
"Bugh–Dess!!"
Di depan sebuah rumah gubuk yang sederhana, ada dua bayangan yang berkelebat cepat sekali dengan kecepatan di luar nalar. Mereka saling terjang dengan hebatnya sebelum akhirnya keduanya sama-sama terpental. Namun setelah itu mereka akan kembali serang lagi.
Chong San dan muridnya, merekalah orang yang sedang saling gempur itu. Sama seperti ucapan Chong San, setelah dua minggu berlalu, Lin Tian akhirnya menguasai ilmu Langkah Kilat yang sangat lihai. Bahkan dia juga telah menguasai hawa sakti sungguh pun belum sempurna.
Akan tetapi seperti yang dilihat sekarang ini, kecepatan serta kekuatan Lin Tian sudah meningkat drastis. Walau pun memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Chong San, namun sejak tadi mulutnya tidak pernah berhenti menyerukan seruan kagum.
"Cukup!" Chong San berseru dan melompat ke belakang. Melihat ini Lin Tian menghentikan serangannya.
"Sepertinya sudah waktunya bagimu untuk melakukan ujian dariku."
Lin Tian mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika gurunya berkata demikian.
Seperti yang diucapkan Chong San waktu itu, ujian terakhir yang harus dia lakukan adalah menaiki gunung yang seruncing tombak itu. Dia tidak yakin apakah akan berhasil atau tidak, namun bagaimana pun juga, dia harus melewati itu.
"Kau pasti sudah tahu. Daki gunung itu sampai ke puncak dan ambilah semua barang yang kusimpan di dalam peti."
"Peti?"
"Ya, peti. Aku menyimpan sesuatu yang amat berharga di dalam peti itu dan kau harus mengambilnya. Jika ujian ini berhasil, saat kau turun nanti kau harus memakai semua benda yang ada di peti. Namun jika kau gagal, kau tidak mencapai puncak sehingga tidak bisa memakai benda itu atau...kau sudah mati."
Ucapan terakhir ini berhasil membuat Lin Tian sedikit memucat. Dia bukan orang sombong namun dia cukup yakin akan kemampuannya yang sedikit lebih baik dari orang banyak. Jika gurunya berkata dia mungkin mati, itu artinya gunung itu benar-benar mengerikan.
"Berangkatlah sekarang! Pesanku, hati-hatilah. Di sana banyak sekali hewan-hewan yang tidak lumrah manusia. Kau akan terkejut nanti."
Lin Tian mengangguk dan berjalan masuk kerumah untuk mengambil pedangnya. Saat dia keluar, dia kembali dihentikan oleh gurunya.
"Lepas penutup mata kananmu itu, seharusnya luka bakarnya sudah sembuh. Dan pesan yang terakhir, jangan kau gunakan langkah kilat untuk kabur dari kematian! Jujur saja aku lebih bangga jika kau mati dari pada hidup tapi dengan cara melarikan diri seperti itu!" tegas Chong San dengan mata tajam sungguh-sungguh.
Lin Tian segera melepas penutup matanya dan nampaklah sebuah luka bakar yang sudah mengering. Dari dahi kanan sampai ke pipi kanan di bawah mata, ada bekas luka bakar yang berwarna merah terang. Siapa lagi yang menyebabkan ini kalau bukan Zhang Heng di pertempuaran terakhir.
__ADS_1
"Aku akan mentaati nasehat guru. Kalau begitu, aku pamit!"
Ucap Lin Tian seraya menjura hormat sebelum menghilang dari sana.
"Kau pasti selamat nak...kau yang ditakdirkan."
...****************...
Lin Tian menaiki gunung itu dengan cepat sekali. Menggunakan ilmu langkah kilatnya yang ditunjang dengan hawa sakti, apa sukarnya mendaki gunung yang sedikit sulit ini.
Namun ketika masuk siang hari, dia mulai merasa kesulitan karena tanah yang dipijakinya amat licin dan di kanan kiri terdapat batu-batu tajam. Sebenarnya dia juga heran, untuk seukuran pendekar, tanah licin pun tak akan terlalu berpengaruh jika kakinya sudah teraliri tenaga dalam. Namun saat ini dia masih merasakan dengan jelas kelicinan tanah itu sungguh pun hawa sakti sudah melindungi sepasang kakinya.
"Sialan, apa-apaan ini?"
"Krasak–krasak!"
"Siapa di sana!!"
Bentak Lin Tian ketika telinganya mendengar sebuah suara mencurigakan dari semak-semak di dekat tempatnya berdiri. Lumpur-lumpur di sekitarnya semakin tebal sehingga bukan lagi licin, namun bisa sampai menenggelamkan kaki.
"Roaarrr!!"
Tiba-tiba ada sebuah ular yang besar sekali sudah menerkamnya. Membuka mulut lebar-lebar sehingga nampak gigi-giginya yang tajam mengerikan.
Lin Tian terkejut sekali karena selamanya belum pernah dia lihat seekor ular yang sebesar ini. Namun dia segera tersadar dan menggerakkan kaki kanannya untuk melawan.
"Syutt–Apa!?"
Pemuda ini kaget sekali ketika kakinya menyentuh kulit ular itu. Pasalnya, bukannya ularnya yang terpental, malah kakinya yang terpeleset. Sehingga dia jatuh terjengkang dan membuat sang ular lebih mudah menerkamnya.
"Crookk!!"
__ADS_1
Untung baginya bahwa dia memiliki reaksi cepat, sehingga dalam keadaan seperti itu, Lin Tian tak kehabisan akal dan segera mencabut Pedang Dewi Saljunya untuk kemudian ditusukkan ke tenggorokan leher ular raksasa itu.
"Benar-benar siluman! Ada apa dengan hutan ini!"
Lin Tian kembali berusaha keras untuk melewati jalan yang amat licin ini. Akan tetapi setelah beberapa saat kemudian, dia kembali dikejutkan dengan kemunculan ular yang sama namun dengan jumlah yang jauh berbeda.
"Tujuh....dua belas....sialan, lima belas!? Ternyata ini sarang mereka!?"
Lin Tian memekik keras dan segera mengerahkan ilmu langkah kilatnya untuk menghindari terkaman salah satu ular. Tubuhnya melambung tinggi ke atas dan menukik tajam untuk menusukkan pedangnya ke ubun-ubun ular.
"Trang–Trang!!"
Tiba-tiba ada bayangan hitam berkelebat yang menangkis serangan Lin Tian. Ternyata itu adalah ekor dari ular tersebut yang bisa bergerak cepat untuk melindungi kepalanya.
Ketika Lin Tian mendarat dengan sedikit susah payah karena licinnya tanah ini, saat itu pula ular-ular yang lain sudah datang mengeroyok.
"Bangsat kalian!!"
Lin Tian berseru dan mengamuk hebat. Dia segera mengerahkan ilmu pedang Teratai Putihnya untuk melibas habis lima belas ular itu. Karena jalan yang licin, membuat Lin Tian tidak bisa mengerahkan kekuatan maksimalnya, sehingga setelah setengah jam berselang, barulah pemuda ini berhasil meratakan mereka.
"Aku harus segera pergi!"
Lin Tian melompat jauh untuk mendaki gunung lagi. Dia tadi sengaja bertarung sambil berjalan naik ke atas gunung agar bisa terbebas dari tanah licin itu. Dan benar saja, setelah beberapa langkah, dia berhasil sampai di tanah kering sehingga memudahkan dia untuk menghabisi lima belas ular itu.
Saat ini Lin Tian mulai merasakan kesukaran saat mendaki. Namun hal ini membuatnya senang karena dapat meningkatkan penguasaannya dalam ilmu langkah kilat.
Sesekali dia berlari atau melombat dari satu batu ke batu lain. Namun tak jarang pula dia melompat tinggi untuk kemudian meloncat-loncat dari dahan ke dahan dengan cepat sekali.
Semua ini tidak luput dari pandangan tajam milik Chong San yang diam-diam mengikuti Lin Tian. Memang agaknya dia terlalu khawatir sehingga tak bisa duduk tenang menunggu di rumah.
"Dasar tua bangka tak tahu malu. Aku tadi sudah bicara dengan gaya berwibawa seperti itu, namun masih tak kuasa meninggalkan muridku! Hah...bagaimana lagi, hanya dia satu-satunya harapanku." gumamnya seorang diri yang sedang bersembunyi di balik pohon besar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG