
"Aaarrrghhhh!!"
Tanpa menunggu waktu lama, hanya dalam beberapa menit saja, ditambah bantuan tembakan hawa panas dari empat pendekar sejati, Zhang Heng telah mampu meloloskan diri.
Dia memanfaatkan hawa Yang nya untuk memanaskan tubuh sendiri. Akibatnya, seluruh kulitnya memerah dan membara seperti sebatang besi sedang ditempa. Lalu sekali hempas gunungan es itu pun pecah berhamburan.
Ketika tubuhnya melayang turun, A Yin cepat menyambut tubuhnya dengan perahunya. Maka sepasang kaki Zhang Heng mampu mendarat dengan mulus di atas dek perahu.
"Sialan! Bangsat!"
"Brak!"
Seperti dugaan semua orang, Zhang Heng marah besar dan ditendangnya perahu itu sampai jebol. A Yin yang melihat ini hanya mampu terdiam sambil menundukkan kepala, tak sanggup untuk memandang sepasang mata ketuanya yang memakai topeng itu.
Para anggota Iblis Tiada Banding pun sudah berkumpul di sana. Mereka pun menunjukkan sikap serupa, diam dan tidak berani memberi komentar. Bernafas pun perlahan saja seolah jika sampai terdengar oleh Zhang Heng, kepala mereka yang jadi taruhan.
Zhang Heng marah besar kali ini, karena selain dia berhasil ditipu oleh seorang bocah, dia juga mendapat kenyataan bahwasannya Lin Tian tak lebih lemah dari dirinya sendiri. Bahkan mungkin sedikit lebih tinggi jika pemuda itu mainkan seluruh ilmunya sampai tingkat maksimal.
Dia sudah membayangkan apa yang terjadi jika pemuda itu bersama pelayannya sampai ke ibukota dan melaporkan semuanya. Tentu organisasi ini akan hancur karena bagaimana pun juga, untuk saat ini kekuatan mereka belum cukup kuat untuk menandingi gabungan pasukan pemerintah dan para pejuang. Tentu saja lain halnya jika mereka menggunakan siasat licik dengan cara mengepung ibukota.
Zhang Heng yang cerdik itu segera memutar otak dan berusaha menepis emosinya agar tidak memengaruhi daya berpikirnya. Akhirnya setelah beberapa saat, dia sudah mengambil keputusan dan berkata.
"Kumpulkan semua pasukan dan kita akan berjaga di sepanjang pantai. Dua orang itu harus dibunuh, jika tidak kita bisa dalam bahaya. Saat mencapai pantai, kita pasang berbagai macam jebakan dan pasukan pendam untuk menjebak pasukan kekaisaran Song!"
Seruan ini segera ditanggapi oleh mereka yang segera putar balik dan melaksanakan perintah. Keempat pendekar sejati juga ikut andil dalam pengaturan pasukan. Sehingga setelah persiapan selama satu hari penuh, pada esok paginya mereka mulai berlayar menuju daratan yang lumayan jauh juga.
Selama perjalanan ini, Zhang Heng sama sekali tak bisa tenang dan pikirannya benar-benar gelap. Dia selalu nampak marah dan tubuhnya gemetaran saking jengkelnya.
...****************...
__ADS_1
"Cepatlah pulang dan beritahu kaisar tentang semua kejadian selama kau berada di markas Iblis Tiada Banding. Aku yakin mereka tak akan mau sudah sebelum membuat kita berdua menjadi mayat santapan burung liar."
Lin Tian memandang ke arah lautan Timur itu penuh perhatian. Entah kenapa firasatnya mengatakan kalau sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang besar.
Xin Kiu, pelayan kaisar yang amat setia itu duduk lemas bersandarkan batu. Dia memandang Lin Tian lamat-lamat dan membenarkan ucapan pemuda itu. Tapi jika dilogika, dengan tubuh buntung seperti itu, bukankah lebih baik Lin Tian saja yang bertugas menyampaikan pesan.
Dia menepuk-nepuk paha kirinya dan berkata, "Tak lihatkah engkau akan keadaanku? Bukankah lebih baik kau yang pergi?"
Pemuda itu menoleh sekilas sebelum menjawab, "Jika aku yang pergi, lalu siapa yang berjaga di sini jika pasukan mereka datang menyerbu?"
Xin Kiu tentu kaget sekali dengan ucapan ini. Bahkan matanya sampai membelalak lebar saat mulutnya melontarkan pertanyaan spontan, "Apa maksudmu menahan mereka? Jangan bilang kau hendak menghadapi mereka seorang diri?"
"Aku tak takut!" jawab pemuda itu cepat sesaat setelah ucapan Xin Kiu berhenti.
Tiba-tiba teringatlah ia akan kejadian bersama nona muda beberapa tahun silam, ketika dia masih berumur sembilan tahun dan kabur dari para pengejar Aliansi Golongan Hitam. Andai saja saat itu dia mampu melawan, mungkin keluarganya tidak akan hancur lebur kala itu.
Sampai saat ini Lin Tian belum bisa terbebas dari rasa penyesalan itu. Karena itulah, pada saat ini, walaupun dia pernah melawan nonanya dan menceburkannya ke laut, walaupun saat ini mungkin gadis itu sudah menganggapnya pengkhianat dan pendekar sesat, dia masih tetap akan menunjukkan kesetiannya. Dia tak akan mundur!
Xin Kiu tercenung mendengar gumaman penuh getaran perasaan ini. Dia merasa heran mengapakah nada bicara Lin Tian berubah dan nampak sedih juga tertekan. Tapi sebelum dirinya mampu merespon, Lin Tian sudah bangkit dan berkata singkat.
"Akan kucarikan kuda di desa nelayan itu." setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat lenyap dari hadapan Xin Kiu.
Ternyata desa nelayan pinggir pantai itu sudah sepi orang dan semua penduduknya pergi entah kemana. Lin Tian heran dengan ini dan mulai mencari-cari dimana adanya kandang kuda.
Dia merasa bersyukur sekali saat ada seekor kuda sedang makan rumput di pinggir salah satu rumah, dekat pohon kelapa tinggi besar. Kuda yang nampak sehat berpostur tinggi besar dengan warna coklat tua.
Tanpa ragu lagi pemuda ini menarik pelana kuda yang mengartikan bahwa sebelumnya ada seseorang yang memiliki kuda ini. Tapi karena Lin Tian tak mau berpikir lebih jauh, ditambah akan kenyataan seluruh desa sudah sepi, maka dia tanpa ragu mengambil kuda itu untuk dijadikan tunggangan Xin Kiu.
Lin Tian menaiki punggung kuda dan dibawanya menuju tempat persembunyian Xin Kiu. Saat tiba di sana, pria itu sama sekali belum merubah posisinya yang duduk bersandar batu.
__ADS_1
Hatinya merasa kasihan, tapi dia tak ada pilihan lain karena ini menyangkut nyawa rubuan bahkan jutaan rakyat kekaisaran Song.
"Pakai kuda ini untuk kembali ke kota raja dan laporkan semuanya pada kaisar!"
Lin Tian lalu berjalan ke salah satu pohon dan menebas ranting pohon yang nampak kuat. Ia hilangkan daun-daun yang menempel dan menyerahkan ranting itu untuk dijadikan tongkat Xin Kiu.
"Gunakan tongkat ini untuk membantumu berjalan. Cepat, tak ada waktu lagi!" kata Lin Tian sambil membantu Xin Kiu bangkit berdiri.
Dengan meringis menahan nyeri, Xin Kiu bangkit tertatih-tatih. Dan dengan berusah payah dia menggunakan tongkat ranting kayu untuk penunjang tubuhnya. Tubuhnya gontai dan bergoyang ke kanan kiri, tapi hanya sebentar saja sebelum Xin Kiu mampu menyesuaikan diri.
"Kau yakin akan hal ini?" tanya Xin Kiu memastikan akan keputusan Lin Tian.
"Mengapa kau yang ragu-ragu? Aku yang menantang maut dan tugasmu cukup mudah bukan? Nah sekarang pergilah! Aku menunggu kedatangan pasukan kaisar di sini." Lin Tian berkata seraya melemparkan tubuh Xin Kiu ke punggung kuda.
"Oh iya, bawa juga ini bersamamu dan tunjukkan pada kaisar. Dan untuk pedang ini, serahkan kepada nona Zhang."
Lin Tian tiba-tiba mengeluarkan tanda pengenal Zhang yang dibungkus dengan kain tebal. Dia juga menitipkan pedang kesayangannya agar nanti dapat diserahkan kepada Zhang Qiaofeng.
"Lin Tian, kau....apakah kau sudah gila!? Ini satu-satunya senjatamu!" sentak Xin Kiu.
"Jangan banyak omong! Kita tak punya banyak waktu!" bentak Lin Tian dan menendang pantat kuda. Saat itu juga, kuda meringkik dan membawa tubuh Xin Kiu dengan cepat.
Memandang kepergian sahabatnya itu sesaat, Lin Tian mengalihkan pandangannya menuju ke laut lepas. Dia menghampiri salah satu batu besar dan duduk di atasnya, bersila sambil memerhatikan Pulau Tulang Naga di kejauhan sana.
"Nah, mari kita lihat, apa yang akan terjadi selanjutnya...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hampir tamat bro, update satu-satu🤣
__ADS_1
BERSAMBUNG