Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 229. Kebenaran Yang Disembunyikan


__ADS_3

A Tong berjalan perlahan-lahan untuk mendekati Yin Mei yang masih kesakitan. Gadis ini sontak kaget sekali mengetahui tendangan A Tong berhasil melemaskan seluruh tubuhnya. Maka teringatlah ia kepada kejadian yang dialami nonanya di distrik merah dahulu.


"Sialan, apakah tendangan tadi sekaligus juga untuk menotokku?"


Yin Mei rebah terlentang tak mampu bergerak, hanya dapat menggerakkan mata saja yang ia gunakan untuk memandang A Tong dengan bengis.


"Yin Mei, siapakah engkau? Mengapa kau mencoba mengorek informasi mengenai Iblis Tiada Banding?"


Pertanyaan A Tong ini hanya dijawab dengan ludahan kasar Yin Mei yang ditujukan ke wajahnya. Membuat pemuda itu marah bukan main dan menampar pipi Yin Mei dua kali.


"Plak-plak!"


"Berani mati kau ya? Oh, bagus! Kali ini aku bisa membuat anak bersamamu kemudian akan kubiarkan kau tersiksa mengandung anakku!"


A Tong mendekat dan tangan kanannya hendak mencengkeram dada kiri Yin Mei. Namun sedetik kemudian baik Yin Mei maupun A Tong terkejut saat tangan kekar itu menyentuh bagian sensitif tersebut.


"Sial, topengku!"


A Tong buru-buru membuka jubah Yin mei dan menemukan topeng merah yang sudah dikenalinya. Lantas dia menjadi berang dan membanting topeng tersebut.


"Bedebah kau! Kiranya kau adalah musuh besar kami! Hantu Merah Yin Mei, aku berubah pikiran! Akan kubunuh kau saat ini juga!" seru A Tong mengangkat tangan dan bersiap membelah tubuh Yin Mei dengan tangan itu.


Gadis ini memucat, hanya mampu memandang terbelalak dengan bibir menggigil ketakutan.


"Sialan! Apa aku akan mati!"


"Arogan!"


"Swuuushh-boomm!"


Sebuah pohon di sebelah A Tong roboh seketika terdengar suara bentakan itu dan sebuah angin sambaran dahsyat. A Tong bertindak cepat, dia memasang kuda-kuda dan meningkatkan kewaspadaan.


"Siapa yang begini pengecut menyerang dari belakang!" bentak A Tong dengan rasa penasaran.


"Siapa yang pengecut besar karena menyerang seorang gadis lumpuh?" balas suara misterius tersebut.


Lalu Yin Mei melihat bayangan berkelebat di atas sana, berputaran di udara sebelum menukik turun dengan kecepatan seperti burung elang menyambar mangsa.


"Enyah!"


A Tong menoleh ke atas dan terkejut saat di depan matanya sudah ada tongkat bambu kuning yang siap menusuk jidatnya apabila dia tidak cepat menggelinding ke kiri.


Begitu bangkit berdiri lagi, A Tong dapat melihat bahwa yang datang ini adalah seorang lelaki tua bercaping dengan jubah kuning lusuh sederhana. Membawa sebuah tongkat bambu yang terlihat butut.


Rambut, jenggot dan kumisnya sudah putih semua, matanya melotot lebar namun masih jernih sekali. Menandakan tingkat kepandaiannya sudah setinggi langit.


Ketika sinar rembulan menerpa wajahnya, A Tong berseru kaget karena kenal dengan orang yang baru datang ini. Mulutnya berseru seraya jari telunjuk kanannya menuding wajah tua itu untuk mengekspresikan keterkejutannya.

__ADS_1


"Wah, jangan-jangan kau ini yang orang sebut sebagai Pengelana Tanpa Bayangan!?"


"Mungkin seperti itu. Sekarang pergilah, iblis!"


Orang tua itu menggerakkan tongkat bututnya dan A Tong dapat merasakan sambaran angin kuat begitu tongkat terayun. Dia cepat menghindar dan bukannya lari, A Tong malah datang mendekat mengirim serangan.


"Pendekar sejati kosen! Pengelana Tanpa Bayangan, akhirnya kau muncul juga setelah sekian lama! Kau adalah tantangan terbesar bagi kami, matilah!" bentak A Tong mengirim serangan tapak.


"Bocah kecil kemarin sore, sudah berani menantang tokoh purba? Bagus, ayo kita main-main!" kakek sepuh itu menyambut serangan A Tong dengan serangan tapak pula.


"Boomm!"


Ledakan tercipta dan tubuh Yin Mei yang masih rebah itu sedikit terlempar ke belakang. Debu-debu bertebaran saat dua orang tua dan muda itu mulai beradu pukul dengan sengitnya.


Siapakah kakek dengan julukan Pengelana Tanpa Bayangan ini? Dia tak lain tak bukan adalah Chong San, guru Lin Tian sekaligus guru Xiao Niu.


Seperti di bagian-bagian awal, setiap kali dia muncul, selalu ada kejutan yang membuat geger semua orang. Apakah kali ini kemunculannya juga mendatangkan kericuhan bagi dunia persilatan? Mari kita lihat.


Karena Chong San merupakan tokoh tua yang entah sudah berapa ratus tahun hidup, sehingga dalam sepuluh gebrakan jurus saja dia sudah mampu menbuat A Tong terpelanting dengan muntah darah.


Sedangkan A Tong yang sudah terluka dalam parah itu hendak bangkit, lebih dulu Chong San mengeluarkan keahliannya.


"Mau apa kau bertindak arogan di depan si penjaga gunung ini?"


Chong San mengeluarkan suara bergetar penuh daya sihir yang berhasil memengaruhi pikiran A Tong. Pemuda ini melihat di depannya tubuh Chong San membengkak dan menjadi besar sekali. Matanya biru terang dengan mengeluarkan kilat-kilat petir setiap kali mulutnya mengeluarkan nafas.


"Pergi!" Chong San raksasa mengibaskan tangan kiri dan saat itu juga tubuh A Tong terpental jauh. Kesempatan ini pemuda itu gunakan untuk lari sejauh-jauhnya dan melaporkan semuanya kepada ketuanya di markas.


Yin Mei malah sebaliknya, dia menatap bingung sikap A Tong yang tiba-tiba lari seperti dikejar setan. Padahal dalam pandangannya, tubuh Chong San sama sekali tidak membesar atau apapun, masih sama seperti semula. Hal ini wajar karena Yin Mei tidak terkena efek sihir Chong San.


"Ah...!" Yin Mei terkejut sekali saat tiba-tiba tubuhnya sudah mampu bergerak seperti semula dan ternyata kakek tua tersebut sudah berdiri di sampingnya.


"Terima kasih kepada senior." Yin Mei menundukkan kepala memberi hormat.


Sedangkan Chong San, hanya mengangguk singkat sebelum pergi dari sana dengan mengetuk-ngetukkan tongkat bututnya. Tapi anehnya, ketukan tongkat itu berhasil membuat Yin Mei sadar dari rasa terkejutnya dan tanpa menoleh lagi, pergi dari sana untuk menemui ibunya.


...****************...


Di bawah tebing besar, nampak seorang wanita tiga puluhan tahun yang cantik sekali. Dia daritadi berjalan mondar-mandir dengan bibir cemberut. Jika diperhatikan, seperti seorang gadis cilik yang sedang jengkel menunggu kekasihnya tak datang-datang.


"Ibu, maaf membuatmu menunggu."


Wanita ini cepat menoleh dan membentak, "Mei Mei, kemana kau pergi! Apa kau tak tahu seberapa khawatirnya ibumu ini!?"


"Maaf ibu, tadi ada sedikit masalah." jawab gadis yang baru datang itu memegang tangan ibunya.


Mereka adalah Yin Yin dan Yin Mei. Di bawah tebing inilah tempat perjanjian mereka sebelumnya untuk betemu, dan karena serangkaian kejadian yang dialami Yin Mei, maka gadis tersebut terlambat datang dan membuat sisi iblis ibunya keluar.

__ADS_1


Yin Yin menghela nafas kasar, namun nampak jelas raut lega di wajahnya. Dia menepuk pundak Yin Mei dan berkata. Kali ini suaranya lembut dan merdu.


"Mei Mei, katakan apa yang kau temukan."


Yin Mei segera menceritakan semuanya. Semua informasi yang diceritakan oleh A Tong, yang ternyata bahwa seseorang yang dijebaknya itu adalah satu dari enam orang pendekar sejati tertinggi Iblis Tiada Banding.


Yin Mei juga menceritakan keadaan hidup dan mati saat dia diserang oleh A Tong. Tapi atas bantuan seorang kakek aneh yang berjuluk Pengelana Tanpa Bayangan, dia berhasil selamat.


Tapi tentu saja dia tidak mengatakan bagaimana cara mendapat informasi itu.


"Apa, A Tong? Wah, ibumu juga mendapat informasi yang sama persis denganmu. Untung kakek sepuh itu datang menolongmu, jika tidak mungkin sekarang aku sudah menjadi nenek."


Yin Mei memerah mukanya dan mencubit pinggul ibunya, "Nenek mana yang jalannya masih lenggak-lenggok?"


"Ya nenek anakmu inilah!" Yin Yin menjawab bangga.


Ketika Yin Yin masih sibuk membanggakan diri dengan kecantikannya, tiba-tiba dua orang ini tersentak dan bertanya secara bersamaan.


"Eh, Mei Mei, bagaimana caramu mendapatkan informasi itu?"


"Ibu, bagaimana cara ibu mendapat informasi itu?"


Sontak dua orang ini terkejut mendengar pertanyaan masing-masing. Lalu sedetik kemudian pipi keduanya memerah dan segera memalingkan muka.


"Mau ditaruh mana wajahku saat anak sendiri mengetahui kalau ibunya menggunakan cara bejat seperti itu?"


"Bisa-bisa aku dianggap anak durhaka karena menggunakan cara seperti itu. Ahhh...macam pelacur saja!!"


Batin dua orang ini saling teriak demi menyembunyikan kebenarannya. Lalu Yin Mei memandang ibunya lebih dulu untuk menjawab.


"Yah...ibu, jangan meremehkan Hantu Merah. Tentu saja putrimu yang manis ini mampu melakukan hal-hal luar biasa seperti cara Asosiasi Gagak Surgawi saat mengorek informasi."


Yin Yin cepat menoleh dan menjawab pula, "Ahaha, putri kecilku yang cantik manis, jangan remehkan ibumu yang awet muda ini. Kau pikir aku tak bisa mengandalkan sepasang belati tajam pemberian nona kita? Tentu saja aku tak akan ragu saat berhadapan dengan orang Iblis Tiada Banding. Beberapa jam lalu, aku menawan tiga orang Iblis Tiada Banding untuk kuintrogasi."


"Wah, ibuku sangat hebat."


"Haha, putriku sangat cerdas."


Dua orang ini lalu berpelukan erat, menyembunyikan sebuah senyum pahit namun diam-diam menghela nafas lega. Jika seandainya mereka punya kekuatan dewa yang mampu mendengarkan kata hati orang lain, maka secara bersamaan dua orang ini akan mendengar sebuah suara dari sosok yang dipeluk seperti berikut...


"Hampir saja...."


Dan sampai kisah ini selesai, kebenaran itu tak akan pernah terkuak....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2