
Beberapa jam berlalu dan mereka sampai disebuah daerah yang dipenuhi dengan perbukitan. Karena mereka tidak tahu kemana arah yang harus di tuju, sehingga tiga orang ini hanya berlari mengikuti jalan setapak itu yang masih lurus terus memasuki perbukitan.
Daerah perbukitan itu dipenuhi dengan berbagai macam pohon yang tinggi-tinggi, bahkan matahari sore pun sampai tak mampu menumbus rimbunnya daun pohon. Sehingga sungguh pun masih sore, namun keadaan di sana sudah remang-remang dan gelap.
Kira-kira setelah satu jam berlalu, matahari sudah benar-benar tenggelam dan keadaan di hutan itu menjadi amat gelap. Bahkan mereka bertiga merasa seolah-olah sudah tidak memiliki mata saking gelapnya.
"Kita berhenti dulu di sini, besok baru lanjutkan perjalanan!" ucap Zhang Hongli.
"Buat api unggun!!" lanjutnya sambil mengumpulkan beberapa kayu kering di sekitar.
Begitu api unggun sudah terbuat, mereka bertiga duduk melingkar. Tidak ada percakapan apapun, hanya duduk diam dan tenggelam di pikiran masing-masing.
Lin Tian pun melepas topengnya dan menghela nafas. Wajahnya terlihat sangat muram karena terlalu khawatir akan Nona mudanya. Sedangkan Minghao yang melihat wajah pemuda itu, diam-diam menjadi kagum akan ketampanan yang teramat sangat itu.
"Hah....sebenarnya di mana sih markas Aliansi itu?" gumam Lin Tian sambil menghela nafas. Wajahnya terlihat sudah sangat lelah.
Tak ada jawaban untuk ucapan Lin Tian itu. Zhang Hongli yang walaupun sudah tahu bahwa markas itu berada di Barat, akan tetapi dia sama sekali tidak tahu dimana letak spesifik markas itu, karena itulah dia tak mampu menjawab dan hanya diam saja.
Sedangkan Minghao, pria ini juga tak bisa berkata apa-apa karena dia hanya tahu letak markas itu dari rumor-rumor belaka, yang mengatakana jika markas Aliansi Golongan Hitam berada di daerah Barat.
"Guru...bagaimana jika seandainya kita salah arah?" setelah sekian lama, akhirnya Lin Tian kembali berkata. Nadanya terdengar sangat putus asa.
Zhang Hongli hanya diam termangu, bingung hendak menjawab apa. Setelah beberapa detik, dia hanya mampu berkata, "Aku juga tidak tahu Lin Tian..."
"Kuharap Nona baik-baik saja...."
...****************...
Keesokan harinya, pada pagi-pagi sekali ketika matahari belum terbit, tiga orang ini melanjutkan perjalanan. Ternyata perjalanan masih cukup jauh, disepanjang jalan mereka sama sekali tidak menemukan desa atau rumah-rumah penduduk. Hingga pada siang hari, mereka melihat ada sebuah rumah yang sangat megah di kejauhan sana.
"Apa itu? Itukah tempatnya?"
"Lebih baik kita mengecek langsung kesana guru."
"Ide bagus, ayo!!"
Bergegas tiga orang ini melesat cepat mendekati rumah itu. Dari jarak kurang lebih lima puluh meter, mereka mengintai di balik semak-semak.
"Agaknya memang benar di sini tempatnya Tuan. Lihat itu, bukankah itu sama persis dengan pakaian dari orang-orang Aliansi?" ucap Minghao sembari menunjuk kearah penjaga gerbang rumah itu.
Lin Tian dan Zhang Hongli mengangguk seraya melihat kearah dimana tangan Minghao menunjuk.
Di depan sana, rumah itu tak ada ubahnya seperti istana. Berdiri megah dengan halaman luas sekali yang lengkap dengan taman sekaligus kolam-kolam. Di sekitaran taman itu, berkeliling beberapa orang penjaga yang terlihat kuat-kuat.
Makin kuatlah dugaan mereka bahwa ini adalah tempat yang mereka tuju begitu melihat adanya dua wanita cantik yang sedang berjalan lenggak-lenggok menuju pintu rumah itu. Mereka bukan lain adalah Si Cantik Setan Kembar, momok besar bagi dunia persilatan.
Yang paling terkejut adalah Zhang Hongli, kakek satu ini saking terkejutnya sampai-sampai kedua bola matanya itu melotot lebar seakan hendak keluar. Hal ini tentu membuat Lin Tian dan Minghao merasa heran, maka Lin Tian bertanya.
__ADS_1
"Guru, ada apa?"
"Hm...sungguh aneh, aku masih ingat betul betapa dua puluh tahun lalu ketika aku pernah bertempur dengan mereka. Wajahnya itu, sama sekali tidak berubah!!" jawab Zhang Hongli.
"Hah?"
"Apa? Mana mungkin?"
Begitu mendengar penuturan ini, kepala Lin Tian bagaikan disambar petir saking terkejutnya. Ilmu apa yang mereka pakai sampai bisa membuat tubuh serta wajah itu masih tetap cantik molek? Pikir pemuda ini.
"Aku juga heran, mungkin saja umur mereka hampir sama denganku." lanjutnya.
Minghao dan Lin Tian memandang kearah Zhang Hongli dan dua orang wanita itu secara bergantian, seolah-olah tidak percaya pada kenyataan ini.
"Sudahlah, lebih baik kita bersiap-siap untuk menyusup ke sana. Entah rumah itu adalah markas Aliansi ataukah rumah dari orang Xiao Fu itu, yang pasti kita harus pergi kesana untuk mamstikan ada atau tidaknya keberadaan cucuku."
Setelah berkata demikian, Zhnag Hongli masuk ke kerumunan pohon lalu duduk di atas batu. Minghao dan Lin Tian pun mengikuti. Mereka terus duduk seperti itu sampai malam tiba.
...****************...
Ketika tengah malam, tiga orang ini mulai bergerak. Mereka berloncatan kesana-kemari bagaikan setan karena saking cepatnya.
Tiga orang ini dengan mudah saja melompat melewati tembok pembatas tanpa diketahui sedikit pun. Tentu saja hal ini teramat sangat mudah bagi mereka yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi sekali.
Begitu tiba di halaman luas depan rumah, dengan secepat kilat mereka menyelinap ke belakang tanaman-tanaman hias halaman itu. Kemudian dengan dipimpin oleh Zhang Hongli, tiga orang ini menuju rumah bagian samping.
"Ayo masuk!" ucap Zhang Hongli setengah berbisik.
Setelah Lin Tian dan Zhang Hongli menganggukkan kepala tanda setuju, kakek ini langaung melompat kearah jendela dan membukanya perlahan. Diikuti oleh murid dan rekannya, tiga orang ini masuk ke dalam rumah.
Ternyata ruangan dalam rumah itu sungguh megah sampai membuat tiga orang ini melongo saking terkejut dan kagumnya. Di sudut-sudut ruangan, terlihat berbagai macam perabotan dan guci yang terbuat daripada perak atau emas.
Lantai ruangan itu terbuat dari giok putih yang sangat putih dan berkilauan. Di dinding-dinding juga terdapat berbagai macam lukisan kuno yang indah-indah.
Namun hanya sebentar saja mereka dalam keadaan seperti itu, karena beberapa detik kemudian, ketiganya sudah mampu mengendalikan diri kembali dan teringat akan tujuan awal. Maka, mereka melanjutkan perjalanan memasuki ruangan lebih dalam.
Terus berjalan ke ruang dalam, mereka bertiga selalu disuguhkan dengan pemandangan serba mewah itu. Juga, ada hal yang membuat mereka bertiga cukup terheran-heran akan keadaan rumah super megah ini.
"Mengapa hanya sedikit sekali pengawal yang kita temui?"
"Benar, di luar tadi pun hanya terlihat beberapa saja."
"Sepertinya ada yang tidak beres..."
"Jadi guru, bagaimana baiknya sekarang?"
"Kita lanjutkan saja. Mau jebakan atau apapun itu, kalau demi keselamatan cucuku, aku tidak takut!" jawab Zhang Hongli dengan pandang mata tajam. Jika sudah seperti sekarang, kakek ini benar-benar terlihat sangat berwibawa dan gagah.
__ADS_1
"Benar, kalau demi Nona muda, apapun itu akan kulalui!" batin Lin Tian sembari mengepalkan tangan untuk menguatkan hatinya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba diruangan yang sepertinya menjadi ruang paling belakang rumah. Di sana terdapat sebuah pintu yang terbuat dari besi tebal.
Melihat ini, mereka bertiga saling pandang sejenak. Seperti berkomunikasi malalui pandang mata, lalu kemudian mereka mengangguk tanda sudah paham akan pikiran masing-masing. Kemudian Lin Tian melangkah maju dan mencoba membuka, akan tetapi ternyata disana terdapat sebuah rantai tebal yang digunakan untuk mengunci pintu tersebut.
"Hancurkan rantai itu!" perintah Zhang Hongli.
Dengan Pedang Dewi Salju Lin Tian, hanya dalam tiga kali tebas saja rantai itu sudah terlepas. Begitu pintu terbuka, nampak oleh mereka sebuah tangga panjang yang memasuki ruang bawah tanah. Makin curigalah mereka. Dinding serta tangga di tempat itu terbuat daripada batu-batu lembab.
"Mari masuk!"
Mereka melangkah dengan hati-hati dan perlahan. Menyusuri setiap anak tangga satu persatu seraya memasang kewaspadaan penuh akan sekitar. Walau pun saat ini mereka sedang berada di lorong sempit, akan tetapi tidak menutup kemungkinan jika diruang itu terdapat alat rahasia yang bisa mencelakakan mereka.
Dan benar saja, begitu tangga sudah habis dan mereka tiba di sebuah lorong lebar, di sana terdapat sebuah alat rahasia yang secara tidak segaja telah diaktifkan oleh Minghao ketika pria ini menginjak salah satu batu di tempat itu.
Begitu pria sastrawan ini menginjak sebuah batu berbentuk segi delapan, secara tak terduga-duga, dari atas kepalanya meluncur puluhan anak panah yang bersiap mencabut nyawanya.
Akan tetapi dasar dia adalah seorang sakti, serangan macam ini mana mempan terhadapnya. Maka dengan tenang saja, Minghao mengeluarkan sulingnya dan memutar di atas kepala, melindungi tubuhnya dengan "payung" suling itu.
"Trang-trang-trang"
Anak-anak panah itu terpental kesana kemari tanpa ada satupun yang mengenai tubuh Minghao. Melihat ini, Zhang Hongli segera mengingatkan.
"Hati-hati akan jebakan di sini! Kiranya kita telah memasuki ruangan rahasia dari rumah ini. Semoga saja cucuku bisa segera ketemu di dalam sana."
Kembali mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini bahkan jauh lebih waspada daripada tadi.
Ketika baru menginjak lima puluh langkah dari jebakan sebelumnya. Secara tiba-tiba sekali, batu yang dipijaki Lin Tian mencelos kebawah sehingga membuat lubang besar.
Dengan cekatan sekali, pemuda ini bersalto di atas udara dan mendarat beberapa meter di depan, selamat daripada bahaya.
"Hampir saja..." gumam Lin Tian.
Beberapa menit berlalu dan mereka tiba di ujung lorong yang ternyata adalah sebuah ruangan yang teramat luas.
Di tengah-tengah ruangan itu, terdapat beberapa tiang yang tinggi sekali sampai menyentuh langit-langit ruangan. Tiang yang terbuat dari kayu tebal berdiameter seukuran paha orang dewasa.
"Hm...apa itu?" Lin Tian memicingkan matanya begitu penglihatannya melihat sebuah kejanggalan pada dua tiang kayu itu.
"Ada apa?" tanya Minghao yang turut membuat Zhnag Hongli penasaran.
Alih-alih menjawab, pemuda ini malah berjalan mendekati dua tiang tersebut. Semakin dekat, dia terkejut bahwa sesuatu itu ternyata adalah dua sosok tubuh manusia. Jika dilihat sepintas lalu, agaknya mereka seorang perempuan.
Tanpa sadar, Lin Tian mempercepat langkahnya. Dan begitu sudah dekat, betapa kaget dan sakit hati Lin Tian ketika memandang salah satu tubuh itu. Spontan dia berteriak hingga mengejutkan dua orang di belakangnya.
"Nona muda!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG