Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 124. Iblis Tiada Banding


__ADS_3

"Tugas sudah terselesaikan Nona, desa itu sudah aman dan nenek siluman penebar teror sudah mati."


"Bagus."


"Tapi maaf sekali Nona, penyerbuan itu harus menggugurkan hampir semua anggota pasukan Zhang. Bahkan si Golok Merah selaku pimpinan penyerbuan juga ikut terbunuh. Hanya kami berdualah yang berasal dari keluarga Zhang yang selamat." lanjut Lin Tian.


Gadis itu jelas sekali menampakkan ekspresi sedih, namun hanya sebentar saja sebelum kembali berkata, "Sayang sekali, mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kalian istirahatlah."


"Terima kasih Nona." seorang pengawal itu segera kembali ke kediamannya.


"Ada apa lagi Lin Tian?" tanya gadis tersebut begitu melihat pengawal pribadinya belum juya beranjak.


"Si Cantik Setan Kembar, semua sudah mati Nona. Jadi saat ini, Pilar Neraka hanya menyisakan lima orang Nona." Lin Tian berkata.


Jelas Zhang Qiaofeng terkejut bukan main. Maka segera dia bertanya, "Apa? Yang benar saja? Siapa yang membunuhnya?"


"Aku sendiri Nona, waktu perjalanan pulang."


Masih dalam keterkejutannya, Zhang Qiaofeng hanya mampu membuka mulut lebar-lebar. Bingung hendak menjawab apa.


"Kalau begitu saya pergi dulu Nona." Lin Tian melangkah pergi begitu saja.


...****************...


Sedangkan di kejauhan sana, dekat dengan markas besar Aliansi Golongan Hitam, terjadi pertempuran dua orang yang hebat sekali. Menimbulkan angin ribut yang luar biasa sekali.


"Sialaaaannn!! Jadi kau si pengacau yang akhir-akhir ini merajalela huh!??"


"hahaha....Aliansi Golongan Hitam, sudah saatnya kalian tidur dan digantikan dengan kami!!!"


Orang pertama itu memakai pakaian biksu berwarna hitam. Sama seperti biksu lainnya, orang ini gundul tak ada rambut sedikitpun.


Orang kedua juga berjubah hitam, namun jika lawannya bertempur dengan tangan kosong, adalah dia ini bertarung menggunakan rantai panjang yang ujungnya tajam seperti pedang.


Si biksu itu bukan lain adalah salah satu petinggi sekaligus anggota Pilar Neraka yang berjuluk Dewa Kegelapan. Sedangkan untuk lawannya dia sendiri juga tidak tahu pasti.


Lawannya tersebut agaknya belum begitu tua, mungkin sekitar tiga puluh lima tahunan. Rambutnya panjang, dibiarkan terurai begitu saja. Mukanya tidak begitu tampan, namun warna kulitnya putih seperti kulit perempuan.


Dan di mata sebelah kiri sampai ke dagu, terdapat sebuah tato dengan tinta hitam pekat. Membentuk tiga garis memanjang.


Pria tersebut lalu menyabetkan rantai panjangnya dari kejauhan, membabat kearah pinggang Dewa Kegelapan. Akan tetapi biksu itu dengan cekatan sekali mampu menghindarkan diri dengan cara melompat dan bersalto di udara.

__ADS_1


Masih berada di udara, Dewa Kegelapan mengirim pukulan jarak jauh ke musuhnya. Mengarah tepat ke mata kiri yang penuh tato.


"Hehahahaha!!" orang tersebut hanya tertawa keras sambil membuang diri ke kanan. Dilanjutkan dengan sabetan rantai dari atas ke bawah.


"Aaaahhh!!" Dewa Kegelapan memekik keras dan menangkis. Namun terkejutlah hatinya begitu merasa kedua pergelangan tangan terasa kebas sekali sesaat setelah kedua telapaknya bertemu rantai lawan.


"Siapa sebenarnya si bedebah ini!? Benar-benar amat berbahaya!!" gumam Dewa Kegelapan dalam hati.


Akan tetapi dia sama sekali tidak takut, maka sedetik kemudian, dia menerjang maju dan terjadilah pertarungan hebat sekali.


"Trang-Tring-Trang!!"


Berkali-kali terdengar suara logam beradu di udara. Namun sebenarnya itu adalah suara rantai yang bertemu dengan sepasang telapak tangan.


Mencapai jurus keseratus, Dewa Kegelapan memutar tubuh dan hendak menghantam leher kanan musuhnya menggunakan punggung tangan kanan. Menciptakan sambaran angin kencang sungguhpun tangan itu masih berada lumayan jauh.


Dengan tangkas, si pria bertato itu melakukan gerakan menotok dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya itu melilitkan rantai ke tangan kanan Dewa Kegelapan yang hampir mnghantam lehernya.


"Cuuss-Tringg!"


"Sialan!!" Dewa Kegelapan berteriak marah begitu tangan kanannya terlilit senjata lawan, sedangkan pundak kirinya tertotok yang membuat seluruh lengan kiri terasa lumpuh.


"Hehe...bagaimana dengan ini!?"


Sekali hentakan saja, pri bertato itu menarik rantainya berikut tangan kanan lawan. Memutuskan tangan kanan Dewa Kegelapan sebatas siku.


"Hohahahaha...kau menyebut diri sendiri sebagai Dewa Kegelapan!? Apanya yang Dewaa!!?" seru orang tersebut sambil tertawa bergelak, memandangi Dewa Kegelapan yang mengaduh-aduh kesakitan.


Dewa Kegelapan bersimpuh di atas tanah sembari memegangi lengan kanannya yang sudah buntung. Menatap orang di depannya penuh kebencian.


"Kau...!! Siapa kau sebenarnya!??" bentak biksu tersebut.


"Kau ingin tahu siapa aku? Hahaha, kalau begitu lihatlah aku dari alam sana, kau akan tahu nanti!!" jawabnya menyeringai sinis. Sedetik kemudian, rantainya berkelebat cepat mengarah leher.


"T-Tunggu..." belum selesai perkataan Dewa Kegelapan, rantai itu sudah lebih dulu mengenai lehernya.


"Crraasshh!!" lehernya putus seketika.


"Hm...satu lenyap, hahahaha!!!" kembali pria bertato itu tertawa lebar seraya mendekati salah satu pohon.


"Hehehe...semua orang harus tahu akan hal ini."

__ADS_1


Dia kemudian menggores-gores pohon itu menggunakan ujung rantainya, menuliskan sesuatu sebelum meloncat pergi dari sana diiringi suara tawa menyeramkan.


...****************...


Malam harinya ada beberapa orang pendekar Aliansi yang lewat di dekat tempat tersebut. Mereka ini baru saja pulang setelah melakukan misi di suatu tempat.


Dapat dibayangkan betapa terkejut hati mereka begitu memandang ke bawah sebuah pohon yang terdapat seorang jasad manusia. Seorang jasad yang tentu saja sangat mereka kenali.


"Apa-apaan ini? Benar-benarkah tetua Dewa Kegelapan bisa mati? Siapa yang membunuhnya?"


"Hei lihat di pohon itu, ada tulisan!!"


Mereka segera menghampiri pohon besar tersebut yang dimana terdapat sebuah kalimat di batang pohonnya.


Di bawah pohon ini, Dewa Kegelapan Anggota Pilar Neraka


Mati di tangan Iblis Tiada Banding


"Iblis Tiada Banding? Siapa mereka?" tanya seorang pendekar itu kepada temannya.


"Kau pikir aku tahu? Sudahlah, lebih baik kita segera kuburkan jasad Tuan, dan melaporkan hal ini kepada pimpinan."


Mereka semua setuju dengan pernyataan tersebut. Maka tanpa banyak cakap lagi, lima orang pendekar Aliansi itu segera menggali lubang seadanya untuk menguburkan jasad Dewa Kegelapan.


Kemudian begegas mereka semua kembali ke markas untuk mengabarkan hal mengejutkan ini kepada Ling Haocun.


...****************...


"Apa kau bilang!! Dia mati!? Siapa yang menbunuhnya!!?" teriak Ling Haocun kepada lima orang tersebut. Memotong laporan mereka yang belum juga selesai.


"Orang yang membunuhnya meninggalkan sebuah pesan yang dituliskan di sebuah pohon Tuan. Tulisan itu mengatakan bahwa yang membunuh Tuan Dewa Kegelapan menyebut diri sebagai Iblis Tiada Banding." jawab salah satu pendekar takut-takut.


"Bedebaaahh!! Pendekar Hantu Kabut belum mati, sekarang muncul lagi Iblis Tiada Banding!! Siapa sih dia ini?" kesal Ling Haocun, si Setan Racun Api itu sambil menghancurkan sebuah meja di depannya.


Ling Haocun kemudian keluar dari ruangan tanpa berkata apa-apa lagi. Yang tentu saja membuat bingung kelima orang itu.


"Kita akan pulang?"


"Tentu saja, aku sudah lelah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2