Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 67. Masalah Baru


__ADS_3

Seminggu berlalu, dan gegerlah dunia persilatan dengan sebuah berita menggemparkan yang tak terduga-duga. Berita akan hancurnya Perguruan Tongkat Bambu Kuning!


Yang lebih membuat geger lagi adalah, tentang sosok dibalik hancurnya perguruan besar itu. Banyak orang bilang, jika perguruan ini runtuh setelah diobrak-abrik oleh satu orang. Ya!! Satu orang!!


Bahkan, di sana terdapat pula tokoh dunia putih yang baru-baru ini muncul. Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Hantu Kabut dan Hantu Seratus Lengan. Kedua nama pendekar hantu ini sudah dikenal kira-kira sejak setahun lalu.


"Apa? Satu orang pria tua? Dia mampu membunuh Iblis Lengan Delapan dan belasan tetua serta tamu kehormatan Perguruan Tongkat Bambu Kuning!? Benar-benar gila!!" ucap seorang lelaki muda kepada teman semejanya di sebuah kedai makan.


"Aku juga percaya tidak percaya, akan tetapi, aku sempat mendengar jika perguruan itu sudah diisi dengan orang-orang dunia hitam. Jika benar, baguslah kalu perguran itu sudah hancur, satu ancaman besar dunia persilatan sudah musnah." jawab temannya setelah sebelumnya menenggak arak wanginya.


Kedai ini adalah salah satu dari sekian banyak kedai makan di kota Emas, ibukota Kekaisaran Chu.


Tidak hanya di dalam kedai-kedai makan saja, bahkan para penduduk yang sedang berada di pasar, jalanan, halaman rumah bahkan di sawah pun juga sibuk membicarakan berita hangat itu. Mereka seakan-akan masih belum percaya akan kehancuran perguruan besar yang terkenal dengan kegagahannya itu.


Sedangkan untuk kedua pemuda yang asyik mengobrol seraya menikmati hidangan kedai itu, sampai saat ini masih belum berhenti menggosip tentang hancurnya perguruan tersebut.


Kedai ini bernama Kedai Makan Pelancong. Mengapa diberi nama demikian? Karena pendiri kedai ini menginginkan agar masakannya bisa dinikmati oleh lidah semua orang, apalagi para pelancong yang tak jarang berasal dari sebuah tempat jauh.


Saat ini di dalam Kedai Makan Pelancong, di depan semua orang duduk seorang pria tampan yang kira-kira berumur tiga puluhan tahun. Dia berwajah tampan dengan kulit putih bersih dan di dagunya terdapat sedikit jenggot tipis. Alisnya panjang dan tajam, mebayangkan kegagahan dan wibawa, matanya yang sedikit berwarna kebiru-biruan itu menambah kadar ketampanan pria tersebut.


Orang ini berpakaian sastrawan, dengan kerah dan ujung baju berwarna emas. Di jubahnya juga tergambar seekor burung merak emas yang sangat indah dan menawan.


Di pangkuannya, terdapat sebuah alat musik yang-khim yang sedari tadi sibuk ia petik-petik untuk menghasilkan suara halus merdu mengiringi nyanyian syairnya.


Dia ini bukan tidak terkenal dikalangan para penonton itu bahkan dikalangan dunia persilatan pula. Pria ini adalah seorang jenius yang pandai ilmu sastra sekaligus ilmu silat, maka di dunia persilatan, orang mengenalnya sebagai Sastrawan Sakti.

__ADS_1


Saat ini di Kedai Makan Pelancong, dirinya secara sukarela memohon kepada pemilik kedai supanya dia diperbolehkan untuk menyanyikam satu dua syair dahadapan para pengunjung. Tentu saja pemilik kedai yang juga tahu tentang Sastrawan Sakti ini dengan hati senang langsung menyanggupi permintaan itu.


Dan sekarang, dia sedang menyanyikan syair buatannya sendiri yang menceritakan sebuah kisah yang baru-baru ini ramai diperbincangkan orang. Kisah itu adalah kisah tentang peristiwa Runtuhnya Tongkat Budiman.


Memang sesungguhnya Sastrawan Sakti ini berada di tempat kejadian begitu peristiwa itu terjadi. Dia sudah melihat semuanya dari awal sampai akhir tanpa ketinggalan sedikitpun. Maka dari itu, dia membuat syair ini supaya kelak peristiwa besar itu dapat dikenal oleh generasi mendatang.


Beberapa menit kemudian, permainan yang-khim yang teramat merdu itu berhenti, begitupun dengan suara sang penyanyi yang ikut menghentikan suaranya.


Seketika, pecahlah suara tepuk tangan dan sorak sorai penonton. Mereka benar-benar dibuat seperti melayang di angkasa begitu mendengar setiap petikan alat musik yang-khim orang tersebut.


Orang ini lalu bangkit berdiri, menggendong yang-khimnya di pundak lalu menjura seraya berkata halus, "Terima kasih kepada saudara sekalian. Semoga semua orang merasa terhibur dengan permainanku."


Setelah itu, Sastrawan Sakti ini turun dari panggung dan pergi meninggalkan kedai dengan iring-iringan tepuk tangan semua pengunjung.


...****************...


Mereka duduk-duduk santai di atas sebuah rumput tebal sembari mulut mereka terus bergerak untuk mengunyah sepotong daging kelinci di tangan masing-masing.


Mereka ini tak lain adalah Zhang Hongli, Lin Tian beserta dua orang kakak beradik Chu itu. Saat ini sudah satu minggu lebih tiga hari terlewat dan sisa empat hari lagi untuk bisa sampai di ibukota.


Waktu itu sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk mengetahui kabar dunia persilatan yang sedang gempar-gemparnya membicarakan runtuhnya Perguruan Tongkat Bambu Kuning. Mereka tak heran akan hal ini karena sudah menduga sedari awal, apalagi mengingat aksi Zhang Hongli yang sengaja meminta tolong kepada para sastrwan dan pedagang untuk menyebarkan berita tentang peristiwa tersebut.


"Kita sudah dekat, kalau tidak ada hambatan, seharusnya empat hari lagi sudah sampai di ibukota." kata Zhang Hongli tiba-tiba sesaat setelah membuang daging kelinci santapannya.


"Guru, apa tidak apa-apa soal tersebarnya berita kita yang telah menghancurkan Perguruan Tongkat Bambu Kuning? Apalagi dengan guru, sudah pasti guru akan menjadi incaran mereka, terutama Aliansi Golongan Hitam." ucap Lin Tian cemas.

__ADS_1


"Hahah...kenapa, kau takut? Seorang lelaki harus berani berbuat dan berani tanggung jawab!! Jika seandainya mereka datang hendak menuntut balas, biarlah mereka datang dan akan kulayani semua keinginan mereka!!" jawab Zhang Hongli dengan tawa bergelak seakan-akan permasalahn itu hanyalah masalah sepele.


"Tapi guru..."


"Haha....benarkan apa kataku, mereka datang!"


Begitu ucapan ini berhenti, berangsur-angsur keluar puluhan orang dari dalam semak belukar. Mereka ini berpakaian hitam-hitam dan berwajah bengis.


Seketika, Lin Tian, Chu Wei, dan Chu Rou sudah bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda. Lin Tian sudah bersiap dengan Ilmu Silat Halimun Sakti miliknya. Chu bersaudara sudah siap dengan pedang baru yang mereka beli di kota Giok beberapa waktu lalu.


Hanya Zhang Hongli lah yang masih nampak santai dan acuh. Kakek ini masih sama seperti tadi, duduk tenang sambil memandang sekeliling seolah-olah dia tidak paham tentang apa yang sedang terjadi.


Beberapa detik kemudian, muncul seorang pria tinggi besar berjenggot lebat dan membentak, "Akhirnya ketemu juga kalian. Siapa kalian hingga berani membantai tetua kami, Aliansi Golongan Hitam!?"


"Siapa kami tak penting!! Intinya, untuk apa kalian para pendekar Aliansi Golongan Hitam datang kemari dan tiba-tiba membentak marah? Bukankah lebih enak jikalau kita bicarakan baik-baik?" kata Zhang Hongli ramah sambil menyunggingkan senyum.


Si brewok tadi menjadi marah, lalu kembali membentak, "Heh tua bangka!! Jangan pura-pura tidak tahu dan menghindar dari kenyataan!! Kau kan orangnya, yang telah membunuhi sembilan tetua kami beserta seluruh petinggi sahabat kami!?"


Zhang Hongli mengerutkan kening, sengaja memasang tampang bodoh.


"Sahabat kalian? Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Perguruan Tongkat Bambu Kuning yang telah kau jatuhkan itu!! Ahhh...tak usah banyak basa-basi, semuanya tangkap mereka!!!" balas si brewok ini yang makin marah dan kemudian memerintahkan anak buahnya menyerang.


"Selalu saja merepotkanku!!!" batin Lin Tian mandongkol akan sikap gurunya yang selalu suka bikin ribut itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2