucapkan oleh Lin Tian sedari tadi.


Tak lama setelah itu, Lin Tian membalikkan tubuh.


"Ayo pulang, Nona pasti sudah menunggu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2