
Sembari menunggu kepulangan para pasukan yang dikirimkan ke Timur untuk mencari informasi mengenai Iblis Tiada Banding, Zhang Qiaofeng memfokuskan diri dalam latihannya.
Setiap harinya dia tak pernah absen untuk mempertajam ilmu-ilmunya, apalagi tiga ilmu utamanya yaitu Ketenangan Batin, Api Pelahap Mega dan Naga Salju Menari. Semua itu selalu mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu.
Namun, ada satu lalat kecil yang selalu membuat Zhang Qiaofeng jengah dan tak nyaman. Jika tak ingat akan kedudukannya di dalam kekaisaran Song ini, sudah pasti kepalanya kena sepak oleh kaki rampingnya.
Orang itu adalah....
"Brakk!!"
"Keparat, dia selalu menggangguku!"
"Nona, tenanglah. Minum teh hangat ini dulu untuk menenangkan batin dan pikiran. Jangan biarkan gerah hati dan badan membuat pikiran anda gelap dan wajah mengerut kusut, ayo minum–"
"Diam! Jangan banyak omong kosong! Tong kosong nyaring bunyinya!"
"Maaf saja nona, tapi sampai sekarang anda masih selalu mengandalkan saya. Contohnya tadi pagi untuk menemani anda latihan di luar."
Di ruangannya, Zhang Qiaofeng mencak-mencak dengan emosi meluap. Dia membanting apa saja yang bisa dibanting karena kemarahan sudah menguasai setiap sel darahnya. Apalagi setelah kepergian Lin Tian, tempramennya benar-benar buruk.
Pagi tadi, dia mengajak seseorang yang membuatkan teh itu untuk pergi keluar demi menemaninya berlatih, dia adalah Minghao.
Dia sebenarnya ingin pergi sendiri, namun ada satu lalat pengganggu yang tak diharapkan kehadirannya malah muncul sambil senyum-senyum. Minghao yang bertujuan untuk mencegah lalat itu datang juga tak kuasa menanganinya.
Saat di hutan dekat markas para pejuang, Zhang Qiaofeng berlatih di sebuah padang rumput luas. Ditemani oleh Minghao yang dengan tenang memainkan yang-khimnya, membuat suasana tenang bukan main. Namun semua itu berubah ketika...
"Ah, dewiku yang cantik manis, bidadari jatuh dari surga dan betapa beruntungnya aku jika bidadari itu jatuh ke tanah kelahiranku. Wahai nona Zhang yang jelita bagai bunga mawar harum di tengah hutan, terimalah pemberian pangeranmu...."
Terdengar suara yang sangat dikenal mereka berdua, sedetik kemudian, sudah ada seorang pemuda yang berlutut di depan Zhang Qiaofeng sambil menyodorkan sekuntum bunga mawar.
"Kauw Jin..."
"Ini adalah cerminan dari wajah dan kegalakanmu...ah, betapa manisnya."
"Enyah kau dari hadapanku!"
Zhang Qiaofeng menyambar bunga mwar itu dan membantingnya. Menginjaknya sambil terus mengumpat, akan tetapi Kauw Jin malah tetap senyum-senyum seolah memang itulah hal yang paling dinanti.
"Cantik sekali....sungguh indah...." gumamnya.
"Swuuushh!!"
Dari arah belakang Zhang Qiaofeng, tiba-tiba menyambar angin tajam yang hampir saja menggores pipi Kauw Jin jika saja pemuda itu tidak lekas memiringkan kepala.
"Turuti apa kata nona!" ujar Minghao dingin.
Kauw Jin malah meloncat gemas dan menunjuk muka Minghao yang bertopeng, "Eh, sastrawan bertopeng! Ada apa denganmu sampai mengganggu aku yang ingin bermesraan dengan kekasih?"
"Siapa yang kekasih!" Zhang Qiaofeng membentak dan melempar tangkai bunga mawar yang sudah tak berdaun bunga itu.
"Eh...eh...jangan seperti itu kekasihku, kelak kau akan dapat membuka hatimu. Percayalah."
__ADS_1
"Pergi!"
Kali ini Minghao dan Zhang Qiaofeng membentak bersamaan. Minghao bahkan mengirim serangan angin dahsyat yang membuat tubuh Kauw Jin terbang berpusing kemudian ditangkap oleh salah satu pengawalnya.
"Tuan, anda baik-baik saja...?"
"Haha...dewiku yang manis....Gadis Hantu yang cantik..." Kauw Jin meracau dengan bola mata berputar-putar.
"Bawa pergi tuan sintingmu itu!" gadis ini melemparkan segenggam rumput namun dapat membuat wajah Kauw Jin luka-luka.
"Oh, oh...kegalakan dewiku yang luar biasa." bukannya mengaduh-aduh sakit, Kauw Jin malah tertawa-tawa.
Pengawal itu membawa tuannya pergi tanpa berani menoleh lagi. Diam-diam dia merasa ngeri akan kesaktian nona Zhang yang berjuluk Si Gadis Hantu itu.
Cukup akan kilas baliknya, kembali ke masa sekarang.
Zhang Qiaofeng menyambar secangkir teh di tangan Minghao lalu menenggaknya habis. Dia lalu keluar dari ruangannya dan cepat Minghao bertanya.
"Perlu kutemani lagi?"
"Tak perlu, aku hanya akan berlatih di halaman"
"Oh baiklah." Minghao berbalik pergi dan menuju dapur untuk mencuci gelas kotor.
Baru saja Zhang Qiaofeng ingin memulai latihan silatnya, ada satu orang anggotanya yang datang tergopoh-gopoh. Melihat ini cepat Zhang Qiaofeng bertanya.
"Ada apa?"
"Dia...dia....datang..." ucap orang tersebut ngos-ngosan. Membuat Zhang Qiaofeng terkejut sekali dan memegang pundak orang tersebut.
"Dia...putra menteri...datang ingin menemui–Aaahhhhh!!"
Tiba-tiba cengkeraman pada pundaknya mengeras sampai membuat suara gemerotok pada pundak itu. Zhang Qiaofeng tanpa sadar malah mengerahkan tenaga dalam cengkeramannya dan mengalirkan tenaga dalam pada suaranya. Sehingga terdengar seperti iblis yang berkata.
"Akan kubunuh....!"
...****************...
Keesokan harinya, Yin Yin dan Yin Mei bersama dua puluh pasukan Zhang sudah kembali. Dua orang ini segera menghadap Zhang Qiaofeng yang sedang duduk menghadap luar jendela untuk memandangi pemandangan segar di pagi hari.
Saat ada suara ketukan pintu, dia cepat berkata, "Masuk!"
Pintu terbuka dan nampak Yin Yin serta putrinya yang sudah mengenakan jubah Hantu Merah. Mereka cepat berlutut di hadapan nonanya, namun Zhang Qiaofeng malah mencela.
"Kebiasan! Siapa yang suruh berlutut? Aku hanya gadis kecil biasa, sebagai nonamu hanyalah status! Jangan memperlakukan aku seperti itu, aku tak suka. Kita semua sama!"
Tanpa dapat ditahan lagi dua orang Hantu Merah itu tersenyum tipis, merasa bangga karena melayani nona yang demikian rendah hati seperti Zhang Qiaofeng. Keduanya lalu bangkit dan berkata.
"Kami ingin memberi laporan nona."
"Katakan."
__ADS_1
Yin Yin lalu menceritakan semua informasi yang didapatnya, begitu pula dengan Yin Mei yang membeberkan semua yang ia dapat.
Soal seluk beluk Iblis Tiada Banding, terutama sekali akan keberadaan Zhang Heng dan lima pendekar sejati lainnya. Tapi tetap saja, cara mendapat informasi itu tidak dikatakan dengan jujur. Mereka hanya berkata, "Kami mendengar dari seseorang...." Yah, ibu dan anak ini memang sama-sama nakal.
"Zhang Heng....?"
"Benar nona...."
"Dia masih hidup....?"
Yin Yin dan Yin Mei hanya menunduk, tak berani menjawab apalagi memandang wajah nonanya yang menjadi gelap itu.
"Kratak-kratak."
Ujung dari lengan kursi yang menjadi tempat duduk Zhang Qiaofeng hancur saat gadis itu meremasnya. Wajahnya tetap dingin namun membayangakan emosi yang luar biasa, entah bagaimana menjelaskannya yang pasti saat ini dalam hati Zhang Qiaofeng berkobar api dendam yang entah dapat dipadamkan atau tidak.
"Dia sudah mencelakakan Lin Tian...."
Kembali dia bergumam, lalu dari tubuhnya menguar hawa panas, sedetik kemudian sejuk. Lama kelamaan hawa panas dan sejuk itu mulai membuat kursi tempat Zhang Qiaofeng duduk sedikit beku dalam keadaan gosong. Melihat nonanya yang kumat lagi, Yin Mei cepat bertindak untuk memeluk nonanya.
"Tenang nona...tenang....kami semua akan membantu anda....jangan bertindak gegabah...."
Diam-diam, suhu tubuh Yin Mei sedang tak karuan. Kadang panas, kadang dingin. Namun ia tahan demi nonanya.
Lama kelamaan, suhu udara kembali normal dan terdengar ucapan sedih dari Zhang Qiaofeng.
"Maafkan nona kalian yang gila ini...."
"Nona tidak gila...nona adalah sosok yang paling kami cintai dan idolakan...." Yin Mei mencium ujung kepala nonanya.
"Terima kasih, Yin Mei...."
Momen penuh haru ini harus berhenti tiba-tiba dan air mata di pelupuk Zhang Qiaofeng kembali kering saat ada seseorang membuka pintu tanpa permisi.
"Ekhm, kalian sama-sama perempuan..." ucapnya tanpa basa-basi sedikit pun.
"Tanpa kau beritahu kami sudah sadar! Ada apa!?" Zhang Qiaofeng menghardik sambil mendorong tubuh Yin Mei pelan.
Minghao, orang itulah yang datang tanpa diduga dan permisi. Memang anggota tertinggi dari keluarga Zhang seperti tak memiliki hormat kepada nonanya, namun sebenarnya itu adalah wujud kasih sayang mereka semua sehingga tak perlu lagi rasa sungkan untuk berkomunikasi dengan gadis tersebut.
Minghao berjalan menghampiri meja tempat dimana Zhang Qiaofeng meletakkan dua belatinya. Dia mengambilnya dan menaruh sepasang belati itu di paha Zhang Qiaofeng.
"Huh, ada apa?" tentu saja Zhang Qiaofeng serta Yin Yin dan putrinya bingung.
"Aku akan membantumu." ucap Minghao.
"Bantu apa?"
Minghao menunjuk ke pintu yang terbuka, "Kauw Jin menunggu di gerbang, katanya ingin bertemu denganmu. Karena itu–"
"Paman, bibi, Yin Mei, ikat kepalanya dan bantu aku mengirimnya bertemu malaikat maut. Ayo!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG