Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 104. Batu Misterius


__ADS_3

Melihat Ang Bei mulai melarikan diri dari kerumunan, Lin Tian tetap memandang penuh perhatian. Menunggu sampai pria paruh baya itu benar-benar keluar dari kawasan markas.


"Hm...bagus, larilah terus ke luar. Aku akan lebih mudah menangkapmu." gumam Lin Tian dari atas sana.


Beberapa menit kemudian, Ang Bei sudah berhasil keluar dari kawasan markas dan berbelok ke arah Barat, menuju hutan. Lin Tian yang melihat kesempatan ini tak ingin menyia-nyiakannya. Maka cepat pemuda ini melompat turun, seperti burung garuda menerkam mangsa, Lin Tian melesat cepat menuju pria tersebut.


"Woah!!" serunya kaget begitu melihat Lin Tian sudah berdiri di hadapannya secara tiba-tiba.


"Kau sudah berlari cukup jauh dari markas. Tak ada yang bisa membantumu." ucap Lin Tian dingin.


"Kau...Kau....Lin Tian jangan sombong!! Di belakangku masih ada Aliansi Golongan Hitam yang kuat! Kau pikir keluarga Zhang akan mampu menandingi kami!?" bentak Ang Bei untuk menutupi rasa takutnya.


Lin Tian tak menjawab. Hanya berdiri tegak sambil matanya menatap tajam.


"Nah kau takut? Baguslah kalau kau tahu diri. Sekarang minggir, biarkan aku pergi!!" kembali Ang Bei membentak. Kali ini wajahnya terlihat sedikit berseri karena mengira Lin Tian sedang ketakutan.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Jika kau kubunuh sekarang, siapa yang akan menolongmu? Kau sudah berlari terlalu jauh bodoh!" kali ini Lin Tian menjawab dingin.


"Kau....!! Aaaahhh rasakan ini!!" Ang Bei yang sudah frustasi dan tidak bisa melihat adanya jalan keluar, menjadi nekat dan menyerang Lin Tian dengan pedangnya.


"Lambat!!" bentak Lin Tian sembari menggerakkan kaki kanan untuk menendang pergelangan Ang Bei yang digunakan untuk memegang senjata.


"Bukk! Aargghh!!" tangan kanan Ang Bei membalik dan dia merasa betapa pergelangannya terasa amat ngilu. Namun dia tidak menyerah dan kembali menyerang.


Akan tetapi Lin Tian sama sekali tidak berniat untuk bertarung serius. Maka dia hanya menghindar dan sesekali menangkis.


"Jangan hanya menghindar bocah!! Lawan aku!!" setelah sekian lama, akhirnya Ang Bei membentak marah karena merasa harga dirinya terhina.


"Maaf saja, tapi aku tak punya niatan untuk bertarung apalagi membunuhmu. Mati hidupnya kau itu berada di tangan Nona." balas Lin Tian sambil melesat maju dan mengirim totokan kilat kearah dua pundak.


"Tuk-Tuk!" seketika, kedua tangan Ang Bei menjadi lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi, pedangnya terlepas.


Sebelum sempat mengambil tindakan, Lin Tian sudah lebih dulu menotok kedua kaki dan leher. Membuat Ang Bei lumpuh total dan bisu.


"Diamlah dan katakan semuanya di depan Nona!" ucap Lin Tian begitu melihat Ang Bei memelototkan mata, bersiap untuk mengumpat namun sia-sia.

__ADS_1


Pemuda ini kemudian memanggul tubuh lemas Ang Bei dan mengambil pedangnya. Ketika hendak melangkah pergi, betapa terkejutnya hati pemuda itu begitu mendengar suara gelak tawa dari arah belakang.


"Hahahah.....bagus, bagus!! Kiranya sudah ada seseorang yang bisa membalas perbuatan babi itu. Hei pendekar bertopeng, agaknya kau ini orang baik. Kalau begitu, sudilah agar kau meluangkan waktu sejenak menolong kami." ucap suara misterius itu.


Lin Tian terkejut, akan tetapi tidak sehebat Ang Bei yang wajahnya sampai pucat pasi. Lin Tian diam-diam juga heran akan perubahan taut wajah Ang Bei yang begitu tiba-tiba. Namun dia tidak peduli dan lekas bertanya.


"Siapakah Tuan dan dimanakah letak keberadaan Tuan? Jika aku mampu, pasti akan kutolong."


Kembali suara itu tertawa sebelum menjawab, "Hahaha...kenapa tidak kau tanyakan kepada benda pikulanmu itu?"


Lin Tian mengerutkan kening dan melirik Ang Bei. Setelah berpikir sesaat, dia melepaskan totokan urat gagu Ang Bei dan segera berkata.


"Katakan, dimana mereka!" ucap Lin Tian dingin.


Dengan bibir bergetar dan mata melotot ketakutan, dia menunjuk ke arah tebing di belakang mereka seraya berkata, "D-D-Di sana Tuan."


Lin Tian menoleh dan melihat bahwa di depannya itu terdapat sebuah tebing tinggi yang bukan lain adalah tebing Barat. Namun ada yang berbeda, di depannya saat ini terdapat banyak sekali lumut yang bergelantungan di sana-sini, seolah-olah seperti menyembunyikan sesuatu.


Walaupun merasa heran, Lin Tian mencoba mendekat dan menyingkap "tirai" lumut itu. Begitu terbuka, makin terkejut hatinya ketika melihat ada sebuah tangga menurun yang agaknya menuju ke ruang bawah tanah.


Lin Tian kembali memandang, lalu memantapkan hatinya dan melangkah turun.


Jalan disana sedikit lembab, di kanan-kiri dinding, terdapat obor untuk penerangan, namun jarak satu obor ke obor lainnya cukup jauh.


Setelah beberapa menit berjalan turun, Lin Tian sampai di sebuah tempat datar yang memanjang jauh ke dalam, keadaannya gelap sekali. Pemuda ini penasaran, maka segera dia mengambil salah satu obor di dinding dan masuk ke dalam.


Ternyata di sana adalah sebuah penjara. Di kanan-kiri dinding itu terdapat ruangan-ruangan yang di pagar besi kuat sekali. Begitu Lin Tian memandang ke dalam, kiranya di beberapa ruangan terdapat tengkorak-tengkorak manusia yang tak terurus. Diam-diam dia merasa ngeri.


"Katakan, dimana tempat suara itu berasal!" tanya Lin Tian.


"Terus maju ke sana Tuan." balas Ang Bei.


Beberapa menit, Lin Tian sampai di ujung ruangan. Di depannya, terdapat ruangan yang besar sekali. Dari tempat Lin Tian saat ini, hanya terpisah dengan gugusan tiang besi yang tebal dan kuat sekali.


Tiba-tiba, suara misterius itu kembali terdengar. "Nah, sekarang kau tinggal hancurkan saja jeruji besi itu. Dengan kekuatanmu, aku yakin hal ini bukanlah sulit."

__ADS_1


Lin Tian mengerutkan kening bingung. Namun karena penasaran, dia segera mengerahkan tenaga dan menghantamkan tangan kanan ke barisan tiang besi itu.


"Trang-Trang-Trang!"


Terdengar suara besi-besi itu saling berjatuhan dalam keadaan terpotong-potong. Tak lama setelah itu, dari dalam ruangan muncul puluhan orang yang langsung berdiri menyambut Lin Tian.


"Hahaha....akhirnya kami bisa bebas!!" teriak orang paling depan. Agaknya orang inilah yang berbicara kepada Lin Tian dari jauh.


"Ah...terima kasih Tuan, kau sudah membebaskan kami." lanjut orang tersebut. Sebelum kemudian dia memecahkan belenggu besi di kaki tangannya yang diikuti semua orang itu.


"Hei...jika kalian bisa memecahkan belenggu-belenggu itu, seharusnya kalian bisa bebas dengan usaha sendiri. Hancurkan saja jeruji besi itu dengan gabungan kekuatan kalian semua, aku yakin pasti akan berhasil." kata Lin Tian setengah terkejut melihat aksi mereka.


Orang terdepan itu hanya tersenyum, maklum akan keheranan Lin Tian. Maka segera orang tua itu menjawab, "Di dalam ruang itu, dinding dan lantainya terbuat daripada batu khusus. Yang dimana jika kita para pendekar menginjak batu itu, maka tenaga dalam kita seolah-olah akan terkunci dan hanya mampu digunakan untuk melindungi tubuh, tak bisa digunakan untuk menyerang."


Lin Tian masih bergeming, agaknya dia masih belum percaya akan hal itu.


"Jika tidak percaya, coba kau masuk kedalam sana." kembali orang tua itu berkata. Agaknya dia mengetahui keraguan Lin Tian.


Pemuda ini lalu melempar "barang" yang dipanggulnya. Kemudian berjalan memasuki ruang tahanan itu. Dan betapa terkejut hatinya begitu menyadari jika semua ucapan orang itu benar adanya.


"Apa-apaan dengan ruang ini." batin pemuda ini heran yang merasa bahwa tenaga dalam di seluruh tubuhnya hanya berputar-putar di sekitar pusar dan dadanya.


Dia kembali keluar dan mengambil kembali barangnya. Kemudian mengajak mereka semua pergi dari sana.


"Ayo kita keluar Tuan." demikian pemuda ini berucap sembari melangkah keluar.


"Ruangan yang aneh..." gumam pemuda ini dalam hati sambil melirik kearah tahanan itu, sebelum kemudian kembali melangkah pergi.


Begitu tiba di mulut goa, tiba-tiba Ang Bei bersiul keras sekali. Agaknya Lin tian lupa bahwa tadi dia telah melepaskan totokan di urat gagu Ang Bei, sehingga pria tua itu mampu bersiul keras yang bermaksud untuk memanggil bala bantuan.


"Bajingan!!" bentak Lin Tian dan spontan memukul kepala Ang Bei dengan keras sekali, membuat pria itu pingsan seketika.


"Ayo lekas pergi, kita dalam bahaya." seru pria tua yang baru saja dibebaskan Lin Tian dan segera berlari cepat meninggalkan tempat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2