
"A-apa ini?"
Dengan muka pucat, Zhang Qiaofeng memandang terbelalak kearah kepala manusia berambut putih yang dipenuhi darah kering itu. Sedangkan di belakang sana, berdiri Lin Tian, Song Qian dan Fen Lian dengan raut muka tak jauh berbeda dari Nona Zhang itu.
Akan tetapi diam-diam pendekar bertopeng ini menggertakkan giginya, mengepal erat tangannya untuk menahan gelora amarah yang kian memuncak di hatinya.
"Keparat!! Sian Yang namanya!? Apakah dia sengaja mengejek kami!?" batin pemuda ini geram.
Lin Tian mendekati kepala tersebut, memandangnya penuh perhatian sambil berharap di dalam hati bahwa kepala itu bukanlah milik saudaranya.
"Dia benar-benar Hu Tao." sadar akan maksud tindakkan Lin Tian, Zhang Hongli segera berkata.
Sampai lama mereka berdiri termenung untuk memandangi kepala tanpa tubuh itu, seolah-olah mereka merasa jika saat ini bukanlah kenyataan. Dalam kedukaan itu, Lin Tian tiba-tiba berkata kepada Zhang Qiaofeng, namun suara dan pundaknya sedikit gemetaran. Menandakan dirinya sedang marah besar.
"Ah Nona, bukankah ada suatu hal penting yang harus kita bicarakan dengan guru? Lagipula, Song Qian dan Fen Lian nampak kelelahan, bukankah lebih baik untuk membiarkan mereka istirahat?"
Zhang Qiaofeng menoleh, wajahnya menegang seketika. Gadis ini melihat jelas bahwasannya dari balik topeng itu, nampak sepasang mata yang berkilat tajam menakutkan. Dirinya yang melihat ini, tanpa sadar menjadi sedikit gemetaran.
"Ah benar juga. Tolong urus dia, dan antarkan pula dua saudara baru kita ini ke kamarnya. Kakek, ada yang ingin kami bicarakan." ucap Zhang Qiaofeng sambil memberi perintah kepada dua pengawalnya. Lalu dia berkata kepada kakeknya dengan sungguh-sungguh.
"Ayo ke rumahku."
...****************...
"Jadi begitu ya...kalian sudah tahu? Yah, memang ini salahku yang tidak segera memberitahukan kepada kalian."
Saat ini di teras rumah Zhang Hongli, ketiganya duduk melingkari sebuah meja kecil yang ada di sana. Tidak ada hidangan apa pun di meja itu.
"Kakek tolong jelaskan, kenapa kakek mengajarkan ilmu silat Ketenangan Batin kepada Lin Tian? Lalu siapakah keluarga Wang, Song, dan Cin?" Zhang Qiaofeng terus mendesak.
Kakek tua itu menghela nafas panjang, menerawang ke arah langit di siang hari itu, "Hah...kupikir setelah kepergianku dan kehancuran keluarga Zhang, ilmu Ketenangan Batin akan kehilangan pewarisnya. Tak kusangka bahwa kita mampu untuk bangkit kembali dan mempertahankan ikatan saudara itu."
"Apa maksud kakek?!"
__ADS_1
Zhang Hongli memandangnya sungguh-sungguh, "Cucuku, percaya atau tidak, tapi aku ini adalah salah satu tokoh dari cerita-cerita yang sering dibacakan ibumu sebelum tidur."
Zhang Qiaofeng mengerutkan keningnya tak paham.
"Aku ini satu diantara lima orang Raja Dunia Silat. Dahulu aku dikenal sebagai Topeng Hitam."
Jawaban ini sontak membuat kedua orang muda itu terkejut sampai bangkit berdiri. Membelalakkan mata mereka dengan tak percaya.
"A-apa...kakek maksudkan...Raja Dunia Silat, jagoan di seluruh daratan itu?"
Zhang Hongli hanya mengangguk sebagai jawaban. "Aku akan menceritakan semuanya sekarang. Kau sudah menjadi pemimpin keluarga, dan Lin Tian sudah bersamamu sejak lama, juga dia adalah seorang yang menguasai ilmu Ketenangan Batin. Maka kalian memang pantas mengetahui rahasia ini. Akan aku jelaskan, siapa kakek tua ini, siapa keluarga Zhang ini, dan alasan aku mengajarkan ilmu Ketenangan Batin kepada Lin Tian."
...****************...
"Hahahahaha....Hahahaha!!!"
Di rumah kediamannya, Sian Yang menjadi seperti orang gila. Bahkan Naga Emas dan Chan Fan sendiri menjadi bingung dibuatnya. Sudah hampir setengah jam lamanya, pria yang biasanya selalu tenang dan murah senyum itu tertawa-tawa begitu pulang ke rumah.
"Apa yang salah!? Kau sudah tahu bukan!? Sepasang Naga Putih...hahah Sepasang Naga Putih sudah mati!! Jika satu mati dan satunya hidup, itu artinya bukan lagi sepasang tapi satuan!! Hahaha...tak ada lagi yang bisa menghentikan kita!!!"
Chan Fan hanya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan, sedangkan Naga Emas yang tak paham hanya memandang bingung. Dalam raut muka pria cantik itu, ada sesuatu yang tidak enak untuk dipandang.
"Hm...ada apa Chan Fan? Bukankah seharusnya kau senang? Sudah dipastikan kita menang!!" kata Sian Yang yang bingung dengan ekspresi bawahannya itu.
"Ketua...apakah anda benar-benar yakin jika Hu Tao adalah Sepasang Naga Putih?" tanya Chan Fan ragu.
"Tentu saja! Bukankah dalam ramalan itu, mereka dijelaskan sama-sama putih? Sama kuatnya? Nah sudah jelas bukan, pakaian mereka selalu putih. Aliran mereka juga putih. Dan aku tanya sekarang, siapa orangnya di dunia persilatan saat ini yang mampu menandingi hantu itu selain Hu Tao?"
"Hu Tao masih lebih lemah dari si hantu!" bantah Chan Fan.
"Benar, tapi dia yang kekuatannya hampir sama dengan hantu itu. Bahkan aku yakin betul, saat ini mungkin kesaktian pendekar bertopeng itu sudah mampu bersaing dengan Zhang Hongli, atau mungkin denganku!"
"Tapi jika hanya Pendekar Hantu Kabut, bisa apa mengalahkan kita? Dalam ramalan itu, yang bisa menghancurkan si pengacau hanyalah Sepasang Naga Putih." lanjutnya.
__ADS_1
Chan Fan dan Naga Emas hanya diam tak menyahut.
"Tapi, kakek aneh itu...jika dia menghendaki, dia bisa membunuh kita saat itu juga. Dia harus diwaspadai." Naga Emas memperingatkan.
"Sudahlah, lebih baik kita siapkan rencana untuk pembersihan terhadap keliarga Hu. Dan untuk keluarga Xiao, heheh Aliansi memang pintar. Mereka memusuhi kita, tapi tanpa sadar mereka malah membantu kita. Hahaha!!"
Akhirnya mereka duduk di kursi panjang ruang depan untuk merencanakan siasat selanjutnya. Sejak hari itu, Iblis Tiada Banding mulai menunjukkan taringnya.
...****************...
Di saat bersamaan, di sebuah lereng gunung berapi, nampak dua orang yang sedang dudik berhadap-hadapan. Satu orang mungkin sudah berusia empat puluh tahun lebih, satu orang lagi mungkin tiga puluh an tahun.
Yang tua rambutnya masih hitam legam, tetapi wajahnya sudah nampak banyak keriputan di sana-sini. Sedangkan yang muda warna kulitnya sedikit gelap, rambut hitamnya itu juga terdapat sedikit warna merah dia beberapa bagian.
Mereka tak lain tak bukan dalah sepasang guru murid, Ling Haocun dan Zhang Heng.
"Adikku sudah lama mati dibunuh oleh Zhang Hongli, guru Lin Tian. Sampai sekarang aku masih menyesal, mengapa Perguruan Tongkat Bambu Kuning bisa begitu mudah dikalahkan?" Ling Haocun menghela nafas panjang.
"Jangan hiraukan itu guru, lebih baik sekarang, bagaimana caranya untuk kita bangkit lagi? Bukankah sudah terlalu lama kita bersembunyi?"
"Kau benar. Memang itulah yang hendak kubicarakan kepadamu saat ini. Aku akan membawamu keluar dari sini dan menemui anggota Pilar Neraka yang masih tersisa. Dia adalah Golok Penghancur Gunung yang bersembunyi di Hutan Kabut."
Zhang Heng mengangguk paham sebelum menjawab, "Kita berangkat sekarang guru?"
"Besok saja, kau istirahatlah dulu hari ini." balas Ling Haocun.
Zhang Heng mengangguk dan berjalan pergi dari sana menuju gua tempat dia tinggal. Sedangkan gurunya, memandang muridnya dengan penuh perhatian.
"Keluarga Ling harus menguasai seluruh daratan, sama seperti dahulu. Keluarga Song...keluarga Chu...kalian benar-benar pengganggu. Sebagai keturunan raja terdahulu, aku harus mengangkat kembali kejayaan kekaisaran Ling!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1