
"Lin Tian...kau..."
Lin Tian memandang Yuan Fei penuh perhatian, dia memberikan tatapan bertanya kearah pria paruh baya tersebut. Sedangkan Yuan Fei, cepat-cepat menoleh kearah Zhi Yang dan berkata sedikit teriak.
"Putriku, dia kah Pendekar Hantu Kabut idolamu itu?"
"Benar, apakah dia pendekar itu kak? Pedangnya sangat mirip seperti yang kau ceritakan selama ini."
Zhi Yang masih terpaku dan tidak bergerak saat ditanya demikian. Hatinya terlau terkejut mengetahui kenyataan ini. Jantungnya berdegub keras tatkala mendengar suara Lin Tian barusan.
"Benarkah dia akan menolongku lagi...?"
"Kakak jawab!"
"Yang'er jawab!"
Dua orang tua dan muda itu berseru bersama untuk menyadarkan kakaknya. Mendengar seruan ini, mendadak wajah Zhi Yang merah sekali dan dia menjadi gelagapan. Gadis itu menjawab pertanyaan ayah dan adiknya hanya dengan "Ah-uh-ah-uh" saja.
"Ada apa!? Jawab yang benar! Diakah pendekar muda yang tersohor itu?"
"A..aaa...b-benar ayah!"
Kemudian ayah dan anak itu kembali memandang Lin Tian dengan mata lebar. Terlihat jelas tatapan kagum di mata keduanya. Rouwei lekas berlari kearah Lin Tian dengan kedua tangan terbuka setelah itu.
"Eh, Rou'er, ada apa?" kaget Lin Tian saat dipeluk tiba-tiba oleh gadis cilik itu.
"Hahah...aku sangat penasaran dengan Pendekar Hantu Kabut, dan ternyata orangnya ada di sini selama ini!"
Lin Tian hanya mampu menggelengkan kepala seraya mengelus-elus ujung kepala Rouwei. Tak berselang lama kemudian, dia menatap Yuan Fei dengan serius sambil berkata.
"Baiklah paman, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus kulakukan dengan pedang kristal ini untuk menolong Zhi Yang?"
Yuan Fei terkejut dan sadar dari kekagumannya, wajahnya berubah serius saat berkata.
"Akan kujelaskan!"
Yuan Fei mulai menceritakan kisah nenek moyangnya yang salah satu anak muridnya bentrok dengan pemilik ilmu Pukulan Tapak Api dan dia menjadi korban. Nenek moyangnya mulai mencari segala cara untuk menyembuhkannya, dan setelah sekian lama akhirnya dengan kristal puncak salju Pegunungan Tembok Surga lah dia mampu menyelamatkan muridnya.
Yuan Fei menceritakan segalanya tanpa ditutup-tutupi menurut buku yang dia baca. Buku sejarah nenek moyangnya yang dia pikir tidak akan berguna karena dirinya pun belum pernah melihat kristal salju Pegunungan Tembok Surga ataupun ilmu Pukulan Tapak Api.
__ADS_1
Cara menyegel racun itu adalah, dengan menempelkan kristal tersebut kearah dimana pukulan itu mendarat sebelumnya. Tak akan sulit mencari bekasnya karena selama racun itu belum hilang, racun dari ilmu ini akan meninggalkan bekas merah kehitaman di tubuh yang dipukul.
Setelah itu hawa dingin murni dari kristal tersebut akan memasuki tubuh penderita dan menyebar melalui sel-sel darah. Jika yang menderita bukanlah pendekar, dapat di pastikan dia akan tewas saat itu juga. Karena itulah, racun Pukulan Tapak Api hanya bisa disegel jika korbannya adalah pendekar.
Ketika si korban sudah merasakan hawa dingin menyebar sampai menyentuh jantung, dia harus cepat-cepat mengerahkan tenaga untuk melawan hawa dingin itu. Di sinilah proses penyembuhan terjadi.
Korban dari Pukulan Tapak Api ini memiliki pantangan besar yang tak boleh dilanggar, yaitu mengerahkan tenaga dalam apalagi hawa sakti. Karena jika dua tenaga itu dialirkan, maka racun akan semakin menyebar cepat dan bertambah kuat, jika racun itu sudah sampai ke jantung maka korban akan mati saat itu juga.
Sedangkan jika di dalam tubuhnya sudah kemasukan hawa dingin kristal puncak salju Pegunungan Tembok Surga, maka racun yang tadinya hendak pergi ke jantung saat korban mengerahkan tenaga, menjadi terhalang oleh hawa dingin ini. Racun dan hawa dingin akan bertempur, setelah itu hawa dingin dari kristal akan mampu membekukan racun tersebut dan membuat si korban aman kembali untuk mengerahkan tenaga.
"Cukup rumit juga, tapi sepertinya tidak terlalu rumit dalam prakteknya." Lin Tian berkomentar.
"Kita lakukan sekarang?"
Pemuda ini menatap Zhi Yang yang masih terlihat berpikir, entah apa yang dia pikirkan namun Lin Tian merasakan sesuatu hal aneh dari tatapan matanya itu.
"Tidak, besok saja." jawabnya santai seraya menyunggingkan senyum manis.
Sontak jawaban ini membuat tiga orang lainnya menampakkan ekspresi heran, terkejut juga penasaran. Maka segera Yuan Fei mewakili lainnya melemparkan pertanyaan.
"Kenapa? Nyawamu sudah berada di ujung tanduk!"
...****************...
Duduk sendirian di dalam kamarnya sambil memandangi langit malam penuh kegelapan benar-benar membosankan hati Lin Tian. Tangannya itu tak pernah berhenti mengelus-elus Pedang Dewi Saljunya yang dia letakkan di pangkuannya.
"Masuk!" tiba-tiba dia berkata dengan nada memerintah. Entah siapa yang diajak bicara namun pemuda ini sudah tahu akan kedatangan seseorang di depan pintunya.
Pintu terbuka perlahan dan menampakkan gadis cantik yang memakai pakaian tidurnya. Hanya baju longkar biasa tanpa berlengan. Wajah yang cantik jelita itu sedikit merona tatkala kakinya melangkah masuk.
"Aku sudah menunggumu."
Ucapan Lin Tian ini berhasil membuat gadis itu gelagapan dan salah tingkah. Karena tidak tahu hendak melakukan apa, akhirnya dia lebih memilih bicara sejujurnya tanpa berbasa-basi lagi.
"L-Lin Tian...h-hidupku mungkin tak akan genap satu minggu lagi dari sekarang. K-karena itulah...malam ini...aku–"
"Zhi Yang...kau mengecewakanku..."
Ucapan lirih dan dingin ini berhasil menohok hati gadis tersebut yang tak lain adalah Zhi Yang. Dia sudah mempersiapkan semua keberaniannya demi malam ini, demi pria yang berhasil merebut rasa kasihnya. Namun apa yang didapatnya hanyalah ucapan dingin tak berperasaan!
__ADS_1
"A-apa...maksudmu?" Zhi Yang berkata lirih, menahan isaknya.
"Aku yang barus bertanya, apa maksudmu? Kau hendak menyerahkan tubuhmu, huh?" tanpa menoleh Lin Tian menjawab.
Isak yang ditahan-tahan lambat laun mulai terdengar juga dan Lin Tian mampu merasakan gadis itu akan menangis saat berbicara.
"Kenapa...aku....aku rela Lin Tian."
"Rela? Apa kau tahu apa artinya rela? Lalu, setelah malam ini apa yang akan kau lakukan?"
"Aku sudah tak mungkin selamat lagi! Karena adanya Seribu Racun Dunia, racun Pukulan Tapak Api terus menyebar ke seluruh tubuh bahkan saat aku tak mengalirkan tenaga dalamku sekali pun! Untuk apa aku hdiup lagi! Aku...aku...aku hanya ingin menunjukkan kepadamu...akan perasaanku..." Zhi Yang berkata dan tanpa ditahan lagi dia mulai menangis.
"Bodoh sekali...kau meremehkanku? Kalau kau tak akan selamat, selama masih ada waktu apakah kau pikir aku akan diam saja?"
"Lin Tian...t-tapi...kenapa kau menolak?"
Elusan di pedang tangan Lin Tian berhenti dan ketika menjawab nadanya semakin datar dan dingin, "Jika aku menerima, lalu tolong jelaskan padaku apa bedanya diriku dengan orang-orang tukang perkosa itu!?"
"Tentu beda! Aku rela sepenuhnya Lin Tian, sedangkan mereka semua memaksa gadis-gadis untuk digaulinya! Sekali lihat saja sudah tampak beda!" Zhi Yang memekik sedikit keras.
"Bukannya dua hal itu sama seperti menjilat kotoran kambing langsung dari tanah dan memakan kotoran kambing dengan menggunakan sumpit? Sama-sama perbuatan hina namun yang satu kasar dan satu lembut! Baik dirimu maupun yang menggaulimu sama saja, sama-sama hina!!" Lin Tian tak mempedulikan perasaan Zhi Yang yang kian hancur dengan perkataan sarkas itu. Hal ini membuat Zhi Yang menangis kencang sambil berlutut.
"Lalu...aku harus apa...?"
Lin Tian mendiamkannya saja tanpa mengalihkan pandangannya. Dia terus menatap kearah bulan dengan nafas tenang dan raut wajah tak berubah.
Setelah didiamkannya selama lima belas menit, dia menghela nafas mengetahui Zhi Yang masih terus menangis di kamarnya. Dia bangkit dan mengambil selimutnya, lalu melilitkan selimut itu ke tubuh Zhi Yang yang terbuka itu.
"Jangan lakukan hal itu, aku sangat membencinya. Bukannya aku benci padamu...hanya saja, aku takut kau membenciku."
Sambil menyelimutkan selimut itu, dia berbisik pelan yang berhasil membuat Zhi Yang terbelalak. Tanpa menunggu jawaban, Lin Tian melangkah keluar dan kembali berucap.
"Ganti bajumu dan keluar temui aku jika mau bicara!"
Zhi Yang masih mematung di tempatnya, air matanya masih terus mengucur deras.
"Pemuda aneh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG