
"Lalu apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?" tanya Jiang Shi.
"Lebih baik kita pergi bersama. Jika memang yang menyerang ini adalah orang yang telah mampu merobohkan Lin Tian dalam beberapa kali tepukan saja, maka akan sangat berbahaya." tegas Chu Quon.
"Pertama, kita pergi ke Barat. Lihat, di sana adalah gedung perpustakaan negara dan di sana pula yang menjadi tempat kebakaran paling besar. Ayo!" kembali Chu Quon memberi perintah.
"Tidak kita ke Timur!" sergah Zhang Qiaofeng.
"Lagi-lagi kau hendak membantah!?" bentak Chen Hu yang agaknya sangat jengkel dengan sikap gadis tersebut.
"Lihat baik-baik. Di sana adalah tempat gedung yang masih sebagian terbakar. Kemungkinan besar dalangnya baru saja membakarnya dan jika beruntung, kita bisa menemukan si pelaku yang masih berada di tempat itu."
Chu Quon mengangguk-angguk, "Masuk akal. Kalau begitu kita pergi ke Timur, ke arah gedung pengadilan!" Chu Quon berkata sembari memutar tubuhnya ke arah Timur dan lekas berlari cepat ke sana.
Semua pemimpin keluarga datang bersama tujuh orang pengawal kuat, kecuali Zhang Qiaofeng. Dan kaisar sendiri ditemani dua puluh orang pengawal. Sehingga jumlah mereka tujuh puluh sembilan orang.
Berbondong-bondong puluhan orang ini berlari kearah Timur. Melewati banyak rumah-rumah dan penduduk kota yang kebingungan akibat kejadian tersebut.
Beberapa saat mereka tiba di sana, api sudah mulai menyebar dan kian membesar. Di sana-sini juga nampak banyak penjaga dan prajurit yang malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa.
Chu Quon mengedarkan pandangannya, meneliti tempat tersebut dengan waspada dan menyeluruh, memutar kepalanya perlahan ke segala penjuru. Kemudian, matanya tidak sengaja menangkap siluet seorang pria yang berdiri tenang di pinggir gedung, dekat dengan pohon hias yang dahan terendahnya kira-kira setinggi satu meter dari tanah.
Chu Quon memicingkan matanya, sosok itu membelakanginya, berdiri menatap gedung yang makin lama makin terbakar itu. Pria ini seolah-olah tidak mempedulikan api tersebut yang lambat laun merembet makin dekat ke tempatnya berdiri. Yang lebih mengejutkan kaisar ini adalah, tangan kanan pria tersebut memegang sebuah obor yang masih menyala-nyala.
"Hei siapa di sana!?" sentak Chu Quon yang sontak mengejutkan rombongannya. Mereka juga segera memandang kearah mata kaisar itu memandang.
Alih-alih menjawab, pria misterius itu masih berdiri diam dan seperti tidak mendengar teriakan kaisar. Dia hanya berdiri acuh sambil terus memandangi gedung yang makin terang akibat nyala api kian membesar.
"Ah dia orangnya!!" seru Lin Tian tiba-tiba.
Hal ini mengejutkan mereka semua, maka dengan hati terkejut dan marah, kaisar Chu Quon segera berseru, "Tangkap dia!!!"
Dua puluh orang pengawalnya segera mencabut senjata dan melompat kearah pria tersebut. Lin Tian masih tetap bergeming, karena dia benar-benar tidak ingin bertindak ceroboh untuk menghadapi orang tersebut. Juga jika dia ikut menerjang, pemuda ini khawatir akan Nonanya yang ia tinggal sendiri.
Dua puluh orang itu segera mengurung dari depan pohon, mengurung dalam barisan berbentuk huruf "U" di sekeliling pohon. Karena letak pria itu berada di belakang pohon sedangkan di depan pria itu adalah tempat dimana gedung terbakar, maka dua puluh pengawal itu bersikap waspada.
"Siapa kau dan mau apa!?" bentak salah satu pengawal paling pinggir dari barisan. Pengawal ini mampu melihat jelas bahwasannya seseorang yang sedang mereka kurung itu tersenyum lebar dan tenang, sama sekali tidak menampakkan ekspresi takut atau semacamnya.
Karena tidak kunjung menjawab, pengawal itu kembali membentak, "Aku bicara padamu!!"
Namun masih sama, orang tersebut tetap bergeming ditempat dan masih pula dengan tampang tersenyumnya.
"Serang!!" akhirnya pengawal tadi berseru nyaring memberi perintah. Maka dengan teratur, dua puluh orang ini segera bergerak maju diawali dengan kelebatan senjata masing-masing.
Akan tetapi kejadian selanjutnya membuat semua orang merasa ngeri sampai-sampai harus menelan ludah secara paksa. Pasalnya, begitu dua puluh orang ini sudah berjarak kurang lebih satu meter dari si pria, dengan ajaib sekali pria ini memutar obornya dan...api itu segera menyebar kearah dua puluh orang tersebut dan langsung membakarnya.
__ADS_1
"Aaakhhh!!" mereka berteriak-teriak kesakitan.
Chu Quon dan lain-lain segera datang menolong. Namun baru beberapa langkah, tubuh pria misterius itu lenyap dan secara tiba-tiba sudah bediri di hadapan mereka. Kemudian, dalam sekali gebrakan, api obor itu meloncat kesana-sini seolah hendak mencari mangsa.
"Hati-hati Nona!!" seru Lin Tian dan langsung mendekap tubuh Zhang Qiaofeng erat. Kemudian dengan tangan kiri, dia mengirimkan angin dingin yang segera memadamkan api-api yang mengarah kepadanya.
"Auuhh!!"
"Aaaghh!!"
Demikian beberapa orang pengawal yang tak sempat menghindar berseru keras dan terbakar seketika.
"Nona, anda baik-baik saja? Maaf jika saya berlaku kurang ajar." ucap Lin Tian seraya melepas dekapannya dan memandang Zhang Qiaofeng khawatir.
"Y-Ya...aku tidak apa-apa...terima kasih." jawab perlahan gadis itu dengan muka merah sekali. Entah menandakan apa Lin Tian pun tak paham.
Mereka semua lantas memandang dengan raut wajah terkejut hebat. Tak pernah disangka-sangka, rombongan yang awalnya berjumlah tujuh puluh sembilan orang itu, hanya dalam sekali gebrakan saja mampu menewaskan empat puluh tiga orang dan menyisakan tiga puluh enam orang.
"Apa-apaan orang ini? Sekarang aku percaya jika orang ini memang mampu untuk menundukkan Lin Tian dalam beberapa kali tepukan." batin Hu Tao yang mulai timbul rasa jeri di hatinya. Namun segera ia tepis jauh-jauh dan kembali memandang penuh perhatian.
Kiranya pria misterius tersebut masih berdiri tenang dengan senyuman ramah menghias wajah tampannya. Sungguh sangat berkebalikan dengan tindakannya barusan.
"Kenapa kau mengacau!!" bentak Chu Quon.
"Tak ada yang perlu kukatakan atau apapun. Karena aku sangat yakin dan teramat yakin bahwa dengan keberadaan orang itu, kalian sudah tahu siapa adanya diriku." jawab orang itu ringan sambil menunjuk Lin Tian dengan dagunya.
"Orang ini harus mati!!" demikianlah mereka semua saling bermufakat dalam hati masing-masing.
...****************...
"Iblis!!" gumam Hu Tao dalam hati dengan penuh rasa ngeri yang kian lama makin memebesar.
Sedangkan di sebelahnya, berdiri Lin Tian dengan pedang tergenggam erat di tangan kanan, berdiri dengan nafas terengah-engah. Namun dia masih berdiri tegak untuk melindungi sang Nona yang agaknya sudah amat kelelahan itu. Sungguh pendekar yang gagah perkasa dan layak untuk dikagumi.
Di samping kirinya, duduk Chu Quon dengan nafas tersenggal-senggal. Memegangi pundak kirinya dengan tangan kanan yang berlumuran darah. Sedangkan pedangnya masih berada di cengkraman tangan kiri. Benar-benar seorang kaisar sejati, tidak mau melepas senjata di tengah medan tempur.
Dan sisanya juga dalam kondisi yang tidak beda jauh. Namun semuanya masih hidup, hanya para pengawal sajalah yang mati mengenaskan dengan cara yang bermacam-macam. Ada yang terbakar, kepala terpenggal, dada tertembus senjata sendiri, atau yang paling parah, mati dalam keadaan tubuh tercincang menjadi beberapa bagian.
Sehingga saat ini hanya menyisakan sepuluh orang saja.
"S-Sialan, siapa kau sebenarnya?" ucap Chu Quon terengah-engah.
"Tak perlu tahu siapa aku." jawab santai orang tersebut. Di belakangnya, gedung pengadilan itu sudah tak berbentuk lagi, hanya menyisakan nyala api yang masih berkobar, membakar sisa-sisa kayu atau atap bangunan.
Kebakaran di tempat lain sudah padam, hanya di sinilah yang masih tersisa. Maka dari itu, semua prajurit sudah megurung di tempat itu dan siap menyerang jika tidak ada perintah untuk tetap diam dari Chu Quon yang khawatir kalau-kalau ratusan prajuritnya masih belum mampu membekuk orang tersebut.
__ADS_1
"Hu Tao..." panggil Lin Tian perlahan.
"Ada apa?"
"Hanya kita berdualah yang masih mampu berdiri. Apa kita akan mundur atau melawan sampai mati?"
Hu Tao sedikit meringis untuk menahan rasa sakit di tubuhnya. Sebelum tiba-tiba terkekeh dan menjawab, "Kau ini bicara apa Lin Tian. Aku ini sekarang pemimpin keluarga, sedangkan kau adalah pendekar gagah yang diam-diam dikagumi banyak orang. Mana mungkin sebagai seorang lelaki, kita akan merendahkan harga diri dengan cara lari terbirit-birit dikarenakan satu orang?"
"Hehe...itu baru saudaraku." balas Lin Tian dengan terkekeh pula.
"Yang Mulia, tolong jaga Nona Zhang sejenak." Lin Tian lalu memondong Nonanya dan meletakkannya di dekat tempat Chu Quon duduk. Kaisar itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lin Tian...apa yang akan kau lakukan?" tanya Zhang Qiaofeng khawatir, memandang pemuda itu dengan muka pucat.
"Tidak apa Nona, hanya ingin melihat siapa yang lebih kuat diantara kami setelah sekian lama tak saling jumpa." jawab pemuda itu yang makin menggelisahkan hati Nonanya.
"Jangan Lin Tian...jangan..." sergah gadis tersebut yang sama sekali tak dipedulikan Lin Tian.
"Lin Tian kembali!! Kau dengar aku, kembali!!" kali ini Zhang Qiaofeng membentak. Namun Lin Tian tetap acuh. Baru kali inilah Lin Tian sama sekali tidak menghiraukan ucapan Nonannya.
"Nona Zhang." potong Chu Quon begitu Zhang Qiaofeng sudah membuka mulut hendak mencegah lagi.
Zhang Qiaofeng memandang, kemudian pria ini melanjutkan kalimatnya, "Lihat mereka berdua, seorang pemuda yang benar-benar gagah perkasa dan layak diberi penghargaan serta kehormatan. Nona Zhang, ketahuilah bahwasannya pencegahanmu itu sudah tak ada gunannya bagi Lin Tian. Sebagai seorang pengawalmu, tentu saat ini pilihannya hanya ada dua. Yaitu kau mati dan dia mati, atau dia yang mati dan kau selamat. Hanya itulah yang ada di pikirannya saat ini."
"Dan tolong pahamilah, dia punya perasaan Nona. Sebagai seorang lelaki sejati, pantang baginya untuk dikasihani orang lain karena hal itu mampu mencoreng harga diri. Karena itu, diam di sini dan berdoalah agar mereka berdua mampu keluar dengan selamat, sungguhpun hal itu agaknya sedikit mustahil dengan keadaan kita saat ini."
Zhang Qiaofeng tertegun mendengar semua itu. Kemudian dia kembali memandang penuh perhatian dan perasaan was-was. Memang benar, tak ada yang bisa ia lakukan saat ini kecuali hanya berdoa untuk keselamatan pemuda itu.
"Kau siap Hu Tao?" tanya Lin Tian begitu tiba di samping pemuda albino itu.
"Tentu saja, seharusnya aku yang bertanya." jawabnya.
"Heh, jangan bercanda." balas Lin Tian yang sudah mengedarkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Membuat sosok pemuda ini diselimuti kabut tipis berhawa dingin.
"Kita lihat siapa yang lebih kuat." lanjut Lin Tian seraya mengeratkan cengkraman pedangnya.
"Heh...siapa takut." Hu Tao menanggapi. Kali ini, tubuhnya terselimuti aura merah yang berhawa panas. Bahkan kedua belatinya sampai berwarna merah menyala.
Sedangkan di hadapan mereka, seseorang yang bukan lain adalah Sian Yang itu tersenyum makin lebar. Melempar obor yang sedari digunakan sebagai senjata kemudian memasang kuda-kuda. Perlahan, tubuhnya dikelilingan oleh kabut hitam yang memancarkan racun kuat.
Inilah tingkat penguasaan tenaga dalam yang sudah berada pada level tinggi sekali. Sampai membuat tenaga dalam seseorang terlihat begitu dialirkan ke seluruh tubuh, menandakan bahwa orang tersebut tidaklah bisa dianggap remeh.
Tanpa aba-aba namun kompak sekali, dua orang muda itu segera melesat cepat menerjang musuh. Pedang putih dan sepasang belati itu lekas diayunkan mengarah titik-titik berbahaya.
"Heheh...Sepasang Naga Putih...ingin kulihat sampai dimana kalian mampu menghentikan kami." gumam Sian Yang yang datang menyambut serangan lawan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG