
Sebuah hutan yang lebat dan luas, diisi oleh pohon-pohon raksasa yang disertai lumut di setiap batangnya. Pagi hari ini cuaca nampak cerah, angin berhembus tenang serta suara kicau burung ikut meramaikan suasana sunyi di hutan itu.
Terdapat sebuah goa, dikatakan besar tak bisa dikatakan kecil tak pantas. Goa itu mungkin tingginya hanya lebih tinggi satu meter dari tinggi orang dewasa, sedang lebarnya hanya muat untuk dua orang. Di atas goa itu, terdapat pohon-pohon dan semak belukar lebat yang menjuntai ke bawah menyembunyikan lubang goa.
Api unggun kecil nampak menyala di depan mulut goa, suara "trak-trok-trak-trok" selalu terdengar setiap kali lidah api itu menjilat-jilat kayu bakar diiringi semakin terangnya cahaya yang tercipta dari si api.
Seorang kakek sepuh duduk melengut di depan api unggun, kepalanya menunduk seperti otang mengantuk. Ada sebatang bambu butut yang agaknya orang ini terlalu sayang sehingga tak digunakan sebagai bahan bakar api unggun.
Semuanya nampak tenang, suasana sunyi setiap kali kicauan burung itu berhenti beberapa saat. Kakek ini hendak tidur karena bosan, begitulah niat awalnya sebelum sebuah suara halus lembut penuh kebingungan terdengar di belakangnya.
"Kek, dimana aku?"
Membuka mata lebar-lebar dan sedikit terperanjat, orang ini menoleh untuk menemukan nona Zhang yang terlihat kebingungan sekali dengan memandang hutan sekitar. Dia lantas tersenyum saat berkata.
"Nona Zhang, duduklah kemari. Saat ini kita ada di hutan yang dekat dengan pesisir."
Mengetahui identitasnya disebut, gadis yang bukan lain Zhang Qiaofeng ini memasang kewaspadaan. Akan tetapi akhirnya dia menurut juga karena pikirnya bisa apa kakek sepuh ini.
"Aku menemukanmu hanyut di laut. Ada masalah apa sih sampai mau bunuh diri?" celetuk kakek itu yang buka suara sekaligus menuduh.
Mengernyitkan kening tak suka, Zhang Qiaofeng melotot ketika menjawab, "Aku tak cukup gila untuk bunuh diri! Walaupun pernah kucoba sih...." ucapan terakhir yang lirih ini sejatinya masih didengar oleh si kakek yang pura-pura tak dengar.
"Namaku Chong San."
"Aku tak ingat pernah menanyakan namamu."
"Setidaknya kenalilah penolongmu, nona Zhang Qiaofeng. Oh...kau terkejut aku mengenal namamu? Hehe, perkenalkan, aku ini satu diantara sejuta orang penggemar beratmu!!" kakek sepuh itu berdiri dan memasang wajah bangga.
"Seterkenal itukah diriku?"
"Yah, baguslah kau mengenalku, sehingga tak perlu lagi aku repot memperkenalkan nama dan darimana aku berasal. Tapi sayang sekali, idolamu ini sedang kena nasib sial!" mengatakan itu, tangannya mengepal dan memukul tanah di bawahnya.
"Sret-sret!"
Tiba-tiba Chong San melakukan gerakan memutar sebanyak dua kali, dan tahu-tahu di tangannya sudah ada daging segar.
"Eh, darimana kau dapatkan itu?" tanya Zhang Qiaofeng terkejut melihat daging ayam hutan yang masih nampak segar, bahkan darahnya pun masih tertinggal.
"Baru saja aku berburu di hutan."
Jawaban nyeleneh ini berhasil membuat rahang gadis itu terbuka dengan mata melotot. Bukankah sejak tadi dia duduk di sini, mengobrol dengannya? Tak pernah dilihatnya ada daging ayam sebelumnya!
"Ayo kita makan, barulah lanjut mengobrol!"
"Eh, siapa yang mau mengobrol? Aku harus lekas pulang agar orang-orangku tak kerepotan mencariku."
__ADS_1
"Haha, ayolah makan dulu, setelah itu kau pasti minta-minta supaya aku membawamu."
Heran sebenarnya, tapi karena rasa lapar yang mulai menyerang, akhirnya dia membantu Chong San memanggang ayam sebelum kemudian disantapnya dengan penuh takjub.
"Ini enak! Seperti diberi bumbu! Apakah tangan keriput yang hanya tinggal tulang itu adalah tangan ajaib?"
...****************...
"Mandilah dulu di sungai ini, aku akan menunggu di sana." ucap Chong San menunjuk salah satu tikungan sungai yang banyak terdapat batu-batu. Zhang Qiaofeng hanya membalas dengan anggukan singkat.
"Kalau ada apa-apa, kau tinggal teriak saja memanggilku." lanjutnya sembari tersenyum.
"Heh, aku bisa mengatasinya sendiri kalau ada apa-apa!" ujar gadis itu dalam hati. Namun akhirnya dia mengangguk juga.
Chong San berjalan menghampiri kumpulan batu itu, kemudian dia melompat dan sedetik kemudian tubuhnya lenyap di balik kumpulan batu-batu besar. Zhang Qiaofeng mulai menanggalkan pakaiannya satu-satu, ketika terdengar seruan Chong San, buru-buru dia pakai kembali pakaiannya dengan muka merah.
"Tenang saja, aku tak akan mengintip kok. Lagipula orang hampir mati macam aku ini sudah tak berhasrat untuk yang seperti itu. Tapi beda lagi kalau ada kesempatan!!!!" dalam seruan terakhir, sengaja dia berteriak agar Zhang Qiaofeng mendengar jelas.
"Orang gila!!"
...****************...
Hanya terlihat kepala saja di aliran sungai itu, Zhang Qiaofeng menenggelamkan seluruh tubuhnya sembari memandang tajam kearah kumpulan batu-batu tempat dimana kakek itu bersembunyi.
"Andai saja yang bicara Lin Tian, tentu aku suka....Sialan!! Sepertinya air di sungai ini memabukkan!"
Cepat-cepat dia melompat keluar dan memakain pakaiannya dengan wajah yang sudah tak mampu dideskripsikan lagi. Sangat merah seperti buah apel yang terlalu masak.
Ketika selesai mengankan baju, tiba-tiba telinganya mendengar suara-suara seperti angin menyambar. Sangat dahsyat dan kuat. Bahkan Zhang Qiaofeng dapat melihat jelas rumput-rumput dan pohon di sekitar kumpulan batu itu nampak bergoyang setiap kali angin menyambar.
Dalam pikiran Zhang Qaiofeng, dia mengira ada seorang tokoh persilatan yang datang dan menyerang Chong San. Maka dengan penuh kekhawatiran, dia melesat menuju tempat itu
Namun sedetik kemudian, dia melongo heran juga kaget. Bersembunyilah di balik bebatuan besar itu seraya memandang kearah Chong san yang sama sekali tidak diserang siapa pun. Melainkan malah dirinyalah yang melakukan serangan.
Dengan dua ranting kayu kecil sepanjang dua tiga jengkal, kakek itu memainkan ilmu silat yang hebat sekali. Mata Zhang Qiaofeng yang tajam dapat mengenali ilmu sakti, tapi ilmu silat kakek itu sungguh pun hebat, Zhang Qiaofeng sama sekali tak kenal darimana asal maupun dasarnya.
Selang beberapa menit, kakek itu agaknya sudah mencapai gerakan penutup. Dia melompat ke depan dan mengarahkan kedua pisau ranting dengan gerakan menusuk. Seketika sambaran angin dahsyat tercipta dan batu sebesar perut kerbau di hadapannya pun tembus, berlubang sampai ke sisi sebaliknya.
"Woah..." tak terasa mulut Zhang Qiaofeng menyerukan seruan kagum dan dia melompat keluar dari tempat persembunyian.
"Kakek, itu sangat hebat! Siapa sebenarnya kakek ini!?"
"Bukankah tadi pagi kita sudah saling kenal mengenal, namamu Zhang Qiaofeng, sedangkan aku tua bangka bau tanah ini namanya Chong San. Aku ragu kau bisa lupa dalam waktu secepat ini, apakah namaku sesulit itu untuk dihafal?"
Zhang Qiaofeng membanting kakinya, merasa kesal dengan sikap kakek itu yang pura-pura tak paham.
__ADS_1
"Aku tak yakin kakek hampir mati sepertimu ini tak paham dengan maksud ucapanku. Yang kumaksudkan di sini adalah, siapa kau sebenarnya hingga memiliki ilmu sedahsyat itu. Apakah kau pendekar?"
"Ah, jadi itu maksudmu....?"
Bukannya menjawab, kakek itu malah memandang Zhang Qiaofeng sambil tersenyum geli. Beberapa saat tak menjawab, Zhang Qiaofeng berteriak.
"Jawab aku!!!"
"Oh....orang-orang bilang aku ini adalah Pengelana Tanpa Bayangan."
Sontak Zhang Qiaofeng menundukkan kepala dan mulutnya bergumam, "Masih ada bayangannya tuh..."
"Goblok! Tak tahukah matamu kalau kakiku masih menapak? Aku masih hidup, dan kau bicara seolah aku ini setan tak berbayang!"
"Bukankah setan-setan dan siluman dalam dongeng itu tak punya bayangan?"
Zhang Qiaofeng tak pedulikan hal itu dan memandang kakek itu penuh takjub. Matanya nampak berbinar dan tubuhnya gemetaran saking senangnya.
"Penedekar terhormat, Pengelana Tanpa Bayangan, bisakah aku meminta satu hal darimu?"
"Ikut denganku dan belajar ilmu ini?" menjawablah Chong San sambil terkekeh.
Zhang Qiaofeng bersujud dan berseru lantang, "Benar ucapan kakek tadi, aku akan suka ikut kakek untuk mempelajari ilmu itu! Tolong sudilah terima bocah ingusan ini sebagai murid!"
"Haha, itulah kehendakku dari awal! Aku terima engkau, Zhang Qiaofeng sebagai teman dan penghibur–ekhm, maksudku muridku! Kau harus menuruti semua perintahku, seperti membantuku membersihkan kediaman dan memasak tentunya. Kau bisa masak kan, seorang wanita harus bisa masak!!"
Mendengar ucapan menggelegar penuh semangat itu, Zhang Qiaofeng menelan ludahnya susah payah, entah kenapa ada keraguan dalam dirinya.
"Maaf guru, aku punya suami!"
"Maaf murid manisku, kau baru menikah beberapa hari setelah hari ini. Dan kau pun merasa keberatan."
Wajah gadis itu memucat, dia hendak bangkit dan mengurungkan niat untuk menjadi murid. Mengesampingkan keanehan karena Chong San tahu saat ini dia belum benar-benar menikah, dia merasa bahwa kakek satu ini tak ada bedanya dengan pemuda-pemuda langganan distrik merah.
Sebelum sempat bangkit dari sujudnya, ada sebuah tangan halus lembut yang menyentuh kepalanya. Disusul sebuah suara perlahan penuh kesabaran...
"Muridku.....percayalah padaku. Aku akan membantumu..."
Entah kenapa, ucapan terakhir ini menimbulkan rasa hormat dan segan di hati Zhang Qiaofeng, maka dia menjawab lirih penuh getaran.
"Baik...guru...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1