Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 158. Kedatangan Pasukan Musuh


__ADS_3

"Eh...jadi begitu. Terima kasih Nona Zhang!!" ucap Song Qian. Di akhir kalimat dia sudah berlutut di hadapan gadis tersebut. Melihat Song Qian berlutut, Fen Lian ikut berlutut pula.


"Andai saja saat Lin Tian menebas kalian dan kalian menghindar, dia akan benar-benar membunuh kalian." kata Zhang Qiaofeng.


"Yah...tapi sepertinya sumpah kalian bukan sekedar ucapan kosong belaka. Jadi aku hargai itu, kalian diterima sebagai anggota keluarga kami. Jika kakek gila itu mencari kalian, seluruh keluarga Zhang akan hadapi." lanjutnya yang sedikit mencela si Golok Penghancur Gunung.


"Kenapa kalian masih berlutut begitu? bangkit dan jangan bersikap terlalu menghormat seperti itu!" tegur Zhang Qiaofeng melihat dua orang di hadapannya sama sekali belum bangun dari berlututnya.


Song Qian dan Fen Lian bangkit dengan sedikit malu-malu. Jujur saja mereka merasa malu sendiri kareja berpikir jika sekarang sudah berada di neraka, juga malu sekali karena mengira Lin Tian dan Zhang Qiaofeng sudah mati pula.


"Nona, karena informasi akan kitab itu sudah diketahui dari mereka berdua, bagaimana baiknya sekarang? Kembali lagi ke perkumpulan Bunga Teratai dan memberitahu Tuan Cin?" Lin Tian bertanya.


Zhang Qiaofeng kelihatan berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku sudah memikirkan soal itu. Lebih baik kita pulang terlebih dahulu untuk mengabari mereka malalui burung pengantar surat milik paman Minghao."


Lin Tian mengangguk-angguk setuju, kemudian pandangannya beralih kepada Song Qian dan Fen Lian. "Istirahatlah, kita akan berangakt pagi-pagi besok."


Dua wanita itu mengangguk dan segera merebahkan diri memunggungi api unggun. Sebentar saja sudah tidur terlelap.


...****************...


Zhang Hongli, pemimpin terdahulu dari keluarga Zhang itu benar-benar dalam kondisi yang memprihatinkan. Rambutnya awut-awutnya, kelopak matanya menghitam dan keriputan di wajahnya seakan bertambah banyak.


Saat ini dia sedang duduk lesu di ruangan Zhang Qiaofeng. Terdapat secangkir teh yang sudah dingin di meja depannya, matanya terbuka dan menutup seperti orang ngantuk.


Inilah salah satu alasan yang membuat Zhang Hongli tidak ingin diangkat sebagai pemimpin kala itu, dan lebih memilih cucunya untuk mengisi posisi pemimpin. Dia benar-benar sangat malas untuk mengurusi segala macam urusan pemimpin keluarga.


Dia berniat untuk menghabiskan masa tua di keluarga Zhang bersama cucunya. Hidup damai jauh dari segala kepusingan untuk memimpin keluarga. Tapi setelah kepergian Zhang Qiaofeng yang cukup lama untuk membantu usaha Hu Tao, Zhang Hongli mau tak mau harus memegang tampuk kepemimpinan keluarga Zhang.


Begitu mendengar berita akan kembalinya Minghao, dia menjadi senang sekali dan segera menyambut ke gerbang depan. Dalam prasangkanya, Zhang Hongli menduga bahwa cucu kesayangannya itu sudah pulang. Akan tetapi wajahnya segera berubah ketika kakek tua ini tiba di pintu gerbang.


Dia melihat Minghao dan Lu Jia Li bersama lima puluhan pasukan Zhang dari kejauhan. Namun dia sama sekali tidak melihat cucu dan pengawalnya. Hal ini membuat dia mengerutkan kening. Maka segera tanpa sambutan atau apa pun, dia segera bertanya.


"Dimana cucuku?" tanya kakek ini dengan tatapan menyelidik sambil melongok-longok kearah pasukan. Mencari keberadaan gadis cantik yang menjadi cucunya itu.

__ADS_1


Minghao hanya mampu menghela nafas panjang sebelum menjawab lemah.


"Nona tidak ikut pulang Tuan. Nona bersama Lin Tian pergi bersama seorang anggota perkumpulan pengemis Bunga Teratai. Mereka mencari sebuah kitab yang dicuri Sin Nia."


"Hm, kitab apakah itu?"


"Entahlah, intinya kitab itu sangat berharga bagi perkumpulan Bunga Teratai."


Wajah Zhang Hongli sedikit berubah begitu mendengar laporan ini. Lu Jia Li dan Minghao juga dapat melihatnya jelas. Namun hanya sebentar saja ekspresi aneh itu sebelum tiba-tiba kakek ini tertawa keras.


"Hahaha...kalau ada Lin Tian aku tidak perlu khawatir. Hei Minghao, mulai sekarang kau menggantikan aku untuk mengurusi segala permasalahan keluarga!! Sampai cucuku pulang, kau akan mengurus semuanya."


"Apa? Bagaimana bisa begitu!?" Minghao membantah keras.


"Tentu saja bisa!! Aku kakek kandung Nonamu, aku juga tetua pertama, aku juga mantan pemimpin terdahulu, aku juga keturunan langsung dari pemimpin keluarga Zhang. Nah, kau hendak membantah dengan apa!!??" tantang kakek itu bersungut-sungut dengan mata melotot lebar.


Mulut Minghao membuka dan menutup, hendak membantah tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Memang semua itu faktanya, bahwa dia sama sekali tidak punya alasan untuk membantah kakek di hadapannya ini. Maka setelah menghela nafas beberapa kali, dia akhirnya menyetujui tugas merepotkan itu.


...****************...


Damai sekali rasanya ketika dirinya berhasil terbebas dari cengkeraman tugas kepemimpinan. Setelah tugas itu diserahkan kepada Minghao, kakek ini bisa kembali menikmati kehidupan tuanya yang damai.


Memang beginilah Zhang Hongli, dia menjadi tetua pertama keluarga Zhang, namun selain melatih anak-anak murid baru rekrutan keluarga Hu dan Xiao, hampir tidak ada pekerjaan lain yang dia lakukan. Mungkin memancing atau sesekali bersemedi untuk menghimpun tenaga dalam.


Sama halnya dengan hari ini, dia sudah memerintahkan murid-muridnya untuk berlatih mandiri sesuai dengan petunjuk yang dia berikan. Sehingga hari ini dia bisa bersantai sepanjang hari.


"Hah...damai sekali." gumamnya sambil memejamakan mata untuk menikmati angin semilir di sekitar.


Setelah beberapa lama, agaknya kedamaian yang Zhang Hongli harus berakhir. Telinganya yang tajam itu mendengar suara langkah kaki yang sedang berlari-lari kearahnya. Karena memang sudah pengalaman, kakek ini tahu dari suara langkah kaki yang tergesa-gesa itu bahwa ada permasalahan yang tidak menyenangkan.


"Ck, ada apa ini." gumamnya kesal seraya membuka mata dan memandang tajam.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, pandangannya menangkap siluet seorang pria yang berlari cepat menuju kearahnya. Dia adalah salah satu pasukan Zhang.

__ADS_1


"Ada apa!?" tanya Zhang Hongli dengan sikap berwibawa sekali.


"Maaf mengganggu ketenangan anda Tuan, tapi saat ini Tuan Minghao memanggil anda untuk segera datang ke ruangannya." jawab orang tersebut.


Zhang Hongli mendecih perlahan. Karena maklum ada masalah mendesak, tanpa banyak cakap lagi dia segera melesat cepat menuju ruangan Minghao. Sebentar saja tubuhnya berkelebat, kakek itu sudah hilang dari sana seolah tak pernah berada di situ sebelumnya.


Sedangkan di ruangan Minghao, saat ini pria itu sedang menghadapi beberapa orang penting keluarga Zhang. Mereka adalah Lu bersaudara, Lu Jia Li, Siang Ki, Yin Yin beserta anak-anaknya, bahkan kakek Gong Fai si pandai besi hadir pula di sana bersama anak muridnya. dari raut muka mereka, jelas terlihat jika permasalahan ini bukanlah ringan.


"Kita tunggu Tuan Zhang Hongli." kata Minghao dengan serius.


Sedetik kemudian, tiba-tiba ada bayangan berkelebat cepat sekali. Dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, di sebelah Minghao sudah berdiri sesosok manusia yang ditunggu-tunggu.


"Ada apa!?" tanya orang itu yang bukan lain adalah Zhang Hongli.


"Baiklah, langsung ke intinya saja. Tolong jelaskan kembali kepada Tuan Zhang Hongli." kata Minghao yang diakhir kalimat, dia mengalihkan pandangannya kepada salah seorang mata-mata keluarga Zhang.


Orang itu segera berkata, "Dari Utara sana, ada pasukan besar yang bergerak cepat menuju kemari. Di barisan paling depan, saya melihat ada seorang pria yang mungkin berumur tiga puluhan tahun bersama dua orang pria lain. Salah satu dari pria itu adalah seorang yang sudah kita kenal semua, dia adalah Naga Emas."


Raut wajah Zhang Hongli sudah tidak enak mendengar ini. Jelas sudah jika pasukan itu sama sekali tidak bermaksud baik. Apalagi dengan keberadaan Naga Emas, seorang gembong dunia hitam itu ikut pula dalam pasukan. Membuat dia menduga-duga apa gerangan yang terjadi hingga keluarga Zhang dihampiri oleh Naga Emas.


"Apakah Naga Emas akan membalas dendam? Bukankah cucuku pergi ke Pegunungan Tembok Surga untuk membantu keluarga Hu yang kabarnya sedang melakukan penyelidikan manusia gunung di sana?"


"Agaknya bukan begitu Tuan. Karena pasukan besar itu sama sekali bukan pasukan gunung." jawab si mata-mata.


Tak berselang lama, ada satu orang pengawal Zhang yang lari-lari memasuki ruangan. Orang itu adalah penjaga gerbang kediaman Zhang.


Begitu masuk, wajahnya pusat pasi dan nafasnya terngah-engah. Tubuhnya menggigil hebat.


"Mereka sudah tiba...." hanya inilah kata-kata yang keluar dari mulut orang itu. Namun sudah cukup bagi mereka semua untuk mengetahui siapa yang telah datang.


"Lu bersaudara dan Lu Jia Li, Yin Yin bersama anak-anakmu, kalian menjaga di pintu gerbang!! Gong Fai dan murid-muridmu, perintahkan semua pasukan Zhang berkumpul di pintu gerbang!! Tak ada pilihan lain, kita sambut mereka dengan sikap seorang pendekar!! Dengan adanya Naga Emas, mana mungkin mereka datang untuk berbincang-bincang!? Ayo berangkat!!" perintah Zhang Hongli tegas.


"Baik Tuan!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2