Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 41. Akhir Pertempuran


__ADS_3

Di lain sisi, biksu tua dan topeng merah itupun juga mengalami pertarungan yang sangat seru. Mereka berdua saling tukar jurus dengan cepat sekali hingga yang terlihat hanyalah bayangan-bayangannya saja. Sulit untuk membedakan mana yang biksu dan mana si topeng merah.


Saat ini pertempuran sudah berjalan sebanyak tujuh puluh jurus dan kedunya sama-sama belum ada yang terlihat terdesak.


"Haaa....!!" pekik topeng merah seraya membabatkan sabitnya.


"Hiat....deesss!!!"


Ternyata sabit itu mampu ditahan dengan mudahnya oleh si biksu menggunakan lengan kanannya.


Sungguh hebat biksu tua itu, sedari tadi selama pertempuran berlangsung, dia sama sekali tidak menggunakan senjata dan bertarung melawan topeng merah hanya dengan tangan kosong.


Memang inilah keistimewaan biksu tua itu atau yang dipanggil Dewa Angin Selatan. Dia bisa menjadi salah satu dari Empat Dewa Mata Angin bukan lain adalah karena ilmu adalannya yang bernama "Ilmu Pukulan Selaksa Kati".


Seperti namanya, ilmu ini sama sekali tidak membutuhkan senjata, akan tetapi lebih menitik beratkan kearah teknik pukulan. Pukulan yang dihasilkan dari ilmu ini sungguh hebat akibatnya, pukulan itu akan terasa sangat keras dan berat. Sehingga mampu membuat lawan kualahan.


Akan tetapi lain cerita dengan si topeng merah ini, dia adalah salah satu dari Pilar Neraka, oleh sebab itu tentu saja tidak mudah untuk merobohkannya.


Setelah sabitnya ditangkis, kembali ia mengirimkan serangan kearah dada lawan.


Dewa Angin Selatan cepat menggerakkan tangan kanan menangkis dan tangan kiri hendak menotok jalan darah di leher lawan.


Melihat kedua serangan ini, terkejut rasa hati topeng merah karana maklum jika seandainya totokan itu berhasil, tentu dia akan mengalami luka yang tidak ringan.


Maka cepat ia tarik kembali serangannya dan melompat mundur.


"Huh!! Makin tua makin keras saja kau!!" terdengar topeng merah memaki dengan nada kasar.


"Hm...makin tua bukannya bertobat kau malah makin mengganas." balas biksu tua itu seraya menggelengkan kepala.


"Sialan...!!! Terima ini!!"


Kembali si topeng merah menerjang ke depan. Begitupun dengan biksu tua itu, dia juga melompat ke depan untuk menghadapi serangan.


...****************...


Pertempuran sudah berjalan selama dua jam lamanya. Setelah datangnya bantuan dari para petugas keamanan, pasukan Hu Tao yang sebelumnya sudah terdesak, sekarang situasi sudah berbalik dan mereka menjadi pihak yang unggul.


"Hiaaaa!!!" teriak tetua pertama dan tetua keempat hampir berbareng seraya memukulkan kedua lengan kearah lawan.

__ADS_1


Mereka berdua serta tetua keenam, Lin Tian, Hu Tao dan Dewa Angin Selatan adalah orang-orang yang paling banyak berkonstribusi dalam perang kali ini.


Hal ini wajar, karena dari semua pendekar pasukan Hu Tao, mereka berenam adalah jagoan-jagoan yang paling kuat. Tentu saja hal ini membuat hati lawan menjadi gentar.


"Tak kusangka...setelah dikurung selama beberapa bulan, mereka masih saja kuat!!" ucap panik salah seorang pengkhianat tatkala melihat sepak terjang tetua pertama, keempat, dan keenam.


"Kau pikir mereka siapa!?? Mereka adalah para tetua, tentu saja dikurung seperti itu takkan mampu untuk menumpulkan kemampuan mereka!!" sahut rekannya.


"Kau benar, tapi- waaaaa!!!" ucapannya belum berhenti ketika tiba-tiba dia berteriak.


Ternyata ada seorang korban dari keganasan tetua keenam yang mengarah kearah orang itu. Orang yang dihempaskan tetua keenam tadi adalah seorang yang tinggi besar, sedangkan orang yang sedang bercakap-cakap tadi adalah seorang yang tinggi kurus.


Ditambah, tetua keenam menghempaskan orang itu dengan sekuat tenaga. Dapat dibayangkan betapa sakit rasanya ketika orang kurus itu terpental akibat tubuh si tinggi besar menghantam tubuhnya.


Di pihak Lin Tian dan Hu Tao, pertarungan juga dilakukan amat cepatnya. Mereka bertiga bertarung dengan mengerahkan seluruh kepandaian sehingga tubuh mereka seolah lenyap dan hanya terlihat gulungan-gulungan sinar senjatanya saja.


"Trang-trang-trang-trang"


Terdengar empat kali suara benturan senjata berturut-turut. Ternyata itu adalah suara dari pertemuan Pedang Dewi Salju dengan pedang si topeng putih.


"Bangsat...!! Bagaimana kau masih bisa sekuat ini hah!!??" bentak topeng putih dengan kesal kepada Lin Tian. Dia terkejut karena sebelumnya pemuda itu telah menderita luka dalam akibat pertarungan dengan gurunya. Akan tetapi sekarang, ternyata Lin Tian masih mampu memberi perlawanan seganas itu.


"Demi seseorang, kalian semua...harus...mati....!!" kata Lin Tian di tengah-tengah beradunya kedua senjata itu dengan menekankan setiap kalimatnya.


Tak berselang lama, topeng putih merasa ada sebuah angin tajam dari atas mengancam kepalanya. Begitu ia mendongak, ternyata penyerangnya itu adalah Hu Tao yang sudah mengarahkan kedua belatinya dengan cara menggunting untuk memotong leher.


Serangan ini adalah serangan jarak jauh, akan tetapi karena keunikan senjata Hu Tao sehingga membuat kedua belatinya itu sanggup meraih leher si topeng putih.


Topeng putih hanya mendengus lalu melompat kebelakang untuk mengambil jarak.


Akan tetapi ternyata dua orang muda itu tak ingin memberi kesempatan. Begitu dirinya meloncat mundur, dua orang itu sudah menyusulnya dengan serangan mematikan.


"Haaaa...!!" teriak topeng putih menghadapi kedua serangan itu.


Kembali keduanya berubah menjadi gulungan sinar-sinar senjata yang membikin pening kepala jika dilihat.


Gerakan mereka cepat sekali, dan suara beradunya senjata itu seolah-olah menjadi pengendali perang ini.


dua puluh jurus, tiga puluh jurus, empat puluh jurus. Selama itu belum ada yang terlihat terdesak diantara ketiganya.

__ADS_1


Lin Tian dan Hu Tao benar-benar hebat ketika melakukan serangan bersama seperti ini. Seolah-olah mereka sudah menjadi partner perang selama bertahun-tahun.


Namun kenyataannya Lin Tian dan Hu Tao baru kenal selama beberapa hari, akan tetapi kekompakan mereka sudah sedemikian hebat. Hal ini membuktikan jika mereka berdua benar-benar pemuda yang berbakat.


Hal ini tentu saja tidak luput dari penglihatan si biksu tua. Semenjak tadi, selama dirinya bertarung melawan topeng merah, diam-diam dia mengamati sepak terjang dua orang muda itu untuk berjaga-jaga jika mereka terdesak dia bisa lekas membantu.


Tetapi dia membolatakan mata lebar-lebar ketika melihat kombinasi serangan yang susul menyusul bagaikan gulungan ombak ganas itu. Dia melihat jika Hu Tao dan pemuda bertopeng itu mampu memberi perlawanan kepada lawannya sungguhpun belum mampu untuk mendesaknya.


Akan tetapi ia yakin, jika pemuda bertopeng itu masih dalam keadaan segar bugar, mereka pasti akan mampu menundukkan musuhnya itu.


Kini melihat dua orang muda yang kembali bertempur dengan hebatnya itu. Si biksu tua yang tadinya terbelalak kaget menjadi pucat wajahnya tatkala memandang kearah serangan kombinasi dua orang itu yang terlihat semakin menghebat.


Tiba-tiba biksu tua itu teringat akan pesan mendiang gurunya. Kemudian dia mencocok-cocokkan pesan itu dengan fenomena dihadapannya ini.


"Apakah benar jika itu mereka?? " tanyanya dalam hati dengan penuh perasaan heran.


"Tapi melihat dari pesan guru, ciri-cirinya sama persis walaupun aku belum bisa memastikan hal itu. Setelah ini, aku harus berunding dengan Tiga Dewa Mata Angin lain untuk mengambil keputusan berikutnya."


Karena bertarung terlalu hebat, Lin Tian, Hu Tao dan biksu tua itu serta lawannya, tidak sadar jika pertempuran sudah mendekati akhir.


Para petugas keamanan beserta pendekar keluarga Hu sudah membantai habis para pengkhianat itu dan sekarang hanya tinggal membunuh beberapa orang saja untuk benar-benar memenangkan pertempuran ini.


Selang beberapa menit, akhirnya si topeng merah sadar akan hal ini dan cepat berteriak kearah muridnya.


"Muridku kita mundur!!! Kita sudah kalah!!"


Topeng putih yang mendengar teriakan ini spontan mengedarkan pandangannya. Dia menampakkan ekspresi terkejut di balik topeng itu.


Kemudian dengan marah, dia membentak dan mengirimkan hawa pukulan panas dengan kedua lengan kearah LinTian dan Hu Tao.


Begitupun dengan topeng merah, pria ini cepat-cepat mengirim pukulan yang panas pula kearah biksu tua.


Karena terkejut, baik biksu tua maupun dua orang pemuda itu tak mampu mengelak. Sehingga mau tak mau hanya dengan menangkislah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri.


"Boomm"


Terdengar suara keras ketika serangkum hawa panas itu mengenai tubuh mereka. Mereka terdorong sejauh tiga langkah dan ketika memandang kearah musuhnya, kedua pendekar bertopeng itu sudah lenyap.


Hanya terdengar gema suara topeng merah yang terlihat marah, "Tunggu saja, akan kubalas hutang ini!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2