
"Dia kalau tidak salah adalah salah satu petinggi Asosiasi Golongan Hitam." ucap Chu Wei dengan wajah yang menyiratkan sedikit ketakutan.
Wajah Zhang Hongli makin merah, menandakan bahwa dirinya makin marah.
Sedangkan di atas arena, Ling Shi sudah membungkukkan badan kepada orang itu dengan sikap hormat sekali karena nyawanya telah tertolong.
"Terima kasih saya ucapkan kepada Senior." ucap Ling Shi sambil menundukkan badan.
Tiba-tiba, perkataan Chu Wei terlintas di benak Zhang Hongli. Maka kakek ini cepat berkata, "Hei apa-apaan ini!? Mengapa seorang petinggi Aliansi Golongan Hitam membela perguruan Tongkat Bambu Kuning!? Coba kau jelaskan Raja Tongkat!!"
Begitu ucapan ini selesai, guru Lin Tian itu langsung melompat ke atas arena, berdiri tegak dengan mata tajam dan senyum menyeringai, memandang kearah mereka berdua.
"Apa? Petinggi Aliansi Golongan Hitam?"
"Yang benar saja!??"
"Ternyata benar, sekarang perguruan Tongkat Bambu Kuning ini sudah dipenuhi dengan para penjahat!"
Terdengar para penonton berkomentar mengenai ucapan Zhang Hongli barusan. Tentu saja untuk mereka yang berasal dari golongan putih menjadi terkejut dan marah. Pasalnya, sebuah perguruan yang selama ini mereka tahu dengan sepak terjangnya yang gagah dan terhormat, ternyata sudah berani bersekutu dengan musuh besar mereka.
Untuk para pendekar yang berasal dari golongan hitam juga tak mau kalah, mereka bahkan sudah mencabut senjata dan mengacungkannya tinggi-tinggi.
"Tak peduli dipenuhi penjahat atau apapun, intinya perguruan ini terasa semakin kuat setelah orang-orang sok bersih dan sok alim seperti kalian angkat kaki dari sini!!" teriak salah satu murid perguruan Tongkat Bambu Kuning.
"Walaupun berasal dari golongan putih, jangan kira kalian bisa asal merendahkan dan mengolok-olok golongan kami!!"
"Jika kalian seorang gagah, selesaikan masalah ini dengan adu senjata dan pukulan!! Apa kalian berani hah!!?" bentak salah seorang pendekar golongan hitam yang bersenjata pedang besar.
Ling Shi dan seluruh tamu kehormatan juga para petinggi perguruan menjadi merah sekali mukanya. Mereka merasa sangat murka dan marah dengan perkataan Zhang Hongli yang seenaknya itu.
Mereka juga heran, karena walau kabar akan keadaan perguruan Tongkat Bambu Kuning yang dipenuhi dengan para penjahat sudah menyebar luas, akan tetapi mereka yakin benar bahwa tidak ada satu informasi pun yang mengatakan jika para penjahat itu adalah orang dari Aliansi Golongan Hitam. Sekarang melihat betapa kakek tua renta ini mengetahui hal tersebut, tentu saja kagetlah hati mereka.
Setelah ucapan Zhang Hongli tersebut, para petinggi perguruan serta tamu terhormat dan orang-orang yang berada di atas panggung, tidak ada yang berbicara. Mereka semua hanya diam dan memandang tajam satu sama lain.
"Guru dan murid sialan, akan kubunuh kalian!!" batin Ling Shi.
"Bedebah!!! bagaimana dia bisa tahu jika aku adalah orang dari Aliansi?" batin penyelamat Ling Shi itu.
Percecokan di pihak para penonton semakin memanas. Bahkan sudah ada satu dua orang yang mulai saling pukul. Mereka semua membela golongan masing-masing, saling berdebat untuk membuktikan siapa yang lebih benar.
Kakek tua yang sedari tadi duduk diam di kursi yang paling megah itu, perlahan-lahan bangkit berdiri. Kakek ini mungkin sudah berusia tujuh puluh tahunan, tubuhnya kurus kering akan tetapi matanya itu sangat jernih dan cerah, menandakan bahwa tingkat tenaga dalamnya sudah berada pada level yang sangat tinggi.
Bajunya mewah sekali. Berwarna kuning keemasan dengan hiasan lukisan burung Hong di dadanya. Kepala yang jarang berambut itu ditutup dengan sebuah topi yang hampir mirip seperti topi-topi seorang kaisar. Jika orang hanya melihat sekilas, tentu mereka mengira kakek satu ini adalah seorang kaisar. Dia inilah pimpinan perguruan Tongkat Bambu Kuning, Feng Hu.
Begitu dirinya sudah bangkit sepenuhnya, tangan kirinya bergerak keatas disusul dengan ucapannya yang perlahan akan tetapi sangat berwibawa.
"Semuanya, diam!"
Seketika, umpatan dan bentakan yang sebelumnya terdengar disana-sini langsung lenyap, digantikan dengan keheningan yang teramat hening.
"Dengar...daripada kita ribut-ribut untuk membela hitam dan putih, lebih baik kita tentukan dengan cara seorang pendekar. Bagaimana kalau kita mengajukan empat orang dari setiap golongan untuk bertanding di atas arena. Golongan yang paling banyak menangnya, dia lah yang menang. Apa kalian setuju?" kata Feng Hu.
"Setuju!!" sebuah suara menyahut dari arah paling belakang kerumunan penonton.
__ADS_1
"Nah, seperti itu baru jantan dan adil namanya!! Setuju!!" seru seorang pria yang sedari awal pertandingan, menonton dari atas pohon.
"Ya setuju!!"
"Setuju!!"
Belum juga gema suara Feng Hu menghilang, para penonton itu sudah saling sahut menyahut menjawab tawaran Feng Hu.
Kembali Feng Hu mengangkat tangan dan berkata. "Kalau begitu, siapakah jagoan yang hendak kalian ajukan?" tanya Feng Hu kepada orang-orang golongan putih.
Jelas sekali kakek tua itu sudah berpikir kotor dan licik. Dia tentu hendak melihat para jagoan pendekar golongan putih, lalu dia akan memilih perwakilannya untuk menyesuaikan dengan keadaan lawan.
Hal ini tidak luput dari mata jeli milik Zhang Hongli. Maka, cepat dia berkata lantang, "Aku dan muridku akan menjadi perwakilan golongan putih!!!"
Kali ini Lin Tian tidak menjawab, agaknya pemuda ini sangat setuju dengan usul gurunya.
"Aku akan maju!!" ucap sebuah suara serak yang terdengar sangat menyeramkan. Bahkan beberapa orang yang ada di sana, berdiri bulu kuduknya begitu mendengar suara ini.
Sedetik kemudian, berkelebat bayangan hitam yang langsung berdiri tepat di samping Lin Tian. Pemuda ini pun juga terkejut akan kehadiran si pemilik suara.
Dia adalah seseorang yang berpakaian hitam dari ujung rambut sampai kakinya, bahkan rambutnya pun tak tampak karena tertutup tudung jubahnya.
Wajahnya itulah yang paling mengerikan, memakai sebuah topeng tengkorak yang juga sama-sama berwarna hitam.
"Aku adalah orang ketiga dari pihak golongan putih." kembali suara menyeramkan itu terdengar.
Melihat munculnya orang aneh itu, Feng Hu diam-diam bersikap waspada. Detik berikutnya, dia kembali berkata. Nadanya masih sama, terdengar sangat tenang dan penuh kesabaran.
Hening...tak ada satupun orang yang berani menanggapi ucapan itu sebelum tiba-tiba ada satu orang lagi yang sudah naik ke atas panggung.
Dia adalah seorang pria paruh baya yang berumur empat puluh tahun dengan pakaian sederhana ala petani. Tak lupa pula sebuah topi lebar nan butut menutupi kepalanya.
"Aku orang keempat!!" ucapnya lantang dan singkat.
"Baiklah..." jawab Feng Hu seraya tersenyum sinis. Agaknya kakek tua ini memandang sebelah mata kepada empat orang musuhnya itu.
Lalu sekali menggerakkan tangan memberi tanda, berturut-turut tiga orang yang sebelumnya duduk di kursi para petinggi melesat cepat naik ke atas panggung.
"Kami akan menjadi perwakilan golongan hitam!!" ucap ketiga orang itu serempak.
"Aku juga dihitung." celetuk seorang pria menyeramkan yang tadi telah menyelamatkan Ling Shi.
"Baiklah, mari kita mulai! Siapa yang akan maju duluan!?" tanya Feng Hu begitu Ling Shi, muridnya sudah kembali ke tempat duduk.
"Aku!!" jawab seorang pria petani.
"Heheh...aku lawannya." ucap salah satu petinggi perguruan Tongkat Bambu Kuning.
Seperti dikomando, semua orang selain dua orang itu langsung melompat turun dari atas arena untuk memberi mereka ruang.
"Mulai!!" teriak Feng Hu memberi aba-aba.
Tanpa basa-basi lagi, kedua orang itupun sudah melesat maju beradu jurus.
__ADS_1
...****************...
"Dasar pengecut hina dina!! tidak ada kesepakatan diantara kita yang boleh membunuh!!" teriak salah seorang pendekar golongan putih.
"Tapi juga tidak ada kesepakatan yang melarang kita untuk saling bunuh kan? Hehe..." ucap petinggi perguruan Tongkat Bambu Kuning yang sedang berdiri santai di depan mayat si pendekar petani.
Memang pendekar petani itu telah mati terpenggal di tangan petinggi tersebut. Tentu saja hal ini kembali membuat kericuhan diantara pihak penonton. Bagi mereka yang golongan putih, sudah pasti merasa tidak terima atas tindakan itu. Sedangkan bagi mereka yang golongan hitam, mereka merasa bangga dengan sikap dan kekejaman petinggi tersebut.
"Bedebah....kau-" ucap salah seorang pendekar yang sudah mencabur pedangnya, bersiap hendak menyerbu dan mengadu nyawa dengan petinggi sombong itu.
"Aaarrghh!!!"
Namun sebelum pendekar itu sempat meloncat dan menyerang, petinggi perguruan tuan rumah itu sudah berteriak kesakitan dan roboh binasa dengan kondisi leher yang berlubang.
Ketiga perwakilan golongan hitam lain menjadi kaget setengah mati. Ketika memandang lebih teliti, ternyata lubang di leher itu disebabkan oleh sebuah pisau kecil yang langsung melesak masuk menembus leher korban.
"Hmph!! Dasar anjing rendahan, siapa berikutnya!?" ucap pendekar bertopeng tengkorak yang sudah melompat keatas dan menendang mayat petinggi itu dengan acuh. Sedangkan untuk mayat petani tadi, ia angkat secara perlahan dan memberikannya kepada teman-teman segolongan.
Begitu ucapannya berhenti, menyambar angin dahsyat yang langsung mengarah wajahnya. Pendekar ini hanya mendengus dan memapaki angin itu dengan pukulan yang tak kalah kuat.
"Bummm!!"
Terdengar sebuah ledakan ketika dua tenaga besar beradu. Sedetik kemudian, pendekar topeng tengkorak sudah melesat maju dengan ketiga pisau ditangannya, dan salah satu petinggi perguruan Tongkat Bambu Kuning itu sudah pula melsat maju dengan pedang melintang di depan dada.
Sebentar saja, terjadilah pertaruangan yang sangat hebat dan menegangkan. Kiranya pendekar tengkorak itulah yang telah menyambitkan pisaunya untuk membunuh orang sebelumnya.
Hal ini terlihat jelas dengan pola serangannya yang menggunakan pisau dan sesekali pisau itu ia lempar sungguhpun dalam keadaan dekat.
Seratus jurus berlalu. Ketika menginjak ke jurus seratus sepuluh, pendekar tengkorak itu mengeluarkan seruan nyaring dan secara tiba-tiba, delapan buah pisau dari balik lengan jubahnya melesat dengan kecepatan tinggi menuju setiap jalan darah mematikan milik lawan.
Melihat serangan berbahaya ini, pria berumur tiga puluh tahunan itu dengan gerakan refleks yang sudah terlatih, membuang diri ke samping sembari mengerjakan tangannya menangkis.
"Trang-trang-trang"
Tiga buah pisau jatuh berkerontangan dan sisanya hanya menyerang angin saja.
Namun sebelum kedudukan pria itu kembali sempurna, pendekar tengkorak itu ternyata sudah berada di belakangnya dan siap menusuk lehernya.
"Apa!? Sialan!!" teriak pria itu setengah terkejut, setengah marah.
Maka cepat dia memutar pedang dan ingin membabat putus leher pendekar tengkorak itu. Akan tetapi ternyata gerakannya ini masih kalah cepat dengan gerakan tangan kiri musuhnya yang sudah menancapkan sebilah pisau ke jantungnya.
"Craapp....Aaakkhh!!"
Terdengar pekik kematian dan robohlah orang itu. Kembali perguruan Tongkat Bambu Kuning harus kehilangan salah seorang petinggi yang cukup berharga.
Kejadian ini membuat Feng Hu menggertakkan giginya akibat amarah yang sudah meluap-luap bagaikan letusan gunung berapi.
"Bunuh dia...." ucapnya perlahan memberi perintah kepada dua orang perwakilan lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1