Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 55. Pemimpin Keluarga Hu 2


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu


Rombongan Hu Tao telah keluar dari wilayah Kota Batu dan sedang dalam perjalanan menuju keluarga Hu.


Ketika di hari kedua perjalanan, tepatnya pada siang hari, Hu Tao memutuskan untuk istirahat di sebuah hutan besar.


"Kita berhenti dulu di sini untuk memulihkan tenaga!" ucap Hu Tao tegas memberi perintah.


Setelah itu, mereka semua kemudian menghentikan perjalanan dan duduk di bawah pohon-pohon besar. Ada beberapa orang yang diperintah oleh Hu Tao untuk pergi mencari makanan.


Baru satu jam mereka beristirahat, tiba-tiba dari arah depan belakang, kanan dan kiri, mereka sudah dikepung oleh lima puluhan orang yang sudah siap dengan senjata masing-masing.


Serentak seluruh pasukan Hu Tao bangkit dan mencabut pula senjatannya. Lalu pemimpin muda itu berkata, suaranya tenang namun penuh wibawa, "Siapa kalian?"


Tak ada jawaban dari para pengepung itu, hingga Hu Tao kembali bertanya, kali ini dengan nada sedikit membentak, "Jawab aku!! Siapa kalian!?"


Kembali tak ada satupun orang dari pengepung itu yang berbicara. Lalu dari arah belakang pengepungan terdengar suara yang merdu dan genit.


"Hihihi...ihh gakanya...kenapa kau langsung marah-marah ketika ibu mengunjungimu? Apa kau tak senang, anakku tersayang?"


Mendengar suara ini, wajah Hu Tao menjadi merah. Dia terkejut jika ibu tirinya, Sin Nia, datang menyusulnya dan menyergapnya di hutan ini.


"Hm....anak manis, bagaimana jika kau ikut kami? Aku yakin kau pasti menyukainya...hihi." ucap pula adiknya, Sin Cia


Tak lama setelah itu, muncul dua orang wanita cantik berjubah merah. Begitu mereka muncul, bibir merahnya itu sudah tersenyum manis seolah-olah hendak meruntuhkan hati semua pria yang ada di sana.


"Bagaimana nak? Apa kau mau ikut ibu?" kembali Sin Nia berkata.


"Dasar ******!! Kau bukan ibuku dan aku bukan anakkmu!! Sampai kapanpun aku tak akan sudi untuk ikut bersamamu!!" bentak Hu Tao yang wajahnya sudah merah padam. Pemuda ini benar-benar marah sekarang


"Hah...tak ada pilihan lain." Sin Nia bergumam lalu menganyunkan salah satu tangannya.


Sedetik kemudian, puluhan orang itu langsung menyerbu kearah pasukan Hu Tao. Penyergap itu diperkirakan berjumlah lima puluhan orang, sedangkan rombongan Hu Tao hanya berjumlah tiga puluh orang, tentu saja ini akan menjadi pertempuran berat sebelah!!


Namun tidak terlihat adanya sebuah perasaan takut atau ragu di nata Hu Tao. Melihat para penyergap itu sudah menerjang maju, maka dia pun memerintahkan anak buahnya untuk maju pula.


"Seraang!!"


Kedua pasukan pun akhirnya bentrok. Terjadi pertarungan hebat di tengah hutan itu, suara dentingan pedang dan bentakan-bentakan sumpah serapah memenuhi seluruh penjuru hutan. Hewan-hewan yang tadinya berada di sana kini memilih pergi menjauh untuk menyelamatkan nyawa.

__ADS_1


"Trang-trang"


"Bangsat kalian!! Berani-beraninya kalian menyerang dengan cara yang begini curang!!!" terika Hu Tao penuh amarah.


"Hik hik, ouh...galaknya....hey tampan, tenang saja aku tak akan membunuhmu. Malam nanti bukankah kita akan bersenang-senang? Ayahmu sungguh hebat lho jika bertempur di tempat tidur, kau anak kandungnya, pasti kemampuan ayahmu juga menurun padamu kan? Hihi kau tentu mau kan bocah tampan, hm?" kata perempuan itu dengan genit dan menggoda.


"Ihh...adik apa yang kau bicarakan? Mana mungkin seorang bocah ini mampu menahan pesona kita? Benar kan, manis?" ucap pula perempuan di sebelahnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan mesra.


"Bajingaaannn.....matilah!!!" kembali Hu Tao membentak dengan penuh kebencian.


Pemuda ini memutar kedua belatinya dengan dahsyat. Dia sungguh kerepotan, karena selain harus menghadapi gempuran dua setan kembar itu, dia harus pula menghadapi hujan senjata dari beberapa orang yang hendak menyerangnya dari belakang.


Sudah lima belas menit berlalu dan selama itu pula kedua wanita cantik ini belum bisa merobohkan Hu Tao. Bukannya belum bisa, tapi agaknya kedua wanita kembar itu memang sengaja hendak main-main dengan Hu Tao.


"Terima ini!!" bentak Hu Tao seraya membacokkan belatinya dari jarak jauh kearah Sin Nia.


Wanita itu hanya menggeser tubuh sedikit untuk menghindari serangan. Sejurus kemudian, adiknya, Sin Cia, sudah melesat maju dengan posisi tangan kanan berada di depan, hendak menusuk jantung pemuda tersebut.


Hebat sekali serangan ini. Selain karena kuku-kuku yang setajam pedang, juga karena kuku hitam yang berada di jari tangan kecil ramping itu juga mengandung racun hebat. Maka repotlah Hu Tao untuk menyelamatkan diri dari serangan mematikan ini.


"Hiaaa..." Hu Tao berteriak keras dan sedetik kemudian kedua belatinya sudah menebas hendak memutus lengan kanan wanita itu.


Hu Tao terkejut setengah mati melihat perubahan gerakan yang tiba-tiba ini. Jarak antar mereka terlalu dekat, sudah tak ada lagi cara bagi Hu Tao untuk menghindar ataupun menangkis. Maka pemuda ini hanya mampu memejamkan matanya pasrah.


"Plak"


Tersengar sebuah suara keras seperti suara beradunya dua lengan. Hu Tao yang terkejut, secara refleks dia membuka mata.


Di depannya, ternyata telah berdiri seorang kakek tua yang di punggungnya membawa sebuah kecapi. Kakek ini memakai jubah sastrawan dengan warna biru langit. Kiranya orang inilah yang telah menyelamatkan nyawa Hu Tao.


"Kau.....!!" seru Sin Cia marah.


Lalu secara tiba-tiba, dari kanan kiri wanita itu meluncur dua bayangan hitam yang cepat sekali. Dua bayangan ini melesat dengan kecepatan tinggi kearah Sin Cia.


"Aaahhhh....!!"


Sin Cia memekik keras seraya mengangkat kedua lengan ke kanan dan kiri.


"Deesss....aaakkhhh!!"

__ADS_1


Begitu Sin Cia berhasil menangkis kedua serangan bayangan hitam itu, wanita ini kemudian memuntahkan seteguk darah segar dan wajahnya sedikit memucat.


Ternyata dua bayangan hitam tadi adalah dua biksu bersaudara, Shi Yong dan Shi Xue.


Kedua kakak beradik ini hendak melakukan serangan susulan kearah kepala. Tapi ternyata, Sin Cia sudah bergerak mundur dengan bergulingan di tanah.


"Aaakkhhh....sialan!!"


Tiba-tiba terdengar suara teriaka Sin Nia dari belakang. Sin Cia terkejut dan cepat menengok. Hatinya serasa meloncat keluar begitu melihat kakaknya ternyata sudah bertarung hebat dengan seorang kakek tua bercaping.


Wajahnya lalu memucat. "Kenapa mereka ada di sini? Jika empat bajingan ini menyerbu bersama, tentu saja aku dan kakak akan jadi bubur!!" batin Sin Cia yang heran sekalugus terkejut.


Melihat kakaknya yang bertarung hebat seperti itu, Sin Cia lalu mengeluarkan pekik mengerikan dan langsung mengirimkan serangan kearah kakek tersebut.


"Aiihh...." seru kakek bercaping itu.


Cepat dia melompat ke belakang untuk menghindari hawa pukulan beracun Sin Cia. Begitu dia hendak menyerang kembali, ternyata setan kembar itu sudah lenyap dari hadapan mereka seloah-olah tak pernah ada di sana sebelumnya.


"Sialan, mereka lepas!!" ucap Shi Xue dengan kesal.


"Hah..." kakek bercaping itu hanya menghela nafas sembari menggelengkan kepala.


Hu Tao dan beberapa pasukannya yang masih selamat hanya berdiri kaku memandangi mereka. Mereka terkejut jika empat orang datuk golongan putih itu bisa berada di sini secara bersamaan.


Tiba-tiba, Hu Tao menjatuhkan diri berlutut. Melihat pemimpinnya berlutut, maka serentak para anak buahnya pun ikut berlutut pula.


"Terima kasih untuk para senior karena sudah menyelamatkan nyawa kami!!" ucap Hu Tao lantang.


Si kakek bercaping yang bukan lain adalah Dewa Angin Barat itu melangkah maju dan berkata halus.


"Tak masalah....tak masalah. Kami datang memang hendak menemuimu pemimpin muda keluarga Hu."


Hu Tao kaget, namun akhirnya dia bertanya hormat, "Ada keperluan apakah sampai keempat senior ini datang menemui saya?"


Keempat orang itu saling pandang sejenak, lalu kembali Dewa Angin Barat berkata, "Jadilah murid kami."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2