Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 186. Wang Ling Xue


__ADS_3

"Menungguku? Apa maksudmu tuan?" heran Lin Tian dengan ucapan kakek renta itu.


"Hup!" orang itu meloncat dari batu di tengah danau dan melambung tinggi sebelum sampai di hadapan Lin Tian.


Sambil tersenyum dia berkata, "Dahulu, ada seseorang yang berkata padaku hahwa akan tiba suatu hari ketika aku sedang berada di sini, lalu kedatangan seseorang. Dan itu benar, kaulah orangnya.


"Siapa yang berkata seperti itu? Apakah guru?" ucap Lin Tian yang hanya diucapkannya dalam hati.


"Guruku juga bilang begitu tuan. Dia bilang agar aku pergi ke puncak salju Pegunungan Tembok Surga, maka aku sudah ditunggu seseorang. Kiranya andalah orangnya."


Kakek itu sedikit terkejut mendengar pernyataan Lin Tian barusan. Spontan dia bertanya, "Siapa gurumu nak?"


"Chong San."


Seketika kakek itu mematung dan memandang Lin Tian terbelalak. Mulutnya sedikit terbuka saking terkejutnya. Namun sama seperti tadi, hanya sekejap saja sebelum ekspresinya kembali seperti semula.


"Oh...jadi begitu." hanya inilah yang menjadi tanggapan dari jawaban Lin Tian.


"Kalau begitu, lebih baik kita membicarakan soal memgapa aku menunggumu di sini dan mengapa gurumu menyuruhmu kemari. Ayo ikut aku."


Kakek itu membawa Lin Tian menuju goa yang dahulu pernah dimasuki Lin Tian. Namun kali ini ada yang berbeda, begitu masuk, kakek ini menekan salah satu dinding batu dan membuat sedikit getaran di dalam goa.


Lalu sedetik kemudian, dari dinding-dinding itu muncul batu-batu kristal bercahaya yang mampu menerangi seluruh isi goa.


"Woaaah..." Lin Tian bergumam kagum.


Dia kembali masuk ke dalam dan setelah beberapa saat, pemuda itu mampu melihat jelas sebuah lubang di tengah jalan goa yang kemungkinan besar pernah dimasuki olehnya pula. Saat itu dia secara tidak sengaja terperosok ke dalamnya karena gelapnya goa.


Kali ini, kakek itu dengan mudah melompatinya dan diikuti Lin Tian. Kemudian dia berbelok dan sampaialah mereka di sebuah ruangan yang cukup luas dan indah di dalam goa itu.


Ruangan itu berbentuk lingkaran dengan garis tengah mungkin ada dua puluh meter. Di setiap dindingnya, terdapat batu-batu kristal yang menancap dalam di sana. Selain menambah kecantikan ruangan, kristal-kristal itu juga berfungsi sebagai penerang ruangan.


"Mari duduk." ucap kakek tersebut sambil duduk seenaknya di lantai goa. Melihat ini, Lin Tian pun mengikuti.


"Perkenalkan, namaku Wang Ling Xue. Siapa namamu anak muda?"

__ADS_1


"Lin Tian. Tunggu, nama anda Wang Ling Xue? Anda dari keluarga Wang?" Lin Tian sedikit terkejut sesaat setelah mendengar nama keluarga itu.


"Benar, jika kau ingin tahu, aku adalah anak dari pemilik pertama kitab Naga Salju Menari sekaligus pendiri keluarga Wang, Wang Kiu." jawab Wang Ling Xue.


"Apa? Jadi anda ini adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mampu menguasai kitab Naga Salju Menari dan Api Pelahap Mega?" seru Lin Tian saking terkejutnya.


"Ah, sepertinya kau sudah tahu? Ya, itu memang benar. Ayahku menurunkan kedua ilmu itu kepadaku."


"Yang jadi pertanyaanku, Chong San itu masih hidup? Asal kau tahu, dia itulah yang meramalkan akan kedatanganmu kemari." lanjut Wang Ling Xue setengah terkejut.


Sebenarnya Lin Tian tak jauh berbeda terkejutnya, tapi dia menjawab juga, "Ya, dia bernama Chong San. Dan saat saya tanya umurnya, dia tak menjawab."


Wang Ling Xue mengangguk-angguk paham. Sambil terus mengamati Lin Tian, dia berkata, "Apa kau tahu mengapa Chong San mengutusmu kemari?"


"Aku tidak tahu tuan."


"Akan kujelaskan, hal ini ada kaitannya erat dengan Sepasang Naga Putih."


Wang Ling Xue menceritakan jika dahulu kala ketika dia pergi dari keluarga Wang, dia merantau ke seluruh daratan dan tak pernah tinggal menetap. Hingga dia bertemu dengan Chong San dan berkata padanya bahwa suatu saat akan muncul dua orang muda yang memberantas kekacauan. Orang-orang menyebut mereka sebagai Sepasang Naga Putih.


Maka saat Chong San berkata bahwa dia akan dikunjungi pemuda ketika berada di puncak salju Pegunungan Tembok Surga, dia percaya penuh dengan perkataan itu. Namun hingga berkali-kali dia datang ke puncak ini, tidak ada satupun tamu yang dimaksud sampai tibalah hari ini, ketika Lin Tian datang dan dengan penampilan yang menurutnya sama persis dengan kakek gurunya, Ling Sian.


"Chong San juga pernah meramalkan jika Sepasang Naga Putih itu sama kuat, sama hebat, dan kekuatan keduanya sama persis. Salah satu dari mereka akan mewarisi keempat kitab milik Ling Sian yang dianggap kitab keramat. Dan menurut perkiraanku, kau sudah menguasai dua ilmu diantara empat ilmu itu bukan?"


"B-benar." Lin Tian menjawab gugup karena sedikit terkejut ketika kakek di hadapannya ini bisa mengetahui hal itu. Padahal sebelumnya dia sama sekali belum menunjukkan kepandaiannya selain membekukan ombak.


"Nah, maka Chong San mengutusmu kemari adalah untuk membiarkanku mengajarimu dua ilmu lain. Sedangkan untuk rekan nagamu, karena kekuatan mereka sama persis, maka secara otomatis entah dengan cara apa, pasanganmu nanti juga akan memiliki kekuatan yang setara denganmu. Dan mungkin sekali akan menguasai empat kitab keramat pula."


Kembali Lin Tian terkejut, "Apa anda bilang bahwa aku adalah satu dari Sepasang Naga Putih?"


"Benar, benar sekali. Karena itulah Chong San berani memberikan satu set pakaian itu padamu. Kau ingin tahu milik siapa pakaian itu?"


"Bukankah milik guru? Dia meletakkan peti tempat menyimpan pakaian ini di gunung dekat pondoknya."


"Haha, wajar kau berpikiran seperti itu namun sayang sekali kau salah besar. Baju itu adalah milik seseorang yang bernama Ling Sian, pencipta empat ilmu keramat itu!"

__ADS_1


Jantung Lin Tian berhenti selama satu detik ketika mengetahui fakta itu. Pemuda ini sedikit tak percaya dengan ungkapan Wang Ling Xue ini, namun apa gunanya tidak percaya dengan seorang sepuh yang sudah hidup ratusan tahun seperti dia?


"Tunggu, apa benar anda memang Wang Ling Xue?" Lin Tian mulai meragukan kebenaran tersebut.


"Bagaiaman aku membuktikannya?"


"Tolong perlihatkan kepada saya ilmu silat Naga Salju Menari atau Api Pelahap Mega. Baru saya akan percaya."


Tiba-tiba Wang Ling Xue tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Lin Tian itu.


"Hahahaha, hanya aku seorang yang bisa menguasai ilmu itu selain ayah, keturunan Song Bun An dan guru ayah. Aku yakin kau belum pernah melihatnya, jadi bagaimana mungkin kau tahu kalau ilmu silat yang akan kumainakn ini adalah Naga Salju Menari atau Api Pelahap Mega?"


"Saya sudah menguasai ilmu pedang Teratai Putih dan Ketenangan Batin sungguh pun belum sempurna benar, akan tetapi saya tahu kehebatan sejati dari dua ilmu itu jika dimainkan dengan hawa sakti. Maka dari itulah, sedikit banyak saya akan mampu membedakan mana hawa sakti dan tenaga dalam."


"Maksudmu?" Wang Ling Xue memiringkan kepalanya tanda tak paham.


"Empat kitab keramat mampu mencapai titik kesempurnaan hanya jika dimainkan dengan pengerahan hawa sakti. Saya yakin anda sudah menguasai sepenuhnya dua kitab itu sehingga penguasaan hawa sakti anda pastilah sudah tinggi sekali. Jadi tolong, tunjukan pada saya kehebatan sejati dari Naga Salju Menari dan Api Pelahap Mega agar saya bisa mengetahuinya." jawaban Lin Tian ini diucapkan tanpa keraguan sedikitpun. Membuat Wang Ling Xue makin kagum padanya.


"Baiklah kalau kau memaksa, lihat ini!"


Setelah berkata demikian, Wang Ling Xue bangkit dan mulai melakukan gerakan dari Naga Salju Menari.


Akan tetapi baru beberapa gerakan saja, Lin Tian sudah merasa merinding dan menggigil. Tak berselang lama, tubuh Lin Tian mulai kaku-kaku.


Melihat ini, Wang Ling Xue segera memainkan ilmu Api Pelahap Mega yang mengandung hawa panas luar biasa. Benar saja, setelah beberapa gerakan, hanya dengan hawa pukulan dari ilmu silat itu mampu membuat Lin Tian kepanasan sampai hampir meleleh rasanya.


"Hahah kau lihat, hanya sebentar saja kau sudah tak kuat. Itulah ilmu silat Naga Salju Menari dan Api Pelahap Mega. Jika seandainya Ilmu Ketenangan Batin yang dimainkan dengan kekuatan penuh, mungkin kau sudah terbang entah kemana. Dan jika ilmu pedang Teratai Putih menunjukkan taring aslinya, mungkin saat ini tubuhmu sudah berubah menjadi potongan daging!"


Setelah mengetahui kedahsyatan dua ilmu itu, Lin Tian segera menjura, "Maaf kelancangan saya dan mohon bimbingannya senior."


"Mulai saat ini, panggil aku guru!"


"Baik guru."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2