
"Nama saya Chu Rou dan kakak saya ini bernama Chu Wei. Kami ini putra dan putri kaisar Tuan."
"Apa!?"
Zhang Hongli dan Lin Tian membolatkan kedua mata tak percaya. Detik berikutnya, mereka sudah membungkuk hormat dan berkata, nada dan cara bicaranya lebih halus dari sebelumnya.
"Ah...kiranya Tuan Putri dan Tuan Muda kekaisaran Chu. Maafkan aku dan muridku ini yang telah bersikap lancang." ucap Zhang Hongli dengan menunduk dalam memberi hormat.
Inilah yang membuat kedua orang itu sedikit tidak senang. Mereka berdua sudah mual dengan segala penghormatan semacam ini, dan mereka sejatinya ingin diperlakukan dengan sejajar, bukan dengan menghormat dan dihargai dengan berlebihan.
Melihat kedua guru murid itu menundukkan badan sampai dalam sekali, maka cepat Chu Rou berkata, "Sudahlah Tuan, anda dan murid anda yang telah menyelamatkan nyawa kami. Seharusnya kamilah yang harus minta maaf karena mengganggu perjalanan Tuan berdua." sambil berkata, gadis ini mengangkat pundak dua orang tersebut untuk bangun.
Lalu Lin Tian menjawab, "Maaf Nona jika saya lancang. Mereka hendak membunuh kalian untuk memberontak kaisar bukan? Apakah hal ini ada hubungannya dengan Aliansi Golongan Hitam?"
Gadis itu menundukkan mukanya, begitu juga dengan Chu Wei yang masih terduduk lemas. Raut wajah mereka terlihat suram dan tidak enak dipandang.
"Aku tidak tahu Tuan, karena itulah aku dan kakak hendak pergi ke kota Giok untuk melakukan penyelidikan. Ayah sudah menyuruh kami untuk membawa para pengawal, namun kami menolak dan tetap bersikeras untuk pergi kemari. Tetapi sekarang...hampir saja kami mati jika Tuan berdua tidak datang."
"Ah...sungguh aku dan Rou'er sudah menjadi anak durhaka." Chu Wei kemudian menyahut.
Ucapan ini disusul dengan Chu Rou yang tiba-tiba menangis dan menjatuhkan diri keatas tanah. Gadis ini terlihat sangat menyedihkan dan memprihatinkan.
"Ayah...ibu...maafkan anak bodoh kalian ini..." gumam gadis itu.
Kakaknya yang melihat ini, hanya mampu mengelus punggungnya dengan lembut untuk sedikit membuat ia merasa lebih tenang.
...****************...
Lima menit sudah terlewat dan tangis itu baru saja berhenti. Mata gadis ini terlihat memerah akibat terlalu lama mengucurkan air mata. Kakaknya masih setia untuk memeluk dan mengelus pundak gadis itu.
"Kalian akan pergi ke kota Giok kan? Bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama?" tanya Zhang Hongli kemudian.
"Maaf Tuan, kami harus menolak. Kami yang muda ini tidak bisa untuk terus bergantung dan merepotkan Tuan. Kami akan pergi sendiri kesana setelah beristirahat sejenak di sini." jawab Chu Wei.
"Merepotkan? Tidak-tidak, kalian sama sekali tidak merepotkan. Justru semakin banyak orang akan semakin seru!! Pasti mereka akan marah besar melihat kehadiran kita berempat di sana hehe...."
"Apa maksud anda guru?" tanya Lin Tian yang mulai merasa tidak enak.
"Tentu saja kita akan menghadiri pertandingan di Perguruan Tongkat Bambu Kuning itu. Dan ketika di sana, kita akan membikin kacau mereka!! Hahaha...aku tak sabar untuk melihat reaksi Raja Tongkat ketika hal itu tetjadi." jawab kakek ini sambil tertawa keras.
__ADS_1
Wajah Chu Rou dan Chu Wei langsung berubah pucat. Bukan main, pikir mereka. Bisa-bisanya kakek tua ini mengajak mereka untuk datang ke pertandingan itu, bukankah hal ini sama saja dengan masuk ke kandang singa untuk menemui malaikat maut?
"Tenang, aku bisa menjamin keselamatan kalian. Tapi, tentu saja tidak untukmu Lin Tian." kembali Zhang Hongli berkata begitu menyadari perubahan raut muka kedua orang kakak beradik tersebut.
"Hah? Kenapa aku tidak guru?" tanya Lin Tian heran dan terkejut.
"Karena kau itu sudah kuat!! Untuk apa kulindungi lagi? Jadi, jika kau mati di sana akibat dikeroyok banyak orang, itu bukan salahku melainkan salahmu sendiri yang telah mengabaikan pelajaran-pelajaran silat warisanku!!" jawab kakek ini bersungut-sungut.
"Sialaaann!!! Kau bilang jika ilmuku ini bisa di sempurnakan dilain waktu. Tapi sekarang kau bilang seolah-olah aku ini adalah seorang murid pembangkang yang tidak pernah menuruti perintah gurunya!! Dasar guru durhakaaa!!" jerit Lin Tian yang tentu saja hanya terdengar oleh dirinya sendiri, karena teriakan amarah ini hanya diucapkan dalam hati yang paling dalam.
"Apa kau yakin Tuan?" tanya kembali Chu Wei.
Zhang Hongli hanya mengangguk mantap sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kami ucapka terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuan...." Chu Wei menghentikan perkataannya.
"Zhang Hongli."
"Lin Tian."
Chu Wei lalu tersenyum dan berkata, "Terima kasih kepada Tuan Zhang Hongli dan Tuan Lin Tian."
...****************...
Namun ada yang sedikit aneh dengan orang-orang yang memenuhi kota itu. Pasalnya, kebanyakan dari mereka berpakaian seperti seorang pendekar yang memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang berpakaian biksu, pengemis, sastrawan, ada juga yang memakai jubah mewah dengan gelang dan kalung emas di sana-sini. Walau begitu, mereka berempat tahu betul jika kesemua orang yang berpakaian serba aneh itu adalah orang-orang dunia persilatan.
"Kenapa banyak sekali pendekar?" tanya Lin Tian seraya menengok kekanan dan kiri untuk memandangi sekitar.
"Dasar murid bodoh! Tentu saja mereka hendak menyaksikan pertandingan Perguruan Tongkat Bambu Kuning itu. Memangnya mau apa lagi?" tukas Zhang Hongli.
"Ah, benar juga"
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah toko baju yang menjual beraneka ragam pakaian. Chu Wei dan Chu Rou masuk kedalam untuk membeli baju baru yang sudah rusak.
Setelah mereka keluar, kembali empat orang ini melakukan perjalanan menuju salah satu rumah penginapan. Chu Wei memesan empat kamar untuk mereka yang harganya membuat dua orang tua dan muda itu terkejut setengah mati.
"Tuan, bukankah ini sedikit berlebihan...?" tanya Zhang Hongli ragu-ragu.
Chu Wei dan adiknya tersenyum, lalu terdengar Chu Rou berkata, "Dibanding jasa anda berdua, ini bukanlah apa-apa."
__ADS_1
Akhirnya, mereka berdua menurut dan menginap di penginapan itu. Hingga hari pertandingan pun tiba.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!!" ucap Zhang Hongli dengan mata berbinar, melangkah lebar dan berjingkrak-jingkrak kegirangan meninggalkan area penginapan.
Kakak beradik itu hanya tertawa kecil melihat kelakuan guru Lin Tian yang terlihat aneh dan sedikit kekanak-kanakan di mata mereka. Sedangkan Lin Tian, pemuda ini menampilkan ekspresi yang sulit diartikan karena merasa malu telah memiliki guru yang banyak tingkah seperti itu.
"Untung masih kuanggap sebagai guru..."
...****************...
"Hm...tidak buruk, tidak buruk." ucap Zhang Hongli sambil memandangi sekitar tempat pertandingan itu diadakan.
Di dalam halaman depan Perguruan Tongkat Bambu Kuning, telah berdiri sebuah panggung lebar yang nantinya akan dijadikan arena pertarungan para peserta.
Sedangkan di sebelah kanan, terdapat sebelas kursi megah dan mewah lengkap dengan meja panjang yang dapat diduga adalah tempat duduk untuk orang-orang teratas perguruan itu.
Di sebelah kiri sebelas kursi tersebut, kira-kira sejauh dua meter, terlihat sembilan kursi yang juga tak kalah indah dan megah dari sebelas kursi yang ada di sebelah kanan. Sembilan kursi ini juga dilengkapi dengan meja panjang. Kursi-kursi ini nantinya akan diduduki oleh tamu kehormatan perguruan.
Di sekitar panggung itu, sudah terdapat banyak sekali orang yang beraneka macam. Ada sastrawan, pendekar bahkan pedagang sekalipun juga ada yang menyempatkan diri untuk berdagang di sekitar area panggung.
Namun dari semua orang itu, yang paling mendominasi adalah para pendekar, baik dari golongan putih maupun sebaliknya.
"Mana si Raja Tongkat itu, aku ingin lihat apakah di atas arena nanti dia masih bisa berlagak." kata Zhang Hongli dengan amgkuhnya sembari melihat-lihat kearah deretan kursi mewah itu untuk mencari orang yang dimaksud.
"Cih!! Muridmu ini yang akan menjadi kerepotan orang tua!!" umpat Lin Tian tak terima. Tentu saja hanya di dalam hati.
Tak berselang lama, tiba-tiba Chu Rou berkata, "Lihat di sana!"
Sedetik berikutnya, terdengar sorak sorai para penonton ketika mereka melihat kearah beberapa orang yang baru saja keluar dari gedung utama perguruan itu, terlihat di mata mereka memancarkan kekaguman serta rasa takjub.
"Tuan rumah sudah dataaaangg!!!"
Mendengar seruan ini, entah mengapa kedua guru murid itu tersenyum sinis dalam diamnya.
"Datanglah kemari Raja Tongkat, Ling Shi. Aku sudah tak sabar untuk melihat kekalahanmu di depan semua orang ini." batin Zhang Hongli
"Heheheh....Ling Shi, cepatlah keluar dan biarkan kedua tanganku ini menghancurkanmu!!" gumam Lin Tian dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG