Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 136. Nona Zhang Diculik


__ADS_3

Malam hari itu, rombongan Zhang Qiaofeng menginap disebuah penginapan. Namun karena jumlah mereka yang banyak, maka mereka menginap di rumah-rumah penginapan yang berbeda.


Untuk Zhang Qiaofeng sendiri, dia satu penginapan bersama Minghao, Lu Jia Li, Kim Chao, dan tentu saja Lin Tian. Untuk Hu Tao dia sengaja menginap di rumah penginapan yang sama dengan para anak buahnya.


Setelah makan malam, Zhang Qiaofeng dan lainnya segera memasuki kamar masing-masing. Kebetulan sekali, kamar Zhang Qiaofeng dan Lin Tian bersebelahan.


"Selamat malam Lin Tian." gadis itu berkata ringan sebelum masuk ke kamarnya.


"Tunggu Nona." sergah Lin Tian sambil menahan daun pintu yang hampir tertutup. Membuat gadis itu mengeryitkan alis dengan heran.


"Nona, untuk mencari kitab yang menurut kakek Kim telah dicuri oleh Sin Nia, apakah kita akan mengikut sertakan seluruh pasukan?"


"Tak perlu, besok biar kusuruh mereka pulang bersama paman Minghao, dan melaporkan semuanya kepada kakek." jawab gadis itu.


Mendengar jawaban Zhang Qiaofeng, Lin Tian mengangguk dan menutupkan pintu kamar Zhang Qiaofeng seraya membalas sapaan tadi, "Selamat malam Nona."


...****************...


Malam hari yang sunyi, hanya ditemani oleh sinar bulan dan bintang-bintang di langit, ditambah suara jangkrik yang saling sahut menyahut di sana-sini, membuat suasana malam ini terkesan semakin sunyi.


"Mereka menginap di rumah penginapan yang berada di Timur kota tuan." pria brewok tinggi besar itu berkata. Di pinggangnya terdapat sebuah golok.


"Bawa dia kemari, jangan sampai gagal!" Sie Lun berkata tegas tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku yang dibacanya.


"Malam ini, kalian harus pulang bersamanya." lanjutnya yang disusul dengan anggukan oleh pria brewok itu. Detik berikutnya, pria brewok itu sudah berkelebat lenyap dari sana.


Di luar kediaman Sie Lun, terlihat si brewok tadi sedang bercakap-cakap dengan keenam temannya yang sama-sama membawa senjata golok di pinggang. Agaknya sedang menyiapkan rencana yang paling pas untuk penculikan Nona Zhang.


"Lalu bagaimana lagi? Tak ada cara lain! Kalaupun ketahuan, jika kita lawan sudah pasti kita akan mati, dan jika kita lari aku juga ragu apakah tuan akan sudi melepaskan kita." kata salah satu temannya yang bertubuh jangkung dan kurus.


"Benar sekali, aku juga tak mampu memikirkan cara lain lagi, sedangkan kalian semua tahu, kita tak pandai menggunakan otak." jawab si brewok.


"Benar, apakah tuan tidak mengusulkan rencana?" tanya seseorang yang mukanya kekuningan dan dihias banyak ruam-ruam.


Si brewok hanya menggeleng sebagai jawaban. Sepertinya memang si brewok itu yang menjadi pimpinan mereka.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita berangkat sekarang saja!"


Setelah menganggukkan kepala tanda setuju, mereka bertujuh lekas berkelebat lenyap dari sana menuju penginapan yang ditempati Zhang Qiaofeng.


Memang gerakan mereka cepat dan tangkas, dengan cara melompati atap-atap rumah penduduk, sebentar saja mereka sudah tiba di sana. Begitu tiba, mereka berhenti di atap penginapan itu, saling memandang satu sama lain sebelum empat orang dari mereka melompat turun untuk menjaga sekitar.


"Baiklah, ayo kita segera masuk. Kamarnya seharusnya berada tepat di bawah kita ini." kata si muka kuning yang agaknya melakukan penyelidikan di awal.

__ADS_1


Si brewok mengangguk menyetujui, maka tanpa basa-basi lagi, segera tiga orang ini menyelinap dari genteng itu menuju kamar Zhang Qiaofeng. Mereka masih berada di luar kamar, namun mampu memandang ke dalam kamar melalui celah-celah jendela yang tak ditutup gorden itu.


"Cantik sekali ya...." gumam si tubuh jangkung tanpa sadar. Melihat punggung Zhang Qiaofeng yang sedang rebah miring itu benar-benar membuat ia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Husshh!!" si brewok segera menjitak kepala orang tersebut.


"Itu milik tuan, bagaimanapun juga kita harus menangkapnya dan memberikannya kepada tuan, walaupun kita juga sangat ingin..." katanya dengan ucapan gemetar di akhir kalimat, sepertinya dia juga mulai terbawa nafsu begitu memandang tubuh belakang Nona Zhang itu.


"Ayo cepatlah masuk." si muka kuning bicara tak sabar.


Setelah itu, dengan dipimpin si brewok, mereka membuka jendela perlahan-lahan. Untuk pendekar sekelas mereka, mematahkan kunci jendela tanpa suara bukanlah hal sulit. Maka jendela pun mampu dibuka dengan gerakan halus sekali.


Begitu jendela terbuka, si brewok segera melesat ke dalam. Akan tetapi, ternyata Zhang Qiaofeng mampu untuk mendengar suara gerakan itu, sungguh pun si brewok sudah bergerak dengan gesit sekali, hanya menimbulkan sedikit suara halus saja.


Pendengaran tajam Zhang Qiaofeng mampu mendengar suara itu dan secara otomatis, gadis itu tersadar dari tidurnya. Segera dia melompat berdiri dan berbalik untuk melihat kearah sumber suara.


"Sia-" Zhang Qiaofeng sedikit memekik, namun belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, si brewok lekas menotok lumpuh tubuhnya, sekaligus urat gagunya, membuat dia tak mampu berteriak barang sedikit pun.


Begitu Zhang Qiaofeng roboh, si brewok langsung memanggul tubuhnya di pundak dan segera keluar kamar.


"Ayo cepat pergi, sedikit teriakan dari gadis ini mungkin sudah lebih dari cukup untuk membangunkan dia." katanya sedikit ketakutan. Tentu saja, yang dimaksud "dia" adalah Lin Tian.


Maka buru-buru mereka mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, melesat kembali ke kediaman Sie Lun yang masih terletak di wilayah kediaman walikota.


...****************...


"Nona!?" panggil Lin Tian dari kamarnya sembari menempelkan telinga di dinding kamar yang mengarah ke kamar Zhang Qiaofeng.


Tak mendapat jawaban, pemuda itu memanggil lagi, kali ini bahkan dia mengetuk-ngetuk dinding itu beberapa kali.


"Nona!? Nona?" suaranya makin nyaring, ketukannya makin keras. Begitu pula dengan degub jantungnya yang kian berpacu cepat penuh ketegangan.


"Ada yang salah." gumamnya seraya menyambar topeng dan pedang yang berada di ujung ruangan.


Kemudian secepat kilat, pemuda ini membuka pintu dan langsung menuju kamar Nonanya. Di dorongnya pintu kamar itu.


"Klek." akan tetapi Lin Tian mendapat kenyataan bahwa pintu kamar itu terkunci.


"Bodohnya aku...mana mungkin Nona tidak mengunci pintu!?" dengan kesal dan terus mengumpati diri sendiri, Lin Tian kembali ke kamarnya dan keluar melalui jendal. Kemudian melesat menujut jendela kamar Nonanya.


"Nona!?" begitu tiba di dalam, Lin Tian terbelalak karena melihat di kamar itu sama sekali tidak ada orang. Dia juga terkejut sekali begitu melihat jendela kamar tidak dikunci. Ketika memandang, ternyata besi pengunci jendela itu sudah rusak.


Matanya mulai menajam ketika dia menelisik ke setiap sisi kamar, namun yang ia temukan hanyalah ruangan kosong dengan perabot-perabot penginapan. Dia juga menemukan sepasang belati nonanya yang beradad di atas meja. Bangkit lah kemarahannya, segera dia mengerahkan tenaga dalam ke tenggorokan dan memekik keras.

__ADS_1


"Nona diculik!!!" dia memekik keras dan melesat ke atap penginapan melalui jendela. Gerakannya gesit dan ringan sekali, sampai-sampai hanya terlihat seperti kain putih terbang saja.


Penginapan itu tak bisa dibilang mewah, bahkan sederhana. Namun sangat rapi dan bersih, membuat banyak orang yang memilih penginapan itu untuk bermalam ketika sedang mengunjungi kota ini. Juga, dinding penginapan juga kedap suara, sehingga ketika berada di dalam kamar, pengunjung mampu tidur nyenyak karena tak terganggu dengan suara di luar.


Begitu pula dengan teriakan Lin Tian tadi, walaupun sudah memekik keras, namun karena dinding kedap suara, sehingga hanya sedikit saja suara Lin Tian yang mampu keluar. Namun itu sudah cukup untuk membangunkan Minghao, Lu Jia Li, dan Kim Chao.


Memang itulah tujuan Lin Tian, pemuda itu yakin benar bahwa teriakannya walaupun terhalang oleh dinding kedap suara, namun pasti tak akan terluput dari pendengaran tajam mereka.


Karena itulah, seketika tiga orang ini melompat turun dari pembaringan. Mengambil senjata masing-masing dan pergi ke kamar Zhang Qiaofeng melalui luar rumah.


"Nona!?" panggil Minghao dari luar jendela kamar Zhang Qiaodeng.


"Sial, Nona tidak ada!!" umpat Minghao kemudian. Membuat dua orang lainnya itu menunjukkan ekspresi cemas.


...****************...


Melihat tiga bayangan hitam yang berhasil keluar dari rumah penginapan. empat orang kawan si brewok yang tadinya menadapat tugas mengawasi sekitar menjadi girang begitu melihat teman-teman mereka berhasil.


Wajah mereka makin berseri ketika mendengar suara mirip kicauan itu, tanda bahwa tugas berjalan mulus. Maka tanpa berpikir lagi, empat orang yang berada di tempat terpisah itu segera membalas.


"Cuit-Cuit-Cuit-Cuit!" empat kali suara mirip kicauan burung itu terdengar, disusul dengan berkelebatnya empat bayangan hitam yang segera mengejar tiga orang pembawa Zhang Qiaofeng itu.


"Nona diculik!!" tiba-tiba terdengar teriakan keras. Agaknya karena jendela kamar Nona Zhang itu terbuka, sehingga suara teriakan itu menyebar keluar.


Hal ini berhasil membuat wajah empat orang itu memucat. Mau tak mau mereka harus menjalankan rencana selanjutnya. Yaitu menahan siapapun penghalang, karena memang tugas empat orang itulah untuk menahan atau bahkan melenyapkan siapapun penghalang keberhasilan tugas ini.


Akan tetapi, mereka segera mengetahui siapa adanya seseorang yang mengeluarkan pekik keras tadi. Siapa lagi kalau bukan Pendekar Hantu Kabut, pikir mereka. Karena selain kamarnya bersebelahan dengan Nona Zhang, ditambah kesaktiannya, tentu sedikit saja gerakan akan mampu membangunkannya.


Dan dugaan mereka ini memang tepat sekali, karena Lin Tian terbangun akibat sedikit suara teriakan yang belum terselesaikan dari Zhang Qiaofeng tadi.


"Bagaimana ini? Kabur?" tanya salah satu dari empat orang itu kepada kawannya. Jelas sekali di wajahnya itu tersirat ketakutan hebat.


"Tidak, kita harus menjalankan perintah sampai akhir bahkan dengan taruhan nyawa. Walaupun lawan kita adalah Pendekar Hantu Kabut sekalipun, dan mustahil sekali untuk mengalahkannya sungguh pun kita bertujuh menyerang bersama, namun....jika kita tak menjalankan perintah, mungkin akibatnya akan lebih buruk lagi ketimbang mati di tangan pendekar itu." sahut temannya.


Diam-diam mereka setuju dengan pendapat itu. Maka dengan ketakutan luar biasa, mereka berempat segera mencabut golok masing-masing dan menghentikan langkah, membalikkan badan untuk menghadapi serangan lawan yang tentu akan segera datang.


Benar saja, belum juga satu detik tubuh mereka berbalik, dari depan nampak bayangan putih yang langsung mengirim sebuah serangan kuat kearah salah satu dari mereka.


"Uaaghh!!" orang itu terpental dan berguling-guling ke belakang. Golok yang digunakan untuk menangkis tadi sudah hancur menjadi potongan kecil-kecil.


"P-Pendekar...Hantu....Kabut...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2