Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 137. Kemarahan Lin Tian


__ADS_3

Lin Tian memandang sekeliling dengan tajam. Dari balik topengnya itu, nampak kilatan-kilatan mengerikan di matanya begitu pemuda tersebut menatap empat orang dihadapannya.


"Kalian pasti tahu sesuatu...." berucaplah perlahan setelah terdapat jeda waktu selama beberapa detik. Namun ucapan yang perlahan itu malah semakin membuat empat orang itu bergidik dan berkeringat dingin.


Mereke bertiga diam-diam juga mengumpat, karena temannya yang sebelumnya kena tendang oleh Lin Tian, saat ini bukannya segera bangun, dia malah pura-pura pingsan. Hal ini diketahui karena pria yang sedang terkapar itu sesekali melirik-lirik dengan setengah mata terbuka, namun tak lama setelah itu tertutup lagi.


"Bangsat!!" umpat mereka dalam hati dengan mendongkol sekali melihat tindakan kawannya.


"Aku bertanya kepada kalian, kalian kalau tidak salah orang-orangnya walikota bukan? Nah sekarang katakan, apa kalian tahu sesuatu?" kembali pemuda itu bertanya, kali ini dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya, membuat hawa sekitar sejauh beberapa meter menjadi dingin.


"T-tidak....k-kami tidak tahu..." salah satu dari mereka yang agaknya paling berani menjawab.


"Benarkah? Lalu mengapa kalian sudah memegang senjata begitu aku datang? Aku yakin benar bahwa gerakanku sama sekali tidak bisa di dengar oleh kalian. Itu berarti, kalian memang tahu aku akan menyerang bukan? Hm...rencana yang bagus."


"Sekarang katakan...dimana Nona Zhang...." kali ini suaranya terdengar seperti berbisik saja, akan tetapi jauh lebih mengerikan ketimbang yang sebelumnya. Suara itu seperti keluar dari dunia lain.


"Aaahhh....!!" melihat tak ada jalan keluar, mereka menjadi nekat dan tiga orang itu menyerbu bersama. Menyabetkan golok masing-masing mengarah tubuh Lin Tian yang masih berdiri tegak itu.


"Keras kepala!!" dalam satu bentakan ini, Lin Tian segera berkelebat dan tahu-tahu golok mereka semua sudah lenyap dari pegangan.


"Apa yang terjadi?" mulai panik mereka karena tidak nampak Lin Tian dimana pun.


Sedetik kemudian, terdengar desing angin yang hebat sekali mengarah mereka. Akan tetapi ketika berbalik badan dan hendak menangkis, mereka terlambat dan golok mereka sendiri berhasil menancap di pundak masing-masing.


Terdengar pekik kesakitan disusul suara berdebuknya tubuh mereka begitu jatuh menghantam tanah.


"Mustahil...dia benar-benar lawan yang mustahil bagi kami!!" seru pria yang pura-pura pingsan dalam hati. Dirinya hendak bangkit dan kabur, namun sebuah kelebatan hitam berhasil menghentikannya.


"Wahh....!!" dia memekik terkejut begitu seseorang yang beru datang itu menelikung tangannya ke belakang.


"Diam!! Dan katakan dimana Nona Zhang!!?" orang yang bukan lain adalah Minghao itu membentak.


"Puih...kami masih memiliki kehormatan, tak akan kami menghianati pemimpin kami!!!" balas orang tersebut tegas.


"Kratak!!"


"Aauuuggh....Barat...Barat, mereka ada di kediaman Sie Lun di wilayah rumah walikota, letaknya ada di Barat...aakkhh!!" dia memekik kesakitan begitu Minghao mematahkan lengannya. Dan tanpa dapat dicegah lagi, semua informasi pun bocor, pengecut sekali memang.


"Bawa dia dan tiga orang ini, kita ke Barat sekarang. Paman, tolong beri tanda kepada semua pasukan!" Lin Tian berkata dan segera memondong salah satu dari mereka, kemudian sekali berkelebat lenyaplah ia dari sana.


Minghao, Lu Jia Li dan Kim Chao segera melakukan hal yang sama, satu orang memanggul satu orang sebelum kemudian dibawa pergi menuju barat.


"Eheheh.....halus sekali...wangi...." seseorang yang berada dalam pondongan Lu Jia Li meracau sambil terus memperhatikan wajah pemondongnya.

__ADS_1


Dengan muka merah karena marah dan malu, Lu Jia Li menarik kasar kedua lengan orang itu, memutarnya di udara sekali sebelum kemudian dibantingnya dengan keras, membuat orang itu pingsan dan berhasil dididamkan.


Sedangkan Minghao, sambil memanggul orang, tangan kirinya juga mainkan suling dengan amat merdunya. Mengalun-alun membuai kalbu, sangat menenangkan. Bahkan ketika ada beberapa warga yang terbangun akibat keributan tadi, begitu mendengar suara suling Minghao menjadi kantuk kembali dan melanjutkan tidur lagi.


Akan tetapi suara suling ini lain artinya bagi telinga-telinga pasukan Zhang. Suara suling itu bukan lain adalah sebuah tanda agar mereka mengikuti dimana adanya suara itu. Maka bergegas mereka semua yang dalam keadaan terpencar di seluruh kota itu bersiap dengan senjata masing-masing dan segera mengikuti kemana arah suara itu pergi.


Mereka sejatinya adalah pasukan Asosiasi Gagak Surgawi yang saat ini sudah resmi menjadi anggota keluarga Zhang. Maka dapat dibayangkan betapa kuat mereka itu. Sehingga sebentar saja, di belakang Minghao, Lu Jia Li dan Kim Chao, terlihat banyak sekali bayangan manusia yang juga mengikuti kearah mereka pergi. Itulah para pasukan Zhang yang memiliki kepandaian rata-rata cukup tinggi.


Bahkan Hu Tao dan pasukannya juga mendengar suling itu. Karena penasaran, Hu Tao memandang keluar penginapan. Dan betapa kaget hatinya ketika melihat banyak sekali otang-orang Zhang yang saling berlompatan di atap-atap rumah penduduk menuju suara itu.


Karena itulah, dia segera membangunkan seluruh pasukan dan ikut pula mengikuti suara suling itu terdengar.


...****************...


"Heheh....jangan melawan Nona..." ruangan luas yang hanya diterangi lampu llilin di bagian sudut itu nampak remang-remang. Bau ruangan juga terasa lebih harum dibanding biasanya, itu sengaja disiapkan oleh Sie Lun untuk menyambut datangnya Zhang Qiaofeng malam ini.


Zhang Qiaofeng tak mampu menjawab, hanya memandang orang tersebut dengan tatapan penuh kebencian dan berlinang air mata.


"Keluarlah kalian dan jaga di luar, aku tak ingin diganggu." katanya kepada tiga orang yang masih berdiri di sana. Namun perhatiannya tetap tertuju kepada seorang gadis yang saat ini sedang rebah tak berdaya di kasurnya itu.


Tiga orang ini sadar diri dan lekas keluar. Tinggallah Sie Lun dan Zhang Qiaofeng berdua di ruangan tersebut.


Pemuda ini segera menghampiri Zhang Qiaofeng dan langsung menciumi wajahnya dengan ganas sekali, tangannya juga mulai meraba sana-sini. Membuat gadis itu tersiksa bukan main dan berusaha meronta, namun totokan yang dilakukan si brewok tadi belum juga hilang pengaruhnya, dan masih membuat ia lemas sekali.


Dia tak sanggup memandang dan melawan lagi, hanya mampu pasrah saja. Toh apa gunanya melawan? walau sudah berusaha, namun totokan itu kuat sekali dan belum juga bisa ia patahkan sampai sekarang.


Hingga beberapa menit berselang dan dia mulai merasa menggigil kedinginan, begitu ia membuka mata, betapa terkejut hatinya ketika memandang bahwa sekujur tubuhnya hanya tersisi baju dalam yang tipis saja. Sedangkan jubah yang tadi ia kenakan sudah robek-robek tak karuan.


"Heheh...." Sie Lun terkekeh mengerikan dan mulai menanggalkan pakaiannya satu-satu.


"Oh ya Tuhan....tolong buat aku mati saat ini juga...." gadis itu makin ngeri untuk membayangkam kejadian berikutnya.


Akan tetapi, tindakan Sie Lun berhenti begitu mendengar sebuah suara yang sangat dikenali oleh Nona Zhang itu.


"Walikotaaaa!!!!! Keluar kau, jangan jadi pengecuuut!!!!"


...****************...


Lin Tian yang sudah marah sekali dan yakin benar bahwa tersangka dari hilangnya Nona Zhang adalah karena pihak walikota, maka begitu sampai di pintu gerbang, dia segera berteriak lantang.


"Walikotaaaa!!!!! Keluar kau, jangan jadi pengecuuut!!!!"


Sambil tangan kanan menyeret orang yang sedaritadi dipondongnya, sedangkan tangan kiri memegang golok yang diambil dari pundak orang tersebut, Lin Tian berjalan memasuki gerbang.

__ADS_1


"Berhenti!!" seru penjaga gerbang itu. Walaupun terbayang jelas ketakutan di wajah mereka, namun mereka tetap harus melaksanakan tanggung jawab.


"Sing-Sing!" dua kali golok di tangan Lin Tian berkelebat. Dan dua orang itu sudah roboh dengan pundak terluka.


Dia kembali melanjutkan langkahnya, ketika sudah tiba di halaman luas itu, dia menggerakkan tangan kanan untuk melempar orang yang sedaritadi diseretnya.


"Braakkk!!" terdengar suara nyaring ketika pintu rumah walikota itu jebol dan hancur terkena tubuh pengawalnya sendiri. Hebat sekali lemparannya, padahal jarak Lin Tian berdiri dengan pintu itu, mungkin dua puluhan meter lebih.


Sedetik kemudian, suara lonceng tanda bahaya terdengar. Di sana-sini terlihat api obor yang dinyalakan para pengawal walikota. Lambat laun, di sekeliling Lin Tian sudah dipenuhi dengan para pengawal. Namun mereka sama sekali tak berani menyerang.


"Walikotaaaa!!!" kembali Lin Tian memekik keras, kali ini bahkan bumi yang mereka pijak pun sedikit bergetar.


Tak lama setelah itu, keluar seorang pria empat puluhan tahun berbaju mewah dari dalam rumah itu. Wajahnya keruh sekali, menandakan perasaan hatinya sedang buruk. Sedangkan di kanan dan kiri, terdapat empat orang pengawal yang nampak gagah dan kuat.


"Saudara...mau apa engkau berkunjung malam-malam begini?" tanyanya dengan nada halus, namun pandang matanya itu tajam menusuk.


"Jangan pura-pura tak tahu!! Kembalikan Nona kami jika masih ingin melihat hari esok!!" Lin tian menjawab keras. Memang begitulah pemuda ini, dia sangat mudah tersinggung apabila keselamatan Nonanya dalam bahaya.


Walikota mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"


"Tanyakan saja kepada tikus itu!!" jawab Lin Tian seraya menunjuk seseorang yang tadi dilemparkannya sampai menjebol pintu.


Walikota memandang penuh perhatian, tadi dia memang tidak terlalu mempedulikan orang ini, namun karena ucapan Lin Tian, diapun menjadi penasaran. Maka dihampirilah orang itu yang masih dalam keadaan rebah kesakitan.


"Hei, apa yang dimaksud orang itu?" tanya walikota.


Tak ada jawaban, orang itu masih mengaduh-aduh dan tetap bungkam.


Walikota makin heran dan curiga, maka ditanyalah sekali lagi, "Kau anak buahnya Sie Lun kan? Ada apakah? Tak mungkin pengawal pribadi Nona Zhang itu mengamuk di sini tanpa alasan yang jelas."


Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya orang itu buka suara, "Maaf tuan, tapi tuan Sie memerintahkan kami untuk menangkap Nona mereka."


Walikota membelalakkan matanya, jantungnya seperti berpindah tempat saking terkejutnya. Segera dia berdiri dan memandabg Lin Tian. Namun wajahnya berubah pucat begitu memandang perubahan yang mendadak ini.


Terlihat di halaman rumahnya yang luas itu, sudah berdiri banyak sekali pendekar berseragam sama. Selain pasukan pengawalnya sendiri, di sana juga hadir pasukan lain yang dia kenal sebagai pasukan keluarga Zhang, dan ada pula keluarga Hu yang dipimpin langsung oleh Hu Tao.


Lin Tian memandang mereka semua dengan tatapan membunuh, kali ini dia sudah mencabut Pedang Dewi Saljunya. Sehingga di tangan kiri, nampak sebatang golok panjang, dan di tangan kanan, terdapat pedang yang sangat cantik sekali.


"Nah...bagaimana walikota??" tanya pendekar bertopeng itu dingin. Seluruh pasukan yang berdiri di belakangnya sudah siap pula untuk bertempur habis-habisan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2