Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 161. Surat


__ADS_3

Mata dari pria bercaping itu terbelalak lebar, dia melirik dua orang tersebut dengan terkejut sekali. Namun sebentar saja dia terkejut sebelum matanya menatap tajam dan dengan gerakan gesit, kakinya menendang Hao Yu.


"Ahh...!" refleks Hao Yu melompat mundur. Begitu memandang, ternyata orang tersebut sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan.


"Hem...kalian sudah tahu semuanya? Kalau begitu tidak ada alasan bagiku untuk membiarkan kalian hidup!" ujarnya sebelum melesat cepat dengan tusukan pedang mengarah Hao Yu.


Cepat Hao Yu mengerjakan goloknya, melintangkan senjatanya itu di depan dada untuk menangkis pedang lawan. Berikutnya, pendekar tangan satu ini menggerakkan lengan baju tangan kiri yang kosong itu kearah muka penyerang. Kibasan lengan baju ini tak bisa dianggap remeh, karena pria bercaping itu mampu merasakan adanya angin dahsyat tercipta dari serangan tersebut.


Dia meloncat ke belakang, namun ternyata di belakangnya sudah menunggu Xiao Lian yang siap menusukkan pedangnya.


"Menyerahlah!!"


"Syut-Syut-Trang!!'


Pedang Xiao Lian berhasil ditangkis, akan tetapi kembali dia harus bergerak cepat membalikkan tubuh untuk menjaga serangan dari Hao Yu. Terjadilah pertarungan hebat diantara ketiganya, dan setelah beberapa lama, Hao Yu dan Xiao Lian mendapat kenyataan bahwa utusan ini bukanlah lemah dan mungkin sekali menjadi pasukan elit keluarga Chen.


Sedangkan pria bercaping itu, sungguh pun mampu untuk bertahan dari desakan keduanya, namun diam-diam dia repot sekali. Menghadapi si tangan satu saja dia sudah kerepotan, ditambah harus melawan Nona Xiao yang serangannya meliuk-liuk seperti naga menari itu, benar-benar membuat posisinya terhimpit dan setelah beberapa lama, dia hanya mampu menjaga diri tanpa dapat balas menyerang.


Menginjak jurus ke dua puluh, agaknya pria ini sudah amat terdesak ketika Hao Yu mainkan goloknya dengan hebat sekali. Senjatanya itu berubah menjadi gulungan sinar keperakan yang terus mengurung tubuh lawan. Makin lama kian menyempit hingga pada suatu ketika, disaat pria bercaping itu melompat tinggi untuk menghindarkan sabetan pedang Xiao Lian, tanpa dapat dicegah lagi golok Hao Yu melesat cepat dan berhasil membacok kakinya.


"Crookk!!"


"Aahhh!!" pria itu memekik keras ketika kaki kirinya berhasil dibuntungi sebatas lutut. Dia jatuh berdebuk di atas tanah tanpa mampu mendarat dengan benar. Tubuhnya berguling-guling sambil kedua tangan memegangi kaki buntung itu, mulutnya berteriak-teriak kesakitan.


Hao Yu yang melihat ini lekas menghampiri dan menotok kaki buntung itu untuk menghentikan aliran darahnya. Kemudian sama seperti tadi, dia menginjak dada musuhnya dan menodongkan golok di leher.


"Katakan!"


Masih dengan meringis kesakitan, orang itu menjawab terbata-bata.


"Tuan Chen ingin mengambil kursi kaisar dengan jalan memfitnah kaisar. Beliau hendak menggunakan sebuah siasat, yaitu dengan meletakkan mayat Liong Bu di wilayah kota raja. Dan ada beberapa orang lagi yang ditugaskan untuk menyebarkan berita itu. Kemudian jika berita menyebar, kami keluarga Chen akan menyerbu kota raja dengan dalih keadilan."


Hao Yu dan Xiao Lian terbelalak, gawat benar, pikir mereka. Kemudian buru-buru Hao Yu mengambil surat dari balik saku korbannya dan membaca surat tersebut.


"Apa isinya?" tanya Xiao Lian ketika melihat perubahan ekspresi dari Hao Yu.

__ADS_1


"Gawat, kita harus cepat-cepat ke kota raja!!" serunya dan sekali bacok, pria bercaping itu tewas seketika.


"Ayo kita kuburkan dia untuk menghilangkan jejak!"


Dengan tenaga dalam dan dibantu senjata masing-masing, mereka berhasil menggali sebuah lubang yang cukup dalam. Kemudian mereka memasukkan mayat itu sebelum diuruk kembali. Setelah selesai pemakaman dan penghilangan jejak dengan cara mengubur bercak darah yang terciprat di sana-sini, mereka segera melanjutkan perjalanan.


Kebetulan letak mereka saat ini cukup dekat dengan kota raja. Saat ini mereka berada di hutan yang terletak di tengah-tengah kota raja dan kota tempat dimana keluarga Chen berkuasa. Karena itulah, ketika tengah malam, mereka sudah tiba di luar gerbang kota raja.


Tanpa menunggu lama, mereka segera menghampiri penjaga gerbang yang sudah setengah tidur itu. Xiao Lian membangunkannya dan lekas berkata.


"Hei, jam segini apa kami masih bisa bertemu dengan kaisar?"


Penjaga gerbang itu memandang dengan melongo. Pertanyaan bodoh apa ini? Pikirnya.


"Nona, maaf saja, kaisar tidak mudah untuk ditemui. Apalagi malam-malam begini, tentu beliau sudah tidur." jawabnya sambil mengantuk.


"Tapi kami ada urusan penting!! Bahkan yang menyangkut keselamatan Kota Emas!! Kami dari keluarga Xiao." bantah Xiao Lian sambil menunjukkan tanda pengenalnya


Penjaga itu mengangguk-angguk dan menjawab santai, agaknya dia tidak sadar jika lawan bicaranya itu adalah Nona Xiao.


"Ya...ya, baiklah. Sekarang kalian masuklah dan cari rumah penginapan. Untuk menemui kaisar, coba saja besok pagi. Itu pun kalau kalian punya nyali untuk menghadapi para pengawal kaisar yang bahkan lebih galak dari majikannya."


Akhirnya mereka memilih sebuah penginapan yang berdiri paling dekat dengan gerbang kota. Penginapan sederhana yang cukup jauh dari pemukiman. Setelah memesan dua buah kamar, keduanya segera pergi ke kamar masing-masing.


Akan tetapi di dalam kamarnya, Hao Yu sama sekali tidak dapat tidur, bahkan mengantuk pun tidak. Dia hanya duduk bersila di atas pembaringan sembari goloknya itu masih berada di punggung.


"Tak mungkin akan semudah ini..." gumamnya dengan perasaan campur aduk.


"Keluarga Xiao jika mengirim pesan rahasia kepada keluarga lain, Tuan Xiao Li pasti mengirim beberapa orang pengawal. Tapi saat ini, hanya satu? Mana mungkin surat sepenting itu hanya mengirim satu utusan?" gumamnya perlahan sambil mengingat-ingat isi dari surat tersebut. Terlihat jelas di sampul surat, ada sebuah tulusan "Untuk keluarga Chen". Dan di dalamnya, dia masih ingat betul dengan isinya.


Lakukan rencananya sehari sebelum hari ke lima belas bulan ini.


Hanya singkat saja isi surat tersebut dan tidak tercantumkan nama pengirimnya. Namun yang membikin gawat adalah, tentu rencana yang dimaksud itu adalah peletakan mayat Liong Bu di wilayah kediaman kaisar. Ditambah lagi, hari ke lima belas itu jika dihitung dari sekarang berarti kurang lima atau enam hari lagi!!


Apalagi soal penyerbuan yang dilakukan oleh keluarga Chen, membayangkannya saja membuat bulu tengkuknya berdiri.

__ADS_1


"Tak kusangka ada pengkhianat di antara tujuh keluarga. Jika begini--tunggu!!"


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Jika memang surat sepenting ini hanya dikirim oleh satu orang, rasa-rasanya mustahil. Jadi kemungkinan, satu orang yang dia bunuh itu hanya kelihatannya saja!!


"Pengawal-pengawal yang lain bisa jadi bersembunyi di balik pepohonan hutan dan melihat semuanya....gawat, aku harus memberitahu Xiao Lian!" katanya dan segera melompat turun dari pembaringan.


Benar saja seperti dugaannya, baru saja kakinya menginjak lantai, dari kamar sebelah dia mendengar suara gaduh dan bentakan-bentakan sahabatnya itu.


"Dasar pengkhianat busuk!! pergi kalian!!"


Namun suara itu tiba-tiba berhenti, seolah-olah si pemilik suara disekap oleh orang lain dan membuat dia tak mampu mengucap sepatah kata lagi.


Hao Yu sadar akan bahaya yang menimpa Xiao Lian, maka cepat dia berkelebat keluar melalui jendela dan masuk ke kamar Xiao Lian. Begitu keluar jendela, dia melihat berkelebatan orang yang keluar dari kamar itu.


"Berhenti kalian!!" bentak Hao Yu sambil menebaskan goloknya.


Dua orang dari mereka segera menubruk maju dan menahan laju golok Hao Yu. Sedangkan dua orang lagi menyerang Hao Yu dari kanan dan kiri.


"Sialan!!!" umpatnya dan memutar pedang. Menangkis dua serangan yang menyergapnya dari kanan kiri itu.


"Lari!! Surat itu lebih penting, jangan hiraukan kami!! Akan kami tahan si cacat ini!!" seru salah satu dari empat orang tersebut. Membuat Hao Yu makin marah dan mengamuk.


"Trang-Trang-Trang!!" tiga kali terdengar suara nyaring ketika senjata Hao Yu berhasil menerbangkan tiga pedang lawannya. Kemudian dengan gerakan memutar, goloknya menciptakan sinar panjang berwarna keperakan yang langsung membunuh tiga orang sekaligus.


"Ahh!!" Hao Yu menghindar kesamping ketika ada seseorang menyerang dari belakang. Namun sedikit terlambat, sehingga pundak belakangnya berhasil kena serempet.


"Bajingan kau!!" bentak si penyerang marah karena melihat kawan-kawannya tewas.


"Pengkhianat!!" seru Hao Yu dan membacokkan goloknya. Orang itu berhasil menghindar, akan tetapi ternyata bacokan itu hanya pengalihan saja. Serangan sesungguhnya berasal dari kibasan lengan baju kiri yang berhasil membikin sepasang mata lawan remuk.


Ketika musuhnya sedang mengaduh-aduh sambil terhuyung ke belakang, cepat Hao Yu menggerakkan golok untuk menusuk dadanya hingga tembus ke belakang.


"Sialan!! Kenapa aku tidak terpikirkan akan hal ini sama sekali!!" gumam Hao Yu kesal.


"Aku harus segera menyusulnya!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2