
Sudah berjam-jam lamanya Lin Tian mendaki bukit itu dan saat ini hari sudah menjelang senja. Lin Tian hampir berhasil mendaki sampai ke puncak ketika matahari sudah terbanam di barat, namun....
"Grroooaaarr!!"
Dengan tubuh yang penuh dengan luka, dia memandang segerombolan harimau, singa dan beruang di depannya dengan malas. Tak pernah terpikirkan di benaknya bahwa saat ini dia harus bertarung lagi melawan tiga hewan yang ukurannya diluar ukuran selayaknya.
"Sialan....apakah aku harus membunuh mereka?" gumam Lin Tian sedikit terengah-engah.
"Groooaaarrr!!" tiga hewan itu mengaum keras dan menerjang maju untuk melahap Lin Tian.
"Sial, tak ada pilihan lain. Aku mati atau kalian yang mati!" seru Lin Tian yang sudah memegang Pedang Dewi Saljunya.
Dia mengerahkan ilmu langkah kilatnya untuk melesat mendekati tiga hewan itu. Ketika sudah dekat, dia melakukan tebasan horizontal dengan pengerahan hawa sakti.
"Trangg!!"
Secara aneh sekali, tiga hewan itu dengan kompak menahan laju pedang Lin Tian menggunakan mulut mereka. Membuat Lin Tian melebarkan mata karena terkejut hebat. Namun Lin Tian tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan bertumpukan pada pedangnya yang sedang di gigit itu, Lin Tian mengangkat tubuh dan menendang kepala beruang yang berada di tengah.
"Buaghh!!" kakinya berhasil menghantam kepala itu dengan keras. Namun kembali dia dikejutkan karena kepala beruang itu hanya terbanting ke tanah dan tidak pecah. Padahal awalnya dia menaksir bahwa beruang itu akan mati seketika.
Belum hilang rasa terkejutnya, dari kanan kiri sudah menyambar sepasang cakar harimau dan singa. Lin Tian buru-buru memutar pedang untuk melindungi tubuh dari terjangan itu.
Pertarungan terjadi dengan sengit. Lin Tian yang sudah kehabisan tenaga itu harus melawan himpitan tiga ekor hewan buas yang kekuatannya bahkan tak lebih lemah dari pendekar tingkat tinggi. Membuat dia kualahan bukan main.
Namun bagaimana pun juga, hewan tetaplah hewan, sekuat apapun dia tidak akan mampu menandingi kecerdasan manusia.
Seperti halnya keadaan Lin Tian saat ini. Ketika diperhatikan, tiga hewan ini hanya menyerang mengandalkan tenaga dan sama sekali tidak kompak. Asal terjang secara ngawur saja.
Karena hal inilah Lin Tian mendapat ide cemerlang.
Ketika beruang hendak menggigitnya, Lin Tian cepat berkelit dan menyelinap di balik tubuh harimau. Saat itulah sang singa menyerang dengan cakarnya.
Karena tubuh Lin Tian ada di balik harimau, maka cakaran singa itu bukannya mengenai Lin Tian, malah menyerang tubuh harimau sendiri. Membuat harimau marah dan menerjang singa.
__ADS_1
Hanya dalam sekali gerak saja, Lin Tian berhasil mengurangi jumlah musuhnya. Dan saat Lin Tian menghadapi beruang, ternyata hewan itu sudah menubruk maju.
"Jika hanya kau seorang apa sukarnya!!??" Lin Tian membentak dan menendang dagu beruang itu dengan keras sekali.
"Duaghh!!"
Beruang itu sampai berdiri tegak karena tendangan Lin Tian yang amat keras. Ketika dia menoleh ke bawah, ternyata pemuda itu talah menusukkan pedangnya ke tenggorokan.
"Orggghhkk!!"
Terdengar suara mengerikan sebelum hewan itu tumbang dengan keadaan tak bernyawa.
"Aku lelah, malas sekali melayani mereka. Lebih baik segera pergi ke puncak!" Lin Tian melihat pertarungan singa dan harimau itu sejenak sebelum pergi mendaki lagi. Dia tak ambil peduli dengan mereka dan berharap ketika turun nanti, keduanya sudah sama-sama mati.
Lima belas menit kemudian, akhirnya dia mencapai puncak yang amat sempit untuk seukuran puncak gunung. Ukurannya mungkin hanya sebesar empat kali empat meter. Di atas sana, sama sekali tidak ada penghalang di sisi-sisinya sehingga jika Lin Tian salah gerak, boleh jadi hal itu bisa membuatnya terjatuh.
Di sana juga terdapat sebuah peti yang nampak usang. Lin Tian sebenarnya sedikit ragu untuk membuka peti usang itu. Namun karena perintah gurunya untuk menemukan peti, dan satu-satunya peti yang ada di sana hanyalah peti usang itu, akhirnya dia membukanya.
Lin Tian Sedikit berseru ketika melihat di dalam peti itu terdapat satu setel pakaian bersih dan topeng setengah wajah. Keduanya ini berwarna hitam.
Di bawah tumpukan dua benda ini, terdapat pula sebuah buku yang terlihat amat usang.
"Apa ini?" Lin Tian mencoba membuka buku itu namun ketika dia membalikkan lembar pertama, saking usangnya kertas itu malah sobek.
Ketika dia menemukan sebuah tulisan yang cukup panjang di akhir halaman, dia membacanya dengan seksama. Kemudian mulutnya berseru heran ketika melihat siapa yang menulis buku itu.
"Ini....ini....tidak mungkin!!!"
...****************...
Malam hari itu, Chong San sibuk membuat masakan di luar rumahnya untuk menyambut kedatangan Lin Tian. Dia sudah memperkirakan semuanya saat mengikuti pemuda itu secara diam-diam siang tadi. Menurut perkiraannya, Lin Tian akan kembali tengah malam ini.
"Guru...."
__ADS_1
"Ah...Lin Tian, kau sudah pulang? Marilah kita makan besar untuk memperingati kelulusanmu!" ucapnya senang ketika memandang Lin Tian telah mengenakan pakaian hitam-hitam dari atas sampai bawah.
Pakaiannya sungguh berbeda dari ketika dia menjadi Pendekar Hantu Kabut. Saat ini pekaian itu terlihat lebih mewah dengan kerah dan ujung baju berwarna emas. Sabuk hitamnya itu ia gunakan untuk menyelipkan Pedang Dewi Saljunya. Memang dia menyelipkan pedang itu di pinggang karena beberapa hari lalu, tali yang digunakan untuk menyelempangkan pedang di punggung mulai rantas dan rusak. Sehingga dia tak mampu lagi meletakkan pedang itu di punggung seperti dulu.
Kali ini dia juga memakai sepasang pelindung tangan, berbeda dari sebelumnya yang hanya memakai sarung tangan bisa. Pelindung tangan itu berfungsi untuk melindungi pergelangan tangan Lin Tian. Terbuat daripada baja pilihan berwarna coklat keemasan dengan ukiran naga.
Wajahnya pun juga mengenakan topeng yang terdapat di peti itu. Topeng setengah wajah berwarna hitam yang menutupi luka bakarnya.
Yang paling mencolok dan indah adalah, gambar sulaman naga emas di punggungnya yang sedang memeluk bulan. Benar-benar sulaman yang indah sekali.
"Guru, tolong jelaskan semuanya." ucap Lin Tian lirih.
"Tentu...tentu...marilah kita bicara setelah makan. Kau pasti lelah kan?"
Lin Tian sebenarnya tak terlalu senang, dia sangat pensaran dengan kebenaran dari buku di puncak gunung tersebut. Namun dia tak membantah karena memang tubuhnya amat lelah juga lapar. Maka dia segera duduk dan menyantap makanan dengan lahap tanpa berucap sepatah katapun.
"Sekarang, coba jelaskan guru!" Lin Tian terus mendesak setelah menghabiskan makannya.
"Wah..wah...tak sabaran benar!" Chong San mencela dan melanjutkan makannya dengan tenang. Sama sekali tidak menjawab ucapan Lin Tian.
Setelah selesai makannya dan meletakkan mangkok di tanah, dia menghela nafas dan berkata.
"Kau sudah tahu setelah membaca buku itu. Lalu untuk apa kau memintaku menjelaskan semuanya? Buang-buang waktu saja."
"Guru, jangan menyembunyikan sesuatu. Siapakah Ling San itu? Dan siapakah guru sendiri? Lalu siapakah....Sepasang Naga Putih?"
Chong San menatap muridnya tajam, namun sedetik kemudian wajahnya menyendu disertai helaan nafas berat.
"Akulah peramal itu. Akulah peramal yang meramalkan akan datangnya dua orang pendekar sakti berjuluk Sepasang Naga Putih."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1