Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 224. Pengintai


__ADS_3

"Trang-Tring-Cring!"


Senjata-senjata itu beradu dengan tongkat Lin Tian, namun tak ada satu pun dari senjata itu yang mampu menembus pertahanannya. Empat orang manusia terdekat dari lima puluh pasukan itu serentak melompat mundur dan memandang Lin Tian dengan terbelalak.


Nafasnya memburu dan matanya mendelik tajam. Heran dan juga penasaran menguasai hati mereka, bagaimana tidak, Lin Tian yang daritadi menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang mampu merobohkan mereka semua bahkan tanpa terluka sedikit pun!


Saat ini pun nafas pemuda itu masih nampak tenang-tenang saja dan belum terlihat setetes pun peluh di wajahnya. Berbeda dengan empat orang itu yang sudah seperti mandi keringat.


"Bagaimana, sudah lelah?" tanya Lin Tian sambil memainkan tongkatnya.


Empat orang itu lantas berseru dan kembali menerjang penuh kemarahan. Entah sudah keberapa kalinya mereka diejek dan direndahkan Lin Tian seperti itu, namun selalu saja menimbulkan rasa amarah yang tak tertahankan.


"Matilah!!"


"Syut-Syut-Wuut-Wuut!"


Dua pedang dan dua tombak pendek menerjang mengarah kepala, dada, dan punggung Lin Tian. Akan tetapi pemuda ini masih berdiri seenaknya seolah tak melihat semua serangan itu.


Empat orang ini seharusnya merasa senang, namun kejadian seperti ini sudah berulang-ulang terjadi sehingga mereka memilih untuk berwaspada akan gerakan Lin Tian.


Dan benar saja, saat keempat senjata itu kurang satu jengkal lagi mengoyak tubuh Lin Tian, pemuda ini tiba-tiba melambung tinggi dan berjungkir balik di atas sana.


"Sekarang!" seru salah seorang pengguna pedang memberi aba-aba.


Serentak empat orang itu mengacungkan senjatanya ke atas, seolah menunggu Lin Tian jatuh dan tertusuk-tusuk senjata mereka. Lin Tian sebenarnya juga sedikit kagum dan kaget menyaksikan rencana mereka, namun dia secepat kilat sudah mengerahkan tenaga dan melontarkannya ke bawah melalui kedua lengan.


"Hayaaa!" keempat orang ini berteriak kesakitan saat ada serangkum hawa panas menyambar dari atas. Otomatis mereka terpelanting ke sana-sini dalam keadaan senjata terlepas dan tubuh yang seperti gosong. Empat orang ini mati saat itu juga.


"Hm...terlalu arogan kalian." bisik Lin Tian memandangi puluhan mayat itu. Kemudian tanpa berkata-kata lagi, dia mengerahkan ilmu lari cepatnya untuk pergi ke Timur, menuju markas Iblis Tiada Banding.


...****************...

__ADS_1


Sebenarnya Zhi Yang, Yuan Fei dan Rouwei tidak benar-benar pergi. Mereka diam-diam mengamati jalannya pertarungan dari balik semak dan pohon tinggi di tempat yang agak berjauhan.


Mereka memandang pucat karena ngeri mengetahui Lin Tian dikeroyok begitu banyaknya orang. Apalagi mereka adalah anggota tingkat atas Iblis Tiada Banding. Berkali-kali Zhi Yang ingin melesat ke sana dan membantu, namun adik dan ayahnya selalu menahan.


Hingga ketika beberapa menit berselang, Lin Tian mampu meratakan mereka semua tanpa adanya luka sedikit pun. Benar-benar membuat tiga orang ini terperangah namun diam-diam mereka merasa lega karena Lin Tian berhasil selamat.


Saat pemuda itu melakukan pertarungan sengit melawan empat orang terkuat dan terakhir, ekor mata Zhi Yang menangkap siluet seorang pria yang mengintai dari balik pohon-pohon. Pria itu memandang pertempuran di sana dengan penuh perhatian.


"Orang Iblis Tiada Banding kah itu?" Zhi Yang bertanya kepada Yuan Fei yang juga menyadari kehadiran pria tersebut.


"Kemungkinan besar. Melihat dari seragam dan wajah buruknya itu, sepertinya benar."


"Dia mengintai Lin Tian dan agaknya sedang mengawasi untuk kemudian dilaporkan kepada atasannya, ini bahaya! Aku harus membunuhnya!"


Tanpa menunggu respon Yuan Fei, Zhi Yang sudah melesat cepat menuju pria tersebut. Ketika sampai dekat, tangan kanannya berkelebat dan meluncurlah beberapa jarum beracun halus menuju punggung pria itu.


"Aihh!" orang itu memekik dan menghindar. Kemudian memandang tajam Zhi Yang.


"Hantu Seratus Lengan! Panggil saja begitu!"


Zhi Yang memusatkan tenaga di kaki dan menerjang orang tersebut. Dua belati sudah digenggamnya erat di kedua tangan, gadis ini menerjang hebat dan membuat musuh repot tak karuan.


Zhi Yang memang sudah kehilangan kemampuan racunnya, lebih tepatnya tak boleh menggunakan kemampuan itu karena racun Tapak Api. Namun dia tidaklah kehilangan kemampuan dan kepandaiannya sebagai Hantu Seratus Lengan, maka kecepatan gerak dan daya serangnya seperti Zhi Yang yang belum mempelajari kitab Seribu Racun Dunia.


Sepasang belati di tangan Zhi Yang berubah menjadi gulungan sinar-sinar lebar yang mengancam bagian-bagian berbahaya. Lelaki itu kebetulan tak membawa senjata dan hanya mengandalkan tangan kosong serta ilmu meringankan tubuhnya saja.


Maka dia kerepotan sekali karena tidak mampu membalas setiap serangan Zhi Yang. Namun beruntungnya ilmu meringankan tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Zhi Yang sehingga dia selalu bisa menghindar.


Menginjak jurus ke sepuluh, Zhi Yang yang mulai geram serangannya selalu dihindari membuat gerakan menggunting. Sepasang belatinya itu ia tebaskan secara bersamaan dari kanan dan kiri leher lawan.


"Woah, nona cantik galak benar!" orang itu mampu menghindar akan tetapi masih sempat mengirim godaan.

__ADS_1


"Bedebah!" Zhi yang melakukan gerakan membacok. Lelaki itu miringkan kepala dan menggerakkan tangan kiri membentuk cengkeraman, mencoba menangkap pergelangan tangan Zhi Yang.


Tentu saja Zhi Yang tak sudi dipegang-pegang, maka lekas dia menarik tangannya dan mengirim tendangan kilat dengan lututnya.


"Dess!" sekali ini tendangan penuh tenaga dari Zhi Yang berhasil mendarat di tubuh lawan dan menerbangkannya seperti daun kering.


Zhi Yang mengejar, namun ternyata dia telah tertipu karena pria itu sengaja meminjam daya lontar serangan Zhi Yang untuk kemudian dia gunakan melarikan diri.


Gadis ini terus mengejar, namun pria tersebut berlari tak tentu arah. Kadang ke kanan, atau ke kiri, tak jarang pula malah berputar-putar di pohon tinggi besar.


Saat mencapai tikungan, Zhi Yang lekas membayangi namun terlambat, ketika dirinya berbelok pria tersebut sudah tidak ada.


Zhi Yang berpikir bahwa lawannya bersembunyi di balik daun-daun pohon atasnya. Sontak dia menoleh ke atas dan mencari-cari.


"Tidak ada...." gumamnya tak menemukan musuhnya itu.


"Sial!" dengan jengkel Zhi Yang membanting kaki dan kembali ke tempat Yuan Fei serta adiknya berada.


"Dia lolos dan ini berbahaya sekali." ucap Zhi Yang dengan wajah cemas.


"Lalu, bagaimana kalau kita susul saja. Lin Tian pasti belum jauh." usul Yuan Fei.


Zhi Yang mencoba berpikir sejenak dan memang itulah jalan satu-satunya yang terbaik untuk menyelamatkan Lin Tian. Dia benar-benar khawatir bahwa pria yang lolos tersebut memberitahukan apa yang dilihatnya kepada atasannya dan membuat Lin Tian serta ayah adiknya dalam bahaya. Maka dia mengangguk dan berkata.


"Itu yang terbaik, ayo kita lekas kejar!"


Yuan Fei segera menggendong adiknya di punggung dan bersama Zhi Yang, dia melesat kearah dimana Lin Tian pergi. Ke arah Timur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2