
Memang dasar gadis bandel yang berkepala keras, Zhang Qiaofeng yang mendengar akan pemilihan ketua baru Iblis Tiada Banding menjadi penasaran sekali. Dia tahu hal ini berbahaya namun tetap saja egonya mengatakan bahwa dia harus pergi ke sana.
Apalagi ditambah akan nasibnya yang harus menjadi istri Kauw Jin, membuat pikirannya frustasi sekali. Di tengah kejenuhan pikirannya, dia ingin mencari hiburan di luar markas barang sejenak. Maka tanpa pamit, gadis ini memutuskan untuk pergi ke pemilihan ketua baru Iblis Tiada Banding sungguh pun hal itu seperti bunuh diri.
Namun Zhang Qiaofeng cukup yakin dengan kemampuannya, maka jika di sana dia mendapat masalah, maka dia sudah terpikirkan cara untuk melarikan diri.
Tak lupa pula dia meninggalkan surat di kamarnya yang ditujukan kepada siapa pun yang melihat. Ketika salah satu pelayannya masuk ke kamarnya yang kosong dan menemukan secarik surat, dia membacanya dan betapa terkejut hatinya mengetahui isi dari surat itu.
Aku pergi untuk beberapa waktu ke depan, jangan ada yang mencari.
Demikian isi surat singkat itu dan berhasil menggemparkan seluruh keluarga Zhang bahkan para pejuang menjadi geger. Mereka lalu menghubung-hubungkan kepergiannya dengan berita yang sedang hangat baru-baru ini, yaitu pernikahan nona Zhang. Mereka berpikir bahwa nona Zhang memilih kabur daripada diperistri oleh Kauw Jin.
Yang paling sengsara adalah Zhang Hongli dan Hantu Merah, juga Minghao merasa berduka sekali mendengar kepergian Zhang Qiaofeng yang begitu tiba-tiba ini.
"Mungkin benar....dia kabur dari pernikahan...." hanya ini yang menjadi dugaan Zhang Hongli, kemudian disetujui oleh Hantu Merah dan Minghao.
...****************...
Seorang gadis muda yang mungkin paling banyak berumur dua puluh tiga tahun, memakai pakaian seperti petani dan bercaping lebar. Walaupun pakaian petani, tapi gadis itu tidak membawa cangkul melainkan membawa sepasang belati di kanan dan kiri pinggangnya.
Siapa lagi kalau bukan Zhang Qiaofeng, bocah bandel yang kabur dari rumah itu. Sudah beberapa hari ini dia melakukan perjalanan dan hari ini, akhirnya dia sampai ke pantai Timur yang konon menjadi markas Iblis Tiada Banding.
Gadis ini naik ke salah satu bukit tinggi yang dapat melihat ke segala penjuru. Dari sini, tampak di kejauhan sana ada sebuah pulau panjang yang berwarna putih. Juga terlihat banyak sekali pohon tinggi besar yang amat rimbun dan beredempetan.
Di sekeliling pulau itu, terdapat pula beberapa pulau yang berbentuk sama namun dengan ukuran lebih kecil. Mengelilingi pulau itu seolah-olah mereka ini adalah anak pulau.
"Itukah pulau Tulang Naga yang menjadi markas mereka?"
Dia mengedarkan pandangannya dan melihat ada sebuah desa yang sekaligus menjadi pelabuhan. Terdapat banyak sekali perahu di sana yang sedang berlabuh maupun diperbaiki.
"Coba cari informasi di sana sajalah." bisiknya dan berjalan menuruni bukit itu. Tak lupa pula dia mengenakan sebuah cadar hitam yang menutupi setengah wajahnya. Tentu saja hal ini dia lakukan selama diperjalanan agar terhindar dari gangguan para hidung belang.
"Ayo cepat-cepat!!"
"Bugh!-Bugh!"
__ADS_1
Terdengar suara ribut-ribut di salah satu sudut desa yang terdapat beberapa orang sedang menggiring orang-orang desa. Tapi anehnya, tidak ada satu pun warga desa yang memandang ke sana, seolah mereka tak melihat saja. Semuanya sibuk melakukan kegiatan masing-masing tanpa berani menoleh.
Zhang Qiaofeng yang penasaran mencegat salah seorang nelayan lewat yang sedang membawa sekarung ikan. Dia bertanya sopan.
"Maaf paman, bolehkah aku tahu apa yang terjadi dengan orang-orang itu?"
Orang itu nampak ketakutan mendengar pertanyaan Zhang Qiaofeng, dia lalu mengajak Zhang Qiaofeng ke tempat yang sedikit jauh sebelum berbisik perlahan.
"Nona, kulihat wajahmu tampak asing, kau orang baru ya?"
"Benar paman."
Nelayan itu menoleh ke kanan dan kiri seolah memastikan tidak ada yang mendengar percakapan keduanya. Tentu saja gelagat nelayan itu membuat Zhang Qiaofeng bertanya-tanya dan bingung sekali.
"Ada apa paman?"
"Begini nona, akan kuberitahu karena kau adalah orang luar. Tapi jangan bertanya soal masalah ini ke lain orang! Selain bisa mencelakakanmu, hal itu juga bisa mencelakakan orang yang kau tanyai."
Zhang Qiaofeng mengerutkan kening bingung, tapi akhirnya dia hanya mengangguk untuk setuju karena sampai beberapa saat kemudian orang itu tak kunjung bicara.
"Mereka adalah para tawanan yang dipilih oleh Iblis Tiada Banding untuk kerja paksa di pulau itu. Tak ada yang mampu menolong mereka, karena siapa pun yang melakukan hal itu berarti nyawa melayang."
Zhang Qiaofeng mengalihkan pandangannya kearah orang-orang yang digiring itu. Tatapannya penuh rasa iba dan kasihan, dia sampai terkejut saat melihat gadis-gadis belasan tahun yang ikut dibawa. Apakah orang Iblis Tiada Banding adalah iblis sungguhan? Tanyanya dalam hati.
"Sudah hanya itu saja yang bisa kuberitahukan kepadamu, selebihnya aku tak berani. Sampai jumpa nona, harap kau jangan macam-macam dengan mereka." tanpa menunggu jawaban lagi, pelayan ini lalu pergi meninggalkan Zhang Qiaofeng yang memang tidak berniat menjawab.
"Kapan mereka akan berangkat? Aku bisa ikut ke dalam kapalnya." gumamnya.
Dia melihat bahwa gerombolan orang itu digiring naik ke atas sebuah kapal besar yang sangat mewah. Setelah orang-orang itu naik ke atas kapal, kapal tak segera berangkat. Entah apa yang dilakukan di dalamnya, Zhang Qiaofeng hanya mengamati saja.
"Sebaiknya tidak bersikap mencolok."
Setelah berpikir demikian, dia berkelebat dan bersembunyi di sebuah pohon tinggi besar, mengamati setiap gerak-gerik dari pasukan Iblis Tiada Banding yang berkeliling di sekitaran kapal itu.
...****************...
__ADS_1
Malam hari tiba dan agaknya saat inilah kapal itu akan berangkat. Terlihat para pasukan Iblis Tiada Banding mulai naik ke atas kapal dan perlahan-lahan kapal bergerak ke tengah.
"Sepertinya sekarang saatnya." Zhang Qiaofeng bangkit dan mengenakan cadar serta capingnya. Berkelebat cepat sekali yang tahu-tahu sudah berada dekat dengan kapal.
Ketika salah beberapa orang Iblis Tiada Banding yang belum melompat ke atas kapal menyadari kedatangannya, dia berseru.
"Hei–"
"Tuk-Tuk!"
Dua totokan dari Zhang Qiaofeng berhasil memebikin lumpuh tubuh mereka. Tanpa berkata-kata, gadis ini lalu membuang tubuhnya ke laut. Karena sedang dalam keadaan tertotok lumpuh, mereka tak bisa bergerak dan hanya bisa tenggelam lebih dalam.
"Kemana aku bisa menyelinap?" gumamnya memandang seluruh badan kapal yang seolah kokoh kuat tak bercelah itu.
Dia melihat layar besar sekali di atas sana yang nampak melembung terkena angin malam. Kapal mulai bergerak perlahan.
"Agaknya hanya di atas tiang layar itu saja tempat persembunyian yang sempurna." ucapnya sebelum menjejak tanah dan melompat tinggi seperti burung elang.
Dia menempel di lambung kapal, dengan pengerahan tenaga dalam di kaki, mudah saja dia menempel seperti katak. Kemudian Zhang Qiaofeng merangkak naik dan ketika sampai di pinggir dek kapal, kepalanya melongok untuk melihat keadaan.
"Ada lima belas orang...." gumamnya melihat lima belas orang itu kesemuanya berkumpul di kepala kapal dan sedang bercakap-cakap.
Ini kesempatan baik, pikirnya. Zhang Qiaofeng tahu-tahu sudah melambung tinggi dan menotol tiang besar itu sebanyak dua kali. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah terbang dan sampai di puncak tiang kapal.
Setelah itu, tubuhnya segera berkelebat dan duduk di tempat kecil yang berada di puncak. Tempat kecil itu biasa digunakan untuk melihat keadaan sekeliling menggunakan teropong.
Karena keadaan duduk dan semua orang ada di bawah, tentu saja tak ada yang tahu akan keberadaannya. Karena itulah, semalaman dia duduk santai di sana menikmati hembusan angin malam yang cukup dingin namun menenangkan.
"Aku sangat penasaran, entah apa yang kutemukan di sana, semoga saja bisa menjadi sebuah hiburan bagiku sebelum masuk ke gerbang penderitaan seumur hidup...."
Dia memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. "Hanya ada Lin Tian di sini...jika aku harus menikah dengan anak menteri itu, semoga aku bisa cepat mati...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1