
Di gerbang kota, keadaan benar-benar menegangkan. Warga kota yang rumahnya berada dekat dengan gerbang sudah di ungsikan ke tempat aman. Namun walaupun begitu, jatuhnya korban masih tidak bisa dibilang sedikit.
Korban itu bukanlah warga penduduk biasa, melainkan para prajurit yang telah mempertahankan gerbang kota mati-matian. Sudah banyak tubuh manusia yang malang-melintang di tengah jalanan kota dengan tubuh yang sudah tak utuh lagi.
Hal ini disebabkan karena serbuan seorang pendekar datuk dunia hitam yang berjuluk Golok Penghancur Gunung bersama para anak muridnya. Sepertinya dia sudah tahu tentang kabar Sie Lun dari mata-mata yang dikirimkannya, karena itulah malam ini juga dia menyerbu ke kota.
"Hii...dia benar-benar iblis!!" kata salah seorang prajurit kota dengan ngeri dan gemetaran. Obor dan pedang di tangannya sudah tak mampu diam lagi akibat getaran tangannya yang makin menghebat.
Ada sekitar lima puluhan orang di pihak Golok Penghancur Gunung, dan ada seratus orang di pihak prajurit kota. Namun ketika pasukan puluhan orang itu datang dan mengacau, sudah tiga puluh orang banyaknya yang mati dari pihak prajurit kota. Sedangkan untuk pihak lawan sama sekali masih belum berkurang.
"Mana dia!! Bawa aku ke sana!!" Golok Penghancur Gunung berkata dengan mata liar yang memandang sekitarnya. Napasnya sedikit memburu akibat amarahnya yang kian memuncak.
"Mari Tuan." kata seorang anak muridnya yang tadi menjadi mata-mata di kota ini.
Segera saja mereka semua hendak berjalan masuk lebih jauh ke dalam kota. Akan tetapi walaupun takut, para prajurit kota itu tetap berniat menghadang. Bagaimana pun juga, keselamatan penduduk tetap nomor satu, sungguh pun nyawa lah taruhannya.
"Berhenti!! Siapa yang telah mengijinkan kalian masuk ke kota!!??"
Dengan tatapan tajam menusuk, suara yang sedikit berat dan nyaring menggelegar, Golok Penghancur Gunung berkata, "Coba saja jika kalian benar-benar mampu untuk mencegah kami masuk lebih dalam!"
Para prajurit itu memandang terbelalak. Serba salah memang, ingin maju nyawa hilang, mundur pun tak ada jaminan nyawa masih selamat. Maka mereka memutuskan untuk tetap maju dan mati saja daripada lari dan mati sebagai pengecut. Walaupun tak sedikit pula yang memanfaatkan percakapan sekejap itu untuk melarikan diri.
"Tahan!! Jangan biarkan mereka masukk!!" seru seorang pria paruh baya, dialah yang menjadi pimpinan penjaga gerbang kota.
Puluhan orang prajurit kota itu segera menyerbu, disambut oleh berkelebatnya golok dan pedang dari pasukan Golok Penghancur Gunung.
Maka riuh lah suasana di pintu gerbang itu. Keadaan di sana menjadi berisik sekali, diselingi suara teriakan menyanyat hati dan pekik-pekik kesakitan, pertempuran itu berlangsung amat hebatnya.
Akan tetapi pertempuran itu tidaklah berlangsung lama, hanya sekitar lima belas menitan saja, anak murid Golok Penghancur Gunung sudah mampu meratakan barisan prajurit kota. Hanya menyisakan belasan orang saja.
"Ayo masuk!!" perintah Golok Penghancur Gunung.
Baru dua puluh meter mereka berjalan, dari arah depan nampak berbondong-bondong sepasukan manusia yang membawa obor, sehingga nampak dari kejauhan seperti gerombolan cahaya merah yang kian lama kian membesar. Sedangkan di atas genteng-genteng penduduk, terlihat kelebatan-kelebatan bayangan orang yang gesit sekali. Sekali pandang saja tahulah mereka bahwa orang yang bergerak gesit itu adalah para pendekar.
"Apa lagi ini?" gumam Golok Penghancur Gunung dengan hati kesal.
"Itu pasukan walikota, Guru."
__ADS_1
"Bagus, kita terjang sekalian!!" Golok Penghancur Gunung sudah mencabut golok besarnya dan bersiap maju untuk menyambut sepasukan orang itu.
Namun baru saja mereka maju tiga langkah, tiba-tiba terdengar suara berdesingan yang kemudian disusul dengan cahaya putih menyilaukan. Cahaya itu bergerak cepat sekali dan tiba-tiba sudah mengarah leher Golok Penghancur Gunung.
"Waahh!!" pria itu terkejut dan menggerakkan golok menangkis. Dilanjut dengan lompatan kebelakang.
Kiranya cahaya itu tadi berasal dari Pedang Dewi Salju Lin Tian yang digerakkan dengan amat cepat dan kuat. Walaupun gagal, namun setidaknya Lin Tian mampu untuk mengintimidasi Golok Penghamcur Gunung dengan tebasan pedangnya barusan.
"Oh...kau rupanya, penjagal gila yang membunuhi Pilar Neraka!!" bentak Golok Penghancur Gunung.
"Benar, lantas mengapa? Kaulah yang akan kujagal malam ini." balas Lin Tian tenang.
Tak berselang lama, pasukan yang dipimpin walikota Wang telah tiba di sana dan memandang dengan terkejut sekali. Kiranya di sana telah berdiri Lin Tian yang menghadapi mereka seorang diri.
"Pengacau!! Mau apa datang kemari!?" bentak walikota Wang.
"Aku mencari seseorang, namanya Sie Lun, dia muridku!!" jawab Golok Penghancur Gunung.
"Ah bagus sekali, kiranya gurunya datang?" balas Lin Tian.
"Mana dia!??"
Setelah berkata demikian, Lin Tian segera melesat ke depan dan mengirim serangan. Dia tak ragu-ragu lagi, di gebrakan pertama sudah menggunakan jurus ilmu silat Ketenangan Batin yang dipadukan dengan Pukulan Tapak Beku dan Ilmu Pedang Pelukis Langit. Dapat dibayangkan betapa ampuh dan mematikan serangan-serangan Lin Tian kali ini.
Lawannya juga bukan orang lemah, walaupun goloknya besar dan berat, namun kecepatannya tak kalah dengan pedang Lin Tian. Maka pertarungan itu hebat sekali, sinar putih keperakan milik Golok Penghancur Gunung saling libat dengan sinar putih kebiruan pedang Lin Tian.
Lin Tian mengandalkan kecepatannya, bergerak ke sana-sini sambil mengirim serangan berbahaya. Namun kemana pun dia pergi, golok musuhnya selalu mampu untuk menahan laju pedangnya.
Dan ketika mencapai jurus ke delapan puluh, ketika Lin Tian meloncat tinggi bagai burung garuda untuk kemudian menukik tajam dan menusukkan pedang mengarah ubun-ubun lawan, agaknya Golok Penghancur Gunung mulai kualahan.
Terlihat ketika pedang itu hanya terpisah satu dua jengkal dari kepalanya, dia memekik keras dan segera menghindar, namun sedikit terlambat. Sehingga pundak kanannya kena serempet pedang lawan.
"Kau....siapa kau!?" Golok Penghancur Gunung merasa penasaran sekali karena musuhnya mampu mendaratkan serangan sungguh pun tidak parah.
"Kau sudah tahu bukan?" balas Lin Tian dingin.
...****************...
__ADS_1
Sedangkan di salah satu ruangan di rumah walikota, terlihat Zhang Qiaodeng, Minghao, Lu Jia Li, Hu Tao, dan Kim Chao yang sedang mengawasi satu orang pemuda. Pemuda itu bukan lain adalah Sie Lun.
Di luar ruangan, dijaga oleh banyak sekali pasukan Zhang sekaligus pengawal walikota yang siap siaga.
Memang walikota tidak ingin lekas membunuh pemuda itu, karena dia hendak mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari Sie Lun.
"Hayo jangan diam saja! Katakan siapa kau dan mengapa berani mengacau kemari?" tanya seorang anak walikota yang terdapat pula di ruang itu.
Sie Lun tak acuh dan hanya diam. Entah sudah keberapa kalinya pemuda itu ditanya dan reaksinya selalu sama, hanya diam saja.
"Kau...jangan membuatku hilang sabar!!" bentak anak walikota dan berjalan mendekat. Detik berikutnya, dia telah mematahkan lengan kanan Sie Lun yang sejak tadi diikat ke belakang kursi.
"Kraaakk!!" suara nyaring terdengar. Agaknya tulang Sie Lun tidak patah namun benar-benar remuk.
Pemuda itu meringis kesakitan, namun sama sekali tidak ada keluhan terdengar.
Zhang Qiaofeng yang memandang ini menghela nafas sekali sebelum berkata, "Hah...keras kepala. Sudahlah, kita tunggu saja walikota Wang datang dan memutuskan."
Perkataan ini diangguki oleh Minghao dan lainnya, namun tidak dengan putra walikota itu. "Bagaimana bisa Nona, dia--"
Belum selesai perkataannya, dari arah luar ruangan terdengar suara berisik dan bentak-bentakan nyaring. Ketika semua orang terkejut, terdengar Sie Lun berkata.
"Hehehe....walaupun harus mati, namun tugas dari guru tetap harus berhasil. Hahah....agaknya aku sudah selesai dan tak perlu lagi untuk berada di sini!!"
Mendengar ini, mereka menjadi waspada. putra walikota yang sebelumnya berada di dekat Sie Lun lekas menjauh dan mencabut pdang. Namun kejadian berikutnya membuat mereka makin terkejut dan tercengang.
Tiba-tiba Sie Lun menggigit bibirnya keras sekali sampai mengcurkan darah. Lalu darah itu dia jilati sampai habis. Sedetik kemudian, terjadi perubahan pada tubuh Sie Lun.
"Hei...!" Zhang Qiaofeng memekik dan mendekat.
"Jangan Nona!!!" Minghao menarik tangan gadis itu.
Sesaat setelah meminum darahnya sendiri, tubuh Sie Lun mulai berkeringat, kulitnya memerah, dan sedikit demi sedikit dia mulai berkelojotan. Namun mulutnya itu selalu menyunggingkan senyum mengerikan.
Hingga beberapa lama dan tubuhnya semakin berkelojotan hebat, disaat-saat terakhir sebelum akhirnya dia benar-benar berhenti berkelojotan, terdengar sebuah ucapan yang membikin mereka semua kaget setengah mati.
"Kalian...akan....menerima....amukan guru...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG