
"Kenapa pula Zhi Yang berubah menjadi seperti itu....?"
Lin Tian bergumam seorang diri di atas dahan pohon besar depan rumah Yuan Fei. Masih dengan menatap langit hitam malam hari, dia tak pernah bisa berhenti memikirkan hal tersebut.
Bagaimana tidak, pasalnya, dia sangat membenci hubungan semacam itu tanpa adanya janji pernikahan lebih dulu. Dia menganggap hal itu sama seperti pemerkosaan! Dan jika dia tadi menerima Zhi Yang, dia akan membunuh diri karena telah memperkosa anak orang.
"Banyak orang tidak tahu, seberapa sampahnya tindakan macam itu. Tindakan tak berguna yang hanya menjadi buah dari hamba nafsu. Menjijikkan!" dia mencibir dengan sedikit keras. Hal ini dilakukannya secara tak sadar karena kedongkolan hatinya.
Lin Tian tak peduli apakah Zhi Yang akan datang menemuinya atau tidak, namun dia berpikir akan berbahaya bagi dirinya jika terus berada dalam rumah. Bisa-bisa keteguhan hatinya akan goyah.
"Lin Tian..." tiba-tiba terdengar panggilan lirih seorang gadis yang sudah dikenal oleh Lin Tian.
Pemuda ini lekas menoleh untuk menemukan sahabatnya yang sudah berdiri di sana. Air matanya sudah surut dan wajahnya seperti tak membayangkan kesedihan apa pun. Inilah Zhi Yang sahabatku, demikian pikir pemuda itu.
"Lompat ke sini!"
"Kau menyuruhku?"
"Kau tak mau? Ya sudah."
Lin Tian acuh dan kembali memandangi langit malam. Tak mau menghabiskan tenaga untuk memaksa Zhi Yang naik ke dahan yang sama dengan yang di dudukinya.
Gadis itu berjalan menghampiri batang pohon dan duduk di bawah sana, menyandarkan tubuhnya di batang pohon besar itu sambil mendongakkan kepala memandang Lin Tian yang sama sekali tak memandangnya.
"Kenapa?" tanya Zhi Yang lirih.
"Kenapa bagaimana? Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tak tahu!" jawab Zhi Yang ketus.
Lin Tian sedikit tersenyum saat menjawab, "Kau akan menyesal saat aku menerimanya."
"Aku tak akan menyesal, sampai mati pun tak akan menyesal..." ucapnya melirih seiring waktu.
"Apa yang membuatmu yakin? Jika kau tak menyesal, akulah yang akan menyesal selamanya."
Zhi Yang sedikit mendengus sambil membuang muka. "Apa yang terjadi jika itu nonamu? Kau pasti akan langsung melahapnya kan?" Zhi Yang bertanya ketus.
Gadis ini terheran sekali ketika mendengar tawa renyah dari pria yang duduk di atasnya itu, refleks dia mengangkat muka.
"Haha...mana mungkin nona seperti itu. Jika memang seperti itu, aku akan tetap menolak! Walaupun aku akan dianggap pemberontak sekali pun!" ucapnya tegas.
"Karena hal semacam itu...ujung-ujungnya pasti hanya penyesalan dan kecewa, percayalah padaku....." lanjut pemuda itu dengan sedikit sedih. Sebenarnya dia menyesal sekali ketika mengetahui Zhi Yang mengajaknya melakukan hal semacam itu.
"Jangan kau ulangi lagi! Dirimu bukanlah barang murah yang bisa diberikan secara cuma-cuma!" kembali Lin Tian berkata dengan nada serius dan seperti memrintah.
__ADS_1
"Hmph! Hak apa yang kau punya untuk menyuruhku!?"
Lin Tian memandang wajah Zhi Yang dan tersenyum hangat, "Mari bertaruh, kau tak akan melanggar omonganku."
Gadis ini memandang penuh perhatian dan sepasang pipi itu sedikit memerah. Dia membuang muka, berkata dengan nada yang masih ketus tak enak didengar.
"Setelah kupikir sepertinya ucapanmu banyak benarnya."
"Haha...apa kataku, kau tak akan melanggar omonganku!"
"Tapi!"
Lin Tian kembali menoleh dengan heran.
"Kenapa?"
"Setidaknya....bisakah diriku ini lebih dari sekedar sahabatmu...? K-kakak...mungkin?" Zhi Yang tak mau menoleh karena tentu akan ditertawakan Lin Tian saat melihat wajah merahnya.
"Hahahaha....!" tawa Lin Tian menggelegar memecah kesunyian malam.
Zhi Yang menoleh cepat dengan tatapan tajam, mulutnya bergemelutuk dan matanya merah sekali. Jelas kemarahan terbayang di wajah cantiknya.
"Anak kecil yang tak bisa menghargai orang! Apa maksud ketawamu itu!"
"Kakakku memang malu-malu, apakah adikmu ini sungguh menyebalkan sampai membuat kakak cantikku ini marah-marah? Kalau begitu maafkan aku..."
"Keparat!! Jangan menggodaku sialan!"
"Hahahaha!!"
...****************...
"Jadi seperti itu, aku sebenarnya juga heran mengapa kau tidak mampu menemukan puncak salju, padahal seingatku dulu puncak itu terlihat sangat jelas dari bawah." ucapn Lin Tian menanggapi cerita Zhi Yang barusan.
Menurut penuturan gadis tersebut yang ingin naik ke puncak salju, dia sama sekali tidak melihat salju ketika dirinya tiba di kaki gunung tertinggi itu. Akan tetapi saat dari jauh, dia mampu melihatnya dengan jelas salju itu, namun ketika dihampiri, tidak ada sedikit pun salju.
"Lalu?" tanya Lin Tian kemudian yang menanti kelanjutan cerita Zhi Yang.
"Saat aku tiba di kaki gunung itu, aku mendengar suara seseorang. Dia berkata 'pergi, pergi, pergi' sampai tiga kali banyaknya. Aku tak punya pilihan lain selain pergi dari sana dan kembali dengan tangan kosong."
Lin Tian mengangguk paham, diam-diam dia menduga kalau yang mengusir sahabatnya itu adalah Wang Ling Xue, penghuni puncak salju Pegunungan Tembok Surga.
"Siapa lagi kalau bukan guru orangnya?"
"Lin Tian...apakah benar kau bisa menyelamatkanku?" kali ini Zhi Yang bertanya, walaupun dalam wajahnya itu tampak datar saja, namun sedikit kerutan di antara kedua alis itu membayangkan perasaan berharap.
__ADS_1
Lin Tian sebenarnya juga masih sedikit ragu apakah dia mampu menyelamatkan Zhi Yang. Namun dia tak ingin membuat gadis itu kecewa, maka berkatalah ia.
"Tenang saja, aku akan berusaha semampuku. Sekarang tidurlah, hari sudah larut."
Zhi Yang tak lekas pergi dari sana, dia masih terus memandangi Lin Tian penuh perhatian. Tentu saja hal ini membuat Lin Tian menghela nafas dan mendorong wajahnya.
"Kakakku memang nakal!"
Zhi Yang menepis tangan Lin Tian dan bangkit berdiri segera, "Jangan berpikir macam-macam kau!" ucapnya ketus sebelum berbalik dan pergi memasuki kediaman untuk istirahat.
Keesokan harinya, di tempat yang sama yaitu di bawah pohon besar, Lin Tian dan Zhi Yang duduk saling berhadapan. Sedangkan Yuan Fei dan Rouwei memandang di pinggiran dengan tegang dan gugup.
"Di perutmu bukan?" tanya Lin Tian memastikan.
Zhi Yang hanya mengangguk saja dan tanpa bicara lagi, dia membuka bajunya di bagian perut. Lin Tian buru-buru memejamkan mata seraya membentak.
"Apa yang kau lakukan!!"
"Lihatlah....jika kau masih mampu berpikiran yang tidak-tidak, itu tandanya kau bukan manusia..." ucap Zhi Yang seraya tersenyum pahit.
Lin Tian membuka matanya sedikit demi sedikit, berat sekali rasanya harus melihat kulit putih kakaknya itu, namun demi keselamatannya, apa boleh buat.
Perutnya itu sama seperti perut gadis normal lainnya, putih ramping dan padat. Seandainya tidak terkena Pukulan Tapak Api, kiranya kaum lelaki sudah bangkit hasratnya. Namun berbeda dengan perut Zhi Yang.
Di balik kulit putihnya, membayang urat-urat kaku yang berwarna merah gelap hampir ke hitam. Urat-urat ini menyebar sampai ke dadanya dan menurut Lin Tian, mungkin sebentar lagi racun itu akan menyentuh jantung.
Pemuda ini menelan ludah dengan kasar. Bukan apa-apa, dia malah merasa ngeri dengan kondisi Zhi Yang kakaknya.
Lin Tian mendekatkan wajahnya ke wajah Zhi Yang dan membisikkan sesuatu yang membuat gadis itu jengkel bukan main.
"Benarkah tadi malam kau menggodaku dalam keadaan seperti ini?"
"Kau bicara apa bocah!? Kemarin malam aku sudah tidur sejak matahari terbenam!" bisiknya dengan sedikit membentak. Dia mencoba melupakan kenyataan.
Sebenarnya Lin Tian mengatakan ini bukan untuk menggoda atau mempermalukan Zhi Yang, melainkan untuk membuat gadis itu merasa lebih tenang.
"Ku tempelkan di sini bukan?" tanya Lin Tian kepada Yuan Fei untuk memastikan. Sedangkan pria ini hanya mengangguk.
"Baiklah...." bisiknya dan menarik Pedang Dewi Salju dari sarungnya. Kemudian cepat-cepat dia tempelkan bagian samping pedang ke perut Zhi Yang.
"Aaakkhhhh!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1