Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 76. Petualangan Baru


__ADS_3

"Wuut-wuut-dess"


Terlihat Lin Tian di halaman rumah itu sedang melatih ilmu pukulan dari gerakan silat Ketenangan Batin. Gerakannya saat ini terlihat jauh lebih mantap dan kokoh dibanding yang dulu.


Di pinggir tanah lapang itu, duduk Nona mudanya, Zhang Qiaofeng di atas sebuah batu datar. Nona ini sudah berada di sana sejak awal Lin Tian melakukan latihan. Sejak saat itu pula, tak pernah terlihat senyuman di wajah cantiknya itu hilang barang satu detik.


"Kau semakin hebat Lin Tian..." seru gadis ini. Begitu Lin Tian menyelesaikan latihannya.


"Ah...Nona terlalu memuji. Kepandaian seperti ini masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan kakek anda."


"Heh...kau membandingkan dirimu dengan kakek? Tentu saja untuk saat ini masih terlalu jauh! Tapi aku yakin, suatu saat kau pasti bisa melampauinya." balas Zhang Qiaofeng tersenyum.


"Terima kasih Nona." pemuda itu juga tersenyum.


Saat ini mereka tinggal di sebuah rumah yang sederhana namun cukup besar. Berada di tengah hutan di bawah salah satu kaki bukit. Tak jauh dari rumah itu, terdapat sungai mengalir yang airnya teramat sangat jernih dengan hiasan batu-batu alam di kanan-kiri sungai.


Rumah siapakah itu? Namanya adalah Lu Tuoli, pemilik rumah ini. Dia adalah ketua dari Asosiasi Gagak Surgawi. Memang cukup mengherankan mereka bisa berada di rumah seorang pemimpin dari organisasi yang paling misterius itu, akan tetapi semua ini menjadi masuk akal karena adanya Zhang Qiaofeng dan gadis cantik berjuluk Dewi Pedang Terbang.


Jadi ketika Zhang Qiaofeng, Lin Tian, Minghao, Zhang Hongli, dan Dewi Pedang Terbang berhasil lolos dari kediaman Xiao Fu, Dewi Pedang itu mengajak mereka untuk tinggal di rumah ayahnya. Dewi Pedang itu ternyata memiliki nama asli Lu Jia Li.


Lantas mengapa Zhang Qiaofeng bisa mengenal putri ketua Asosiasi itu? Hal ini terjadi kira-kira sekitar delapan tahun lalu, ketika dirinya melakukan pelarian dari para penyerbu keluarga Zhang.


Begitu gadis ini berhasil melewati Pegunungan Tembok Surga, karena terlalu lelah, akhirnya Nona muda Zhang ini pingsan. Saat itulah Lu Jia Li menemukannya dan membawanya ke rumah ayahnya untuk dirawat.


Selama bertahun-tahun gadis Zhang ini tinggal di sana dan memperdalam ilmu. Hingga saat dia dan Lu Jia Li turun gunung beberapa tahun lalu untuk mencari keberadaan pengawalnya, Lin Tian.


Dan setelah melakukan pencarian selama kurang lebih tiga tahun, akhirnya Nona dan pengawal ini berhasil dipertemukan dalam insiden rumah Xiao Fu beberapa bulan lalu.


"Ekhm...orang muda yang dimabok asmara, sampai lupa segala, merasa dunia milik berdua, oh...sungguh indahnya....woy bocah!! Sejak kau bertemu dengan cucuku, kenapa kau menempel terus dengan dia hah!?? Jangan kau macam-macam atau akan ku pecahkan otakmu!!" tiba-tiba terdengar seruan marah dari dalam rumah yang bukan lain adalah Zhang Hongli.


"Kakek, bukan dia yang menempal akan tetapi aku yang mengikutinya terus!! Memangnya kenapa sih? Dia kan pengawalku, dahulu pun kami berdua bahkan lebih menempel daripada ini, seolah-olah Lin Tian itu sudah jadi bayanganku sendiri!!" bantah gadis berusia sembilan belas tahun itu tak terima.


"Ah...mulai lagi..." gumam Lin Tian melihat betapa kakek dan cucunya ini sudah mulai berdebat. Entah karena apa akan tetapi sejak awal bertemu kembali, Zhang Hongli dan cucunya itu seakan-akan menjadi kucing dan tikus, tak pernah akur.


Akhirnya Lin Tian memilih duduk di salah satu batu dan melihat kakek cucu itu beradu mulut.

__ADS_1


Hal ini terjadi karena Zhang Hongli yang sudah belasan tahun tak bertemu cucunya, menjadi rindu akan gadis itu dan ingin selalu dekat dengannya. Sebaliknya, Zhang Qiaofeng merasa jengah akan perlakuan seperti anak kecil itu, maka dia lebih sering menempel pada Lin Tian atau Lu Jia Li yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuan, untuk menghindari kakeknya ini. Singkatnya, Zhang Hongli sedang cemburu kepada Lin Tian.


Hari ini seharusnya menjadi hari terakhir mereka menetap di sini, setelah empat bulan mereka mengasingkan diri dan memperdalam ilmu.


Malam hari itu, di ruang dalam rumah tersebut. Berkumpul sepuluh orang yang duduk saling melingkar. Mereka duduk beralaskan bantal kecil dan di depan setiap orang, terdapat bangku kecil yang di atasnya tersaji secangkir teh hijau. Seperti biasa, Zhang Qiaofeng si Nona muda ini duduk di sebelah Lin Tian, bahkan berdekatan sekali.


Lima orang itu adalah rombongan Zhang Hongli, dan lima orang lainnya terdiri dari Lu Tuoli, ketiga adiknya dan seorang sahabatnya. Lima orang ini bisa dibilang sebagai pendiri Asosiasi Gagak Surgawi dan orang-orang yang mengetahui kebenaran bahwa Dewi Pedang Terbang itu sejatinya adalah putri pemimpin Asosiasi misterius ini.


Hal ini adalah permintaan gadis itu sendiri. Dia ingin menjadi seorang pendekar yang tak ingin bergantung pada nama orang tua, karena itulah semua orang termasuk anggota Asosiasi sendiri tidak ada yang tahu bahwa Dewi Pedang Terbang ini adalah anak dari pemimpin mereka.


"Baklah, bagaimana baiknya besok? Kita akan pergi kemanakah?" tanya Lu Tuoli membuka percakapan.


"Lebih baik kita ke Kota Batu lebih dulu, atau ke Kota Sungai Putih. Aku punya sahabat baik di dua kota itu." jawab Lin Tian.


"Mengapa kau mengusulkan hal itu?" Lu Kong, putra kedua keluarga Lu bertanya.


"Karena di Kota Batu terdapat seorang pandai besi hebat yang aku yakin jika dia kita tarik sebagai sekutu, keluarga Zhang akan lebih maju dalam bidang persenjataan. Juga di Kota Sungai Putih terdapat tujuh orang wanita yang kesemuanya memiliki dasar ilmu silat, jika Nona Lu mau melatih mereka, aku yakin tujuh wanita ini akan jadi pendekar hebat dan bisa menjadi pengawal Nona muda." lanjut Lin Tian.


"Kau tak senang jadi pengawalku....!??" pertanyaan ini terdengar dingin sekali. Siapa lagi kalau bukan Zhang Qiaofeng. Begitu mendengar penuturan Lin Tian, gadis ini langsung memandang tajam dengan tatapan membunuh.


"B-bukan begitu Nona, akan tetapi nasib mereka sungguh malang sekali. Jika mereka bisa menjadi bagian dari keluarga kita, aku berpikir mungkin hal itu bisa menolong mereka." jawab Lin Tian dengan senyum getir.


"Sesukamulah!" ucapnya ketus.


Walau merasa sedikit tak nyaman, pemuda ini melanjutkan ucapannya, "Dan di Kota Sungai Putih, aku punya saudara angkat yang bisa dipercaya. Walau dia tak akan bisa menjadi bagian dari keluarga, namun aku yakin dia pasti mau membantu kita."


"Siapa dia memangnya?" tanya Lu Tuoli penasaran.


"Hu Tao, pemimpin muda keluarga Hu."


"Apa!!"


"Yang benar, jangan ngarang kau bocah!!" bentak Zhang Hongli dengan pandangan tajam.


"Aku tak membohong. Bahkan jika kalian ingin tahu, aku juga membantunya menghadapi para pengkhianat keluarga dan Setan Kembar itu." jawab Lin Tian santai.

__ADS_1


Mendengar ini, semua orang yang ada dalam ruang itu menjadi bengong saking terkejutnya. Tak pernah mereka sangka-sangka bahwa Pendekar Hantu Kabut yang masih demikian muda ini bisa mendapat seorang saudara angkat dari pemimpin keluarga Penguasa.


"Haha...bagus-bagus, kau tak pernah mengecewakan Lin Tian!!" seru Zhang Qiaofeng sambil menepuk-nepuk pundak Lin Tian.


"Hei...jangan bilang kenalanmu di Kota Batu juga pemimpin keluarga Penguasa, keluarga Xiao?" tanya Minghao dengan nada masih tak percaya.


"Benar, aku bahkan kenal baik dengan keluarga mereka dan pengawal pribadinya." jawabnya tanpa beban sedikitpun.


"Hah....!!!??"


"Gila!!" seru Lu Bei, putra keempat keluarga Lu.


Setelah itu terjadi keheningan yang cukup lama, mereka seolah-olah masih tidak percaya akan ucapan Lin Tian. Akhirnya, setelah sekian lama tak ada yang membuka suara, Zhang Hongli berkata untuk menghilangkan kecanggungan.


"Ekhm...ah...kami merasa tidak enak harus merepotkan keluarga Lu sekalian, maafkan kami..."


"Tidak Tuan, justru kamilah yang harus berterima kasih karena telah mendapat kehormatan untuk bisa bergabung dan membantu keluarga Zhang. Ini semua hanyalah sekedar balas budi kami kepada anda yang dahulu telah menyelamatkan keluarga saya dan adik-adik saya dari malapetaka. Sekali lagi terima kasih." ucap Lu Tuoli sambil menundukkan badan diikuti ketiga adiknya.


Memang benar apa yang diucapkan pria berumur lima puluh tahun ini. Dahulu beberapa tahun lalu, Lu bersaudara pernah terancam maut ketika keluarganya dibasmi oleh serombongan orang tak dikenal. Namun ketika saat terkahir, Zhang Hongli datang bagaikan setan dan menyelamatkan Lu Tuoli beserta ketiga adiknya. Setelah itu tanpa berkata apapun, Zhang Hongli pergi meninggalkan mereka.


Kerena itulah Lu Tuoli beserta tiga adiknya dan dibantu pula oleh seorang sahabat baiknya, dia mendirikan Asosiasi ini yang tujuannya bukan lain adalah untuk mencari keberadaan Zhang Hongli agar kelak ia dapat membalas budi. Akan tetapi sampai bertahun-tahun lamanya, orang yang dicari ini tidak pernah ketemu hingga membuatnya hampir putus asa.


Maka dapat dibayangkan betapa senang hati Lu Tuoli itu begitu putrinya membawa pulang orang yang selama ini selalu dicarinya. Sejak saat itulah, dia beserta tiga adiknya dan seluruh anggota Asosiasi, menjadi bagian keluarga Zhang.


"Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih..." ucap Zhang Hongli yang juga menundukkan badan membalas penghormatan orang.


Keesokan harinya mereka sudah bersiap. Dengan memakai pakaian dan senjata masing-masing, sepuluh orang ini keluar dari rumah.


"Selamat tinggal....." gumam Lu Tuoli lirih sebelum membakar rumahnya.


Hal ini dia lakukan adalah supaya mereka tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Tentu saja hal ini terasa sedikit berat bagi Lu Tuoli yang harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu.


"Baiklah, ayo pergi!!" seru Zhang Hongli.


Hari pertama musim semi, Keluarga Zhang bersama Asosiasi Gagak Surgawi, akan mulai dengan petualangan baru mereka. Awal mula sebuah kisah dari bangkitnya keluarga Zhang!!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2